Caddy Kesayangan CEO

Caddy Kesayangan CEO
Usaha Meluluhkan Ken


__ADS_3

Sopir kepercayaan Kendrick Mahanta itu menghela nafas. "Ya, ini memang salahku," akunya merasa sangat menyesal. 


Pria berseragam serba hitam itu kemudian berdiri, "Setelah bereskan semua ini, cobalah membuatkan makanan yang baru. Intinya dia paling anti dengan seafood, makanan lain tidak masalah."


"Tapi kalau aku nanti dimarahin lagi gimana?"


Bukan apa-apa, Dara sudah begitu lelah karena selalu saja salah dimata seorang Kendrick Mahanta. Tidak di lapangan golf maupun dirumah, pekerjaan yang dia lakukan seakan tidak pernah benar. 


"Cobalah dulu, pokoknya kamu harus mengembalikan mood Tuan Ken yang sudah buruk semenjak di lapangan golf." pungkas Adam sembari menepuk pundak gadis yang masih duduk bersimpuh di lantai, kemudian melenggang pergi, melanjutkan pekerjaannya. 


"Huft!"


Meskipun Dara berulang kali menghela nafas, tetap saja tidak mengurangi rasa dongkol di dalam hatinya. Kalau saja Kendrick bukan orang yang sangat berpengaruh di dunia, mungkin dia sudah memilih kabur, daripada bertahan dengan orang yang sangat angkuh. 


Tapi apalah daya, selain nyawa ibunya yang sedang terbaring lemah di ranjang pesakitan, kini nama klub milik sahabatnya pun menjadi taruhan, jika Dara tidak menjalani hukuman dengan benar. 


Walaupun masih lemas karena melihat hasil jerih payahnya dibuang begitu saja, gadis berseragam biru muda itu mengumpulkan tenaga untuk bangkit. Menyelesaikan tugasnya membereskan kekacauan yang disebabkan sendiri. 


"Duh, bikin apa ya biar Tuan Ken tidak marah lagi?" gumam Dara sambil mondar-mandir di dapur. 


Dia benar-benar serba salah, jika tidak tepat ujung-ujungnya kena marah lagi, seperti yang sudah dia rasakan sejak bertemu dengan pria terangkuh di dunia itu. 


"Eh, apa tuh?" 


Atensi gadis berkulit putih itu beralih pada sebuah buku kecil, terletak diantara rak bumbu. Tanpa merasa ragu, dia segera mendekat dan meraih benda kecil tersebut. 


Binar bahagia tersorot dari iris coklatnya, seakan benda tersebut menyelamatkan dirinya dari maut yang sudah menghadang. 


Tangan lentiknya langsung bergerak dengan lincah, mengambil beberapa bahan di kulkas. Terlihat Dara begitu semangat dan yakin, jika kali ini Tuan Kendrick tidak akan marah seperti sebelum-sebelumnya. 

__ADS_1


Saat yang bersamaan Ken telah kembali, dia hanya keluar untuk menghilangkan emosi. Setelah reda, dia kembali karena pada dasarnya Ken tidak suka keluar, jika tidak ada kepentingan. 


"Hmmm…" Ken mencium bau yang sangat dia kenal. "aromanya seperti…


Tanpa melanjutkan ucapannya, Ken segera melangkahkan kaki ke arah sumber aroma tadi. Semakin dekat dengan dapur, aroma tersebut semakin kuat. 


Dahi pria berbadan atletis itu mengernyit saat melihat Dara tengah berkutat di dapur. "Tahan banting juga tuh cewek." gumamnya sambil memperhatikan gerak gerik asisten pribadi barunya itu. 


Tiba-tiba saja Dara menghentikan kegiatannya, saat merasa seperti ada yang memperhatikan. Tapi ketika dia menoleh ke arah pintu dan segala penjuru, tidak ada siapapun disana. 


'Aneh, tadi seperti ada yang sedang liatin aku. Tapi kok nggak ada ya?' batin Dara bertanya-tanya. "Jangan-jangan…


Gadis bertubuh jenjang itu mengedikkan bahu kala membayangkan hal-hal mistis di rumah besar tersebut. Tak ingin terlarut dalam ketakutan yang dia buat sendiri, Dara segera melanjutkan pekerjaannya yang sebentar lagi selesai. 


Begitupun dengan Ken, dia memilih pergi ke kamar. Selain agar tidak ketahuan karena mengintai Dara saat memasak, hari sudah semakin sore, dia butuh untuk membersihkan dan menyegarkan tubuh. 


Tiga puluh menit berlalu, Dara sudah siap dengan beberapa menu cemilan sehat dan mengenyangkan. Ada ketan bakar, bola tape goreng, singkong keju susu dan yogurt buah. 


"Bawa makanannya ke bangku taman!" titah Ken sembari menuruni tangga. 


Dara yang baru saja keluar dapur terkejut, karena tiba-tiba saja bos barunya itu memberikan perintah. 'Kapan dia kembali? Tau aja kalau aku mau menawarkan camilan.' batin gadis berhidung mancung itu. 


"Tau ah, daripada kena omel lagi. Mending aku turutin." pungkas Gadis berseragam serba biru itu sambil bergegas kembali ke dapur. 


Beberapa kali mendapatkan bentakan dan makian dari Ken beberapa kali, membuat Dara cukup kebal dan tidak terlalu takut lagi. Pasalnya bagi Dara, Ken memang orang yang tidak memiliki kepribadian ramah seperti kebanyakan orang.Jadi jika mengharap sikap hangat dari seorang yang sangat angkuh seperti Ken, ibarat mengharapkan hujan di musim kemarau.


“Semangat Dara! Kamu pasti bisa. Apa kamu mau terkurung dalam penjara mewah ini selamanya? Nggak, kan? Sekarang lakukan tugasmu dan percepat masa hukumanmu.”


Dara terus berceloteh sembari meletakkan berbagai cemilan yang telah dibuat ke dalam nampan. "Ibu, do’akan Dara agar cepat keluar dari sini dan cari uang yang banyak untuk kesembuhanmu.” pungkasnya.

__ADS_1


Setelah mengatur nafas agar lebih tenang, gadis yang mendadak berubah profesi dalam satu hari itu pun mulai mengayunkan kaki menuju taman. Dengan langkah yang cukup yakin sembari terus merapalkan do’a agar pekerjaannya kali ini tidak membuat sang tuan muda murka kembali.


Tiba di taman, terlihat Ken tengah duduk bersantai sambil memainkan gawainya. Bahkan kehadiran Dara tidak mengalihkan perhatiannya dari benda pipih itu. Hal tersebut membuat gadis yang menyandang status sebagai asisten pribadinya itu merasa cukup tersinggung.


“Permisi Tuan,” singkat Dara sambil menyajikan camilan yang dia bawa tadi.


Hening. Tidak ada jawaban ataupun respon dari Ken. Tentu saja Dara merasa semakin kesal, karena kerja kerasnya benar-benar tidak dihargai. Diapun berdiri di samping Ken, karena ingin mendengar bagaimana komentar tentang hasil kreasinya selama berkutat di dapur, lebih tepatnya sih mengkreasikan resep yang sudah dicatat oleh Chef Mitha.


Lima menit, sepuluh menit, bahkan sampai tiga puluh menit, makanan yang Dara sajikan belum disentuh sama sekali oleh Ken. Berkali-kali gadis berkaki jenjang itu menggaruk leher dan gerakan lainnya untuk menghilangkan rasa gugup dan bosan menunggu.


‘Gila ini orang, lihat handphone apa semedi sih? Dari tadi nggak kelar-kelar.’ batin Dara seraya memutar matanya dengan malas.


Huft!


Huft!


Huft!


Tanpa sadar, Dara berulang kali menghela nafas cukup keras dan kasar, hal tersebut membuat Ken mengalihkan pandangannya.


“Kamu ngapain masih berdiri disitu?” tanya bos muda tersebut dengan entengnya.


Sontak kedua alis Dara tertaut, heran dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh tuannya. “Sa-saya? Mmmm… sedang menunggu Tuan mencicipi cemilannya, nanti jika ada yang kurang bisa saya perbaiki langsung.”


Kini giliran Ken yang menghela nafas panjang, lalu menaruh ponselnya diatas meja. “ Kamu tahu nggak? Dari tadi saya sedang menunggu kamu pergi dari sini, saya paling tidak selera kalau makan diliatin. Apalagi yang liatin orang pembawa masalah seperti kamu.”


Seketika wajah yang semula Dara pasang dengan seramah mungkin, kini berubah menjadi muram. Dadanya mendadak begitu sesak mendapatkan pengakuan dari tuannya itu. Dia tidak mengharap dipuji, tapi setidaknya kerja kerasnya dihargai dan diperlakukan dengan baik.


“Pergi! Kalau kamu disini terus, kapan aku bisa makan ini semua? Apa kamu ingin saya buang lagi seperti tadi siang?” bentak Ken begitu mengintimidasi.

__ADS_1


Kedua iris coklat Dara membulat sempurna, “Ti-tidak Tuan. Permisi.” 


**** 


__ADS_2