
Adam terus melangkah memimpin Dara menuju pintu belakang. "Itu pintu khusus Tuan Muda dan para keluarga atau relasinya, kita yang hanya pegawai dilarang melewati pintu otomatis itu."
Dara terkejut mendengar penjelasan Adam, "Terus kalau kita lagi buru-buru, dan sudah berada di depan pintu tersebut gimana, Mas? Masa harus muter kesini?"
"Ya begitu, pintu otomatis itu sangat unik, tidak akan terbuka untuk kalangan menengah kebawah seperti kita."
Dara mencebik, dia baru pernah dengar ada pintu yang semacam itu. Kini dia semakin terkejut karena Adam membawanya ke sebuah ruangan yang terlihat biasa saja, tak ada bedanya dengan rumah Dara.
"Nggak usah heran begitu, kan sudah saya bilang, kelas menengah kebawa seperti kita ya tempatnya disini."
Adam menjelaskan bahwa ruangan yang mirip sebuah kontrakan tersebut, memiliki akses ke dapur rumah utama. Di ruangan tersebut ada beberapa kamar terpisah, ada kamar Adam, kamar para asisten rumah tangga, koki dan para pekerja lain.
"Ini kamar kamu," ucap Adam sambil menunjukkan kamar paling ujung, dari semua kamar memang hanya itu yang terlihat kosong dan tidak berpenghuni.
Dara mengangguk patuh, dia masuk ke ruang kamar tersebut. Tidak terlalu mewah, tapi tidak buruk juga. Cukup nyaman untuk istirahat.
"Mas, bukannya disini sudah banyak asisten ya? Terus tugas saya nanti apa?"
Adam mengedikkan kedua bahunya, "Entahlah, saya sendiri juga bingung. Tapi jika kamu dijadikan asisten pribadi, sudah pasti tugas kamu selalu berhubungan dengan beliau dan harus ikut kemanapun beliau pergi."
Dara terbelalak, "Kemanapun dia pergi?"
Adam menganggukan kepalanya, sejauh ini hanya itu yang dia tangkap mengenai asisten pribadi. Karena selama ini selain menjadi supir, dia juga menjadi asistennya Ken.
Drrrtt! Drrrtt!
Adam terkejut saat ponselnya tiba-tiba bergetar, "Neng, tunggu bentar ya." Pamit Adam yang kemudian keluar kamar.
"Halo, ada apa, Tuan?"
"Mulai hari ini, tugas kamu hanya fokus menjadi supir. Tugas yang lain akan digantikan Dara, begitu juga tugas para asisten rumah tangga yang berhubungan denganku, akan digantikan oleh Dara."
Adam membulatkan netranya, karena tugas yang diberikan kepada Dara cukup banyak. Mulai dari menyiapkan kebutuhan kantor, memasak menu sarapan hingga makan malam, mencuci dan menyetrika baju Ken, bahkan harus siap siaga kapanpun jika Ken butuhkan.
"Mma-maaf, Tuan. Apa itu tidak terlalu banyak?" Sahut Adam mencoba membantu bernegosiasi.
"Lakukan saja tugas kamu! Nggak usah sok jadi pahlawan kesiangan!" bentak Ken di ujung telponnya.
__ADS_1
"Bba-baik, Tuan." sahut Adam tergagap.
Klik
Tutt! Tutt! Tutt!
Terdengar Ken menutup teleponnya secara sepihak. Adam pun hanya bisa menghela nafas, dia berharap semoga Dara bisa menjalankan semua tugasnya, sehingga masa hukuman bisa cepat selesai.
Adam menuju kamarnya sebentar, sebelum akhirnya dia kembali ke kamar Dara. Adam menuliskan daftar semua tugas yang harus dilakukan Dara selama menjadi asisten pribadinya Ken.
Tok! Tok! Tok!
Klek
"Eh, Mas Adam. Maaf tadi habis bebersih kamar cukup pegel nih badan, jadi istirahat sebentar." Ucap Dara setelah membuka pintu kamarnya.
Adam mengangguk paham, "Iya, nggak papa. Ini daftar pekerjaan kamu selama disini." Lanjut Adam seraya menyerahkan secarik kertas.
Dara langsung menerima kertas tersebut, sedari tadi dia memang sedang penasaran apa tugasnya selama disini. Dia terkejut karena rupanya pekerjaannya kali ini begitu banyak dan detail.
"Dibaca yang betul, disitu kan tertulis masak hanya khusus untuk Tuan Muda, bersih-bersih juga hanya kamar dan ruang kerja Tuan Muda."
Dara mengerucutkan bibirnya, bukannya dirumah ini hanya ada satu majikan? Itu berarti sama saja, hanya dia seorang yang melayani majikannya itu.
"Kalau sudah baca, ayo aku tunjukkan ruangan-ruangan di rumah utama." Ucap Adam sembari berjalan menuju pintu penghubung antara kamar para pegawai dengan dapur rumah utama.
Dara terperangah begitu melihat dapur yang begitu luas, bersih dan rapi, Interiornya juga begitu mewah. Dara jadi bergidik ngeri kalau merusak salah satunya, bisa-bisa makin panjang masa hukumannya.
"Dara, ini Chef Mira. Dia yang biasa memasak makanan untuk Tuan Muda." Ucap Adam memperkenalkan wanita paruh baya yang mengenakan seragam serba putih itu.
Dara pun tersenyum dan mengangguk takzim, "Chef, ini Dara, asisten pribadinya Tuan Muda. Mulai hari ini semua kebutuhan makanan Tuan Muda dia yang bertanggungjawab."
Chef Mira tersenyum dan mengangguk paham, "Jadi saya ngapain dong?" Sahutnya bingung, selama ini dia juga masak hanya untuk Tuan Muda.
"Chef bisa mengambil cuti selama satu bulan ke depan, karena Dara hanya akan bekerja selama satu bulan."
__ADS_1
Chef Mira ber-oh ria, kini Adam beralih menunjukkan ruang cuci jemur, disana ada pegawai yang sedang menyetrika pakaian Tuan Muda juga.
Berlanjut mengelilingi semua sudut rumah, dimana kamar dan ruang kerja Tuan Muda berada di lantai dua, bersama dengan ruang olahraga juga.
Berdasarkan banyak pekerjaan yang beralih di tangan Dara, maka para pekerja yang mengampu tugas tersebut sudah dipastikan dapat jatah cuti juga.
Hanya ada satu pekerja yang tinggal, yaitu Bi Inah. Beliau bertugas untuk membersihkan seluruh ruangan, dan juga halaman. Satu hal yang Dara heran, semua pekerja di rumah Ken, sudah tua. Rata-rata sama usianya dengan ibunda Dara.
"Mas, kenapa disini yang kerja ibu-ibu semua? Nggak ada yang seusiaku atau minimal seusia Mas Adam atau Tuan Ken gitu?" Tanya Dara penasaran.
"Tuan Muda lebih suka para ibu-ibu, karena mereka benar-benar bekerja, bukan cuma tebar pesona."
"Jadi maksudnya aku bakalan tebar pesona gitu?"
Hahaha!
Adam tergelak mendengar pertanyaan Dara. "Kamu bukanlah tipe Tuan Muda, jadi tidak perlu capek-capek tebar pesona, karena nggak akan mempan."
Dara mencebik, dia langsung mematut diri didepan kaca lemari yang ada didepannya. "Apa aku jelek banget? Hingga tidak menarik?"
Adam masih terkekeh melihat Dara yang cemberut, "Emang kamu naksir Tuan Muda?"
"Ish, amit-amit. Meskipun dia adalah orang terakhir di dunia ini, mending aku jomblo seumur hidup."
"Waduh, hati-hati loh. Nanti benci bisa jadi cinta."
Dara mengibaskan tangannya, "Aku nggak tertarik meskipun dia adalah orang terkaya seantero raya, Mas. Lihat sikapnya yang angkuh saja sudah bikin mati berdiri."
Ekhem!
Dara dan Adam tersentak saat mendengar suara deheman, mereka menoleh dan melihat Ken sedang berdiri di ujung tangga sambil melipat tangannya di depan dada.
"Lagi pada ngomongin apa?" tanya Ken dengan suara baritonnya.
Mata elangnya menatap tajam kearah Dara dan Adam secara bergantian, benar-benar tatapan yang mematikan. Auranya sungguh mengintimidasi siapa saja yang berada di depannya.
Dara pun melirik Adam, dia berharap Adam tidak akan mengatakan apa yang baru saja Dara ucap tentang Ken. Dara tidak mau hukumannya bertambah.
__ADS_1
*****