
Berniat menarik tangannya yang masih mendarat di dada bidang milik Ken, Dara dibuat semakin terkejut karena sang tuannya malah semakin menarik tangannya hingga dia jatuh di pelukan Kendrick Mahanta.
"Jangan bergerak! Diam aja sebentar." ucap Ken dengan lirih.
Dara yang semula berusaha dengan keras untuk terlepas dari pelukan Ken, kini dia menurut untuk diam. Walaupun dalam hatinya begitu bergemuruh. Detak jantungnya pun berdebar tak menentu, sampai-sampai dia khawatir Ken akan mendengar dan merasakannya.
"Sejak pertama bertemu denganmu, entah mengapa aku merasa ada yang unik darimu. Hingga aku tetap mempertahankan kamu sebagai caddy-ku, walaupun pekerjaanmu tidak becus sama sekali."
Tiba-tiba Ken mulai berceloteh. Walaupun tanpa sadar seperti biasa ucapannya pasti ada saja yang membuat Dara tersinggung. Tapi kali ini gadis yang masih berada dalam dekapan Ken itu tidak berkutik dan tidak menjawab sama sekali.
"Tapi semakin lama aku mulai sadar, aku benci setiap ada pria lain yang menatapmu dengan liar. Aku marah jika kamu tampil cantik dan seksi di depan umum. Aku tidak suka kamu samakan dengan pria lain."
Deg
Jujur saja mendengar ucapan Ken semakin membuat perasaan Dara tidak menentu. Ya grogi, takut, deg-degan, tapi tersanjung juga.
"Kini aku semakin sadar, setelah melihat kamu yang begitu telaten merawatku, aku semakin yakin bahwa kamu wanita yang aku nantikan dan aku tidak bisa jauh darimu. Jadilah kekasihku Dara, temani hidupku yang kosong ini."
Blarr!
Bak disambar petir di siang bolong, rasanya seperti mimpi mendengar pernyataan Ken. Bahkan Dara masih tidak percaya jika Ken tengah menyatakan cinta padanya.
Hening. Dara tertegun cukup lama, hingga dia merasakan Ken mulai mengendurkan pelukannya. Itu saat yang tepat untuk Dara bangun dan sedikit menjauh.
Dara butuh waktu dan udara yang cukup, setelah dibuat senam jantung oleh bos yang selama ini hobi memaki dirinya. Tapi tiba-tiba saja, tidak ada angin ataupun hujan malah menyatakan cinta.
Perlahan Dara menempelkan punggung tangannya di dahi Kendrick. Dia memastikan bahwa tuannya itu sedang mengigau atau tidak.
"Aku tidak ngelantur Dara." ucap Ken seraya menahan tangan gadis berkulit putih itu yang semula akan ditarik kembali.
Ken berusaha untuk bangun dari tidurnya, setelah makan, minum obat dan istirahat cukup. Kini dia merasakan tubuhnya lebih segar dan bertenaga.
"Jujur sebelumnya aku tidak pernah merasakan begini setiap kali dekat dengan wanita. Tapi saat denganmu, perasaan ini tiba-tiba saja muncul. Semakin lama aku tidak bisa memendamnya lagi."
__ADS_1
Baru kali ini Dara melihat Ken berbicara dengan sesantai itu, bahkan sorot mata pria itu terasa hangat, tidak mengintimidasi seperti biasanya.
"Ta-tapi, Tuan…
"Stop memanggilku Tuan! Bukankah sudah kubilang? Jangan panggil aku seperti itu, aku tidak suka."
Sontak Dara menunduk saat Ken mulai meninggikan suaranya dalam berbicara. Tapi setelah sadar ucapannya cukup membuat Dara takut, Ken kembali merendahkan suaranya.
"Maafkan aku jika selama ini sudah sering menyakitimu. Itu sengaja aku lakukan untuk membuang semua perasaan aneh ini. Tapi entah mengapa tetap tidak bisa."
Dara memberanikan diri untuk mengangkat kepala dan kembali menatap manik Ken yang menghangatkan itu. Jujur saja Dara merasa nyaman saat memandang mata Ken yang bikin tenang itu, tidak mengancam seperti biasanya.
"Maksud Tuan? Eh, maksud saya maksud Mas Kendrick bagaimana?"
"Ya…
Ken pun akhirnya menjelaskan bahwa sikap kejamnya selama ini hanya untuk menutupi perasaan cinta yang mulai tumbuh sejak pertama bertemu. Tapi sayangnya hal tersebut tidak berhasil.
Saat di salon tadi pagi, jujur saja Ken begitu terpesona dengan penampilan baru Dara setelah di makeover oleh pihak salon. Sayangnya dia masih gengsi untuk mengakui itu.
Lalu saat ada rekan klub yang meminta bertukar caddy, Ken semakin yakin jika Dara adalah aset berharga yang diincar banyak klien di KGRJ.
Belum lagi saat di rumah sakit banyak sekali mata jelalatan menatap tubuh Dara yang seksi, sert wajahnya yang begitu menawan. Ditambah saat dijalan anak-anak penjual jus malah memanggilnya Om, sementara Dara dipanggil Kakak.
Semua kejadian yang dilewati Ken bersama Dara, selalu diingat dalam memori CEO muda nan tampan itu.
"Tapi Mas, aku ini hanyalah seorang caddy amatir. Bahkan aku hanya wanita biasa yang sedang terkena musibah, hingga akhirnya terjebak di KGRJ." sahut Dara.
Mendengar Ken yang sudah bisa berkata dengan nada normal, bahkan telah jujur sejujur-jujurnya tentang perasaan yang dimiliki. Kini Dara juga mulai memiliki keberanian untuk mengutarakan apa yang ada dihati dan benaknya.
"Selama ini di otakku hanya ada bagaimana caranya mendapatkan uang yang banyak, agar bisa membahagiakan Ibu. Sudah titik, tidak ada pikiran atau keinginan dalam dunia percintaan seperti orang-orang. Hidupku sudah terlalu rumit, dan aku tidak ingin menambah rumit lagi hanya karena satu kata cinta itu."
Ken mencelos mendengarkan pengakuan Dara. Dari nada bicara gadis itu, membuat Ken turut merasakan betapa beban hidup Dara selama ini cukuplah berat.
__ADS_1
"Aku hanya mengungkapkan apa yang ada di hatiku. Tidak perlu buru-buru untuk menjawabnya. Lagipula ini mungkin terlalu cepat dan membuatmu bingung. Tidak masalah, jangan dipikirkan. Jawab ketika kamu siap saja nanti.
"Mas… tidak perlu menunggu sampai nanti. Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah pantas untuk bersanding denganmu, apalagi menyandang sebagai kekasihmu."
"Sssttt!"
Ken meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Dara. "Dalam cinta tidak mengenal usia, harta, tahta dan kasta. Jadi jangan pernah menjadikan itu semua untuk menolakku."
Glek!
Mendadak kerongkongan Dara terasa begitu kering, hingga menelan saliva saja rasanya begitu sulit. Dia pun mengalihkan pandangan, karena tidak kuasa menahan tatapan Ken yang begitu memohon itu.
Tapi lagi-lagi Ken membuatnya tertegun. Tangan kekar pria itu meraih dagu Dara hingga membuat gadis tersebut kembali berhadapan dengannya.
"Aku bilang jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Memang itu hakmu untuk menerima atau menolak perasaanku. Tapi alangkah baiknya segala sesuatu dipikirkan terlebih dahulu."
Netra Dara beralih pada jendela yang padahal pemandangannya pun tidak membuatnya tertarik. Tapi itu lebih baik daripada harus menatap lurus iris Ken yang begitu mengobrak-abrik perasaannya.
"Tatap mataku!" titah Ken.
CEO muda itu memang paling tidak bisa diabaikan. Siapapun yang sedang berbicara dengannya ataupun sia ajak bicara, wajib berhadapan dan bertatap mata. Itu adalah simbol menghargai lawan bicara.
"Andara Chikita, aku sedang mengajakmu bicara, bukan jendela itu."
Meskipun sudah geregetan, tapi Ken berusaha menahan diri untuk tidak marah atau meninggikan suara. Karena bisa-bisa itu menjadi alasan Dara untuk menolaknya. Akhirnya Dara pun kembali menatap manik Ken yang hitam legam.
"Beri aku waktu, Mas. Ini semua terlalu cepat." sahut Dara sambil mengatur nafas.
"Ya… aku sudah bilang pikirkan saja dulu, jangan terburu-buru. Aku hanya mengutarakan apa yang aku rasa, karena aku tidak ingin menyesal jika tidak sampai mengungkapkan semua ini."
Dara mengangguk lemah, suasana di kamar tamu itu mendadak menjadi canggung. Merasa tidak ada yang dia kerjakan dan tidak ada yang dibicarakan lagi, dia pun pamit keluar.
****
__ADS_1