
Pasca mendapatkan undangan dari ibunya, Ken tidak konsentrasi di kantor. Hatinya resah dan gelisah ingin segera mengabarkan ini pada Dara dan Bu Nisa. Untuk pertama kalinya seorang Kendrick Mahanta dibuat gagal fokus hanya karena urusan wanita.
"Aish, nggak bisa kalau begini terus," ucap Ken sedikit frustasi.
Pria berkemeja soft blue itu segera meraih jas hitamnya di sandaran kursi, lalu berdiri dan mengenakannya. Sekali lagi dia mengecek meja kerja, memastikan memang sudah tidak ada yang penting lagi.
"Sheila, aku akan pulang. Kalau ada tamu yang mau bertemu, suruh besok saja," ucap Ken saat keluar dari ruangan.
"Baik, Tuan," sahut sang sekretaris seraya berdiri lalu membungkukkan badan.
Sepertinya Sheila sedikit terkejut karena Ken keluar begitu saja. Biasanya di jam-jam dua siang seperti itu, Ken masih anteng di balik meja kerjanya.
"Tumben banget pulang cepat. Biasanya malah pulang paling akhir."
Tingkah Ken akhir-akhir ini cukup membuat Sheila dan para pegawai lainnya heran. Ken yang dikenal gila kerja, kini mulai santai dan tidak terlalu memforsir diri. Bahkan sekarang lebih sering meninggalkan kantor untuk urusan pribadi, tidak seperti dulu.
Berhubung Adam disuruh untuk mengantar Dara dan Bu Nisa pagi tadi dan Ken menyuruhnya ke kantor jelang jam pulang saja, terpaksa Ken memesan taksi online. Dia lebih memilih kehilangan uang untuk ongkos taksi, daripada kehilangan waktu untuk bisa segera bertemu Dara.
Tak berapa lama taksi yang ditumpangi Ken berhenti di depan gerbang. Adam yang sedang di pos bersama satpam jaga mengernyitkan dahi, karena tidak biasanya ada tamu datang di siang hari. Bahkan bisa dibilang hampir tidak pernah ada tamu untuk Ken yang datang ke rumah, mereka biasanya lebih memilih bertemu di kantor.
Begitu terlihat Ken yang turun dari taksi tersebut, segera Adam berdiri. Netranya terbelalak tak percaya, sambil berjalan membuka gerbang, asisten Ken itu mengatur nafas dan menyiapkan diri khawatir akan dimarahi.
"Ma-maaf, Tuan. Kenapa tidak minta dijemput saja?" tanya Adam seraya menundukkan kepala.
"Sudah, tidak usah takut. Aku ingin segera sampai, kalau nunggu kamu jemput kelamaan."
Ken menyahut sembari menepuk bahu Adam. Dia langsung masuk tanpa mempedulikan dua satpam yang sedang menatap dirinya dan Adam sedari tadi.
"Tuan kenapa? Tumben banget nggak marah?" tanya satpam yang berkepala botak.
Adam mengulum senyum, hanya dia yang tau penyebab Ken sudah tidak hobi marah seperti dulu lagi. Yakni Dara. Gadis itulah yang sudah mampu merubah kepribadian seorang Kendrick Mahanta.
"Sudah, sudah. Bukannya jauh lebih baik Tuan Ken yang sekarang? Apa mau dia kembali seperti dulu?" sela Adam.
"Ah, tidak. Iya bagus begini. Jadi lebih damai."
__ADS_1
Ketiga pria itu mengangguk sambil tersenyum. Adam pun senang, kini perangai Ken dimata pegawai sudah dinilai baik. Bukan lagi majikan yang galak dan temperamen.
Di dalam, Ken mengedarkan pandangan ke seluruh sudut rumahnya. Sudah bolak-balik dari ruang tamu ke ruang tengah, taman belakang bahkan sampai ke kamar Dara. Tapi tidak dia temukan sosok kekasihnya itu.
"Bi! Bi! Dara kemana?"
Bi Inah yang kebetulan lewat terpaksa menghentikan langkahnya. Wanita paruh baya itu mengedipkan netra beberapa kali, lalu melirik ke kanan dan kiri mengingat-ingat.
"Mmm… tadi izin jalan-jalan sebentar ke taman sama Bu Nisa, Tuan. Ada yang bisa Bi Inah bantu?"
Presdir muda itu mengendurkan dasinya seraya menghembus kasar. "Ya udah deh, nanti aja. Makasih ya, Bi."
Asisten rumah tangga kepercayaan Ken itu mengulas senyum sambil mengangguk. "Apanya yang nanti?" monolog Bi Inah saat Ken sudah menaiki tangga.
Hanya selang lima menit Ken sudah turun kembali dengan pakaian santainya. Dia tidak bisa menunggu lama lagi, akhirnya pria beralis tebal itu memutuskan untuk menyusul Dara dan calon ibu mertua.
Baru beberapa langkah keluar dari rumah, terlihat wanita yang sejak pagi tadi membuatnya gundah tengah berjalan dari arah gerbang. Nampaknya Dara tengah berjalan sambil bercanda dan sang bunda karena terdengar samar-samar gelak tawa yang renyah dan bikin candu.
Ken bernafas lega, karena kegelisahan hatinya terobati setelah kedatangan sang pujaan hati. Hanya saja gelak tawa Dara yang cukup mengundang perhatian, sedikit membuat Ken merasa cemburu.
"Loh, Nak Ken. Tumben sudah pulang?" tegur Bu Nisa.
"Iya, Bu. Ada hal penting yang mau saya bicarakan sama Dara."
Wanita yang dimaksud Ken itu mengernyitkan dahi. "Aku? Bicara tentang apa, Mas?"
Ken menatap Dara dan ibunya secara bergantian. Menyadari jika dua anak muda yang ada di depannya butuh waktu untuk ngobrol berdua, Bu Nisa berinisiatif.
"Mmm… kalau gitu Ibu masuk dulu ya, gerah pengen ngadem," pamit Bu Nisa pura-pura mengipaskan tangannya.
Seperginya Bu Nisa ke dalam rumah, Ken kemudian duduk di bangku teras. Dara yang masih menunggu jawaban pun mengekori dan turut duduk di bangku sebelahnya.
"Kok pergi ke taman nggak bilang-bilang?"
Ken bertanya dengan ketus, pandangannya pun menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"Hah? Kan, cuma sebentar. Lagian sama Ibu juga."
"Tapi kemanapun kamu pergi wajib lapor sama aku. Jadi kalau aku pulang cepet begini nggak keder nyariin."
Dara menganggukan kepala. Agak aneh aja karena tiba-tiba Ken menjadi over protective. "Iya, maaf."
"Terus kalau jalan-jalan nggak usah tebar pesona kaya tadi. Norak tau nggak?"
Dara menautkan kedua alisnya. " Siapa yang tebar pesona sih, Mas?"
"Lah itu tadi, ketawa-ketiwi mengundang perhatian orang. Apa itu bukan tebar pesona?"
Astaga, baru kali ini Dara cukup risih dengan menyandang status kekasih Ken. Ternyata ketika sudah bucin, orang yang semula dingin kini berbalik lebay.
"Oke, oke, maaf."
Tak ingin menambah perdebatan yang pastinya tidak akan ada ujungnya, akhirnya Dara lebih memilih mengalah. Walaupun dalam hatinya ingin sekali protes.
Mendadak Dara berfikir setelah jadian dengan Ken, dia malah jadi canggung untuk mengungkapkan isi hatinya. Beda sama dulu yang ceplas-ceplos aja nggak peduli jika menyinggung.
"Jadi, hal apa yang pingin, Mas, bicarakan sama saya? Sampai pulang kantor lebih cepat segala, overthinking pula."
"Overthinking?"
Ken menajamkan matanya karena dibilang overthinking. Tapi sebelum sang presdir itu protes, Dara sudah mengangkat tangannya dan meminta Ken untuk membicarakan hal inti saja.
Kata-kata yang sudah tersusun rapi dari otak Ken pun harus tertahan di kerongkongan. "Ekhem! Minggu depan aku mau kenalin kamu sama orang tuaku."
Sontak saja Dara menoleh kaget. "Serius, Mas? Secepat itu?"
"Iya. Lebih cepat lebih baik."
Gadis yang mengenakan overall levis itu menggigit bibir bawahnya. Entah mengapa dia mendadak jadi gugup. Padahal bertemunya masih satu mingguan lagi.
****
__ADS_1