Caddy Kesayangan CEO

Caddy Kesayangan CEO
Kedatangan Nyonya Merry


__ADS_3

Minggu pertama Bu Nisa tinggal di kediaman Mahanta, berlalu dengan baik. Kesehatan wanita paruh baya itu semakin signifikan, dia semakin bugar dan terlihat awet muda. Semua itu karena hatinya turut berbahagia melihat putri satu-satunya, yakni Dara telah menemukan tambatan hati.


Bukan karena Kendrick adalah seorang presdir muda yang sukses dan kaya, melainkan karena ketulusan dan kesungguhan pria itu yang membuat Bu Nisa yakin memberikan restu.


Walaupun hubungan mereka masih sebatas pacaran, Bu Nisa berharap baik Ken ataupun Dara segera memikirkan untuk hubungan yang lebih serius lagi. Untuk apa pacaran terlalu lama jika hati sudah sama-sama yakin? Begitulah prinsip Bu Nisa selama ini.


"Sayang, hari ini Ibu ada jadwal kontrol ke rumah sakit 'kan?" tanya Ken yang baru saja menuruni anak tangga.


Pria yang sudah mengenakan pakaian tuxedo berwarna silver itu segera menuju meja makan, dimana sang kekasih tengah menyiapkan sarapan.


"Iya, Mas. Rencananya setelah sarapan nanti Aku sama Mbak Mira mau ajak Ibu kontrol."


"Naik apa?"


"Taksi atau bajaj mungkin."


"Jangan-jangan. Udah biar aku aja yang anter nanti sekalian ajak Adam. Jadi setelah ke rumah sakit Adam antar aku ke kantor, baru pulang bareng kalian."


Dara mengerjapkan netra beberapa kali. Meskipun Ken adalah kekasihnya, jujur saja dia merasa tidak enak karena selalu merepotkan. Apalagi sekarang tugasnya di rumah semakin sedikit, dia jadi bingung harus melakukan apalagi selama di rumah.


"Tapi nanti kamu terlambat ke kantor, Mas."


"Telat sedikit nggak papa. Lagi pula nggak ada jadwal meeting juga hari ini."


Gadis yang mengenakan dress bermotif bunga itu pun mengangguk patuh. Percuma juga jika menolak dan mencari alasan, karena ujung-ujungnya pasti harus menuruti perkataan Ken juga.


Tiga puluh menit berlalu, Ken bersama Dara dan juga Bu Nisa telah selesai sarapan. Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Nak Ken, jadi kapan kamu akan mengenalkan Dara pada keluargamu?" tanya Bu Nisa.


Sontak Ken yang duduk di bangku sebelah kemudi menoleh sejenak. Dia beradu tatap dengan Dara yang tengah duduk di jok belakang, tepatnya di samping sang Ibu.

__ADS_1


"Ibu, nanya apaan sih? Orang kita juga baru pacaran," sela Dara merasa tidak enak.


Ini yang membuat Dara malas memiliki hubungan dengan pria sejak dulu, karena belum apa-apa sudah ditanya hal semacam itu. Tidak semua pria nyaman dengan obrolan serius seperti itu, terlebih di awal hubungan. Dara takut Ken menjadi risih dan ilfil akibat ibunya yang tidak sabaran.


"Secepatnya, Bu. Nanti aku cek jadwal orang tuaku terlebih dahulu, baru aku atur untuk mengenalkan Dara."


Wanita yang mengenakan blouse dengan motif batik itu mengangguk paham. Dia tidak menghiraukan anaknya yang menyela saat dia bertanya pada Ken tadi. Bagi orang tua, apalagi dari pihak gadis memiliki tanggungjawab yang berat.


Sebagai single parent, terlebih memiliki riwayat sakit yang bisa kambuh kapan saja, membuat Bu Nisa khawatir. Bagaimana Dara hidup selanjutnya jika sewaktu-waktu dia dipanggil oleh Sang Khalik? Jika Dara sudah menikah, atau minimal sudah tunangan, mungkin akan sedikit memberikan rasa lega bagi wanita bertubuh gempal itu.


Setelah menemani Bu Nisa kontrol, kini Ken pergi menuju kantornya. Sengaja dia membiarkan Adam membawa mobil agar bisa mengantarkan pulang Dara dan ibunya. 


Sebuah rutinitas yang jarang Ken lakukan, terlambat datang ke kantor demi kepentingan keluarga. Ah, memikirkannya saja membuat Ken tersenyum bahagia. Pria berbadan tegap itu tidak bisa membayangkan jika sudah berumah tangga nantinya.


Mungkin akan ada momen telat ke kantor karena antar istri belanja, antar anak sekolah dan masih banyak urusan keluarga lainnya.


"Tuan Ken, ada tamu untuk anda. Dia sedang menunggu di ruang tamu VVIP," ucap Sheila, sang sekretaris.


Langkah kaki Ken terhenti sejenak lalu menoleh. "Tamu? Siapa?" tanya Ken seraya memutar pandangan.


"Nyonya Besar, Tuan," sahut Sheila sambil mengangguk takzim.


Sontak iris hitam legam milik Ken membulat sempurna. "Mami?" ucapnya yang kemudian bergegas menuju ruang tamu VVIP. "Thanks, Sheila," imbuhnya sambil berlalu.


Entah ada urusan penting apa yang membuat Nyonya Merry Roseanne datang langsung ke kantor Ken. Biasanya dia cukup menelpon, jika ada urusan mendadak.


"Wow, ada hal penting apa yang membuat Nyonya Merry si super duper sibuk datang di kantorku?"


Seorang wanita paruh baya yang sedang menatap keluar jendela, memandangi hiruk pikuknya jalanan menoleh. Salah satu sudut bibirnya terangkat.


"Anak nakal, maminya datang bukan disambut dengan pelukan malah ditanya seperti itu."

__ADS_1


Ken terkekeh kemudian berjalan mendekat. Dua manusia ibu dan anak itu kemudian berpelukan sejenak, melepas kerinduan yang sudah menggunung sejak beberapa bulan terakhir.


Ya, meskipun mereka adalah ibu dan anak, tapi untuk bertemu saja rasanya begitu sulit. Sama-sama memiliki kesibukan membuat Ken hanya memiliki waktu beberapa bulan sekali untuk bisa bertemu dengan keluarga. Itu saja jika ada urusan yang penting dan mendesak. Jarak antara rumah Ken yang memang jauh dari keluarga adalah salah satu penyebabnya.


"Jadi, apa yang membuat Mami sampai datang ke kantor Ken sepagi ini?" tanya Ken seraya mengurai pelukan.


Wanita yang memiliki nama Merry Roseanne itu melangkah menuju sofa kemudian duduk sambil menyilangkan kakinya.


"Aku mau kamu datang di acara peluncuran produk terbaru di kantor Mami sama Papi minggu depan."


Ken mengerutkan dahinya. "Nggak salah denger nih? Mamy bela-belain datang dari Jakarta ke Bandung hanya untuk ini? Kenapa nggak telpon saja seperti biasanya?"


Presdir muda itu mengendurkan dasinya, lalu duduk di sebelah sang Mamy. Dia menatap lekat-lekat wanita yang telah melahirkannya itu. Entah mengapa dia terasa begitu jauh dengan sosok ibu.


Berbeda dengan Bu Nisa, walaupun baru beberapa kali bertemu Ken merasakan begitu dekat dengan ibunda dari kekasihnya itu. Dia merasa nyaman dan tenang jika bersama Bu Nisa. Tidak seperti sekarang, dekat dengan ibu kandung yang lama tak bertemu saja masih membahas masalah bisnis.


"Karena ini akan ada banyak tamu undangan dan wartawan yang datang juga. Mamy males kalau nantinya jadi bahan gosip murahan hanya karena kamu tidak datang."


Ken mencebik, kini dia tahu apa alasan ibunya rela datang jauh-jauh. Bukan karena demi dia yang putranya, melainkan demi menjaga nama baiknya dan juga perusahaan dari gosip miring.


Miris. Ken tidak habis pikir jika ibunya sepicik itu. Tapi, walau bagaimanapun Nyonya Merry tetaplah ibu kandungnya. Ken harus tetap menghormatinya.


'Wah, sepertinya ini momen yang tepat juga untuk memperkenalkan Dara sama Mami dan Papi,' batin Ken bermonolog.


"Oke, Mi. Ken usahakan datang."


"Harus, Sayang." Wanita berambut gelombang itu melirik jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Kalau begitu Mami balik ke Jakarta dulu ya."


"Hah? Langsung, Mi? Nggak ingin makan atau sekedar ngopi dulu sama Ken?"


"Aduh, Sayang. Mami masih ada meeting di jam makan siang nanti. Next time, ya."

__ADS_1


Nyonya Merry kemudian cipika-cipiki dengan Ken sebelum akhirnya berdiri dan melenggang pergi. Hal itu membuat Ken tersenyum kecut.


**** 


__ADS_2