Caddy Kesayangan CEO

Caddy Kesayangan CEO
Momen di Dalam Mobil


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak bilang sejak awal?" seru Ken.


Adam sampai menjauhkan ponselnya dari telinga, karena sang tuan muda terdengar begitu marah. Dia serba salah, karena jika menceritakan tentang Dara sejak awal nanti dikira mengarang cerita. 


Sekarang malah disalahkan seperti itu. Pria yang umurnya sebelas dua belas dengan Ken itupun hanya menghela nafas. Ini bukan kali pertama dia dimarahi atau disalahkan, tapi Adam merasa sedikit janggal karena tumben-tumbenan Ken peduli dengan seseorang. 


"Ma-maaf, Tuan." sahut Adam tergagap. 


Percuma juga bukan jika menjelaskan apa alasannya tidak memberi tahu, Ken? Dia sudah dicap salah ya akan tetap salah. Jadi lebih baik meminta maaf saja cukup. 


"Kirim alamat rumah sakitnya sekarang juga!" titah Ken selanjutnya. 


Adam terbelalak, dia bahkan lupa saat nama rumah sakit yang dikunjungi bersama Dara, walaupun itu baru seminggu yang lalu. 


"Ta… 


Tut… tut… tut… 


Belum sempat Adam menjawab, Ken sudah memutuskan panggilan secara sepihak. Pria berseragam serba hitam itu pun kembali menghela nafas. 


Dia terduduk lemas, karena jika sampai tidak mendapatkan alamat rumah sakit tersebut, sudah pasti kemarahan Kendrick akan semakin menjadi. 


Dengan perasaan yang campur aduk, pria berambut ikal itu mengutak-atik gawainya, berusaha mencari sesuatu yang dia harap bisa membantunya. 


Mendadak netra lesu milik Adam membulat sempurna saat tengah mengecek maps. Ya, dia baru ingat jika saat menuju rumah sakit, dia menyalakan maps. 


Bukan karena tidak tau jalan, tapi mencari rute yang lebih cepat dan tidak terlalu ramai. Karena saat itu Ken tengah marah besar, inginnya semua serba cepat. 


"Akhirnya, kau menyelamatkanku dari amukan Tuan Muda." ucap Adam seraya menciumi layar ponselnya. 


Saat itu kebetulan Bi Inah tengah mengantarkan cemilan dan kopi untuk Adam di pos satpam, wanita paruh baya itu mengernyit heran saat mendapati pria yang sudah dia anggap seperti anak sendiri itu berkali-kali menciumi ponsel sambil tersenyum kegirangan. 


"Ya ampun, Dam. Wanita mana sih yang bikin kamu sampai senang banget seperti itu?" Bi Inah bertanya seraya meletakkan secangkir kopi dan sepiring kue klepon. 


"Eh, Bi Inah. Kirain siapa bikin kaget saja." sahut Adam menoleh kaget. "Ini baru saja Tuan Muda marah-marah, biasa lah lagi PMS kali." imbuhnya. 

__ADS_1


Plak! 


Bi Inah lantas memukulkan nampan ke bahu Adam, saat mendengar jawaban pria beralis tebal itu. "Kalau ngomong jangan sembarangan! Biar bagaimanapun dia yang sudah membiayai hidup kita sampai detik ini."


Adam menghentikan aktivitasnya dalam bermain ponsel, lalu termenung sejenak. Ingatannya kembali ke zaman dimana dia diselamatkan oleh Ken dari kelaparan. 


Ya, dulunya Adam adalah anak jalanan yang luntang-lantung di jalanan. Saat kecil dia menjadi korban penculikan, tapi masih bisa kabur. Sementara dia menjalani hidup sebagai pengamen sampai remaja, hingga bertemulah dengan Ken. 


Berkat Ken, Adam bisa mengejar ketinggalan masa sekolah melalui homeschooling , hingga akhirnya bisa mendapatkan ijazah sampai SMA. 


Adam memang sengaja tidak ingin melanjutkan sampai perguruan tinggi, karena dia merasa tidak enak sudah cukup merepotkan Ken dan keluarganya. 


Hingga sekarang dia mengabdikan hidup kepada Ken sepenuhnya, sampai akhir hayatnya nanti. Bahkan dalam benak Adam tidak pernah terbersit untuk mencari wanita dan menikah.


Karena jika menikah nanti, dia tidak bisa melanjutkan pengabdian sebagai bentuk terima kasih pada Ken. Itu sebabnya biar dimarahi atau dihina sekalipun, Adam tidak pernah sakit hati. 


Dia tahu betul sisi lain Kendrick Matanya yang sebenarnya berhati malaikat, walaupun penampilannya lebih menyerupai iblis yang tampan. 


"Iya juga sih, Bi. Makasih ya sudah mengingatkan." sahut Adam kemudian melanjutkan kegiatannya untuk mengirim alamat rumah sakit yang dibutuhkan Ken. 


Ken berjaga-jaga khawatir Dara akan segera datang ke mobil disaat dia belum mendapatkan alamat rumah sakit. 


Benar saja, tak berapa lama Dara muncul dan berjalan cepat menuju mobil. "Maaf, Tuan, sudah menunggu lama." ucap Dara seraya membuka pintu belakang. 


"Siapa yang suruh kamu duduk di belakang?"


Dara yang separuh badannya sudah naik ke dalam mobil pun berhenti dan mengernyit heran. "Biasanya saya juga duduk di kursi belakang, kan, Tuan?"


"Duduk depan!"


"Tapi, Tuan… 


"Saya perintahkan kamu duduk di depan! Apa masih kurang jelas? Kamu pikir saya ini supir kamu apa?"


Dara menelan ludah, "I-iya, Tuan." sahutnya tergagap sambil berpindah posisi ke pintu depan. Dia semakin heran dengan tingkah Ken yang sangat sulit ditebak. 

__ADS_1


Setelah duduk di bangku sebelah kemudi, Dara berulang kali menatap luar jendela, sesekali menarik ujung dressnya yang memang kelewat seksi itu. 


Dalam hati Dara merutuh Shyna yang sudah membelikan seragam begitu ketat. 'Shyna! Memang tidak ada yang agak panjang dikit apa seragamnya?' batinnya kesal. 


Tanpa sadar iris Ken yang hitam legam menatap bagian paha Dara yang begitu mulus dan putih. Dia sampai menelan saliva saking gugupnya menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini. 


Belum lagi juniornya yang tiba-tiba bangun karena melihat peluang seperti itu. 'Astaga! Ini kenapa pakai bangun segala sih? Memalukan!' rutuk Ken seraya mengepalkan tangan. 


Dara pun heran karena Ken tak kunjung melakukan mobilnya, malah sibuk men scroll layar ponsel sambil menatap kesana kemari. 


Ting! 


Sebuah notifikasi terdengar dari ponsel yang tengah di genggam Ken. "Akhirnya!" seru Ken terlihat sumringah. 


Berbeda dengan Dara yang malah memutar matanya dengan malas. 'Nggak taunya lagi nunggu pesan dari kekasihnya? Duh, buang-buang waktu saja.'


Rupanya Dara menduga Ken tengah menunggu pesannya dibalas dari sang kekasih. Buktinya setelah itu Ken langsung menancap gas dan melaju dengan kecepatan tinggi. 


Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya saling diam, hanya ada suara musik yang sengaja Ken nyalakan untuk mengusir kesunyian. 


Tanpa diduga selera musik Dara dan Ken pun sama, yaitu pop. Sungguh Dara tidak menduga jika orang dingin seperti Ken menyukai musik yang seperti itu. Dia pikir Ken lebih suka musik rock atau bahkan tidak suka musik, karena hidupnya terlalu datar. 


'So I say a little pray, and hope my dreams will take me there…'


Reflek Dara turut bernyanyi lagu Westlife yang berjudul 'My Love' itu. Hal tersebut cukup menarik perhatian Ken hingga menoleh ke arah caddy sekaligus asisten pribadinya itu. 


"Bisa diem nggak si? Suaramu fals tau nggak." celetuk Ken. 


Seketika Dara membekap mulutnya dengan salah satu tangan. Sungguh dia merutuki diri karena kebiasaan bernyanyi jika mendengar lagu yang disuka. 


"Ma-maaf, Tuan."


Dara langsung mengalihkan pandangan ke arah luar jendela, hingga dia baru sadar jika mobil yang dia tumpangi itu menuju arah rumah sakit, tempat ibunya dirawat. 


**** 

__ADS_1


__ADS_2