
"Dara… kamu ajak siapa kesini?" tanya Shyna yang masih ternyata masih berdiri di ambang pintu.
Seketika Dara membulatkan netranya, "Astaga! Kenapa aku sampai lupa?" gumamnya seraya menepuk jidat. "Sebentar ya, Bu." pamitnya pada wanita paruh baya yang sedang menunggu suapan berikutnya untuk sarapan pagi.
Dara pun meletakkan mangkuk bubur ayam ie nakas, lalu menyusul Shyna. Saking bahagianya bertemu dengan sang ibunda dan sahabat, Dara sampai lupa jika dia datang bersama Ken.
Dengan setengah berlari, Dara menyembulkan kepalanya di balik pintu. "**-Tuan Ken, maaf karena telah lupa mengajak masuk. Silahkan." ujarnya seraya menunjuk ke arah masuk.
Ken yang sedari tadi cukup kesal karena merasa tidak dianggap, berusaha menahan diri. Karena dia sadar sedang mengunjungi orang sakit, apalagi itu adalah orang yang paling berpengaruh bagi Dara.
Jika Ken memarahi Dara di depan ibunya, bukannya makin pulih, yang ada malah tambah parah. Dia hanya menaikkan salah satu alis, irisnya yang hitam legam menatap tajam ke arah Dara.
Dari tatapan tersebut, terlihat jelas Ken menanti saat nanti untuk membalas sikap Dara yang semena-mena. Di sisi lain, terlihat Shyna yang masih terpesona dengan sosok Kendrick Mahanta.
Ken yang dia lihat tempo hari di televisi sangat berbeda, ternyata melihat secara langsung jauh lebih tampan. Lalu sosok Ken yang katanya kejam dan semena-mena, tidak terlihat saat ini.
Buktinya Ken malah turut menjenguk Bu Nisa seperti itu. Jika memang Ken orang yang kejam, tidak mungkin akan ikut menjenguk. Begitu pemikiran Shyna.
"Hush! Ngapain kamu liatin dia seperti itu? Jangan bilang kamu naksir lagi!" bisik Dara menuduh.
Sebagai seorang sahabat, meskipun sudah terpisah cukup lama, Dara masih paham betul bagaimana sikap Shyna jika tertarik dengan seseorang itu.
"Dia terlihat baik, tidak seperti yang kamu bilang." balas Shyna tak kalah berbisik.
Sontak Dara memutar matanya dengan malas. Sudah diduga jika Shyna akan berpendapat lain tentang Ken. Terlebih melihat sikap Ken yang sok simpati seperti itu.
Dara memilih kembali mendekati berangkat" ibunya, begitu juga Shyna menunda dulu niatnya untuk membeli cemilan. Baginya tahu banyak tentang Ken itu lebih penting sekarang ini.
"Dia siapa, Dara?" tanya Bu Nisa dengan suara yang masih lemah dan sangat pelan.
__ADS_1
Perhatian wanita paruh baya itu terfokus pada pria berbadan tegap dan berhidung mancung, yang kini berdiri tepat di sebelahnya. Sungguh pria yang tampan dan gagah.
"Mmm… kenalin, Bu. Ini Tuan Ken, bosnya Dara." ucap Dara memperkenalkan.
Kini netra Bu Nisa beralih pada putri semata wayangnya itu. "Ini bos kamu? Masih muda sekali."
Dara hanya menganggukkan kepala, dia sudah tahu apa kata berikutnya yang akan keluar dari mulut sang ibunda. Sudah pasti berbagai pendapat dan pujian bagi pria yang terlihat sempurna itu.
Sungguh Dara mulai muak dengan kedok yang digunakan oleh Ken. Di depan orang-orang terlihat layaknya orang yang sangat baik dan berwibawa. Tapi ketika di depan Dara, tidak lebih dari seorang yang tempramental.
"Halo, Bu. Bagaimana keadaan Ibu?" tanya Ken seraya mencium punggung tangan Bu Nisa.
Hal tersebut membuat Dara dan Shyna tertegun, dua gadis itu terkejut melihat pemandangan yang sangat langka. Jika Shyna terkejut dan semakin memuji Ken. Berbeda dengan Dara.
Andara Cikita semakin tidak mengerti drama apa yang tengah dibuat oleh majikannya itu.
"Sudah semakin baik. Terimakasih, Nak. Karena sudah menerima anak Ibu untuk bekerja. Entah sebagai apapun itu, yang penting dia mendapatkan penghasilan untuk biaya rumah sakit Ibu."
Bagaikan ditampar, perlahan netra Dara berkaca-kaca. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibunya, jika tau saat ini Dara tengah bekerja tanpa dibayar.
Begitu pula dengan Ken, pria yang masih mengenakan seragam golf lengkap itu merasa sangat bersalah dan tidak tega. Ternyata dia bertemu dengan orang yang benar-benar butuh uang. Bukan mereka yang hanya butuh selingan.
Terang saja berkat bertemu dengan Dara, membuat pandangan Ken tentang caddy sedikit berubah. Ternyata dari sekian banyak rumor caddy yang dipandang sebelah mata, akibat banyaknya caddy melayani klien sampai di luar lapangan.
Tidak semua caddy seperti itu, beberapa diantara mereka bernasib sama seperti Dara. Yaitu terpaksa masuk ke dalam dunia caddy karena faktor kebutuhan, dimana saat itu hanya menjadi caddy saja yang bisa membantu.
"Iya, Bu. Dara bekerja dengan sangat baik. Ibu fokus sembuh saja, masalah biaya rumah sakit akan saya tanggung sampai kepulangan Ibu nanti."
Kini netra Dara semakin terbelalak. Semua biaya? Dara akan ganti pakai apa nantinya? Apa itu berarti masa hukumannya akan ditambah?
__ADS_1
Oh tidak. Sudah cukup. Dara lebih baik berhutang kepada rentenir sekalian, daripada harus berhutang pada pria angkuh seperti Ken.
"Ti-tidak perlu, Tuan. Shyna dan Om Robert sudah cukup membantu kami dan memberikan pinjaman." sambar Dara begitu saja.
Ken yang sedari tadi sedang fokus menatap tubuh renta yang masih duduk lemas di ranjang pesakitan, menoleh sejenak ke arah asisten pribadinya.
"Jangan sungkan, mau sampai kapan kamu merepotkan mereka? Mereka juga memiliki kepentingan dan kebutuhan masing-masing."
Plak!
Lagi lagi Dara merasa tertampar. Memang benar, mau sampai kapan Shyna dan Robert akan membantunya? Belum lagi masa dirawat Bu Nisa masih lama, apa iya Shyna akan sanggup menunggu di rumah sakit lagi?
Seandainya maupun, tentunya Shyna akan merasa bosan nantinya. Dara menatap sang sahabat yang masih berdiri tak jauh darinya.
Dara baru sadar, penampilan Shyna tidak seperti biasanya. Berantakan. Sungguh kesibukan Shyna merawat ibunya membuat sang sahabat yang hobi perawatan minimal tiga hari sekali, kini jadi terabaikan.
Terlihat jelas jika Shyna selama seminggu ini tidak perawatan. Dara menelan saliva, dia dilanda dilema besar. Di satu sisi Dara enggan merepotkan Shyna dan papahnya. Tapi Dara juga tidak ingin tinggal lebih lama lagi di penjara megah itu.
Oh, Tuhan. Bagaimana ini? Sebuah pilihan yang sangat sulit bagi Dara saat ini. Dia ingin ibunya tetap ada yang menjaga, tapi tidak mungkin juga jika Dara bolak-balik setiap hari mengingat jarak rumah sakit ke rumah Ken cukup jauh.
"Benar kata Nak Ken, Ra. Lebih baik kamu berhutang pada bosmu, biar bisa dipotong dari gajihan nanti. Kita sudah terlalu banyak merepotkan Shyna dan papanya."
Bu Nisa turut memberikan pendapat yang membuat Dara semakin dilema.
"Shyna tidak repot kok, Tan, Ra. Tapi mohon maaf, sepertinya Shyna sudah tidak bisa membantu menjaga disini lagi. Karena sebenarnya besok aku harus pergi mengunjungi saudara di Bandung."
Lengkap sudah, kini Shyna pun mengatakan alasannya untuk tidak bisa menjaga Bu Nisa. Dara hanya mengangguk lemah, karena dia bingung sekali saat ini.
"Aku akan suruh orang buat jagain Ibu disini." celetuk Ken yang membuat tiga wanita di bangsal itu kompak menoleh ke arahnya.
__ADS_1
****