
Pemandangan komplek perumahan sederhana menyambut kedatangan Dara dan Bu Nisa kembali ke tempat asal mereka. Rumah sederhana, para tetangga yang biasanya saling gotong royong tapi tidak jarang menggunjing satu sama lain, mewarnai peradaban kaum menengah kebawah.
Dara menghela nafas saat taksi online yang mengantar dirinya bersama sang ibu telah berhenti tepat di halaman rumah. Halaman rumah Dara kebetulan cukup luas, sehingga mudah untuk parkir mobil.
"Seenak apapun tinggal di rumah orang, tetap lebih nyaman tinggal di rumah sendiri. Meskipun sederhana. Ya, kan, Ra?" tegur Bu Nisa.
Gadis berambut hitam itu mengangguk setuju. Sebenarnya bukan masalah hidup enak dan nggak enak. Dara hanya belum siap jadi bahan gosip para tetangga yang terkadang ucapannya sukar sekali dikendalikan.
Bagaimana tidak kabar Dara menjadi kekasih presdir muda nan tampan Ken telah menjadi konsumsi publik. Kini tiba-tiba dikejutkan dengan berita kemunculan istri Ken dan sederet berita miring tentang Dara.
Mendadak Dara sudah seperti artis yang tengah naik daun, akan tetapi mendadak tersandung skandal. Hingga Dara menjadi buronan para wartawan yang ingin tahu kepastiannya.
"Bu… Dara takut ada wartawan yang mengikuti kita."
Bu Nisa mengedarkan pandangan sebelum turun dari mobil. Kawasan tempat tinggal mereka berada di area sepi dan jarang terjamah orang asing. Seharusnya tidak akan ada wartawan yang sampai ke tempat tersebut.
"Aman, Dara. Selama tidak ada warga disini yang memberi keterangan pada pihak media, kamu tidak akan diserbu mereka."
Sebisa mungkin Bu Nisa memberikan dukungan dan keyakinan pada putrinya, bahwa rumah tinggal mereka merupakan tempat teraman dan ternyaman untuk berlindung dari masalah yang mendera.
Mendengar ucapan sang ibu yang begitu meyakinkan, membuat Dara merasa percaya diri lagi. Setidaknya di rumah tinggalnya itu dia akan merasa tenang.
Kini dua manusia ibu dan anak itu turun dari taksi, sang sopir membantu menurunkan barang-barang mereka. Hingga mobil yang mengantar itu melesat meninggalkan pekarangan rumah, tiba-tiba saja suasana yang semula sepi mendadak rame.
Dara terkejut saat tiba-tiba para ibu-ibu komplek berbondong-bondong menghampiri dia dan ibunya.
"Eh, Bu Nisa…Kok balik ke rumah ini lagi? Denger di berita katanya mau dapat menantu orang tajir."
"Hush! Jangan begitu Bu Retno…nanti mereka nangis lagi karena di PHPin sama konglomerat."
Wanita yang dipanggil dengan sebutan Bu Retno itu tersenyum mengejek. "Lagian si Dara nggak sadar diri sih. Mau-maunya dijadikan pelampiasan suami orang. Nggak punya harga diri."
__ADS_1
Gadis yang biasanya begitu pemberani dan siap menentang apapun yang tidak benar sesuai fakta itu membisu. Keberaniannya menghilang sejak dirinya sering menjadi sorotan media. Pasalnya bukan untuk berita yang positif, melainkan berita negatif.
Dara hanya bisa menatap para tetangganya dengan tajam, tangannya mengepal bahkan gigi terdengar gemeretak saking marahnya. Tapi amarah itu tidak bisa dia tunjukkan begitu saja. Kini setiap apapun yang dia lakukan akan menjadi pemberitaan dan konsumsi publik, selama Dara masih menjadi bayang-bayang kehidupan Kendrick bersama wanita yang katanya istri sah itu.
"Maaf ya ibu-ibu. Jika tujuan kalian menyambut kami hanya untuk menghina dan mengolok-olok putriku. Terima kasih, kalian boleh bubar. Ingat, kalian juga memiliki anak perempuan. Saya harap kalian semua bisa merasakan apa yang aku rasa saat ini. Dihina oleh tetangga sendiri, padahal kami hanya korban!"
Saking emosinya, Bu Nisa yang sebelumnya terkenal dengan wanita pendiam dan lemah lembut, kini dia berbicara dengan nada tinggi. Bahkan jari telunjuknya berulang kali menunjuk pada tetangga yang berkerumun, terutama mereka yang berani berceloteh.
Bu Nisa segera mengajak Dara untuk masuk rumah, tidak peduli para tetangga yang masih berkerumun di halaman rumah.
"Bu Retno sama Bu Ningsih keterlaluan. Ayo kita semua bubar!" titah salah satu wanita yang mana merupakan istri dari ketua RT di komplek tersebut.
"Huuu….!"
Suara sorakan terdengar begitu nyaring dan perlahan menghilang seiring dengan bubarnya pada tetangga tersebut. Dara menjatuhkan tas jinjingnya, dia menyandarkan tubuh ke tembok dan perlahan dia lirih terduduk di lantai.
"Kenapa semuanya jadi begini, Bu? Dara malu, Bu…"
Bu Nisa yang baru saja berkeliling melihat keadaan rumah yang sudah lama ditinggal pun mendekat. Dia turut duduk bersimpuh di lantai sembari memeluk putri semata wayangnya.
"Sabar, Nak. Mungkin Alloh sedang begitu saya kepadamu. Sehingga diberikan cobaan yang cukup berat. Namun Ibu yakin kamu bisa melewati semua ini. Karena Alloh tidak akan menguji hambaNya diluar batas kemampuan."
Beruntung sekali Bu Nisa orangnya sabar dan telaten. Dia selalu menghadapi masalah dengan kepala dingin. Beruntungnya lagi penyakitnya tidak kambuh, karena Dara yang biasanya diandalkan saat dia terkapar sakit, kini malah membutuhkan dukungan dan support untuk bisa bertahan hidup dengan normal.
Tidak ingin terlarut dalam keadaan dan tidak ingin membiarkan Dara selalu meratapi nasibnya, Bu Nisa mengalihkan obrolan dengan mengajak beberes rumah.
Maklum saja rumah tersebut tidak dihuni dalam keadaan cukup lama, debu dimana-mana, sarang laba-laba pun seakan menjadi hiasan rumah tersebut.
Merasa tidak nyaman tinggal di rumah dalam keadaan kotor, Dara pun setuju untuk bebersih. Hingga satu jam berlalu, rumah sederhana itu sudah kembali bersih dan nyaman.
Kruukkk…
__ADS_1
Dara memegangi perutnya yang berbunyi begitu nyaring setelah selesai bersih-bersih dan beberes.
"Ibu lapar nggak?" tanya Dar pada ibunya yang sedang duduk bersandar di sofa.
"Lumayan."
"Kalau begitu Dara cari makan dulu ya. Kalau masak tidak akan keburu, nanti keburu pingsan," kelakar Dara yang menyadari semua bahan makanan di rumah masih kosong.
"Kamu yakin akan keluar rumah, Ra?"
Jelas saja Bu Nisa sangsi dengan keputusan putrinya yang hendak mencari makan di luar. Pasalnya baru sejam yang lalu gadis berhidung mancung itu menangis bombay akibat celotehan para tetangga.
"Yakin dong, Bu. Nggak usah khawatirkan Dara."
Gadis yang rambutnya dikuncir satu itu berucap sambil melenggang pergi. Dia begitu mantap untuk pergi sendiri. Kembali dalam kehidupan sebelumnya, membuat Dara sedikit lupa dengan masalah yang dia hadapi saat ini.
Cekrek!
"Mba Dara! Apa alasan anda kembali ke rumah ini? Apakah anda diusir oleh Tuan Ken?"
Dara terkejut saat membuka pintu disambut oleh flash kamera dan serentetan pertanyaan dari para wartawan. Beruntung sekali saat para wartawan hendak mendekat, Dara segera masuk dan menutup pintu dengan rapat.
"Huft…"
Dara menyandarkan punggungnya di pintu seraya menghela nafas. Dia merasa lega karena masih bisa menghindar dari kejaran para wartawan.
Sial. Bisa-bisanya para wartawan secepat itu mengetahui rumah Dara. Kini gadis malang itu memikirkan bagaimana caranya bisa mendapatkan makanan tanpa harus menghadap para wartawan kepo yang masih menghadang di halaman rumah.
"Kok nggak jadi, Ra?" tegur Bu Nisa.
Dara hanya menjawab dengan gerakkan, dia menaruh telunjuknya di depan bibir lalu menunjuk ke arah luar. Seakan paham dengan maksud sang putri, Bu Nisa segera mengintip jendela dari balik tirai. Netra wanita paruh baya itu terbelalak hingga bola matanya hampir saja keluar dari tempatnya.
__ADS_1
****