
Terlalu sibuk berbincang dengan Mr.Vicky, Ken baru menyadari bahwa Dara sudah tidak ada disampingnya lagi. Netranya mengedar mencari wanita yang dia kenalkan sebagai calon istri itu.
Pandangannya berhenti pada sosok yang tengah dikerubungi oleh para wanita sosialita. Irisnya yang legam hampir saja keluar dari tempatnya, perasaannya langsung tidak enak saat menyadari wanita yang sedang dikerubungi adalah Dara. Ken tahu betul bagaimana pedasnya para mulut yang hobi nyinyir itu.
"Mmm… maaf Mr.Vicky, saya permisi sebentar," pamitnya di sela-sela perbincangan.
Beruntung saat itu bukan hanya Ken yang sedang berbincang dengan sang pemilik acara, melainkan para presdir lain juga sudah bergabung, sehingga Mr. Vicky tidak kehilangan teman ngobrol.
Dengan langkah cepat Ken segera menghampiri gerombolan wanita sosialita yang terlihat tengah memojokkan Dara. Hal itu bisa diamati karena semua pandangan wanita tertuju pada gadis yang baru saja ikut bergabung di acara tersebut.
Belum lagi kaki jenjang milik Dara terlihat sedikit bergetar, itu tandanya suasana tengah membuat gadis yang memiliki tubuh dengan spek model itu merasa kurang nyaman.
Meskipun para tamu lain tidak menyadari, tapi Ken paham betul suasana seperti apa saja yang membuat Dara merasa terpojok dan tidak nyaman. Salah satunya sekarang ini.
"Permisi nyonya-nyonya, izin mengambil kembali belahan hati saya apakah boleh?" ucap Ken tiba-tiba sambil menarik tangan Dara.
Sontak saja perhatian berpindah pada CEO muda yang terkenal dingin itu. Mereka semua terperanjat dan tidak menduga, seorang Kendrick Matanya bisa semanis itu terhadap wanita. Selama ini semua orang pikir, Ken dingin dan angkuh juga jika memiliki pasangan.
Ternyata Presdir tampan itu justru bersikap begitu manis. Hal itu jelas membuat iri para kaum hawa, terutama Brenda. Gadis berambut pendek itu benar-benar merasa iri dengan Dara.
Dahulu saat Brenda mencoba mendekati Ken, dia sampai dibuat lelah sendiri karena sang presdir muda tidak tertarik sedikitpun. Ternyata hanya mengandalkan putri dari sesama konglomerat saja tidak berhasil menyentuh hati Ken.
Dara yang notabene bukan siapa-siapa, dia gadis biasa dan bertemu dengan Ken karena suatu kecelakaan. Tapi seiring berjalannya waktu tanpa sadar dia telah membuat CEO muda yang terkenal dingin, kini berubah menjadi begitu hangat.
"Oh… okey. Padahal kami masih ingin ngobrol sama Dara loh," sahut Nyonya Trisa mewakili.
Para wanita sosialita yang lain tidak bisa berkata-kata, mereka hanya diam dan tertegun dengan apa yang baru saja terjadi.
"Mmm… lain kali pasti Dara bisa bergabung lagi dengan anda semua. Saat ini kami masih ada kepentingan di luar," alibi Ken menyahuti para wanita yang suka kepo itu.
__ADS_1
Tak mempedulikan tatapan Brenda yang mengharap dilirik, Ken langsung mengajak Dara untuk keluar dari lingkaran para wanita sosialita itu.
Dara hanya menurut saja karena jujur dia masih terkejut dengan situasi sekarang. Seumur hidup gadis bertubuh jenjang itu baru pernah mengikuti acara orang besar seperti itu. Biasanya dia hanya melihat di sinetron, drama, atau novel. Lah, ini dia merasakan sendiri.
Ternyata berada di lingkungan yang tidak biasa cukup membuatnya kurang nyaman. Apalagi jika lingkungan tersebut mengedepankan harta dan tahta, sungguh berat bagi Dara yang tidak memiliki apa-apa.
"Nyonya Viona, sepertinya kami tidak bisa mengikuti acara sampai selesai," ucap Ken berpamitan.
"Oh, tidak apa Tuan Ken. Saya paham orang sibuk seperti anda pasti banyak acara dan urusan. Saya berterimakasih sekali karena sudah menyempatkan waktu untuk hadir, bahkan mengajak calon istri juga kami merasa tersanjung."
Nyonya Viona menjawab seraya mengangguk takzim. Yang dikatakan istri Mr.Vicky itu benar adanya. Tidak semua undangan bisa dihadiri oleh Kendrick Mahanta, belum lagi jika acara bersamaan dengan jadwal Ken yang padat. Bagi mereka yang acaranya bisa dihadiri Ken, itu artinya mereka beruntung.
"Mari berpamitan sama suami saya dulu," imbuh Nyonya Viona sambil memimpin langkah.
Tiga orang yang tengah menjadi pusat perhatian itu pergi dari kerumunan para wanita sosialita, membiarkan mereka mematung dengan apa yang terjadi.
"Halah! Biasa saja menurutku. Aku juga bisa begitu kalau Ken memberi kesempatan waktu itu," seloroh Brenda.
Semua perhatian kini beralih pada gadis yang berwajah judes. Sejak kehadiran Ken bersama Dara, tidak terlihat sadikit senyum saja di wajahnya.
Mengetahui karakter Brenda yang memang egois, orang-orang hanya geleng-geleng kepala. Tidak ada satupun yang menanggapi, hingga membuat gadis itu malu sendiri. Akhirnya dia kesal dan keluar dari gerombolan para wanita sosialita.
"Maaf karena sudah mengabaikanmu disini," bisik Ken sembari terus menggandeng tangan mulus Dara.
"Nggak papa, aku aja yang tidak terbiasa dengan acara seperti ini. Aku yang minta maaf karena membuatmu malu."
Ken menghentikan langkahnya, hingga membuat Dara turut berhenti. Mereka saat ini sedang berjalan menuju basement. Ken tidak tega membiarkan Dara berlama-lama dalam lingkungan yang membuat gadisnya itu tidak nyaman.
"Hei, kamu bilang apa? Kamu tidak pernah membuatku malu, justru dengan mengajakmu aku merasa bangga."
__ADS_1
Blush…
Entahlah, beberapa hari ini Ken selalu berhasil membuat wajah Dara merona karena malu. Membuat hati gadis itu berdetak tak menentu. Apa ini artinya, Dara juga memiliki perasaan yang sama?
Sudah cukup lama sejak Ken mengungkapkan perasaan hatinya, tapi masih belum dapat jawaban dari Dara. Bukan bermaksud menggantung perasaan, tapi Dara cukup sadar diri.
Dara masih tidak percaya jika orang sekelas Kendrick Mahanta bisa menaruh hati padanya, gadis biasa yang bahkan tidak memiliki sesuatu untuk dibanggakan.
Dara menunduk malu, dia memilin ujung dressnya sambil sesekali melirik Ken yang sialnya masih terus memandanginya.
"Ish… kamu apaan sih liatin aku begitu?" ucap Dara seraya memutar badan.
Berhadapan dengan Ken dalam waktu yang lama cukup membuat tubuhnya gemetar, beruntung keringat dinginnya tidak turut bercucuran. Bisa-bisa habis dia diejek oleh Ken.
"Emang salah yang mandangin orang yang aku sayang?"
Deg…
Hati Dara kembali diguncangkan dengan kata-kata Ken yang begitu manis. Hal itu sontak membuat gadis yang mengenakan dress itu melirik sejenak.
"Kenapa kamu tadi bilang begitu di depan wartawan?" tanya Dara penasaran.
Sebenarnya terdengar bodoh jika Dara bertanya seperti itu, karena sudah jelas-jelas Ken pernah menyatakan perasaan kepadanya. Tapi sebagai seorang wanita, dia pun ingin memantapkan hati.
"Kamu masih tanya kenapa? Came on, Dara. Kita ini sudah sama-sama dewasa. Bukan abg lagi yang harus jual mahal dan tarik ulur kaya layangan begini. Aku tahu kamu pasti paham maksudku."
Sepertinya Ken mulai lelah setiap kali berbicara mengenai perasaan, Dara hanya terkesan membolak-balikan pertanyaan yang sama. Sebagai manusia Ken juga memiliki batas kewajaran. Jika memang tidak memiliki perasaan yang sama, lebih baik jujur, daripada digantung terlalu lama seperti itu.
****
__ADS_1