Caddy Kesayangan CEO

Caddy Kesayangan CEO
Fakta Kendrick Mahanta


__ADS_3

"Dara!" Shyna menarik tubuh sahabatnya yang masih tidak menanggapi pertanyaannya. "Ada apa?" Ulangnya dengan nada bicara yang lebih tinggi.


Dara mengusap bulir bening yang mulai membasahi pipinya. "A-aku gagal menjadi caddy yang baik, Na." Ucap Dara mengadu dengan sesenggukan.


Shyna mengernyit, "Kamu melakukan kesalahan? Itu wajar bukan? Namanya juga pemula."


Dara berjalan dan duduk di sofa sebelum menjelaskan lagi. "Tapi kesalahan yang aku buat tidak hanya sekali—


Dara mulai bercerita sejak awal kesialan bertemu dengan Kendrick Mahanta dan supirnya di jalan, kemudian ditunjuk sebagai caddy Ken dan berbagai kesalahan yang bertubi-tubi dia lakukan.


Shyna tertegun, " Jadi dia supirnya Kendrick?" Bisik Shyna sambil menunjuk Adam dengan dagunya. Melihat Dara yang menganggukan kepala, membuat Shyna semakin bingung. "Terus kenapa kamu menangis?"


Dara menghembus kasar, "Shyna sayang, karena kesalahan-kesalahan itu, aku harus menjadi asistennya Kendrick selama satu bulan, dan yang harus kamu tahu adalah tanpa digaji."


Shyna terbelalak, "Gila tuh Kendrick! Enak bener main tunjuk anak orang jadi asisten, mana tanpa digaji pula. Kenapa kamu nggak minta bantuan sama papahku aja si, Ra?"


Dara semakin frustasi karena Shyna tidak paham Kendrick itu siapa. "Shyna, kalau aku minta bantuan papah kamu, klub bakalan ditutup. Kamu mau?"


Shyna terbengong, tiba-tiba televisi yang sedang ditonton Shyna menampilkan berita tentang Kendrick Mahanta, pebisnis muda yang sukses dan terkaya seantero raya.


"Ra, ii-itu Kendrick yang kamu maksud?" Tanya Shyna tergagap.


"Iya, Shyna."


Dara sudah lemah tak berdaya, kini dia hanya pasrah. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya saat jadi asisten nanti.


Sementara itu, diluar Kendrick mulai jengah menunggu. Dia pun segera menghubungi Adam.


Drrrtt! Drrrtt!


Adam langsung merogoh ponselnya yang berada di saku. "Ya, halo, Tuan?" Sontak Dara dan Shyna menoleh saat Adam menyebut kata Tuan.


"Harus berapa lama lagi aku menunggu? Jangan bilang gadis aneh itu kabur!" Gerutu Ken dibalik gawainya.


"Tti-tidak, Tuan. Kami akan segera kembali."


Cepat!"


Adam sampai menjauhkan ponselnya dari telinga saking kerasnya Ken bersuara. "Biak, Tuan."

__ADS_1


Klik


Adam segera menutup telepon dan menaruh gawainya kembali. Dia kemudian berjalan mendekati Dara dan Shyna yang sedang menatapnya penuh selidik.


"Mari, Neng. Tuan Muda sudah terlalu lama menunggu, jangan sampai membuat dia marah lagi. Nanti hukuman, Neng, malah ditambah."


Meskipun awalnya Adam tidak tahu apa sebab caddy tersebut ikut majikannya, setelah mendengar percakapan Dara dan Shyna dia pun paham. Adam jadi merasa kasihan, terlebih setelah melihat keadaan ibunya Dara.


Dara menghela nafas, "Aku sudah harus pergi, Na. Kemungkinan aku tidak akan bisa menjenguk ibu selama sebulan ke depan. Aku titip ibu ya, nggak perlu kamu tungguin terus disini. Hanya ditengok sesekali saja, disini kan sudah ada perawat juga. Untuk biayanya ….


" Ra, kamu nggak usah pikirin masalah biayanya dulu. Selesaikan masalah kamu saja, biar masalah ibumu aku yang urus." Ucap Shyna seraya menggenggam kedua tangan Dara.


Bulir bening kembali menetes dari sudut mata Dara, dia tidak tahu entah bagaimana nasibnya jika tidak ada Shyna. Walaupun secara tidak langsung, Shyna juga yang membuatnya menjadi asisten Ken.


"Makasih banyak ya, Na." Ucap Dara langsung memeluk Shyna.


Shyna mengusap lembut punggung Dara, sebagai seorang anak dia tahu bagaimana rasanya harus berpisah dengan ibu untuk waktu yang cukup lama, apalagi kondisi ibunya sedang sakit.


"Kamu nggak perlu berterimakasih, aku yang minta maaf karena sudah membuatmu jadi sulit seperti ini."


Dara mengurai pelukannya, "Nggak, Na. Ini bukan salahmu, akunya aja yang ceroboh hingga membuat diri sendiri susah begini."


Adam berdehem, membuat dua gadis yang sedang menangis terbawa suasana, menoleh kaget. "Bentar, Mas." Ucap Dara yang mengerti arti deheman tersebut.


Dara menyudahi obrolannya dengan Shyna, kemiskinan kembali mendekati sang ibu. "Bu …. Dara pamit ya, Dara harus bekerja untuk waktu yang cukup lama. Nanti kalau Dara pulang, ibu janji harus sudah sembuh ya." Ucap Dara dibalik isak tangisnya.


Bu Nisa menggerakkan mulutnya, seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi masih sangat sulit. Tangannya mulai bisa sedikit bergerak, Dara pun langsung meraih tangan sang ibu sambil mengecupnya bertubi-tubi.


"Iya, Bu. Dara pasti akan baik-baik saja, Ibu nggak usah khawatir." Ucap Dara seakan mengerti maksud dari gerakan ibunya.


"Neng!" Seru Adam kembali mengingatkan, bahwa waktu yang diberikan sudah habis. Dara menoleh dan menganggukan kepala.


Dara kembali mendekap tubuh ibunya yang masih kaku, dia berharap akan datang sebuah keajaiban, yang bisa menyembuhkan sakit sang ibundanya.


Cup


Dara mengecup kening ibunya cukup lama, dia tidak pernah meninggalkan ibunya seorang diri dalam waktu yang lama. Itulah mengapa rasanya begitu berat.


Shyna mendekat dan menepuk bahu Dara, membuat Dara menyudahi acara perpisahan yang tidak diinginkan itu.

__ADS_1


"Titip Ibu ya, Na." Ucap Dara sekali lagi, melihat Shyna menganggukan kepala Dara kemudian berjalan keluar ruangan, diikuti oleh Adam.


Sepanjang berjalan di koridor rumah sakit, Dara masih terisak meratapi nasibnya yang tiba-tiba berantakan itu.


Adam hanya bisa menatap iba, dia tidak bisa membantu apapun karena dia cuma seorang supir. Alih-alih membantu, yang ada malah menambah masalah nantinya.


"Astaga! Habis semedi dulu apa bagaimana? Nggak tahu kakiku sudah pegal karena terlalu lama menunggu?"


Ken begitu marah saat mendapati dua pegawainya kembali ke mobil, "Maaf, Tuan. Tadi …


Dara menatap tajam Adam agar tidak menceritakan semua yang terjadi di dalam, Dara hanya tidak ingin dianggap menjual cerita dan minta dikasihani.


" Kenapa, Dam? Ada apa?"


"Mmm, enggak Tuan, tadi Neng Dara sedang di kamar mandi terlebih dahulu setelah menjenguk ibunya."


Ken melirik Dara, sontak Dara mengiyakan ucapan Adam. "Emang sakit ibu kamu?"


"Mmm, sakit demam biasa kok, Tuan." Sahut Dara berbohong, Adam terkejut mendengar jawaban Dara. Dia heran kenapa Dara tidak jujur saja.


"Ya sudah, cepat kembali ke rumah!" Titah Ken pada Adam.


"Baik, Tuan."


Adam segera mengemudikan mobilnya menuju rumah besar, dimana Ken tinggal seorang diri. Begitu tiba disana, Dara terperengah melihat rumah yang bagaikan istana.


Gerbangnya saja bisa terbuka secara otomatis, belum lagi taman yang ditata begitu rapi di depan rumah.


"Ayo, Neng, turun." Ucap Adam yang sontak mengagetkan Dara.


"Eh, ii-iya." Dara segera turun, dia mengedarkan netranya mengagumi setiap sudut halaman rumah


"Adam, bawa dia ke kamarnya dan tunjukkan apa saja pekerjaannya!" Titah Ken seraya masuk ke dalam rumah. Dara masih terkesima dengan pintu utama yang seperti lift itu.


Adam sampai senyum-senyum sendiri melihat tingkah Dara yang terkesan kampungan, tapi dia memakluminya, karena saat pertama tiba dirumah itu Adam juga bersikap sama.


Dara mengernyit karena Adam mengajaknya masuk lewat pintu lain, bukan pintu yang unik tadi. "Kok kita nggak lewat sana, Mas?"


****

__ADS_1


__ADS_2