
"Ap-apa?! alergi?" tanya Dara terbata.
Dokter Kinan mengangguk lemah. "Iya, itu sudah menjadi rahasia umum bagi para pegawai Ken. Bagaimana kamu bisa tidak tahu?"
Plak!
Bak ditampar begitu keras dengan pertanyaan Dokter Kinan. Ya, bagaimana Dara tidak tahu masalah itu? Tentang Ken yang alergi seafood, dia harus kena mental dulu. Sekarang tentang alergi buah naga, Dara bahkan harus melukai Ken terlebih dahulu.
Ya, walaupun secara tidak langsung itu tetap bukan kesalahan Dara. Tapi tetap saja, jika saja Dara tidak mendahului untuk membeli jus buah anak jalanan tadi.
Ah, terkadang ingin berbuat baik belum tentu berakibat baik juga. Buktinya yang Dara lakukan sekarang, dia berniat meringankan beban anak jalanan tadi. Eh, malah dia mencelakai bos sendiri.
"Sudah, Nan. Jangan salahkan Dara. Dia pegawai baru disini, jadi belum tau banyak tentang aku. Lagipula ini salahku juga, sembarangan minum tadi." Ken berucap seraya berusaha bangkit dari posisi berbaringnya.
Dokter Kinan menaikkan salah satu alisnya. "Oh, Dia namanya Dara?" ucapnya sambil menunjuk ke arah gadis yang masih berdiri tidak jauh dari tempatnya memeriksa. "Nama yang cantik, secantik orangnya."
Ken langsung menatap tajam ke arah sahabatnya itu. Meskipun Kinan seorang dokter, Ken tahu betul sepak terjang Kinan dalam perihal wanita. Bahkan Kinan dijuluki dokter playboy di kalangan teman-temannya, karena mudah berpindah ke lain hati.
"Ekhem! Jangan macam-macam kamu sama pegawaiku."
Ken menoyor Kinan, meskipun kekuatannya belum pulih benar. Tapi melihat tatapan Kinan yang begitu nakal, Ken tidak mau Dara menjadi salah satu korban sahabatnya itu.
Pria yang mengenakan jas putih itu tergelak, "Oke, oke. Aku tidak akan mendekatinya, kecuali atas izinmu." sahutnya dengan menaik turunkan kedua alisnya secara bergantian.
Mata elang Ken langsung membulat sempurna, mendengar Kinan masih saja berusaha untuk bisa mendapatkan Dara. Padahal Ken tahu betul, Kinan tertarik pada caddy-nya itu hanya karena casing, serta niat Kinan untuk mempermainkan.
Kinan yang sadar jika sahabatnya itu sudah mulai mengeluarkan tanduk, langsung meringis menunjukkan deretan gigi putihnya. Satu hal yang paling Kinan tidak suka dari CEO muda itu adalah tidak bisa diajak bercanda. Apalagi jika sudah menyangkut orang-orang disekitarnya.
"Santai, Bro. Santai. Lebih baik kamu istirahat yang cukup, makan yang teratur, diminum obatnya. Oke?" pungkas Dokter Kinan yang kemudian pamit undur diri.
__ADS_1
Sementara itu Adam seperti biasa akan mengantarkan sang dokter sampai depan, bahkan sampai mobil dokter ganteng itu keluar dari pagar istana megah milik Kendrick Mahanta.
Suasana di dalam ruang tengah itu mendadak jadi hening setelah kepergian Dokter Kinan yang ditemani Adam. Bi Inah yang melihat kecanggungan diantara Dara dan Ken, memilih pergi.
"Bi Inah ke belakang dulu, masih ada pekerjaan yang belum selesai." alibinya sambil cepat-cepat pergi dari hadapan Ken dan juga Dara.
Tinggallah Ken dan Dara di ruangan tersebut. Gadis yang masih mengenakan seragam caddy itu menundukkan kepala, perasaan bersalah menyelimuti dirinya hingga rasanya tidak sanggup untuk menatap sang tuannya itu.
"Ma-maafin saya Tuan. Jika saja saya tidak membeli jus itu duluan. Mungkin semua ini tidak akan terjadi."
Akhirnya Dara bisa memberanikan diri untuk mengungkapkan penyesalannya. Kini dia pasrah jika masa hukuman akan ditambah.
Pria yang masih terduduk lemas di sofa hanya tersenyum, dia baru kali ini merasa Dara takut atas kesalahan yang diperbuat. Berbeda saat menumpahkan kopi panas, atau saat mematahkan stik golf yang menyebabkan Dara harus terperangkap dalam penjara megah itu.
"Kamu kenapa sih? Aku tuh nggak papa, nanti juga cepet baikan kalau sudah minum obat dan istirahat."
Perlahan Dara mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk menatap lawan bicaranya itu. "Sekali lagi saya minta maaf, Tuan."
"Tidak bisa, Tuan. Anda adalah bos saya, tidak sepantasnya saya memanggil dengan sebutan lain."
Ken menghela nafas, sepertinya kali ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat dengan Dara. Situasinya terlalu tegang dan serius. Lebih baik dia lupakan sejenak masalah panggilan itu, walaupun Ken merasa keberatan dengan Dara memanggilnya seperti itu lagi.
"Terserah kamu aja lah." pungkas Ken yang kemudian berusaha bangkit dari tempat duduknya.
Tapi karena tenaga Ken belum pulih kembali, tubuhnya hampir saja terjatuh lagi jika saja Dara tidak cepat menahannya.
"Tuan! Tuan mau kemana? Lebih baik Tuan istirahat di kamar tamu dulu untuk sementara. Nanti kalau sudah pulih, bisa kembali ke kamar utama."
Dara berucap sambil berusaha memapah Ken menuju kamar tamu. Sementara itu Ken menurut saja, karena dia memang masih butuh istirahat cukup, tapi Ken paling tidak suka berbaring di tempat yang terbuka.
__ADS_1
"Mau saya ambilkan pakaian ganti yang mana, Tuan? Biar saya ke atas dulu." tanya Dara setelah membantu Ken untuk berbaring di ranjang dan membantu melepaskan sepatu.
Sungguh hati Ken merasa berdesir mendapatkan perlakuan manis seperti itu dari Dara. Padahal memang sudah semestinya itu menjadi tugas Dara sebagai asisten pribadi Ken selama masa hukuman ini.
Tapi entah mengapa Ken merasa bahagia, dia malah ingin sakit yang lama agar bisa diurus seperti itu oleh Dara cukup lama lagi.
"Tuan? Anda mendengar pertanyaan saya?"
Suara Dara mengagetkan Ken dari lamunannya. "Ah? Oh, i-iya. Apa ajalah yang penting nyaman untuk istirahat."
Gadis berambut panjang itu pun mengangguk paham dan pamit untuk mengambilkan keperluan Ken sebentar.
Kedua sudut pria yang terkenal dingin itu terangkat, dia merasa ada yang aneh dan lain tiap kali mendapatkan perlakuan spesial dari Dara.
Spesial? Ah, mungkin itu perasaan Ken saja. Karena bagi Dara itu semua sudah menjadi tugas dan kewajibannya memenuhi kebutuhan dan keperluan Ken. Bahkan merawat Ken disaat sakit seperti ini.
Sekitar satu jam kemudian Dara sudah kembali ke kamar tamu, tempat dimana Ken tengah beristirahat. "Permisi, Tuan. Maaf ya agak lama, tadi aku masak sup sebentar. Sebelum makan Tuan bisa ganti pakaian dulu, biar lebih nyaman."
Ken mengangguk patuh layaknya anak kecil yang sedang dirawat oleh ibunya. "Bantuin aku ganti kaosnya ya." ucap Ken dengan datar.
Tapi tidak dengan Dara, gadis yang sudah berganti pakaian dengan seragam asistennya itu berkali-kali mengerjapkan matanya yang berbulu lentik.
"Maaf, Tuan. Anda meminta saya untuk membantu ganti baju? Apa saya tidak salah dengar?"
Ken menghela nafas. "Ya enggak lah. Aku masih terlalu lemas, melepas kaos saja rasanya susah banget. Kamu tega membiarkan aku kesusahan?"
"Ah? Mmm… tidak si, Tuan. Baiklah kalau begitu."
Setelah meletakkan makanan di nakas, pakaian ganti di ujung ranjang, perlahan Dara mendekati Ken dan berusaha membantu melepaskan seragam golf yang masih menempel di tubuh kekar CEO tampan itu.
__ADS_1
****