
"Maksud, Tuan?"
Dara jelas tidak mengerti apa yang ada di benak Ken saat ini. Bagaimana bisa Ken akan menyuruh orang untuk menjaga ibunya di rumah sakit?
Orang tersebut pastinya harus diberi upah, atau paling tidak minimal dapat kompensasi bukan? Tapi bagaimana ceritanya, dia sendiri saat ini sedang kerja rodi. Apakah itu pertanda masa kerja rodi Dara akan diperpanjang?
Tidak. Data tidak bisa membayangkan jika berada dalam penjara megah itu lebih lama lagi. Cukup. Sudah cukup batinnya terluka akibat ucapan Ken yang sering kali lepas kontrol.
"Ya aku akan mencari orang untuk bekerja jaga ibumu disini. Kamu tidak usah khawatir, jika pekerjaan sudah selesai, kamu juga boleh sesekali menjenguk."
Buku kuduk Dara merinding mendengar Ken yang tiba-tiba saja berhati baik seperti itu. Bukannya tersanjung, Dara malah curiga ada maksud lain.
"Benarkah? Syukur deh kalau begitu, aku jadi lega kalau tidak bisa datang menjenguk nantinya." Shyna menyela obrolan antara bos dan anak buahnya itu. "Oh iya, aku lanjut ke kantin dulu. Permisi."
Sebenarnya Shyna masih ingin lebih lama ngobrol dengan Kendrick. Bukan ngobrol si, lebih tepatnya mendengarkan Ken berbicara. Entah, mengapa ada rasa tertarik dari jauh lubuk hatinya.
Sementara itu Dara mempersilahkan Ken untuk duduk di sofa yang tersedia. Beruntung Shyna memasukkan ibunya ke ruangan yang cukup nyaman, sehingga dia tidak malu.
Bukan malu karena miskin, tapi malu karena orang terhormat seperti Ken harus merasakan panasnya ruangan umum. Dara yang nantinya pasti akan kena caci maki juga.
Selepas mengantarkan camilan, Shyna pamit pulang karena memang ada kepentingan yang sangat mendesak. Sungguh dalam hati dia merutuk kenapa kepentingan itu datang disaat Ken berkunjung.
Tok! Tok! Tok!
Baru saja Shyna pergi, terdengar ada yang mengetuk pintu lagi. Dara melirik ibunya yang sudah terlelap begitu nyenyak. Selesai makan tadi Bu Nisa mengeluh ngantuk, akhirnya Dara mempersilahkan untuk tidur.
Bukannya makin banyak istirahat, akan semakin baik untuk kesembuhan? Dara pun berjalan perlahan menuju pintu.
Klek!
Kedua netra Dara terbelalak saat melihat siapa yang ada di depan pintu. "Ch-chef Mira?" ucapnya tergagap seraya membekap mulut dengan salah satu tangan.
"Halo Dara, kita ketemu lagi." sahut wanita yang mengenakan kaos oblong berwarna putih polos, dilengkapi dengan celana pensil dan sepatu ket.
Sungguh penampilan yang berbanding terbalik saat berperan sebagai chef di kediaman Ken, dimana Mira terlihat begitu feminim dengan baju koko yang serba putih itu.
__ADS_1
"Tuan Ken ada di dalam? Tadi dia menghubungi saya, katanya ada pekerjaan baru yang bisa saya kerjakan."
Kedua alis Dara terangkat, dia semakin tidak paham kenapa Ken memanggil Chef Mira untuk datang ke rumah sakit. Apalagi pakai memberi tahu ada pekerjaan juga.
Tapi Dara tidak ingin menyimpulkan, tahu sendiri kantor Ken ada di mana-mana. Mungkin salah satunya butuh juru masak. Ya, mungkin seperti itu.
"Oh, iya. Ada, Chef. Silahkan masuk." sahut Dara seraya memundurkan langkah, memberi celah bagi Chef Mira untuk masuk.
Sementara itu Ken yang semula sedang fokus dengan gawainya, mengalihkan perhatian saat melihat Mira memasuki ruang rawat tersebut.
"Siang, Tuan." sapa Mira sambil membungkukkan badan sebagai tanda hormat.
"Siang. Duduk Mira." tidak Ken seakan ruangan tersebut adalah milik pribadinya.
Dara yang tidak ingin ikut campur urusan orang lain, memilih untuk menepi. Dia hanya mengambilkan minum dari kulkas yang tersedia di ruang rawat tersebut.
Beruntung tadi Shyna membeli cukup banyak cemilan dan minuman, sehingga bisa untuk suguhan. Meskipun itu di rumah sakit, tetap saja jika ada orang yang datang menjenguk sebagai ibaratnya tuan rumah adalah memberikan jamuan.
Terlebih ruang rawatnya cukup mewah seperti itu. Sedang jika ditempatkan ruang umum yang biasanya satu kamar rame-rame, pasti ada sedia jamuan, walaupun sekedar air minum atau permen.
Bruk! Glutak!
Saking terkejutnya Dara sampai gagal fokus, hingga botol minuman yang baru saja dia ambil dari kulkas terjatuh dan menggelinding. Perhatian Ken dan Mira pun jadi beralih pada sumber kebisingan tadi.
"Kamu nggak papa, Dara?" tanya Ken yang tumben-tumbenan terlihat perduli itu.
Dara yang sedang merayap berusaha meraih botol- botol tadi menoleh kaget. "Eh, iya. Nggak papa, Tuan."
Berhubung sedang berbicara dengannya, Dara memberanikan diri untuk mendekat dan bertanya. "Maaf kalau saya lancang, apa tidak salah dengar Chef Mira akan Tuan tugaskan untuk menjaga ibu saya?"
Ken menganggukan kepala. "Emangnya kenapa? Sama saja pekerjaan bukan?"
Dara meringis menunjukkan deretan gigi putihnya. "Memang pekerjaan si, Tuan. Tapi saya rasa kurang pas untuk Chef Mira."
"Kenapa? Mira saja tidak keberatan, kan, Mir?" lanjut Ken bertanya pada wanita yang kini duduk berseberangan dengannya itu.
__ADS_1
"Bagi saya yang penting pekerjaan tersebut halal, Tuan. Lagipula saya juga sudah bosan tiap hari di dapur dan memasak."
Mendengar jawaban Mira, cukup membuat Dara merasa lega. Walaupun rasa tidak enak hati masih bersarang dalam benaknya.
Tapi mau bagaimana lagi? Dara juga tidak memiliki wewenang apapun dalam hal tersebut. Meskipun untuk menjaga ibunya sendiri sekalipun, tapi yang akan menggaji bukanlah dia melainkan Ken.
Jika boleh memilih, Dara lebih baik menjaga sendiri ibunya. Tapi hukuman tetaplah hukuman, tidak bisa dipindah tangan kan layaknya menjaga sang ibu.
Demi profesionalitas, Dara rela membiarkan ibunya dijaga oleh orang lain yang baru dia kenal. Tapi jika dilihat, Chef Mira orangnya telaten dan ramah. Semoga saja memang seperti itu kenyataannya.
"Bagaimana, Dara. Kamu dengar sendiri bukan jawaban Mira?"
Ken menatap kedua pegawai wanitanya itu, Dara pun mengangguk pasrah. Baginya yang terpenting sang ibu cepat sembuh, ada yang menjaga dan tidak kesepian.
"Oke, kalau begitu kalian bisa diskusikan perihal apa saja kepentingan Bu Nisa. Saya akan tunggu diluar." pungkas Ken yang kemudian berjalan menuju pintu.
Kedua wanita muda yang sedang berada dalam bangsal itu menghela nafas. "Chef, kamu yakin akan mengambil pekerjaan ini?" tanya Dara masih tidak enak hati.
"Dara, saya sudah bukan chef lagi. Jadi stop memanggilku dengan sebutan itu. Cukup Mira saja, atau Mba Mira."
Jelas Mira protes, karena dia merasa risih masih di panggil dengan sebutan chef, padahal tugasnya sudah bukan juru masak lagi.
"Tapi, Chef…
"Tidak ada tapi-tapian. Lebih baik kamu sekarang jelaskan apa saja yang harus aku lakukan selama merawat ibumu. Kamu mau Tuan Muda marah dan ibumu jadi korban?"
Dara menggeleng cepat, mendengar ibunya akan menjadi korban akibat kecerobohan yang dia buat, sungguh membuat gadis berkulit putih itu bergidig ngeri.
Tanpa membuang waktu Dara menjelaskan tentang penyakit yang diderita ibunya, serta apa saja yang perlu dilakukan Mira selama berjaga.
"Kamu sepertinya spesial di mata Tuan Muda." celetuk Mira tiba-tiba, saat Dara selesai menjelaskan apa saja yang harus dia kerjakan.
"Hah? Maksudnya?" Dara menoleh kaget.
****
__ADS_1