
Lima belas menit berlalu, Dara sudah mandi dan berganti pakaian dengan salah satu dress yang dibelikan oleh Ken. Senyumnya merekah saat mematut diri di cermin. "Ternyata dia baik juga, belikan aku pakaian yang sopan begini." gumamnya sambil bersolek sedikit.
Meskipun Ken sudah mewanti-wanti agar dia tidak berlebihan dalam bersolek, tapi Dara juga tidak ingin membuat CEO muda dan tampan merasa malu karena sudah membawanya.
Ketika di acara nanti bukankah status Dara siapa itu tidak penting? Yang akan dibincangkan oleh orang pasti orang seperti apa yang dibawa oleh seorang Kendrick Mahanta, baru kemudian backgroundnya dicari tahu.
Setidaknya walaupun hanya asisten pribadi, Dara mencoba menjaga nama baik tuannya itu. Sebenarnya jika gadis bertubuh jenjang itu mau geer sedikit sepertinya tidak masalah.
Mengingat Ken sudah menyatakan perasaannya, mungkinkan CEO muda itu akan membawa Dara dan memperkenalkan sebagai kekasihnya?
Oh, tidak. Jangan berharap terlalu jauh dulu Dara, lebih baik kamu lakukan apa yang jadi tugas kamu saja. Salah satu tugas asisten pribadi memang mengikuti kemanapun majikannya pergi.
Tok! Tok! Tok!
"Dara! Lama banget si?" seru Ken seraya mengetuk pintu kamar asistennya itu.
Netra Dara membulat sempurna dan segera menyudahi kegiatannya di depan cermin. Tinggal satu sentuhan terakhir, yaitu menyemprotkan parfum aroma vanilla favoritnya.
Klek!
Melihat Ken yang sudah mondar-mandir di depan kamarnya, membuat Dara mengerjapkan mata berkali-kali. Antara heran dan sedikit takut, heran karena tidak biasanya seperti itu. Takut karena khawatir sudah terlambat dan dia yang disalahkan.
Tapi, biasanya jika sudah terlambat Ken akan memilih menunggu dari mobil dan membunyikan klakson berkali-kali. Atau yang lebih kejam lagi pernah Dara ditinggal sampai gerbang depan yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah utama. Kejam bukan?
"Mmm… maaf, Mas. Kita udah telat ya?" tanya Dara dengan sangat hati-hati.
Mendengar suara Dara sontak Ken menoleh kaget. Dia tertegun melihat bidadari berdiri tepat di hadapannya itu. CEO muda itu menatap gadis cantik itu dari ujung rambut hingga ujung kaki dan kembali lagi ke ujung rambut.
Alisnya bertaut saat melihat ada yang tidak sesuai dengan keinginannya, perlahan dia melangkah mendekat.
"Ini nggak usah terlalu menor, jadi kaya tante-tante tau nggak?" protesnya sembari menghapus lipstik Dara yang berwarna merah merona itu.
__ADS_1
Sebenarnya bukan karena terlihat menor Ken menghapus lipstik tersebut, tapi karena Dara terlihat begitu seksi dan menggoda dengan warna lipstik itu. Jelas dia tidak mau nantinya Dara menjadi pusat perhatian dan pusat khayalan birahi para rekan lelaki yang hidung belang.
Blush
Mendapat perlakuan seperti itu membuat pipi Dara yang putih mendadak merah merona. Ada malu dan grogi yang bergabung menjadi satu.
Jarak yang begitu dekat, membuat jantung gadis berkulit putih itu berdetak lebih cepat dari biasanya. Belum lagi aroma maskulin Ken yang membuat Dara semakin deg-degan.
"Nah, beginikan cantik. Sudah dibilang make-up yang tipis-tipis saja, bandel. Seneng ya kalau digodain para pria dan bikin aku cemburu?"
Tuhan. Kenapa Ken semakin membuat Dara malu saja, gadis itu yakin wajahnya sudah sangat merah dan dia jadi salah tingkah.
Netra Dara mengerjap beberapa kali, "Maksudnya?" Duh, pertanyaannya terdengar bodoh nggak sih?
Arah pandang Ken yang semula fokus menatap bibir Dara yang merah seperti habis makan ayam mentah, kini beralih menatap lurus ke iris coklat gadis tersebut. Kini mata mereka saling bersirobok.
Satu detik, dua detik, tiga detik. Dara segera mengalihkan pandangan saat tersadar cukup lama saling beradu tatap dengan tuannya itu. "Eh, ma-maaf." ucapnya gugup seraya menunduk.
"Maksudnya, aku nggak suka kalau ada pria lain yang naksir kamu nanti. Aku jadi punya saingan dong?" papar CEO muda itu sambil mengangkat dagu gadis yang mengenakan dress berwarna baby blue itu.
Kulit Dara yang putih mulus terlihat begitu menyatu dengan dress panjang dan lengan sesiku itu. Meskipun bagian dadanya tidak terbuka, tapi terlihat jelas jika gadis itu begitu seksi.
Ken sampai bingung harus memberi pakaian seperti apa lagi agar Dara tidak terlihat menggoda. Padahal semua bagian tubuh yang biasanya menggoda iman para pria sudah tertutup rapat, tapi kok masih saja menggoda.
Glek
Dara menelan ludah, dia benar-benar dibuat salah tingkah oleh tuannya itu. Dia baru melihat sisi lain dari seorang Kendrick Mahanta. Sungguh jauh berbeda dengan Ken yang pertama kali dia jumpai.
Ternyata seseorang yang suka bersikap dingin, jika sudah menemukan orang yang tepat bisa berubah menjadi begitu manis. Contohnya Ken sekarang, dia berani terang-terangan menyampaikan rasa dan berulang kali.
"Mmm… kita berangkat sekarang, Mas? Nanti terlambat lagi." sahut Dara mengalihkan perhatian.
__ADS_1
Ken pun melirik jarum jam yang melingkar di tangannya. "Ya, benar. Sebaiknya kita segera berangkat sekarang."
Tanpa basa-basi Ken segera berjalan keluar sembari menggandeng tangan Dara. Hal itu membuat sang caddy sekaligus asisten pribadi itu terkejut bukan main.
Dara mencoba melepaskan genggaman tersebut, tapi Ken malah semakin memperkuat genggamannya, hingga gadis yang rambutnya di urai itu mengalah dan pasrah.
CEO muda itu benar-benar memperlakukan Dara layaknya ratu, saat akan naik ke dalam mobil dia membukakan pintunya. Saat sudah di dalam tak lupa dia memasangkan seatbelt, tanpa basa-basi memerintah Dara untuk memasang sendiri terlebih dahulu. Tapi dia langsung berinisiatif memasangnya.
"Kita mau kemana si, Mas?" tanya Dara yang akhirnya memberanikan diri dan mengeluarkan unek-unek serta rasa penasarannya.
"Acara peresmian gedung salah satu rekan bisnis. Kenapa?"
"Ooh, nggak papa. Tumben banget kamu ajaknya aku, biasanya ajak Mas Adam. Eh, maksudnya Kang Adam."
"Aku ajak Adam kalau ada pertemuan masalah kerjaan. Acara peresmian seperti itu biasanya rekan-rekanku bawa pasangannya, masa aku bawa Adam kan aneh?"
Deg!
Jantung Dara kembali berpacu tak menentu saat mendengar kata pasangan. Rasa geer gadis berbulu mata lentik itu kembali hadir. Stop Dara, jangan kepedean dulu. Mungkin karena dia malas mencari kekasih, jadi terpaksa bawa kamu yang jelas-jelas hanya caddy sekaligus asisten pribadi.
Tanpa Dara sadari, Ken memperhatikan reaksinya yang langsung gugup saat dengar kata pasangan. Pria itu tersenyum karena berhasil membuat gadis yang duduk disampingnya itu merasa gugup.
Tak berapa lama mobil yang mereka tumpangi memasuki sebuah basement yang besar dan luas. Kemungkinan gedung yang akan diresmikan juga besar karena Dara kurang memperhatikan keadaan sekitar tadi. Tau-tau mobil sudah belok saja.
"Ayo, turun." ajak Ken seraya membukakan pintu.
Dara pun mengangguk patuh dan segera turun. Dia mengedarkan pandangan, disana terparkir begitu banyak mobil-mobil yang sangat mewah. Hal itu membuatnya sedikit menciut karena merasa kurang pantas berada di lingkungan itu.
Tetapi lagi dan lagi, Ken menggandengnya dan seakan menyalurkan energi positif. "Nggak usah takut, disini orangnya baik-baik kok. Tergantung bagaimana kamu menyikapinya saja." bisik Ken.
****
__ADS_1