
"Ya… Tuan Muda sebelumnya tidak pernah se perhatian itu sama pegawainya. Bahkan sampai mempekerjakan orang demi menjaga anggota keluarga pegawainya. Itu hal yang tidak pernah terjadi dalam sejarah hidup seorang Kendrick Mahanta, Ra."
Mira berkali-kali meyakinkan bahwa yang dilakukan Ken padanya sudah melebihi perhatian dari seorang bos kepada pegawainya, melainkan ada sisi lain yang Mira sendiri belum yakin.
Tapi sayangnya Dara tidak sependapat, baginya Ken hanya tidak ingin dia kabur dari tanggungjawab. "Ah, Chef Mira… eh, maksudnya Mba Mira overthinking. Dia hanya tidak ingin aku kabur saja, karena aku sudah mematahkan stik golf kesayangannya."
Wanita yang mengenakan kaos oblong putih itu hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Perkara merusak barang kesayangan sang majikan, bukan hanya Dara yang mengalami.
Bahkan Mira sendiri pernah memecahkan guci peninggalan sang nenek, tapi Ken hanya memotong gaji sebulan saja. Padahal harga guci tersebut jika ditebus, gaji Mira selama dua tahun saja masih belum lunas.
Fix ini memang karena ada sesuatu, entah disadari atau tidak. Terbukti dari tatapan Ken pada Dara yang memiliki makna tersirat, meskipun Ken sendiri terlihat untuk mencoba menutupinya.
"Ya, mungkin karena itu." pungkas Mira tidak ingin berdebat.
Mira tidak memiliki hak untuk ikut campur urusan orang lain. Tugas dia hanya bekerja, asal pekerjaan dia bagus, upah lancar, beres deh.
"Sudah diskusinya?"
Pertanyaan Ken mengagetkan dia wanita yang masih asik ngobrol di sofa, terlebih Ken juga masuk tanpa aba-aba. Main nyelonong saja.
"Su-sudah, Tuan." sahut Dara dan Mira dengan kompak.
"Kalau begitu kita pulang sekarang." Netra Ken menatap lurus ke arah Dara, sudah jelas dan pasti jika ajakan tersebut untuk gadis berkulit putih itu.
"Pekerjaanmu dimulai dari sekarang, Mir." imbuh Ken.
Wanita yang bernama Mira itu mengangguk patuh. Sementara Dara mendekatkan diri ke ranjang pesakitan, terlihat sang ibu sedang istirahat dengan begitu lelap dan nyaman. Rasanya tidak tega jika dia membangunkan hanya untuk sekedar pamit.
Akhirnya Dara hanya mengecup kening Bu Nisa dengan sangat lembut, sambil mengusap rambut yang sebagian sudah berwarna putih itu dengan pelan. "Cepat sembuh, ya, Bu. Dara pergi dulu." bisiknya, lalu akhirnya dia benar-benar pergi.
"Titip ibuku ya, Mba." ucap Dara saat sudah berada di ambang pintu.
"Pasti. Kamu tenang saja, ibumu akan aman bersamaku."
Mira tahu betul bagaimana rasanya berada di posisi Dara. Jika waktu bisa diulang, saat dulu Mira juga ingin selalu menjaga ibunya. Tapi tidak ada pilihan lain saat itu, hingga Mira tetap bekerja di saat ibunya sedang sakit keras.
__ADS_1
Tujuan Mira sudah jelas bekerja untuk mendapatkan uang, agar bisa membawa ibunya berobat. Tapi sayang, nasib Mira tidak seberuntung Dara saat ini. Hingga dulu dia harus kehilangan ibunya karena telat dibawa ke rumah sakit.
Netra wanita yang selalu terlihat kuat dan tegar itu berkaca-kaca, tapi dia sebisa mungkin untuk menahan agar tidak menangis di depan Dara maupun Ken. Luka dan duka itu cukup dia saja yang merasakan.
"Udah dramanya?" celetuk Ken.
Dara memutar matanya dengan malas, sudah jelas-jelas dia sedang sedih karena harus meninggalkan ibunya yang sedang sakit. Malah dikira drama. Itu nyata woy nyata.
Selama berjalan menuju parkiran, Ken sengaja berjalan di samping Dara. Selain untuk memastikan Dara tidak kembali lagi ke ruang rawat ibunya, Ken juga masih terganggu dengan pandangan para pria yang lalu lalang di sana. Karena diam-diam jelalatan mencuri pandang tubuh Dara yang seksi.
Mengingat hal itu, Ken sengaja mampir dulu ke toko olahraga langganannya. Dia tidak bisa menunggu lagi, walaupun jadwal main golfnya masih satu minggu lagi.
"Tunggu disini. Aku ada perlu sebentar." ucap Ken dengan datar, lalu keluar dari mobil.
Seperti biasa, Dara tidak perlu menjawab. Dia hanya cukup mengangguk atau menggeleng saja, jika pertanyaan penting yang membutuhkan jawaban, baru gadis berambut panjang itu bersuara.
"Toko olahraga? Apa Tuan Muda mau membeli stik golf yang baru? Duh, jadi nggak enak." Monolog Dara seraya mengedarkan pandangan pada toko olahraga yang terlihat cukup besar.
Lima belas menit kemudian Ken sudah kembali dengan menenteng tote bag berwarna krem. Dahi Dara mengernyit heran karena Ken keluar toko tidak membawa stik golf atau alat olahraga lainnya.
Begitu masuk mobil, Ken juga langsung menaruh totebag tersebut di jok belakang. Hingga Dara tidak memiliki keberanian untuk bertanya. Nanti dikira orang kepo dan suka ikut campur.
"Kok beli cuma satu sih?" tegur Ken yang membuat Dara menoleh.
"Tuan mau?"
"Berapa memang satunya?"
"Lima ribu saja om per botolnya." Sahut anak kecil yang berjualan minuman tersebut.
"Aku beli semuanya."
Ken berbicara tanpa menghadap Dara ataupun anak tadi. Dia langsung mengambil uang lembaran berwarna merah.
"Sebentar ya, Om. Saya ambil kembaliannya."
__ADS_1
" Nggak usah, buat kamu saja kembaliannya."
"Wah, serius Om? Terimakasih banyak, Om. Terimakasih banyak, Kak."
Kali ini Ken terpaksa menoleh karena panggilan tadi. Belum sempat dia protes, lampu merah di depan sudah berubah warna menjadi hijau. Hingga akhirnya Ken terpaksa melajukan mobilnya, sebelum kendaraan yang berada di belakang saling bersahutan klakson.
"Emang aku sudah tua banget apa?" celetuk Ken.
Dara yang sedang fokus dengan pemandangan di luar jendela pun menoleh. Dia setengah berfikir. "Nggak sih m, Tuan. Kenapa?"
"Terus kenapa bocah tadi panggil aku, Om? Sementara sama kamu manggilnya Kakak."
Ck. Dara tertegun ternyata seorang Ken bisa mempermasalahkan panggilan sepele seperti itu. "Mmm… mungkin karena saya memanggil anda Tuan."
"Kalau begitu mulai sekarang kamu jangan panggil saya, Tuan."
Berkali-kali Dara mengerjapkan netranya. "Lalu saya harus panggil anda siapa?"
"Ya terserah, mau Kak, Mas, intinya jangan memanggil yang membuat saya terlihat tua."
"Bba-baik, Tuan… eh, maksud saya baik, Mas Kendrick."
Dara sampai memejamkan matanya saat menyebutkan nama Ken dengan panggilan, Mas. Rasanya aneh saja, dan terdengar intim.
Kendrick terkekeh mendengar Dara memanggilnya seperti itu. Agak sedikit lucu memang sih, tapi dia lebih suka dipanggil seperti itu. Daripada dipanggil, Tuan.
Untuk pertama kalinya mereka berbicara di luar obrolan perihal kerja. Dara baru bisa merasakan, sebenarnya Ken adalah orang yang hangat. Hanya saja pria itu selalu menutupi sifat tersebut dengan tampang yang dingin. Sehingga dia terkenal sebagai pria dingin.
Begitu tiba di rumah, Ken mengambil salah satu botol minuman tadi dan menenggaknya hingga habis. Dara sampai geleng-geleng kepala melihatnya.
Tak berapa lama, Ken memegangi kepalanya. Mendadak semua yang ada di depannya terlihat berputar-putar.
"Ssshhh… aduh… kepalaku…" rintih Ken kesakitan.
"Tuan? Eh, maksudnya Mas Kendrick? Kamu nggak papa?"
__ADS_1
Dara menjadi panik karena Ken tiba-tiba seperti itu, padahal sebelumnya Ken baik-baik saja.
****