Caddy Kesayangan CEO

Caddy Kesayangan CEO
Kedatangan Oliv di Kediaman Kendrick


__ADS_3

Sampai Dara kembali keluar, Bu Nisa dan Bi Inah masih saja duduk dan mengatupkan bibir. Mereka belum berani bertanya meskipun rasa penasaran sudah menjalar ke otak.


"Ini ya, Pak. Terima kasih banyak," ucap Dara setelah menyerahkan ongkos taksi.


Kini gadis yang masih bertelanjang kaki itu kembali melangkah memasuki istana Mahanta. Dia mengedarkan pandangan, menatap satu persatu bangunan, tanaman serta benda yang ada di sekitar.


"Non Dara kenapa?" tegur sang satpam yang heran melihat tingkah kekasih tuannya itu.


"Eh?" Dara terkejut karena tidak sadar sedari tadi tengah diperhatikan oleh dua satpam yang sedang berjaga. "Nggak papa kok, Pak. Dara masuk dulu," alibi nya seraya tersenyum kikuk.


Kini Dara berhenti di hadapan dua wanita paruh baya yang selama ini begitu berarti dalam hidupnya. Dia menatap Bu Nisa dan Bi Inah secara bergantian, kemudian menjatuhkan bokongnya di bangku yang berseberangan dengan mereka.


"Ada apa, Ra? Cerita sama Ibu dan BIbi," pinta Bu Nisa mewakili.


Fiiiuuhhh…


Dara menghela nafas panjang, dia mengerjapkan mata beberapa kali. Sungguh bingung dia harus memulai dari mana untuk bercerita. Terlebih ibunya baru saja sembuh dari sakit keras yang cukup lama. Rasanya tidak tega jika menodai kebahagiaan yang baru saja bisa dirasakan.


Tiiinnn… Tiiinnn… Tiiinnn…


Atensi tiga wanita yang sedang duduk saling memandang itu beralih ke arah pintu gerbang yang buru-buru dibuka oleh para satpam, setelah mendengar bunyi klakson yang begitu keras dan berulang-ulang.


"Siapa yang datang? Sepertinya Adam tidak pernah grusa-grusu seperti itu?" gumam Bi Inah menerka-nerka.


Tidak ada yang bisa menjawab. Dara dan Bu Nisa pun sedang penasaran siapa pengemudi di balik mobil Alphard hitam yang baru saja memasuki pelataran kediaman Mahanta.


Dibelakang mobil tersebut menyusul mobil yang sudah sangat familiar bagi para penghuni, karena mobil tersebut milik sang majikan.


Dara tertegun saat seorang wanita cantik yang sebelumnya dia lihat di atas panggung di acara peluncuran MP group, kini keluar dari mobil yang sedari tadi menimbulkan tanya dari semua orang.


"Turunkan semua barang-barangku, Pak!" titah wanita tersebut kepada sang sopir.


Wanita yang mengenakan heels tujuh sentimeter itu melenggak-lenggok menuju rumah utama Kendrick Mahanta. Hal tersebut semakin membuat hati Dara bergejolak.

__ADS_1


"Oliv, tunggu!" seru Ken yang tergesa-gesa turun dari mobilnya.


Seperginya Dara dari acara, Nyonya Merry meminta Oliv untuk segera pergi ke rumah Ken. Wanita konglomerat itu meracuni wanita yang sebenarnya memiliki hati baik.


"Oliv, cepat pergi ke rumah Ken. Ambil hak kamu. Jangan sampai rumah tersebut jatuh ke tangan gadis murahan itu," bisik Nyonya Merry dengan menaikkan salah satu sudut bibirnya.


Sontak saja wanita yang sejatinya tergila-gila pada Kendrick itu pergi begitu saja. Menyadari Oliv aka melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, Ken pun melepaskan cengkraman para bodyguard dengan sekuat tenaga.


"Aku mau menemani Oliv. Apa kalian masih mau menahanku? Hah!"


Mendapatkan isyarat dari Nyonya Merry, para bodyguard pun melepaskan Ken begitu saja. Presdir muda itu pun langsung berlari keluar gedung untuk menyusul Oliv. Adam yang berpapasan di koridor terlihat bingung, tapi menurut saja pada isyarat Ken untuk mengikuti tuannya itu.


Acara peluncuran berlanjut tanpa kehadiran Ken, tentu saja Nyonya Merry seger mengendalikan keadaan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dia hanya ingin publik tahu, bahwa Kendrick putra tunggalnya itu sudah memiliki istri. Sementara Dara hanyalah rumput liar yang berusaha masuk dan merusak kehidupan tanaman langka.


Kejam sekali bukan? Begitulah akal busuk Nyonya Merry yang sialnya Tuan Mario sebagai suami tidak bisa mengatasi istrinya sendiri.


Kembali ke kediaman Kendrick Mahanta dimana Ken tengah mencoba menghentikan ulah Olivia.


"Ada apa, Sayang? Sudah tidak sabar kangen-kangenan denganku di kamar?" sahut Oliv dengan suara manjanya. 


"Stop! Jangan halu!" balas Ken sambil menepis tangan Oliv yang mulai meresahkan.


"Kenapa, Sayang? Oh, iya. Kamu malu ya? Ya udah yuk kita masuk dulu."


Sepertinya suara bariton dan tepisan kasar dari Ken tidak cukup membuat Oliv untuk menghentikan aksinya. Wanita agresif itu malah semakin menjadi dalam menggoda Kendrick.


Bu Nisa sebagai orang tua dari gadis yang pernah dimintai restu seorang Kendrick Mahanta, mendelik melihat pemandangan yang tidak senonoh itu. Dadanya naik turun akibat deru nafas yang tidak beraturan. 


Sebagai seorang ibu, hati Bu Nisa pun ikut tercubit dengan kejadian ini. Siapa wanita yang baru saja datang ini? Kenapa dia memanggil Ken dengan sebutan sayang?


"Nak, Ken. Bisa jelaskan siapa wanita itu?"


Dua manusia yang sedang berdebat aksi menoleh ke arah sumber suara. Sesaat kemudian Olivia melangkah mendekat tiga wanita yang sedang berdiri memperhatikannya.

__ADS_1


"Mereka siapa, Sayang?" tanya Oliv menoleh sejenak ke arah Kendrick. "Oh, pasti para pembantu di rumah ini ya?" lanjutnya tanpa menunggu jawaban.


Oliv kemudian mengambil dua buku kecil dalam tas kecil yang sedari tadi bertengger di bahunya, lalu menyerahkan tas tersebut kepada Bu Nisa. 


"Tolong bawakan ini ya, Bi. Jika tuan kalian belum memperkenalkan siapa saya. Biar saya kenalin diri sendiri. Nama saya Priscilla Olivia, tapi kalian cukup memanggil saya Oliv. Ya, Nyonya Oliv, karena saya adalah istri Kendrick."


Sontak saja semua orang membulatkan netranya mendengar kalimat terakhir yang baru saja keluar dari mulut wanita asing tersebut.


Brakkk…


Saking terkejutnya Bu Nisa sampai menjatuhkan tas yang baru diminta Oliv untuk mencegahnya. Hal itu jelas membuat si empunya naik pitam.


"Heh! kamu punya tenaga tidak? Itu tas mahal, gajimu setahun saja tidak cukup untuk menggantinya! 


Oliv berteriak seraya menunjuk tepat ke wajah Bu Nisa. Mendengar ibunya dibentak dan dihina, jelas membuat Dara tidak terima. Gadis yang sedari tadi membeku sejak kedatangan Oliv dan menyaksikan adegan mesra, kini bergerak maju di depan ibunya. Dia menghalangi Oliv yang hendak menoyor kening Bu Nisa.


"Tolong jaga sikap Nyonya! Meskipun dia hanya pembantu, tapi dia lebih tua dari anda. Setidaknya hormati dia sebagai orang tua."


"Ibu nggak papa, kok, Ra," sela Bu Nisa.


Obrolan Bu Nisa dan Dara cukup membuat Oliv paham, bahwa dua wanita yang ada di hadapannya itu merupakan ibu dan anak. Sontak saja wanita dengan makeup tebal itu mengangkat salah satu sudut bibirnya.


"Jadi dia ibu kamu? Pantes saja. Bu, tolong ajari anaknya agar tidak merebut suami orang ya! Ken itu suami saya, bisa-bisanya dia mengakui Ken adalah kekasihnya. Sampai masuk TV lagi."


"Is-istri?" ulang Bu Nisa dengan tergagap. Dia menarik Dara agar mundur dan berdiri sejajar dengannya.


"Iya. Saya dan Ken sudah menikah sejak setahun yang lalu. Ini buktinya." 


Olivia menunjukkan dua buku kecil yang dia ambil tadi, ternyata buku tersebut  adalah buku nikah. Melihat bukti konkrit bahwa Ken dan Oliv merupakan suami istri yang sah menurut hukum negara dan agama, membuat mulut Bu Nisa bergetar.


Pandangan wanita paruh baya itu mendadak berkunang-kunang, bahkan dadanya mendadak sakit hingga membuat wanita paruh baya itu menekannya dengan cukup kuat. Tak lama kemudian Bu Nisa pun jatuh terkulai.


"Ibu!" pekik Dara seraya berusaha menangkap tubuh ibunya.

__ADS_1


**** 


__ADS_2