Caddy Kesayangan CEO

Caddy Kesayangan CEO
Luka Hati


__ADS_3

"Aaa…!"


Saking terkejutnya Ken pun turut berteriak saat mendengar Dara berteriak. Tapi tak berapa lama, pria bertubuh atletis itu menghela nafas dan menatap tajam ke arah asisten barunya. 


"Hei, kenapa berteriak begitu? Kamu pikir aku hantu apa!" seru Ken seraya berkacak pinggang. 


Mendengar suara bariton yang beberapa hari terakhir berhasil mengintimidasi hidupnya, perlahan tangan yang Dara gunakan untuk menutupi wajah perlahan ia turunkan. 


"Tu-tuan? Kau kah itu?" sahut Dara dengan terbata, bahkan tubuhnya sedikit gemetar karena takut. 


"Menurut kamu siapa lagi? Ini kamarku, apa yang kamu lakukan disini?"


Seketika Dara melanjutkan pekerjaannya, "Saya sedang membersihkan kamar Tuan."


Mendengar jawaban Dara, Ken tidak berkomentar apa-apa lagi. Dia segera mengambil pakaian ganti yang ada di dalam lemari, kemudian mengenakannya saat itu juga. 


Tanpa disadari, Dara curi-curi pandang dari pantulan cermin lemari. 'Etdah, itu perut apa roti sobek sih?' batin Dara yang diam-diam memuji tubuh Ken. 


'Hus! Mikir apaan sih aku? Ingat, dia itu pria sombong dan kejam. Dia yang sudah membuatmu harus kerja rodi begini, Dara! Ingat itu!'


Seakan tengah beradu argumen, Dara dibuat pusing dengan pikirannya sendiri. Memang harus diakui selain tampan dan kaya, Ken juga begitu gagah. Setiap wanita yang melihatnya pasti akan langsung jatuh hati. 


Tapi tidak dengan Dara, karena awal pertemuan dia dengan pria yang terkenal super tampan dan cool itu sangat tidak mengenakan. 


"Katanya kerja, tapi bengong! Terpesona lihat aku? Hm?" 


Ucapan Ken baru saja membuat Dara terkejut. Gadis berseragam biru itu memutar mata dengan malas. 'Ternyata selain kejam dan angkuh, dia juga terlalu percaya diri.' batinnya tak senang. 


Dara menggeleng pelan lalu kembali melanjutkan pekerjaan, "Permisi, Tuan." ucapnya seraya melewati Ken yang masih berdiri di depan lemari. 


Rupanya dicueki oleh Dara, cukup membuat CEO muda itu tidak terima. Pasalnya sudah menjadi hal yang lumrah, setiap wanita yang melihat ketampanan dan kegagahan nya pasti akan terpesona bahkan tergila-gila padanya. 


Hanya saja Ken malas menanggapi, hingga dia bersikap dingin dan acuh. Tapi kali ini, dia merasa cukup terhina, karena wanita biasa seperti Dara bahkan tidak mengaguminya. 


Ken mematut diri kembali di depan cermin, "Apa yang membuat dia tidak tertarik padaku?" gumamnya setengah berpikir. "Ah, sudahlah. Bukan hal penting juga, lagian dia cuma asisten, tidak berpengaruh padaku."

__ADS_1


Tak ingin ambil pusing, Ken kembali keluar dan melanjutkan kegiatan di ruang kerja. Saat itu juga Dara tengah membersihkan ruangan tersebut. 


"Hei, kamu ini sengaja ya ingin mengganggu saya?" 


Dara terkejut saat tiba-tiba Ken sudah berdiri di belakangnya. "Ti-tidak, Tuan. Saya pikir Tuan akan beristirahat di kamar, sehingga saya melanjutkan bersih-bersih disini."


"Halah, alasan! Bilang saja ingin dekat-dekat dengan saya. Wanita jelata kaya kamu itu sudah ketebak, kalau melihat pria yang tampan dan kaya macam saya ini, matanya langsung ijo."


Deg


Sungguh kesabaran Dara sudah mencapai ambang batas. "Maaf Tuan Kendrick Mahanta yang terhormat! Tugas saya disini hanya untuk memenuhi hukuman yang Anda berikan, bukan untuk dekat-dekat Anda."


Dara menghembus kasar, rasanya ingin sekali dia berkata kasar pada pria yang sudah sangat menghinanya. Tapi dia sadar dan tahu diri, siapa pria tersebut. Hingga Dara memilih keluar dari sana, daripada menambah rasa kesalnya. 


"Dih, wanita aneh." 


Ken seakan tidak merasa bersalah dengan apa yang telah keluar dari mulutnya itu. Dengan santainya dia tetap meneruskan kegiatan yang sudah direncanakan itu. 


Di sisi lain, Dara tengah berlari menuju kamarnya sambil berderai air mata. Sampai-sampai Adam dan Bi Inah yang sedang ngobrol di ruang tengah tidak dihiraukan. 


Adam mengedikkan kedua bahunya, sejak tadi mereka berdua bersama, tidak tau apa yang terjadi antara Tuan Muda dan juga asisten barunya itu. 


Bi Inah geleng-geleng kepala, sebagai seorang ibu dan wanita, dia lebih peka daripada Adam. Dia pun berjalan menuju kamar Dara. 


Tok! Tok! Tok! 


"Neng? Ini Bi Inah. Bibi boleh masuk, Neng?"


Hiks… hiks… hiks… 


"Masuk aja, Bi… pintunya tidak dikunci kok." sahut Dara dengan suara yang cukup parau. 


Awalnya Bi Inah menyembulkan kepalanya di pintu, melihat Dara yang sedang berbaring dan menyembunyikan kepalanya di antara bantal, membuat wanita paruh baya itu menghela nafas. 


Setelah menutup pintu kembali, Bi Inah berjalan mendekati ranjang lalu duduk di bagian tepi. "Ada apa, Neng?"

__ADS_1


Bi Inah membelai rambut panjang Dara dengan lembut, meskipun sudah dibawa beraktivitas seharian, nyatanya rambut yang dirawat itu masih bagus dan lembut. Padahal perawatan yang dipakai hanya perawatan biasa di rumah, bukan di salon. 


"Hiks… hiks… hiks… a-aku ingin pulang, Bi. Aku nggak kuat jika terlalu lama disini. Hwaaa…"


Akhirnya tangis Dara pun semakin pecah setelah mengutarakan apa yang mengganjal dalam hatinya. 


Wanita paruh baya yang mengenakan kebaya itu merasa iba dengan nasib Dara, walaupun dia baru kenal tapi naluri seorang ibu pasti akan tersentuh saat melihat gadis seumuran anaknya itu menangis. 


"Yang sabar, Neng. Kalau kamu menyerah sekarang, dan tiba-tiba pergi, Bibi malah takut hukuman kamu akan diperberat."


Adam sudah menceritakan semuanya tentang Dara pada Bi Inah, jadi tidak heran jika asisten senior di kediaman Matanya itu memahami apa yang terjadi. 


Kegalakan Ken memang sudah biasa, apalagi di kalangan pegawainya seperti Bi Inah dan Adam itu. Bukan tidak mungkin mereka sarapan kemarahan dari Ken, jika saja melakukan kesalahan saja dalam bekerja. 


Ken memang dikenal sangat tegas, teliti dan perfeksionis. Apalagi urusan pekerjaan. "Tuan Muda memang galak, jangan kaget." lanjut Bi Inah masih membelai rambut Dara yang panjang. 


Dara pun bangkit dan menghapus air mata yang memenuhi wajahnya itu. "Aku tidak peduli dia galak atau garang, Bi. Tapi yang bikin saya sakit hati dan tidak terima, dia memandang orang seenaknya dan menghina sesukanya."


Dengan suara yang masih sesenggukan, Dara mencoba menjelaskan apa yang baru saja terjadi. 


Kedua sudut bibir Bi Inah terangkat. "Mulai sekarang, kamu harus berhati baja dan bertelinga tebal. Apapun yang diucapkan dari Tuan Muda, jika itu tidak benar dengan keadaanmu, anggap saja angin lalu. Jangan ambil pusing."


Bibir tipis Dara dikerucutkan, tanda dia masih kurang setuju. Pada dasarnya dia wanita yang perasa, meskipun terkenal kuat dan sedikit tomboy. 


Bahkan bisa dibilang, ini kali pertama Dara menangis karena suatu hal di luar rumah. Itu tandanya hal tersebut begitu menyakiti hatinya. 


"Iya, Bi. Makasih ya, sudah memberi nasehat. Padahal kita baru ketemu." 


Tanpa ragu Dara memeluk wanita paruh baya yang duduk di sampingnya itu. 


"Sama-sama, kamu mengingatkan pada anak Bibi. Jadi Bibi ikut sedih kalau Neng Dara nangis. Sudah jangan nangis lagi ya, disini ada Bibi sama Adam. Kamu bisa berkeluh kesah sama kami."


Dara mengangguk patuh tanpa melepas pelukan. Setidaknya kini hati Dara merasa tenang, karena ada orang baik di rumah megah itu. 


**** 

__ADS_1


__ADS_2