
Di sebuah ruangan enam kali enam, terlihat Chef Mira yang sudah banting stir menjadi pengasuh Bu Nisa tengah menyuapi pasiennya dengan sangat telaten.
Wanita yang usianya sudah menginjak kepala tiga itu tidak pernah memilih pekerjaan, dari dulu apapun pekerjaan yang dia miliki selalu dijalani dengan sepenuh hati.
"Udah, Nak Mira. Ibu udah kenyang," rengek wanita paruh baya yang sedang duduk di atas brankar.
Wanita yang sudah hampir satu bulan mengenakan seragam khas pasien itu memegangi perutnya, karena terasa begitu penuh.
Sejak seluruh biaya pengobatan Bu Nisa ditanggung penuh oleh, Ken. Bahkan sampai disewakan penjaga khusus, kesehatan Bu Nisa pulih lebih cepat.
Struk ringan yang dideritanya sudah berangsur membaik. Bicaranya sudah lancar, untuk beraktivitas seperti duduk atau sekedar turun untuk pergi ke toilet pun bisa walaupun meski jalan dengan sangat pelan dan di bantu dengan kruk.
Ibu dari Dara Chikita itu merasa sangat bersyukur karena putrinya mendapatkan pekerjaan dengan majikan yang sangat baik dan royal.
"Oke, kalau begitu tinggal makan buah ya, Bu. Atau mau ngemil roti?" tawar Mira.
Selain mendapatkan ruangan VVIP, penanganan dokter dan obat yang lengkap, Bu Nisa juga selalu mendapatkan jatah makan, cemilan serta minuman sehat dari pihak rumah sakit.
Itu semua murni permintaan dari Ken sendiri yang menembus ke pihak rumah sakit. Tanpa sepengetahuan Dara, presdir muda itu meminta pelayanan terbaik untuk pasien bernama Bu Nisa. Tidak heran sekarang para perawat dan dokter jauh lebih perhatian pada ibunda Dara, sehingga pemulihan berjalan lebih optimal.
"Sudah, Nak. Ibu sudah kenyang, tidak ingin makan apa-apa lagi."
Mira yang mengenakan pakaian khas baby sister, bedanya itu untuk orang dewasa, mengangguk paham. Tak ingin membuat Bu Nisa terlalu banyak melamun dan banyak pikiran, mantan chef di kediaman Kendrick itu mengajak ngobrol tentang pengalaman dan banyak topik lain.
Terbawa suasana obrolan mereka sampai tertawa bersama, kadang sambil bercanda sehingga senyum bahagia tidak pernah lepas dari wajah Bu Nisa.
Tanpa sadar, hal tersebut membuat gadis yang baru saja hendak masuk, menghentikan langkahnya. Matanya nanar melihat sang ibu bahagia bersama orang lain.
"Seharusnya aku yang merawat dan menghibur ibu seperti itu, bukan orang lain. Sekarang mungkin ibu sudah lupa sama aku dan lebih bahagia bersama Mba Mira."
__ADS_1
Seketika bulir bening luruh begitu saja dari sudut mata Dara, saat berucap demikian. Ken yang sebelumnya berjalan di belakang, mendadak kaget saat mendapati Dara masih berdiri di depan pintu.
Belum sempat dia bertanya, presdir muda itu mendengar perkataan sang kekasih yang begitu memilukan. Jujur saja dia ikut sedih melihat Dara sedih.
Perlahan dia mendekat dan mengusap puncak kepala gadis yang baru beberapa jam jadi kekasihnya itu.
"Jangan overthinking, Mira hanya berusaha menghibur ibumu, agar dia tidak terlalu banyak pikiran. Karena banyak pikiran bisa menghambat proses pemulihannya."
Dara tersentak kaget, dia mengerjapkan netra beberapa kali, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak mau Ken melihat wajahnya yang basah karena menangis.
"Mm-Mas? Kirain masih di parkiran," ucap Dara sedikit tergagap.
"Kenapa belum masuk?" Bukannya menjawab, Ken malah balik bertanya.
Walaupun sudah melihat Dara menangis bahkan sampai mendengar curahan hati gadis cantik itu, Ken mengalihkan pembicaraan agar kekasihnya tidak merasa malu karena kepergok disaat bersedih.
"Aku…aku nungguin kamu," alibi Dara sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. "Ya udah yuk, kita masuk sekarang," imbuhnya.
"Dara?" ucap Bu Nisa dengan wajah yang berbinar.
Tanpa berucap pun terlihat jelas bahwa wanita paruh baya itu sangat bahagia bisa melihat putrinya kembali. Dara yang sudah tidak kuat menahan rindu segera mendekati sang ibu dan memeluknya dengan erat.
"Ibu… Dara kangen…" rengek gadis itu dibalik pelukannya.
Satu hal yang baru Ken ketahui, gadis yang selalu terlihat ceria, kuat dan mandiri ternyata akan begitu manja saat berdekatan dengan ibunya.
Kejadian ini baru Ken sadari karena sedari awal dia tidak pernah melihat Dara bersama dengan ibunya, terlebih terakhir kali ke rumah sakit keadaan Bu Nisa belum pulih seperti sekarang ini.
'Ternyata dia pandai membawa diri, terlihat kuat dan mandiri saat diluar. Tetapi setelah bertemu ibunya semua sifat tersebut runtuh digantikan sikap manja. Salut,' batin Ken sambil manggut-manggut.
__ADS_1
"Ibu juga kangen banget sama kamu."
Wanita paruh baya itu mengurai pelukan, dia menatap wajah sang putri lekat-lekat, membelainya berkali-kali. Dulu untuk bisa saling memeluk dan menatap seperti itu tinggal pindah ke kamar sebelah saja. Tapi sejak sebulan terakhir, mereka seakan terpisah oleh keadaan.
"Ibu sudah sehat, Dara. Ayo kita pulang saja, kita mulai kehidupan baru lagi. Kamu tidak perlu bekerja, kita jualan saja," ajak Bu Nisa dengan antusias.
"Bu… Ibu ngomong apa sih? Ibu ini masih buruk istirahat yang cukup, jangan terlalu capek dulu. Biar Dara yang cari uang, Ibu cukup istirahat dan sehat."
"Dara, Ibu ini beneran sudah sembuh. Tanya saja sama Mira, dia dengar semua apa kata dokter setiap memeriksa."
Dara pun menoleh kepada wanita yang dipercaya untuk menjaga ibunya beberapa hari terakhir, dia meminta penjelasan apakah yang dikatakan ibunya itu benar atau hanya akal-akalan Bu Nisa saja karena sudah tidak betah di rumah sakit.
"Iya…
Mira pun menjelaskan bahwa Bu Nisa sudah dinyatakan sembuh total, tinggal melancarkan jalan saja beliau sudah kembali seperti sebelumnya. Bahkan kali ini jauh lebih baik lagi berkat obat dan vitamin yang dikonsumsi selama ini. Terlebih Bu Nisa termasuk pasien yang menurut, sehingga untuk mencapai kesembuhan adalah hal yang mudah, meskipun butuh waktu cukup lama.
Senyum merekah langsung terpancar di wajah Dara, kesembuhan ibunya kini bukan hanya angan-angan saja, melainkan sudah di depan mata.
"Alhamdulillah, Ibu… akhirnya kita akan segera berkumpul lagi," ucap Dara penuh suka cita.
Gadis berkulit putih itu berkali-kali menciumi wajah ibunya karena terlalu bahagia. Dara pun meminta tolong Mira untuk mengurus kepulangan ibunya hari ini juga.
Setelah Mira keluar untuk melapor pada pihak rumah sakit, Ken yang sedari tadi duduk di sofa kini mendekati Dara dan Bu Nisa yang tengah duduk di ranjang pesakitan.
"Bu…nanti Ibu pulangnya ke rumah saya saja ya," ucapnya dengan penuh memohon.
Hal tersebut membuat ibu dan anak yang sedang sibuk bercengkrama menoleh kaget. Mereka juga heran lalu saling beradu tatap.
"Maksudnya, Nak Ken, gimana ya? Kami, kan, punya rumah sendiri. Terdengar aneh jika kami pulang ke rumahmu. Terlebih kami bukan siapa-siapa, melainkan hanya keluarga pekerja."
__ADS_1
Ken menatap Dara dengan seksama, mendengar ibunda dari sang kekasih berkata demikian cukup membuatnya tersinggung. Ken berharap Dara bisa mengatakan sesuatu tentang hubungan mereka berdua.
****