Caddy Kesayangan CEO

Caddy Kesayangan CEO
Perjanjian dan Pengakuan Ken


__ADS_3

Melihat sosok ibu keduanya tak berdaya, membuat Ken segera berlari untuk berusaha menolongnya. Akan tetapi, Oliv langsung mencegahnya, begitu pula dengan Dara yang seakan tidak terima jika ibunya disentuh oleh Ken. Dara malah minta bantuan Adam untuk membawa ke kamar.


Lima menit berlalu akhirnya Bu Nisa sadar setelah Dara mengoleskan minyak angin berkali-kali di dekat hidung. Gadis berkulit putih itu pun merasa lega melihat ibunya bisa sadar.


"Ssshhh…"


Bu Nisa berdesis sambil terus memegangi kepalanya. Dia berusaha untuk bangun karena melihat diriya di kelilingi semua orang.


"Udah, Bu. Istirahat aja. Jangan dipaksakan," pinta Dara.


Wanita paruh baya itu pun menuruti permintaan putri tunggalnya. Sejenak netra Bu Nisa melirik ke arah Ken yang berdiri jauh dari ranjang, tak lupa wanita yang membuatnya pingsan tadi juga berada disampingnya sambil terus bergelayut manja.


Tidak sopan. Seharusnya meskipun Ken adalah suaminya, tidak sepantasnya juga Oliv bertingkah demikian seakan-akan tidak mau kehilangan sang pria.


"Nak, Ken. Ibu ingin bicara sama kamu."


Dara yang sedang duduk membelakangi Ken hanya bisa menunduk, dia sudah tidak berani lagi untuk berhadapan dengan pria yang baru saja membuatnya hancur. Terlebih ibunya sampai pingsan seperti tadi.


"Baik, Bu."


Ken mengangguk patuh, dia memberikan isyarat kepada Adam, Bi Inah dan para pegawai lain untuk keluar kamar. Tak lupa juga peraturan tersebut berlaku bagi Oliv, wanita yang baru saja mengaku-ngaku sebagai istrinya.


Sayangnya wanita itu tidak mengindahkan permintaan Ken. Dia bersikukuh untuk bersama dengan Ken, terlebih saat ini ada Dara.


"Tidak apa, Ibu hanya ingin memastikan. Perempuan ini benar-benar istri kamu?"


"Ibu buta? Tadi aku menunjukkan buku nikah sebagai bukti, kenapa masih bertanya sih?" sambar Oliv dengan tidak sopannya.


"Oliv! Jaga bicara kamu!"


Ken meradang, dia tidak bisa mentolerir lagi tingkah Olivia yang seenak hati. Pria itu menarik Oliv untuk keluar kamar dengan paksa.

__ADS_1


"Sayang, aku nggak mau keluar. Ih, lepas lepas," rintih Oliv.


Sayangnya Ken tidak memperdulikan Oliv yang merengek kesakitan. Dia terus menarik wanita yang sudah berani mengatakan Bu Nisa buta.


Dengan kasar Ken mendorong tubuh Oliv ke tembok. "Gila kamu ya? Mau kamu sebenarnya apa sih?"


Ken tidak paham dengan apa yang baru saja terjadi, tiba-tiba saja Oliv datang dengan membawa buku nikah yang berisi nama dan fotonya bersama wanita gatel itu. Kemudian sekarang dengan lantangnya Olivia seakan berkuasa di rumahnya.


"Aku rasa kamu tidak akan membiarkan para pegawai di kantor-kantormu kehilangan pekerjaan, Kendrick Sayang."


Olivia tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun walau sudah dibentak dan ditatap dengan sorotan yang begitu tajam oleh Kendrick. Telinga wanita berkulit sawo matang itu seakan tuli, matanya pun seolah buta akan cintanya pada Ken.


Mendengar nasib para pegawai kantor yang dia rintis selama ini, Ken sedikit takut. Pasalnya Ken adalah seorang presdir yang begitu menyayangi para pegawainya. Dia tidak ingin orang-orang yang sudah mengabdi selama ini menjadi taruhan hanya perkara pribadi.


"Maksud kamu apa?" Netra Ken semakin menyalang.


Dengan tawa mengejek Olif menunjukkan sebuah bukti bahwa beberapa dokumen penting di kantor Ken sudah disadap oleh orang suruhan Oliv yang menyamar sebagai pegawai pusat. Dimana jika dokumen itu disalah gunakan, Semua perusahaan Ken akan bangkrut dan para pegawai terkena imbasnya.


"****! Kurang ajar kamu, Liv! Aku nggak nyangka sepicik itu otakmu!"


Kepergiannya ke luar negeri ternyata demi menyusun rencana agar bisa mendapatkan Ken dengan mudah. Mirisnya tindakan itu didukung oleh Nyonya Merry, ibunda Kendrick sendiri.


Hahahaha…


Olivia tergelak, dia begitu bahagia ternyata cara yang dia rencanakan selama ini benar-benar berhasil dan membuat Kendrick kebakaran jenggot.


"Kendrick…Kendrick… Pilihan ada ditangan kamu, menuruti semua keinginanku dan menjadi suamiku. Atau para pegawaimu yang akan membayar semua ini?"


Salah satu sudut bibir Oliv terangkat, wanita berdarah Indonesia- Argentina itu merasa menang karena bisa membuat Ken tak berkutik.


Sementara itu Kendrick hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Dia kecolongan. Tapi untuk saat ini memang tidak ada jalan lagi selain mengikuti permainan wanita gila semacam Olivia.

__ADS_1


'Dara…maafin Aku. Mungkin ini akan sedikit menyakitimu, tapi aku nggak ada pilihan lain,' batin Ken seraya memejamkan matanya.


"Bagaimana, Sayang? Kamu sudah menentukan pilihan?" ledek Oliv sambil tangannya membelai wajah Ken dengan mesra.


Seketika Ken menepis tangan tersebut. "Oke! Aku ikuti permainanmu. Asal kamu janji tidak bermacam-macam dengan para pegawaiku."


Ken bukannya tidak sayang sama Dara. Hanya saja taruhannya terlalu besar. Ibarat kata dua nyawa berbanding ribuan nyawa, karena para pegawai Ken menggantungkan kebutuhan untuk semua keluarganya pada perusahaan yang tengah dia jalani saat ini.


"Good choice, Honey!"


Cup


Olivia melayangkan satu kecupan dia pipi Ken. Terang saja Kendrick sudah merasa jijik berlama-lama dekat dengan wanita licik dan licik seperti Olivia. Tapi dia sendiri juga harus menyusun rencana demi membalas semua ini. Terutama sakit hati Dara dan Bu Nisa. Olivia harus membayar semua itu.


Setelah kesepakatan tersebut, Olivia meminta pernikahan rekayasanya hanya boleh diketahui mereka berdua saja. Orang lain termasuk Dara tidak boleh tau. Jika Dara sampai tahu, maka perusahaan serta para pegawai Kendrick lah yang akan mendapatkan akibatnya.


Licik bukan? Tapi memang begitulah dunia bisnis, terlalu kejam bagi orang-orang yang mengedepankan rasa. Ken hanya bisa pasrah, berharap segera menemukan jalan untuk bisa menyelamatkan para pegawainya dan juga Dara.


Ken menyetujui kesepakatan tersebut dengan catatan Olivia mau meminta maaf atas sikapnya yang sudah kurang ajar pada Dara maupun Bu Nisa.


Dua manusia yang baru saja berunding itu kembali ke kamar Dara. Disana terlihat gadis itu tengah menyuapi ibunya makan buah. Semenjak kabar tidak mengenakkan tadi, Caddy amatiran itu menjadi canggung tiap kali bertatap muka dengan Ken.


"Bu… gimana keadaannya sekarang? Maafin Oliv ya, tadi hanya terbawa emosi dan suasana karena lama tidak berjumpa dengan suamiku."


Wanita berambut pendek itu bersimpuh di hadapan Bu Nisa. Tak lupa dia menggenggam dan mencium punggung tangan wanita paruh baya yang ada di hadapannya itu.


Dara tertegun. Entahlah. Hatinya begitu kacau saat ini. Terlebih saat tadi Olivia mengucapkan Ken sebagai suaminya. Tuhan, rasanya Dara ingin lari dari rumah tersebut saat itu juga.


"Bu…Dara… Saya minta maaf atas semua yang terjadi. Olivia ini memang istri saya."


Blarrrr…

__ADS_1


Bak disambar petir, Dara benar-benar terbelalak mendengar pengakuan tersebut keluar dari mulut Kendrick sendiri. Bulir bening yang dia coba tahan sejak tadi, kini lolos begitu saja.


**** 


__ADS_2