
"Kamu bisa berguna sedikit nggak sih?" Sungut Ken seraya meringis kepanasan, dia mengusap celana golfnya dari kopi, beruntung warna celana yang dia kenakan berwarna navy, jadi tidak terlalu terlihat.
"Aduh, Tuan, maaf." Ucap Dara begitu panik dan langsung mengambil tisu yang tersedia di buggy car, kemudian mengelapkan ke celana tuannya itu.
Seketika junior Ken terbangun saat tangan Dara bergerak mengelap celananya, sontak Ken langsung menepis tangan Dara. Ken hanya tidak ingin Dara menyadari jika juniornya langsung terbangun begitu Dara menyentuh celananya.
Dara semakin takut karena Ken menepis tangannya begitu kuat, dia takut Ken akan marah dan langsung membuat Dara kehilangan pekerjaan, bahkan di hari pertama dia bekerja.
"Hei, anak baru! Kamu sebenarnya bisa kerja apa nggak sih? Kamu ingin mencelakai Tuan Ken?" Seru salah satu caddy senior yang berjalan mendekati mereka.
"Mari, Tuan. Saya pastikan anda akan baik-baik saja, jika saya yang melayani." Ucap caddy senior tersebut seraya mendorong tubuh Dara dari hadapan Ken.
Ken yang masih sibuk membersihkan noda kopi, hanya melirik. Ken tahu betul caddy yang berdiri di hadapannya itu caddy murahan, dia pasti selalu melayani para klien hingga ke kamar hotel.
Semua klien yang pernah memakainya adalah para pegawai Ken, jadi wajar saja Ken tahu. "Aku nggak bisa pakai caddy bekas, aku lebih tertarik caddy baru yang masih fresh!" Tandas Ken tepat di hadapan wajah caddy senior tersebut.
Sontak wanita itu terbelalak, wajahnya merah padam. Ada rasa malu dan marah bercampur jadi satu, dia dihina di depan teman-temannya, bahkan didepan Dara sang caddy junior.
Tanpa berkata apapun caddy senior itu langsung berlari dan pergi dari hadapan Ken. Semua geleng-geleng kepala melihat sang senior yang ditolak mentah-mentah, bahkan dihina.
"Hei, Kamu! Cepat bikinkan aku white coffee!" Seru Ken kembali memberikan perintah, rupanya dia tidak terlalu mempermasalahkan perkara kopi tadi.
Dara tertegun, "Bba-baik, Tuan." Dara segera kembali dan membuatkan white coffee sesuai pesanan Ken. Lima menit kemudian Dara sudah kembali membawa white coffee sesuai permintaan Ken.
Tak ingin kejadian tadi terulang, Dara meletakkan gelas kopi tersebut di jok buggy car terlebih dahulu. "Silahkan Tuan."
Ken segera meraih kopi tersebut dan berpindah ke jok belakang. "Kamu sudah melihat caraku mengendarai kan tadi? Sekarang kamu yang menyetir, enak bener cuma duduk jadi penumpang."
Ken segera berpindah ke jok belakang,sementara Dara hanya bisa menelan ludah karena harus menyetir. Tapi setelah melihat cara Ken mengemudi tadi, setidaknya Dara sudah memiliki pandangan, bagaimana cara mengendarai buggy car itu.
__ADS_1
Tangan Dara masih sedikit gemetar menekan tombol run yang berada di bawah jok, kemudian memutar kunci agar mesin hidup, setelah itu dia menekan tombol F pada dashboard, tombol F berfungsi agar buggy car mau bergerak maju.
Dara kemudian menginjak gas dan buggy car mulai melaju, senyum terukir diwajah gadis berkulit putih bersih itu. Sedangkan Ken mulai menikmati segelas white coffee yang masih mengepul sembari melihat pemandangan disekitar lapangan.
"Gini baru betul, masa klien yang nyetir. Kalau bukan karena kamu anak baru aku udah pulang." Celotehan Ken membuat Dara mengernyit heran.
"Maaf, Tuan. Kenapa tidak memilih caddy yang lebih senior saja?" Sahut Dara dengan sangat hati-hati.
Ken mencebik, "Tugas kamu hanya menjadi pelayan, bukan mengobrol denganku. Nyetir aja yang benar!"
Sontak Dara mengerucutkan bibirnya, dia menyesal karena mencoba menjalin interaksi dengan Ken. Begitu tiba di tempat permainan, Ken segera turun dari buggy car.
"Ambilkan tasku!" Seru Ken sambil menunjuk tas golf yang berada di jok belakang. Dara pun mengangguk patuh, dia segera menarik selempang tas dan menaruhnya di pundak.
Namun salah satu stik golf tersangkut ke mobil, dan Dara kesusahan mengambilnya. Tak ingin dianggap tidak bisa apa-apa Dara pun enggan meminta bantuan pada Ken.
"Cepat! Mengambil tas saja lama!" Gegas Ken dan membuat Dara semakin gugup. Akhirnya Dara menarik stik golf tersebut dengan sekuat tenaga.
Naas, stik golf tersebut malah patah. Dara kebingungan harus bagaimana menjelaskan kepada tuannya itu. "Ya ampun, ada-ada aja sih?" gumam Dara sambil menggigit bibir bawahnya.
Ken yang tidak tahan lagi dengan sikap Dara yang begitu lelet, akhirnya kembali mendekat dan merebut selempang tas yang masih dipegang Dara.
Sontak netra Ken terbelalak melihat salah satu stik golf kesayangannya patah. Rahangnya mengeras hingga membuat Dara menepi, dia takut Ken akan memakannya.
"Kamu!" Sungut Ken seraya menjentikkan jari telunjuknya ke arah wajah Dara, "Dasar tidak berguna! Kamu tahu harga stick golf ini berapa?"
"Mm-maaf tuan," Sahut Dara sambil menggeleng lemah.
"Gaji kamu saja tidak cukup untuk menggantinya!"
__ADS_1
Dara tercengang mendengar harga stick golf yang mencapai jutaan rupiah, dia benar-benar mati kutu. "Ampun, Tuan. Saya sangat butuh pekerjaan ini, saya akan melakukan apapun asal jangan ambil gaji saya."
Dara menangkupkan kedua tangan didepan wajahnya, layaknya seorang hamba sedang memohon ampun kepada sang raja.
Namun sepertinya Ken tidak bisa mentolerir kesalahan Dara lagi, dia segera menyeret Dara untuk kembali duduk di buggy car, sementara Ken mengendarai buggy car dengan kecepatan tinggi.
Ketakutan Dara semakin bertambah karena wajah Ken terlihat begitu marah, entah apa yang akan dilakukan bos muda terbesar seantero raya itu.
"Tuan Robert!" Seru Ken memanggil pemilik KGRJ dengan berapi-api.
Robert yang sedang mengobrol dengan salah satu klien sontak menoleh kaget. "Ya, ada apa Tuan Ken?"
Ken menyeret Dara dan mendorongnya ke arah Robert dengan keras. "Bisa-bisanya kamu membiarkan wanita bodoh seperti dia bekerja disini!"
Semua orang terbelalak mendengar Ken tengah menghardik salah satu caddy disana, "Dia tidak bisa menyetir, membuatkan saya kopi hitam, setelah itu di tumpahkan ke celana saya. Kini dia mematahkan salah satu stick golf kesayangan saya!"
Robert terbelalak, dia menatap Dara meminta penjelasan. "Mma-maafin Dara, Om." Sahut Dara sambil tergagap, bulir bening sudah lolos dari sudut matanya sejak Ken menyeretnya dengan paksa tadi.
Robert meringis dan memijit keningnya, membuat seorang Kendrick Mahanta marah, berarti mencari perkara besar.
"Aduh, saya minta maaf sekali atas kekacauan yang Dara buat. Saya mohon Tuan Ken tidak memperpanjang masalah ini."
Robert memohon dengan sangat, karena jika masalah itu diperpanjang, bukan tidak mungkin klub golf yang sudah lama berdiri itu bisa ditutup paksa.
Ken terdiam, dia menatap Dara dengan mata elangnya. "Baik, karena urusan saya hanya dengan wanita bodoh ini. Saya akan minta ganti rugi pada dia!" Sahutnya seraya menunjuk Dara.
"Maksud, Tuan, Dara harus membayar stick yang patah itu?"
Ken menggeleng, membuat semua orang bingung ganti rugi macam apa yang Kendrick inginkan.
__ADS_1
****