Caddy Kesayangan CEO

Caddy Kesayangan CEO
Pasangan Serasi


__ADS_3

Hari peluncuran produk milik perusahaan PM grup telah tiba, semua orang khususnya para jajaran presdir dan CEO disibukkan dengan persiapan ke acara tersebut. Termasuk Kendrick sendiri.


Ken yang biasanya paling malas untuk datang di acara perusahaan milik orang tuanya itu, kali ini begitu semangat karena Dara. Ya, jika orang lain begitu semangat untuk menyambut produk terbaru, Ken malah semangat karena akan memperkenalkan Dara pada orang tua sekaligus semua orang.


Meskipun sebelumnya Ken sudah pernah mengumumkan bahwa Dara adalah kekasihnya pada acara Mr.Vicky dan Nyonya Viona, rasanya belum lengkap jika kedua orang tua Ken belum mendengar secara langsung.


Tok… tok…tok…


Dara yang baru selesai membantu ibunya sarapan dan juga minum obat, segera membuka pintu kamar saat terdengar suara ketukan.


Netra gadis berkulit putih itu terbelalak saat melihat tiga wanita dengan membawa tas besar berdiri di depan kamarnya.


"Ka-kalian siapa?" tanya Dara terbata.


Tak menjawab, mereka bertiga malah menepi hingga menampilkan Ken yang sedang membungkuk. Sepertinya dia tengah bersembunyi mengingat tinggi badannya yang jauh lebih tinggi dibandingkan tiga wanita tadi.


"Surprise!" seru Ken sambil menegakkan tubuh.


"Mas Kendrick? Ini apa maksudnya?"


Ken pun melangkah mendekat lalu merangkul kekasihnya itu. "Sayang… aku ingin kamu tampil istimewa di acara ini. Jadi aku sengaja undang mereka untuk make-over kamu."


Dara mengernyitkan dahi, dia menatap Ken lalu beralih menatap ketiga pegawai salon yang ternyata langganan Ken. Dia ingat betul saat pertama jadi asisten Ken, dia dibawa ke salon yang mana pemilik salon tersebut naksir berat sama Ken.


"Mas, tapi…


"Udah, kamu nurut aja. Demi aku, oke?"


Ken langsung menyuruh tiga pegawai salon itu untuk masuk dan mengeksekusi Dara. Bu Nisa yang masih berada di kamar, Ken ajak keluar sebentar.


"Ini ada apa, Nak Ken?" tanya Bu Nisa kebingungan.


"Ibu tenang saja, Aku akan buat Dara terlihat berbeda untuk datang di acara Mami dan Papi."


Wanita paruh baya itu kemudian tersenyum dan mengangguk paham. Dara sudah menceritakan semuanya tentang Ken yang akan mengajaknya menghadiri acara peluncuran produk baru di PM grup, yakni perusahaan milik orang tua Ken.


Ken meminta Chef Mira menemani Bu Nisa selama seharian, terutama saat Ken dan Dara pergi nanti. Sementara itu tiga pegawai salon tadi masuk bersama Dara.

__ADS_1


Selama di make over, Dara melihat satu persatu pegawai itu dengan tatapan penuh selidik. Bukan apa-apa, dia khawatir saja karena dulu sempat dibikin minder sama Nyonya Sarah.


'Gimana sih, Mas Ken? Bukannya pernah bilang tidak suka berlangganan salon? Atau hanya omongan doang?' batin Dara bertanya-tanya.


Terlepas dari itu semua, Dara hanya bisa pasrah. Semoga saja para pegawai salon itu bekerja dengan baik, tidak ada misi menjatuhkan seperti sang pemilik salonnya.


"Mba, kamu yang dulu dibawa Tuan Ken ke salon 'kan? Yang Caddy itu?" tanya salah satu pegawai.


Dara melirik, "Iya, kenapa, ya?"


"Wah, beruntungnya bisa serumah sama Tuan Ken. Kalau Nyonya Sarah tau bahwa job panggilan ini dari Tuan Ken, ngibrit sendiri dia."


"Maksudnya gimana ya?"


Dara tidak paham dengan arah bicara pegawai salon itu. Dia terkejut jika Nyonya Sarah malah tidak tahu kalau Ken yang memanggil ke rumah.


"Tuan Ken pesan via call, tapi bukan atas namanya. Atas nama Bu Nisa gitu. Makannya kami terkejut pas lihat Tuan Ken."


Sedikit terkejut, tapi entah mengapa hal itu cukup membuat Dara merasa lega dan tersenyum. Ternyata Ken menepati ucapannya yang tidak berlangganan waktu itu, karena ini pesan dengan nama ibu Dara sendiri.


Lima belas menit berlalu, para pegawai salon itu sudah keluar dari kamar Dara. Selama Dara di make over, Ken bersiap sendiri di kamarnya, sehingga saat Dara selesai dia pun selesai.


"Sudah, Tuan," ucap salah satu pegawai.


"Oke, terima kasih. Pembayaran sudah saya transfer ke rekening salon, dan ini tips untuk kalian. Saya harap kalian bisa tutup mulut bahwa telah datang ke rumah ini."


Ken berucap dengan begitu tegas. Dia tidak mau jika nantinya Nyonya Sarah sering datang ke rumah karena telah tau dari para pegawainya.


"Siap, Tuan. Kami tidak akan beri tahu Nyonya Sarah."


"Bagus. Kalau sampai dia tau, kalian yang akan saya cari sampai manapun!" tegas Ken dengan mata menyalang.


"Ba-baik, Tuan. Kami permisi dulu. Terima kasih," sahut pegawai dengan terbata lalu pergi dengan kepala menunduk.


Tanpa Ken sadari Dara menyaksikan kekasihnya itu bertindak seperti dulu lagi. Hal itu membuat gadis yang sudah mengenakan dress dengan warna peach itu geleng-geleng kepala.


"Jangan terlalu keras, Mas. Kasian loh anak orang."

__ADS_1


"Aku nggak keras. Hanya…


Ucapan Ken terhenti saat menoleh ke arah sumber suara dan melihat wanitanya kini sudah berpenampilan begitu cantik dan anggun.


Netra pria itu sampai tak berkedip, mulutnya yang sedang berbicara masih terbuka saking terpesonanya.


"Hanya apa, Mas?" ulang Dara yang ingin mendengarkan kelanjutannya.


"Hanya saja kamu terlihat begitu cantik, Sayang," sahut Ken dengan senyum yang sumringah.


Presdir muda itu kemudian berjalan mendekati Dara, kedua tangannya membelai rambut hingga pundak Dara. Dia menatap kekasihnya dari atas hingga bawah, lalu atas lagi.


"Aku nggak percaya ini kamu, Sayang."


Blush


Pipi Dara yang putih langsung merona tiap kali dipuji oleh Ken. "Ah, kamu bisa aja, Mas. Ini bajunya terlalu bagus, Mas."


"Emang kenapa? Aku sengaja pilih yang senada dengan kemejaku loh ini," ucap Ken seraya membuka tuxedonya dan menunjukkan kemeja yang warnanya memang sama dengan gaun Dara saat ini.


Gadis yang rambutnya diurai itu mengangguk paham. Walaupun merasa tidak pantas dengan gaun yang dikenakan saat ini, dia tidak ingin membuat sang kekasih kecewa karena telah menyiapkan segalanya.


"Kita berangkat?" tanya Ken seraya mengulurkan lengannya untuk digandeng.


Dara kembali mengangguk lalu menyambut uluran lengan Ken. Disaat mereka sudah siap jalan, Bu Nisa bersama para pegawai menghadang di depan pintu.


"Duh… kalian serasi banget sih? Ibu jadi nggak sabar melihat kalian jalan bergandengan begini di pelaminan," seloroh Bu Nisa sambil menangkupkan kedua tangan di wajah.


"Iya… sudah Tuan Ken ganteng, Neng Dara juga cantik. Paket komplit deh," sambung Bi Inah.


Dara dan Ken hanya tersenyum lalu saling berpandangan.


"Kalian bisa saja. Do'akan saja, semoga setelah ini kami bisa melangkah lebih serius lagi."


Ken berucap sambil menatap wanita yang ada di sampingnya dengan intens, tangan kanannya pun menggenggam tangan Dara yang sedang berpegangan di lengan kirinya.


**** 

__ADS_1


__ADS_2