Caddy Kesayangan CEO

Caddy Kesayangan CEO
Meminta Restu


__ADS_3

"Ekhem!"


Semua orang menoleh kaget saat mendengar Ken tiba-tiba saja berdeham. Melihat aksinya berhasil mencuri perhatian, presdir muda itu mengangkat kerah jas sambil membenarkan penampilan.


Hal itu cukup membuat Dara, Bu Nisa dan Mira yang sudah kembali lagi menatap heran. "Tuan Ken haus?" tanya Mira menebak. "Biar saya ambilkan minum ya."


Ken menghela nafas karena aksinya malah dikira orang sedang kehausan. Melihat Mira benar-benar menuju kulkas untuk mengambil sesuatu yang bisa diminum, membuat pria berbadan tegap itu menggaruk kepala.


"Nggak perlu, Mir. Aku nggak haus kok."


Sontak saja chef yang sudah banting stir jadi babysitter itu menghentikan langkah. Dia menatap bingung kepada pria yang sudah menjadi bosnya beberapa tahun terakhir ini.


"Bu, saya izin bicara sama Dara sebentar ya," ucap Ken seraya menarik tangan wanita yang sudah menjadi kekasihnya itu untuk keluar.


Dara hanya mengerjapkan mata sambil menenangkan sang ibu, bahwa tidak ada masalah yang terjadi. Gadis itu pun menurut untuk diajak keluar.


"Ada apa si, Mas? Mau bicara masalah apa?" tanya Dara begitu polosnya.


"Bicara masalah apa? Sayang kamu ingatkan status kita sekarang apa?" Melihat Dara yang manggut-manggut, Ken pun melanjutkan ucapannya. "Terus kenapa kamu tidak bilang sama Ibu soal hubungan kita? Pokoknya aku mau ibu kamu tinggal di rumahku, agar kamu tidak ada alasan lagi untuk pergi dari rumah."


Blush…


Dara sedang dimarahi, tapi entah mengapa melihat Ken yang ngomel seperti itu malah membuat gadis berkulit putih tersebut merasa bahagia dan tersipu. Apalagi mengetahui fakta bahwa Ken sebenarnya sedikit posesif. Sungguh berbanding terbalik dengan sifat bos muda itu saat pertama kali Dara jumpa.


"Owalah, pengin dikenalin ke ibu sebagai kekasih Dara? Emang nggak malu punya kekasih caddy amatir, terus asisten nggak becus…


Belum selesai Dara mengoceh, jari telunjuk milik Ken sudah mendarat di depan bibir mungil gadis itu. 


"Bisa berhenti tidak membahas masalah harta dan tahta? Ini sedang membahas cinta, Sayang. Harus berapa kali lagi aku bilang sih? Aku suka dan cinta sama kamu itu dari hati, bukan dari materi."


'Tuhan. Engkau sungguh baik. Setelah menguji aku dengan membuat ibu sakit, kini Kau mempertemukanku dengan pria yang sangat baik seperti Mas Ken. Terima kasih.' 

__ADS_1


Bukannya menjawab, Dara malah sibuk bermonolog di dalam hati sambil memandangi pria yang ada di hadapannya itu dengan netra yang berkaca-kaca.


"Sayang? Kamu dengerin aku ngomong nggak si?" tanya Ken yang merasa ucapannya diabaikan. 


Tak mendapatkan respon dari sang kekasih, membuat Ken melambaikan tangannya di depan wajah Dara. Masih tak mendapatkan respon juga, akhirnya Ken menepuk kedua bahu Dara.


"Dara, Sayang."


"Hah? Eh, i-iya, Mas? Kenapa?" tanya Dara seperti orang linglung.


"Ah, kamu diajak ngobrol malah melamun."


Gadis yang masih mengenakan dress berwarna baby blue itu meringis menunjukkan deretan giginya. Setelah cukup paham dengan keinginan Ken, kini mereka berdua pun kembali masuk ke dalam ruang rawat Bu Nisa.


Terlihat Mira sedang membereskan semua keperluan milik Bu Nisa, sementara saat itu juga dokter dan suster yang merawat Bu Nisa melakukan pemeriksaan untuk terakhir kalinya, sebelum mereka meninggalkan rumah sakit.


Berkat penanganan yang intensif, pemberian obat dan vitamin yang sangat bagus, kesembuhan Bu Nisa pun masuk kategori cepat. Selain itu dukungan moril dari Dara dan juga Ken turut memberikan peran dalam kesembuhan wanita paruh baya itu.


"Sama-sama, Nona. Kami hanya perantara, semua sudah berdasarkan ketentuan dari Tuhan," sahut sang dokter dengan merendah.


Ya, semua yang terjadi di dunia ini sejatinya sudah diatur dan ditentukan oleh Tuhan. Kita sebagai manusia hanya sebagai perantara dan alasan akan suatu hal.


"Terima kasih banyak, Dok."


Ken menjabat tangan salah satu dokter terbaik di rumah sakit tersebut yang dia tunjuk sendiri untuk menangani sang calon ibu mertua. Ternyata hasilnya memang benar-benar tidak mengecewakan.


"Sama-sama, Tuan Ken. Saya merasa sangat terhormat sekaligus takut dipercaya oleh anda seperti ini. Jujur saja masalah kesembuhan murni takdir Tuhan, saya hanya sebagai perantara.


"Iya, saya tau. Tapi melihat hasil yang seperti ini. Saya benar-benar merasa puas dan berterimakasih."


Usai berbincang sedikit dokter dan suster pun meninggalkan ruangan. Barang-barang Bu Nisa sudah beres dan siap bawa, urusan administrasi, obat untuk rawat dan berbagai berkas tentang kesehatan Bu Nisa sudah ditangani oleh Mira.

__ADS_1


"Mmm… Bu, kita pulang ke rumah Mas Ken, ya," ucap Dara sambil duduk di samping ibunya.


"Loh, kenapa? Kita, kan, punya rumah, Dara. Lagian rumah kita sudah lama sekali kosong."


"Justru karena itu, Bu. Rumah yang sudah lama kosong pastinya, kan, banyak debu dan kotor. Tidak baik untuk ibu yang sedang dalam tahap pemulihan."


"Terus nanti yang ngurus rumah kita siapa?"


"Bu Nisa tenang saja. Ada, Mira yang akan setiap hari datang untuk bersih-bersih rumah Ibu. Jadi tugas Mira selain merawat ibu, juga merawat rumah," sambung ,Ken.


Wanita yang sudah mengenakan blouse batik itu mengangguk paham, dia pun menurut saja dengan apa yang dikatakan oleh Dara dan juga Ken.


"Baiklah kalau begitu, Ibu nurut saja. Kalian kompak banget kaya pasangan suami istri saja," celoteh Bu Nisa yang gemas dengan Dara  dan juga Ken karena sama-sama kekeh untuk membawa pulang Bu Nisa ke kediaman Kendrick.


"Ehem, sebenarnya…


Ken mencoba memberanikan diri untuk mengakui bahwa dia dan Dara memang sepasang kekasih walaupun belum genap satu hari. Presdir muda itu sekaligus meminta restu kepada calon ibu mertua, agar diterima sebagai calon menantu.


Tentu saja hal tersebut membuat Bu Nisa terkejut, bahkan Mira yang semula tidak begitu tertarik dengan obrolan mereka saja mendadak menoleh.


Sebenarnya Mira sudah mempunyai feeling jika bosnya memiliki rasa terhadap Dara, terbukti dengan perlakuan Ken terhadap Bu Nisa yang bisa dibilang cukup berlebihan.


Hanya saja Mira tidak menduga akan secepat itu. Dia pun turut bahagia, akhirnya ada wanita yang bisa meluluhkan hati bosnya yang terkenal dingin dan angkuh.


Bisa Mira rasakan semenjak kehadiran Dara dalam hidup Ken, kepribadian pria jangkung itu berubah sedikit demi sedikit. Perubahan tersebut  mengarah ke hal yang positif tentunya.


"Nak Ken? Benarkah itu? Apa kamu betul-betul mencintai Dara, anak Ibu? Kami ini orang susah, jangan sampai kami hanya menjadi korban permainanmu saja."


Sebagai orang tua yang sudah lebih dulu makan asam garam ya kehidupan, tentu mengetahui putrinya disukai oleh Ken tidak membuat begitu bahagia. Pasalnya dia sendiri pernah di kecewakan oleh orang-orang semacam Ken, lebih tepatnya papanya Dara sendiri.


**** 

__ADS_1


__ADS_2