Caddy Kesayangan CEO

Caddy Kesayangan CEO
Sambutan dari Nyonya Merry


__ADS_3

Dua jam berlalu, akhirnya Adam berhasil mengantarkan Ken bersama Dara ke acara peluncuran produk milik PM group. Sengaja Ken meminta Adam untuk menyetir, karena tidak mungkin dia bawa mobil sendiri untuk perjalanan jauh. Belum lagi dia memang ingin tampil prima dan segar di acara orang tuanya nanti.


Bukan semata-mata demi peluncuran produk, melainkan ada maksud lain yang lebih membuat seorang Kendrick Mahanta begitu bersemangat menghadiri acara perusahaan keluarganya itu.


Berkali-kali Dara menghela nafas, terlebih saat mobil yang dia tumpangi telah berhenti tepat di depan gedung pencakar langit. Menyadari akan kegugupan kekasihnya, Ken segera menggenggam jemari Dara yang ternyata begitu dingin.


"It's OK. Anggap saja kita akan menghadiri acara hajatan," bisik Ken menenangkan.


Sontak saja Dara terkekeh dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Ken. Ada-ada saja memang presdir yang satu ini. Mana ada hajatan di gedung besar, kalau bukan orang-orang besar juga yang mengadakan. 


Tapi satu kata tersebut berhasil membuat Dara sedikit rileks. Setidaknya gadis berkulit putih itu tidak begitu tegang lagi.


"Bisa turun sekarang?" lanjut Ken menanyakan kesiapan Dara.


Ken tidak akan turun sebelum Dara memutuskan untuk turun. Dia tidak ingin membuat kekasihnya ini tergesa-gesa dan merasa terbebani. Toh nanti di dalam juga masih menunggu jika datangnya terlalu cepat dari jadwal.


"Bisa," sahut Dara setelah mengumpulkan udara untuk mengisi paru-parunya.


Kini dua sejoli itu turun dari mobil setelah Adam membukakan pintu. Atensi para wartawan yang tengah menunggu para tamu undangan langsung tertuju pada mereka dan segera mengambil gambar untuk momen yang langka ini.


Beberapa dari mereka berusaha mendekat dan ingin mengajukan pertanyaan. Tapi dengan terang-terangan Ken mengangkat tangannya, pertanda dia sedang tidak ingin menanggapi.


Sengaja Ken ingin menjelaskan siapa Dara di tengah acara nanti. Lagipula beberapa dari mereka atau bahkan semua orang juga sudah tahu jika Dara adalah kekasih Ken, seperti saat dijelaskan di acara Mr.Vicky beberapa hari yang lalu.


Dara semakin mengencangkan tangannya yang sejak turun dari mobil itu berpegangan pada lengan Ken. Sang pria-nya pun turut mengusap tangan Dara untuk memberikan ketenangan.


"Ini lebih rame dari acara Mr.Vicky, Mas," bisik Dara saat melihat para tamu undangan yang sudah hadir di dalam gedung.


"Sama kok. Bedanya ini tempatnya lebih luas, jadi bisa menampung orang lebih banyak."


"Berapa kali lipat dari tamu undangan di acara Mr.Vicky?"


Ken memutar bola matanya seraya berpikir, "Mungkin ada lima kali lipat."


"Ish, ya itu lebih banyak dong, Mas."


Dara mendengus kesal, karena Ken seakan meledeknya. Tapi dia tahu maksud dari ucapan kekasihnya itu demi membuatnya untuk tidak gugup.


Setiap tamu undangan yang hadir menatap kepada pasangan yang baru saja memasuki gedung. Ada yang tersenyum karena sudah tau, ada pula yang heran karena kurang tau. Adapula yang cuek karena terlalu sibuk dengan obrolan masing-masing.


Apapun itu, Dara berusaha memasang senyum yang lebar, menyapa kepada setiap mereka dan berusaha tenang.

__ADS_1


"Kita kesana ya, itu orang tuaku," ajak Ken seraya menunjuk kepada sepasang manusia dengan pakaian senada.


Perasaan dingin langsung menjalar di sekujur tubuh Dara, terlebih saat menyadari orang tua Ken terlihat lebih muda dari usia yang sebenarnya sama dengan ibunya.


"Halo, Mam, Pap. Selamat ya untuk peluncuran produk barunya."


Ken menyapa sambil mencium punggung tangan dua manusia yang membuatnya ada di muka bumi ini.


"Kendrick! Akhirnya kamu datang juga," sapa pria berbadan tegap, dengan rambut yang sedikit memutih di beberapa titik.


Dilihat dari wajah dan postur tubuhnya, sepertinya Kendrick mewarisi setiap inci tubuh ayahnya.


"Iya dong, Pap."


"Hmmm… kalau Mami nggak bela-belain datang ke kantornya, sepertinya anak tunggal kita ini tidak akan datang, Pap."


Suara dingin itu berasal dari wanita yang Kendrick panggil dengan sebutan 'Mami'. Dari nada bicaranya, sifat angkuh dan arogan Ken sepertinya menurun dari ibunya itu. Hanya itu yang bisa Dara nilai secara diam-diam, selebihnya mereka berdua terlihat begitu luar biasa dimata gadis biasa ini.


Netra Tuan Mario beralih pada gadis yang sedari tadi berdiri di samping Kendrick. "Kamu ajak siapa ini, Ken?"


Ken menoleh sejenak. "Ah, iya. Mam, Pap, kenalin. Ini Dara kekasih Kendrick," sahutnya memperkenalkan.


"Wah, cantik sekali," puji Tuan Mario sambil menyambut uluran tangan Dara.


Berbeda dengan Nyonya Merry yang berpura-pura menatap ke sekitar, hingga membuat tangan Dara menggantung cukup lama. Hal itu cukup membuat Dara, Ken dan Tuan Mario mengernyit heran.


"Mam, itu Dara sudah mengulurkan tangan mau salaman juga," tegur Tuan Mario.


"Eh, sorry. Mami lagi sibuk memperhatikan para tamu yang penting," alibi wanita dengan dress hitam itu lalu menyambut uluran tangan Dara.


Tapi saat Dara berniat mencium punggung tangan tersebut, dengan cepat Nyonya Merry segera menarik tangannya kembali. Hal itu cukup semakin membuat Dara merasa canggung.


"Mami tinggal dulu ya, mau nemuin para tamu penting," pamitnya sambil menatap tajam ke arah Dara lalu membuang muka.


Tuan Mario dan Ken hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Nyonya Merry yang tidak menyambut dengan baik kedatangan Dara. Padahal Ken sudah terang-terangan mengatakan gadis itu adalah kekasihnya.


"Jangan diambil hati ya, Nak Dara. Maminya Ken memang seperti itu," ucap Tuan Mario merasa tidak enak.


"Ah, i-iya, Om."


"Ken, jaga kekasihmu ya. Papi mau menemui para kolega lain."

__ADS_1


"Siap, Pap."


Ken pun mengajak Dara untuk menepi sejenak. Berdiri di dekat meja snack dan mengambilkan minum serta camilan untuk kekasihnya itu.


"Minum dulu, biar nggak tegang," ucap Ken seraya menyodorkan segelas jus jeruk.


"Sepertinya Mami kamu tidak suka dengan kehadiranku, Mas," ucap Dara saat menerima gelas.


"Sudahlah. Jangan dipikirin, mamiku memang seperti itu orangnya."


Disaat Ken sedang berusaha menenangkan kekasihnya, tiba-tiba saja Nyonya Merry naik ke atas panggung. Hal itu tentu mengundang perhatian semua tamu undangan.


"Mohon perhatian semuanya, sebelum acara inti, ada hal yang ingin saya sampaikan. Sebelumnya saya ingin memanggil putra tunggal kami Kendrick Mahanta untuk naik ke atas panggung."


Ken mengernyitkan dahi saat maminya meminta untuk ke panggung. Tidak mungkin juga dia akan meninggalkan Dara sendirian di tengah orang-orang yang membuat kekasihnya ini kurang nyaman. Nyonya Merry pun menatap tajam saat putranya masih berdiam diri.


"Sudah, Mas. Sana naik, aku nggak papa kok."


Dara menyadari jika tatapan tajam itu ditujukan kepadanya. Diapun segera membujuk sang kekasih yang enggan meninggalkannya.


"Tapi— 


"Aku nggak papa kok. Lagian keliatan juga 'kan?"


Ken menghembus kasar, hingga akhirnya menuruti permintaan sang mami demi perintah kekasihnya. Tapi sebelumnya Ken mencium kening Dara terlebih dahulu baru dia naik ke atas panggung.


Hal itu sontak saja membuat tatapan Nyonya Merry semakin nyalang. Dara segera mengalihkan pandangan saat matanya bertemu dengan wanita yang super dingin itu.


Di atas panggung Nyonya Merry memuji putranya itu yang masih muda tapi sudah memiliki banyak perusahaan tanpa campur tangan orang lain.


"Seperti yang banyak orang bilang, dibalik pria yang sukses terdapat wanita luar biasa yang mendukungnya. Jadi disini saya akan memperkenalkan wanita luar biasa itu."


Kem menoleh kaget saat sang mami berucap demikian. Senyumnya mereka dan netranya kini menatap ke arah Dara setelah mendapatkan senyuman balik.


"Kita panggilkan wanita luar biasa yang mendukung kesuksesan seorang Kendrick Mahanta, yaitu Priscilla Olivia!"


Suara menggelegar Nyonya Merry itu bak petir yang menyambar Dara di siang hari. Semua mata tertuju pada wanita yang tiba-tiba saja muncul dari balik panggung.


Senyum Ken seketika memudar, berganti dengan alis yang ditautkan serta mata yang menatap maminya dengan tajam.


**** 

__ADS_1


__ADS_2