
Ken tidak menyahut, dia masih sibuk memegangi kepalanya yang mendadak terasa begitu berat dan menyebabkan pandangan kabur. Bahkan kini perutnya ikut-ikutan mual dan keringat dingin juga berlomba-lomba mengalir di sekujur tubuh.
"Hup… "
Segera Ken membekap mulutnya kala perut terasa semakin mual. Dara yang sadar jika Ken menunjukkan gejala ingin muntah, dia segera turun dan berlari memutar ke arah pintu di samping Ken.
Secepat mungkin Dara membantu melepaskan sabuk pengaman, lalu merapat Ken untuk segera turun dari mobil. Beruntung tak jauh dari garasi, ada toilet umum yang biasanya digunakan Adam saat berjaga di pos satpam.
Dara langsung mengajak Ken menuju tempat tersebut, meskipun dengan langkah gontai, Ken tetap berusaha untuk berjalan. Dia sadar ukuran tubuhnya jauh lebih besar dan tinggi dari Dara, jika dia bertumpu pada gadis itu, bukan tidak mungkin mereka akan jatuh.
"Jadi bagaimana keadaan Tuan Muda, Dok?" tanya Bi Inah sebagai yang paling dituakan di rumah itu. Sementara Dara dan Adam hanya bisa diam sambil menunggu jawaban dari sang dokter.
Dokter Kinan yang baru saja selesai memeriksa Ken menghela nafas, "Dia habis makan sesuatu atau minum sesuatu sebelumnya?"
Kini Bi Inah dan Adam beralih menatap Dara dengan penuh tanya.
"Mmm... kalau nggak salah tadi Mas Kendrick, eh maksud saya Tuan Muda minum jus buah yang dibeli saat perjalanan pulang tadi, Dok."
"Jus buah apa itu?"
Dara menggeleng pelan, "Belum tau, Dok. Karena saya belum mencobanya. Tadi kita juga membeli karena kasihan dengan anak kecil yang menjualnya."
"Masih ada sekarang?"
"Sebentar, biar saya ambilkan di mobil."
Dara pun bergegas berlari keluar untuk mengambil kemasan gelas plastik jus yang lain. Ada sekitar sepuluh gelas tadinya, karena sudah diminum Kendrick satu tinggallah sembilan. "Ini, Dok." ucap Dara seraya menyerahkan salah satu gelas jus. Sementara gelas yang lain di letakkan di atas meja.
Dokter Kinan memperhatikan dengan seksama kemasan gelas yang polos tanpa merek ataupun logo itu, kemudian menghirup aromanya dan mencicipi. "Hmmm... pantas saja Ken langsung seperti ini. Tadi Ken pasti muntah banyak ya?" tebak sang Dokter.
Mendapatkan pertanyaan tersebut, Dara hanya mengangguk mengiyakan.
"Cobalah kalian minum masing-masing, menurut kalian itu jus buah apa?"
Tak ingin penasaran Dara segera mengambil tiga gelas jus dan membagikan dua yang lain untuk Bi Inah dan juga Adam,sementara yang satu untuk dirinya sendiri.
"Mmm...ini sih jus buah naga, seger banget , Dok." celoteh Adam sambil menikmati seruputan demi seruputan. "Tapi...Tuan Muda, kan, alergi buah naga." lanjutnya seraya menepuk jidat.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Saking terkejutnya Dara sampai tersedak dan terbatuk-batuk mendengar Ken alergi buah naga.
****
"Mas kalau mau muntah, dimuntahin aja." titah Dara seraya membantu memijat bagian pundak Ken.
Tapi si Tuan Muda itu menggeleng, "Aku nggak papa, lagian aku tidak pernah memakai kamar mandi ini. Hoek!"
__ADS_1
"Aduh, Mas. Sudah tidak ada waktu lagi. Daripada nanti kamu malah muntah di dalam rumah, mending disini bukan?"
Hoek! Hoek! Hoek!
Dara mengernyitkan dahi karena belum sempat menjawab ucapannya, Ken sudah keburu mengeluarkan seluruh isi perutnya. Tapi Dara tidak merasa jijik, dia tetap membantu memijit pundak Ken agar lebih enakan. Bahkan Dara juga membantu menyalakan kran air, agar muntahan Ken tadi segera mengalir ke pembuangan.
Sekitar lima menit Ken akhirnya selesai mengeluarkan semua isi perutnya itu. CEO muda yang biasanya tampak gagah dan menakutkan, untuk pertama kalinya Dara melihat Ken terlihat begitu lemas dan pucat.
"Mas, kamu tunggu disini sebentar ya." ucap Dara setelah mengajak Ken untuk duduk di bangku samping rumah.
Mengingat keadaan Ken yang sangat lemas seperti itu, Dara tidak mungkin kuat merapat sampai dalam. Apalagi sampai kamar Ken yang berada di lantai dua.
Dara akhirnya berjalan menuju pos satpam, yang kebetulan berjarak sekitar sepuluh meter dari tempat dia mendudukkan Ken sekarang.
"Mas Adam, minta tolong bantuin malah Mas Kendrick dong." ucap Dara seraya menyembulkan kepala di pintu pos satpam.
"Mas Kendrick?"
Dahi Adam mengernyit saat mendengar Dara memanggil bosnya dengan sebutan Mas. Padahal biasanya Tuan Muda, atau malah jika lagi sebel pria angkuh.
"Mmm… maksud saya, Tuan Muda. Dia tadi tiba-tiba muntah-muntah pas turun dari mobil."
Dara segera mengalihkan pembicaraan, beruntung topik yang dia bawa cukup penting dan urgent, sehingga Adam tidak akan mengungkit lagi. Karena keselamatan tuan mudanya jauh lebih penting.
"Ya ampun, ya sudah ayo cepat!" Adam bahkan menjawab sambil berlari mendahului Dara.
"Mas, dia ada di bangku samping!" seru Dara karena melihat Adam berlari menuju teras.
Secepat mungkin Adam berubah arah yang semula lurus menjadi belok ke arah kiri. Dengan sigap Adam langsung memapah Ken seoarang diri.
Meskipun keadaan Ken begitu lemas, karena Adam adalah pria setidaknya dia tidak terlalu berat menahan beban Ken yang ditumpukan padanya.
"Ini kenapa bisa jadi begini sih, Ra?"
Sambil berjalan menuju sofa di ruang tengah, Adam berceloteh mengkhawatirkan keadaan Ken yang tidak pernah seperti itu sebelumnya.
"Saya juga nggak tau, Mas."
Adam hanya bisa geleng-geleng kepala, dia juga bingung sendiri jika menghadapi majikannya sakit seperti itu. Pria berseragam serba hitam itu lebih senang melihat Ken yang suka marah-marah, daripada lemas tak berdaya seperti sekarang.
"Tuan Muda! Tuan muda kenapa?"
Bi Inah yang baru keluar dari dapur langsung berlari mendekat. Sama halnya seperti Adam, Bi Inah begitu khawatir jika melihat keadaan Ken tak berdaya.
"Dia kenapa, Dam?"
"Tuan kenapa, Ra?"
__ADS_1
Bi Inah menatap nama yang dipanggil secara bergantian dengan raut wajah yang sangat takut.
Dara menggeleng pelan, dia sendiri masih shock melihat Ken yang tiba-tiba bisa muntah begitu banyak hingga membuat tuannya itu lemah tak berdaya.
"Adam, cepat telfon Dokter Kinan!" titah Bi Inah.
Dokter Kinan adalah dokter pribadi langganan, Ken. Setiap kali Ken atau ada pegawai yang memerlukan tindakan dokter, Ken pasti akan memanggilnya.
Tak butuh waktu lama, Adam segera mendial nomor Dr. Kinan yang memang sudah dia simpan kontaknya. Beruntung saat itu Dr.Kinan sedang tidak ada praktek di rumah sakit, sehingga bisa langsung meluncur ke kediaman Ken.
Ketiga manusia yang bertugas sebagai pegawai Ken berdiri berjajar, raut wajah mereka semua sama yaitu nampak begitu tegang dan khawatir.
Apalagi Dara yang secara langsung melihat bagaimana Ken tersiksa dengan muntah begitu banyak tadi.
"Jadi bagaimana keadaan Tuan Muda, Dok?" tanya Bi Inah sebagai yang paling dituakan di rumah itu. Sementara Dara dan Adam hanya bisa diam sambil menunggu jawaban dari sang dokter.
Dokter Kinan yang baru saja selesai memeriksa Ken menghela nafas, "Dia habis makan sesuatu atau minum sesuatu sebelumnya?"
Kini Bi Inah dan Adam beralih menatap Dara dengan penuh tanya.
"Mmm... kalau nggak salah tadi Mas Kendrick, eh maksud saya Tuan Muda minum jus buah yang dibeli saat perjalanan pulang tadi, Dok."
"Jus buah apa itu?"
Dara menggeleng pelan, "Belum tau, Dok. Karena saya belum mencobanya. Tadi kita juga membeli karena kasihan dengan anak kecil yang menjualnya."
"Masih ada sekarang?"
"Sebentar, biar saya ambilkan di mobil."
Dara pun bergegas berlari keluar untuk mengambil kemasan gelas plastik jus yang lain. Ada sekitar sepuluh gelas tadinya, karena sudah diminum Kendrick satu tinggallah sembilan.
"Ini, Dok." ucap Dara seraya menyerahkan salah satu gelas jus. Sementara gelas yang lain di letakkan di atas meja.
Dokter Kinan memperhatikan dengan seksama kemasan gelas yang polos tanpa merek ataupun logo itu, kemudian menghirup aromanya dan mencicipi.
"Hmmm... pantas saja Ken langsung seperti ini. Tadi Ken pasti muntah banyak ya?" tebak sang Dokter.
Mendapatkan pertanyaan tersebut, Dara hanya mengangguk mengiyakan.
"Cobalah kalian minum masing-masing, menurut kalian itu jus buah apa?"
Tak ingin penasaran Dara segera mengambil tiga gelas jus dan membagikan dua yang lain untuk Bi Inah dan juga Adam,sementara yang satu untuk dirinya sendiri.
"Mmm...ini sih jus buah naga, seger banget , Dok." celoteh Adam sambil menikmati seruputan demi seruputan. "Tapi...Tuan Muda, kan, alergi buah naga." lanjutnya seraya menepuk jidat.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
__ADS_1
Saking terkejutnya Dara sampai tersedak dan terbatuk-batuk mendengar Ken alergi buah naga.
****