
Bu Nisa mengangguk paham sambil menatap kagum ke arah pantulan wajah Ken dari spion tengah. Dia benar-benar salut mendengar perjuangan Ken yang dari nol seorang diri, meskipun background orang tuanya adalah kaum terpandang.
Tidak heran jika sebagian orang menganggap semua yang dimiliki Ken adalah warisan dari orang tua atau sekedar meneruskan bisnis keluarga. Pasalnya Ayah dan Kakek dari Ken juga sama-sama pebisnis sukses sampai sekarang.
Bedanya mereka tidak menetap di kota yang sama dengan Ken, sehingga hubungan Ken dengan keluarganya cukup jauh. Bisa dibilang Ken sengaja memilih tempat tinggal yang tidak berdekatan dengan keluarga. Karena berada jauh saja masih banyak yang mengira Ken hanya modal keturunan Mahanta.
"Ya ampun, Nak Ken. Ibu salut banget sama kamu. Udah ganteng, masih muda, pekerja keras dan sukses lagi. Beruntungnya Ibu akan memiliki menantu seperti kamu."
Wanita yang baru saja keluar dari rumah sakit itu merasa hidupnya kini penuh keberuntungan pasca stroke yang menimpanya. Tak sadar ucapan Bu Nisa membuat putrinya tersipu malu, wajah Dara sudah dipastikan merah merona bak udah yang direbus.
"Ibu…" lirih Dara sambil menengok ke belakang sejenak.
Bu Nisa hanya mengangkat kedua alisnya seakan bingung dengan sikap Dara yang tiba-tiba seperti itu.
"Ibu bisa aja. Justru Ken yang merasa beruntung karena bertemu Dara dan Ibu…
Ken menjelaskan bahwa bersama keluarganya dia tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang, serta dukungan seperti yang terjadi diantara Dara dan Bu Nisa.
Keluarga Mahanta hanya fokus di bisnis, uang harta dan tahta saja. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal sepele seperti saling mengasihi saling perhatian sesama anggota keluarga.
Ya, tumbuh di keluarga yang mementingkan ego benar-benar membentuk pribadi Ken yang kaku dan arogan. Itu sebabnya saat bertemu dengan Dara dan ibunya, Ken melihat sisi lain dari arti sebuah keluarga.
Ken ingin ikut andil dalam kesederhanaan Dara dan Bu Nisa. Dia justru merasa tenang, nyaman dan damai bersama mereka.
Tiba di garasi mereka disambut oleh Adam dan Bi Inah dan beberapa pegawai lainnya juga. Dara mengerjapkan netra berkali-kali saat melihat para pegawai Ken yang dulu dia lihat saat pertama kali tiba, kini kembali hadir di kediaman Ken.
"Selamat datang Tuan Muda… Selamat datang Dara, Ibu dan Chef Mira," ucap semua pegawai secara bersamaan.
Semua orang yang baru turun dari mobil hanya kebingungan sambil mengedarkan pandangan. Mereka heran kenapa ada acara penyambutan seperti acara resmi saja?
Satu-satunya orang yang tidak terkejut yaitu Ken. Dia mengulum senyum saat melihat ekspresi sang kekasih dan ibunya yang terkejut sekaligus bingung dengan penyambutan tersebut.
"Adam… tolong bawakan tas Ibu di bagasi, ya!" titah Ken.
__ADS_1
"Baik, Tuan Muda."
Pria berseragam serba hitam itu bergegas menuju bagasi mobil. Barang-barangnya memang tidak terlalu banyak, tapi Ken tidak akan membiarkan Dara membawanya sendiri. Sehingga dia mencuri start dengan memerintahkan Adam.
"Mas… Aku bisa bawa sendiri kok. Barang ya cuma sedikit."
"Iya, Nak Ken. Tidak enak kalau merepotkan," sambung Bu Nisa merasa tidak enak.
"Sayang… Ibu…mereka ini disini bertugas untuk melayani saya dan kalian. Jika kita melakukan segala sesuatu sendiri, lalu apa gunanya mereka?"
Mendengar jawaban Ken membuat Dara dan Bu Nisa menutup mulut rapat-rapat. Kini tugas mereka hanya menuruti saja, tidak perlu kebanyakan protes.
"Ayo masuk," ajak Ken yang kemudian membimbing Bu Nisa untuk masuk ke dalam rumah.
Satu hal lagi yang membuat Dara tersentuh, Ken begitu peduli dan perhatian terhadap ibunya. Terlihat sekali Ken menghormati Bu Nisa sebagai orang tua, hingga dia mendahulukan beliau.
Begitu mereka memasuki rumah, netra mereka dibuat terbelalak dengan dekorasi yang ada. Belum lagi kata sambutan yang begitu besar di tembok 'Selamat datang dan selamat atas kesembuhan Bu Nisa'.
"Gimana, Dara? Ibu? Suka nggak?" tanya Ken pada kedua wanita yang sudah menjadi bagian dalam hidupnya itu.
Sontak Dara menoleh kaget. "Maksudnya? Ini…
Ken menganggukan kepala sambil tersenyum. "Maaf yang tidak bisa menyiapkan penyambutan yang lebih meriah, karena ini dadakan banget. Beruntung Bi Inah sama Adam bisa menghandle semuanya."
Dua manusia yang disebutkan oleh Ken itu saling senyum dan menunduk malu. Sejak dulu mereka memang selalu bisa diandalkan oleh Ken dalam urusan di rumah, termasuk acara kejutan seperti sekarang ini.
"Ya ampun, Nak Ken. Ibu diajak tinggal disini saja sudah seneng banget. Pake repot-repot segala buat acara penyambutan begini, seperti presiden saja."
Semua tergelak mendengar ucapan Bu Nisa. Entah mengapa saat Ken memutuskan ibunda Dara untuk tinggal bersama, dia ingin melakukan sesuatu yang berkenan.
"Iya, Mas. Apa ini nggak berlebihan?" sambung Dara.
"Enggak dong. Malah kurang. Jadi…
__ADS_1
Ken menjelaskan dengan datangnya Bu Nisa di kediaman Mahanta, semua pegawai yang sempat diberhentikan kini dipanggil kembali. Semua pekerjaan yang diambil alih oleh Dara kini kembali pada para pekerja sebenarnya.
"Terus aku ngapain dong kalau mereka semua kembali?"
"Kamu cukup jadi calon istri yang baik. Siapin sarapan dan makan siang, serta semua keperluanku."
"Cieee… Tuan Muda udah makin berani aja. Baru juga jadian," ledek Mira yang memang paling berani meledek.
Ken nyengir kuda. Sungguh rasanya saat itu juga dia menikahi Dara agar gadis yang sudah menguasai hatinya itu bisa benar-benar melayani sepenuhnya. Sayangnya masih banyak hal yang harus diurus dulu sebelum Ken menuju jenjang tersebut.
"Tapi, Mas—
"Nggak ada tapi-tapian. Kamu hanya boleh melayani aku dan Ibu. Selebihnya pekerjaan di rumah ini sudah ada bagiannya masing-masing."
Dara mengerucutkan bibirnya, karena dengan demikian dia akan banyak menganggur. Sudah terbiasa bekerja tanpa jeda, kini bakalan banyak bengong.
"Tuan, hidangannya keburu dingin," sela Bu Inah.
"Oh iya, Bi. Ayo Bu, kita makan dulu."
Bu Nisa mengangguk patuh saja, Dara pun mengikuti. Mereka semua menuju ruang makan bersama.
"Sebelumnya saya mewakili Ibu mengucapkan banyak terima kasih kepada Mas Ken, Bang Adam, Bi Inah, Chef Mira."
Dara merasa tersanjung dengan perlakuan Ken dan para pegawainya yang begitu mengistimewakan Dara dan ibunya. Terlepas dari sikap Ken diawal yang cukup menguji kesabaran, ternyata dibalik sikap angkuh tersebut, Ken begitu baik dan perhatian.
"Sama-sama, Neng," sahut Bi Inah yang berdiri di samping meja makan.
"Sudah terwakilkan oleh BI Inah saya rasa, tapi secara pribadi aku juga ingin berterimakasih kepada Dara khususnya. Karena berkat kamu, aku bisa menjadi pribadi yang berbeda sekarang."
Dara mengulas senyum. Semakin hari Ken memang menunjukkan sikap yang berbeda, jauh lebih ceria dan tidak mudah marah. Bahkan saat ini dia meminta para pegawainya untuk ikut makan bersama dalam rangka penyambutan Bu Nisa di rumah.
****
__ADS_1