
Ken dan Dara saling pandang saat Bu Nisa meragukan perasaan yang mereka miliki, terutama Ken. Presdir muda itu berjalan mendekati wanita paruh baya yang masih terduduk di ranjang pesakitan.
Tanpa diduga Ken bersimpuh di hadapan Bu Nisa. Hal tersebut tentu membuat semua orang bingung dan bertanya-tanya terutama Dara.
"Mas, kamu ngapain?" tanya Dara dengan nada berbisik.
Sayangnya pertanyaan Dara bagaikan angin lalu, Ken terlalu fokus pada orang yang sangat berarti bagi kekasihnya itu. Ya, Bu Nisa begitu berarti bagi Dara. Gadis itu rela melakukan apapun demi kesembuhan satu-satunya keluarga yang dia miliki.
"Bu, saya berjanji di hadapanmu. Perasaan yang saya miliki terhadap Dara itu tulus dan benar adanya. Tidak ada unsur main-main atau sebagai pelampiasan. Saya berjanji sedikitpun tidak akan pernah menyakitinya."
Ken berucap dengan mantap layaknya tengah mengucap janji sehidup semati. Mendengar pernyataan tersebut sontak membuat hati Dara tersentuh, netra gadis itu berkaca-kaca karena baru kali ini memiliki hubungan dengan seorang pria dan diperlakukan dengan begitu istimewa.
"Uuuww… Tuan Muda sosweet banget sih. Kamu pake pelet apa sih, Ra? Bisa bikin Tuan Muda berubah seratus delapan puluh derajat gitu?"
Mira bertanya sambil menyandarkan kepala pada Dara yang berdiri di sampingnya. Gadis yang ditanya menautkan kedua alisnya lalu menoleh dengan cepat.
"Sembarangan kamu, Mba. Aku bukan dukun ya," elak Dara merasa tak terima.
Sontak Mira terkekeh tanpa bersuara, karena takut merusak momen khidmat antara Ken dan Bu Nisa. Dua manusia yang masih saling berhadapan itu menatap satu sama lain.
Jika Ken menatap Bu Nisa dengan penuh harap agar hubungannya dengan Dara mendapatkan restu. Berbeda dengan Wanita paruh baya itu yang menatap Ken dengan haru. Dia tidak menduga bahwa putrinya yang terkenal kaku dan sedikit tomboy bisa menarik hati seorang presdir muda nan tampan.
Single mom itu tahu betul apa alasan putrinya enggan mempercantik diri dan cenderung seperti pria. Semua karena luka masa kecilnya. Sejak kecil Dara belum pernah bertemu dengan sosok ayah yang katanya bagi anak perempuan adalah cinta pertamanya.
Seiring berjalannya waktu Dara tumbuh menjadi gadis yang benci dengan pria dan kaku. Hingga datang musibah dan bertemu dengan Shyna yang membuatnya harus menjadi wanita seutuhnya. Bersolek, dan feminim.
Siapa sangka perubahan secara paksa itu membawa Dara bertemu dengan cinta sejatinya? Dimana Ken sendiri juga mendapatkan perubahan sejak bertemu Dara.
Dua sejoli tersebut memang benar-benar saling mengisi dan melengkapi satu sama lain, mereka sama-sama hadir untuk menunjukkan jati diri yang pernah hilang.
"Nak Ken, niatmu sungguh mulia," puji Bu Nisa seraya menepuk kedua pipi Kendrick. "Saya pasti akan merestui kalian, karena saya lihat Dara juga begitu bahagia jika bersamamu," imbuhnya yang kemudian mengalihkan pandangan pada Dara.
__ADS_1
Blush…
Kedua pipi Dara yang putih bersih mendadak merona saat ibunya berucap demikian. "Ah, Ibu, sok tau," sangkal Dara sambil mengulum senyum.
"Cie…"
Mira tak henti-hentinya meledek sambil menyenggol Dara dengan bahunya. Chef kepercayaan di kediaman Kendrick itu turut berbahagia menjadi saksi keharmonisan antara Ken, Dara dan Bu Nisa.
Pria yang masih bersimpuh itu tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. "Terima kasih banyak, Bu," ucap Ken lalu menciumi punggung tangan Bu Nisa tanpa henti.
"Sudah, sudah. Nanti tangan Ibu habis diciumi kamu, Ken," seloroh Bu Nisa yang mengundang gelak tawa di ruangan tersebut.
Usai mendapatkan restu dari calon ibu mertua, dengan sigap Ken membantu Bu Nisa untuk berpindah ke kursi roda. Dia tidak akan membiarkan wanita yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri itu merasa kesusahan. Apalagi sampai membuat Dara repot.
"Kalian kenapa bengong? Ayo angkat barang-barangnya dan bawa ke mobil!" titah Ken saat mendapati Dara dan Mira terdiam melihat aksinya membopong Bu Nisa pindah ke kursi roda.
"Ah, i-iya, Mas," sahut Dara tergagap. "Ayo, Mba," lanjutnya mengajak Mira.
Nyatanya dua puluh tahun lebih hidup hanya berdua dengan ibunya, membuat Dara lupa bagaimana rasanya ada peran seorang pria di dalam keluarganya. Kehadiran Ken sungguh membawa suasana baru dan kebahagiaan baru.
"Ibu mau duduk di depan atau belakang?" tanya Ken saat sudah tiba di parkiran.
"Di belakang saja, biar tidak terlalu silau. Di depan nanti sering menatap pantulan cahaya, takutnya malah bikin pusing."
Usai memasukkan barang-barang ke dalam bagasi, Dara dengan sigap membuka pintu belakang. Begitu Bu Nisa telah dipindah ke dalam mobil, gadis berambut panjang itu sudah siap untuk duduk di samping ibunya.
"Dara kamu ngapain duduk disini?" tanya Bu Nisa membuat putrinya berhenti sejenak.
"Ya mau duduk di samping Ibu, lah."
"Nggak usah, biar Mira saja yang di belakang. Kamu duduk di depan sana."
__ADS_1
Mendadak wajah Dara yang semula sumringah kini berubah menjadi sendu saat mendapatkan penolakan dari ibunya.
"Jangan salah paham. Ibu hanya tidak ingin Mira yang duduk di sebelah Nak Ken. Kan, kamu yang kekasihnya," ujar Bu Nisa mengkonfirmasi kata-kata sebelumnya.
Mira dan Ken yang masih berada di luar mobil mengulum senyum. "Anaknya yang pacaran, ibunya yang posesif," lirih Mira yang sialnya bisa terdengar oleh Bu Nisa.
"Mira! Ibu denget loh."
"Ah? Denger apa, Bu? Sahut Mira pura-pura nggak tau.
Aksi Ibu dan pengasuh itu berhasil membuat Dara gagal marah. Dia sudah berpikiran negatif, jika ibunya sudah tidak lagi mau dekat dengannya. Dia pikir Mira telah berhasil merebut ibunya melalui perhatian dan perawatan selama di rumah sakit. Ternyata, ibunya cukup peka terhadap hubungan Dara dan Ken yang sudah bukan lagi sebatas bos dan bawahan.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Ken, mereka semua saling mengobrol dan bercanda. Benar-benar suasana keharmonisan dalam keluarga yang tidak pernah Dara dan Ken rasakan sebelumnya.
Jika Dara tumbuh dengan Ibu yang juga menjadi ayah, Ken tumbuh di tengah-tengah keluarga yang sibuk dengan bisnis hingga melupakan perhatian dan kasih sayang terhadapnya.
Hal tersebut menjadi alasan juga mengapa Ken tumbuh menjadi pria yang dingin dan angkuh. Karena sejak kecil telah diajari keangkuhan oleh keluarganya.
"Masya Alloh, ini rumahmu, Nak Ken?" tanya Bu Nisa setelah mobil yang dia tumpangi memasuki sebuah rumah yang lebih mirip istana.
Bagaimana tidak? Jarak dari pintu gerbang menuju pintu utama rumah saja sekitar satu kilo, dimana sepanjang jalan tersebut terdapat taman bunga dan buah. Belum lagi rumah dengan dua lantai yang begitu besar dan luas.
"Iya, Bu. Makannya saya ajak Ibu untuk tinggal disini, karena rumah ini terlalu besar jika saya tinggali sendiri. Bahkan kehadiran para pegawai saja masih kurang cukup."
Bu Nisa terkekeh, dia geleng-geleng kepala karena melihat rumah besar dan mewah yang tidak pernah dilihat sebelumnya. Biasanya Bu Nisa melihat rumah-rumah semacam itu hanya di televisi saja.
"Tapi, warisan atau…
"Tidak, Bu. Ini murni hasil jerih payah Tuan Muda sendiri dari nol. Saya saksinya," sambar Mira begitu saja.
****
__ADS_1