
"Dara, bisa kamu temani saya makan siang dulu?" tanya Mr.Jericho.
Mereka terpaksa berjalan mengikuti kaki melangkah demi menghindari suasana yang kurang nyaman akibat kedatangan Olivia. Hingga tanpa sadar mereka telah sampai di kantin klub.
"Mmm…tugas saya bukannya sudah selesai ya, Mister?"
Dara menyahut sambil mengedarkan pandangan. Dia hanya tidak ingin terikat dengan klien di luar jam kerja. Cukup sekali pengalaman pahit tersebut bersama Ken, bahkan sampai kini masih menimbulkan rasa trauma.
"Belum dong. Ini masih di lingkungan klub, Dara. Kamu nggak usah khawatir."
Mendengar jawaban Mr.Jericho cukup membuat Dara tertegun. Dari bahasanya seakan kliennya itu paham betul tentang apa yang gadis cantik itu alami.
Setelah menimbang beberapa saat, akhirnya Dara mengiyakan ajakan klien baru sekaligus klien pertama setelah dia memutuskan kembali ke dunia percaddyan.
"Anda mau saya pesankan apa, Mister?" tanya Dara setelah Mr.Jericho duduk di bangku paling ujung.
Pria berambut pirang itu menoleh dan mengernyit heran, "Kamu waiters disini? Bukan 'kan? Jadi nggak usah melayani aku seperti itu. Duduklah disini."
Dara sedikit terkejut dengan jawaban kliennya kali ini. Meskipun dia bukanlah waiters di kantin, tapi saat dulu bersama Ken dia terbiasa memesankan makanan, bahkan membuatkan kopi dengan tangannya sendiri, tidak melalui bantuan pegawai kantin.
"Ta-tapi, ini juga sebagian tugas saya menjadi caddy, Mister."
"Nggak, nggak, nggak. Kamu cukup melayaniku saat di lapangan saja. Biarkan pegawai kantin yang melayani."
Melihat Dara yang masih menolak, Mr.Jericho yang sudah duduk akhirnya kembali berdiri dan memaksa halus dengan menarik tangan gadis tersebut dan diajak duduk di bangku yang berada di sebelahnya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik mereka berdua. Rahang orang tersebut mengeras serta tangannya mengepal saat melihat Dara disentuh oleh pria lain.
Ya. Siapa lagi orang yang memperhatikan tersebut jika bukan Ken? Mengetahui Dara dan Jericho berjalan ke arah kantin, presdir muda itu segera menyudahi perdebatan dengan Oliv dan menyusul ke kantin.
Betapa marahnya Ken saat tiba di kantin melihat pemandangan yang membuat hatinya cukup tercubit. Bagaimana tidak? Dia menyaksikan wanita yang begitu disayangi digandeng oleh pria lain. Meskipun dalam konteks ini pria tersebut adalah klien Dara, akan tetapi itu tetap membuat Ken cemburu.
__ADS_1
Baru saja Ken maju satu langkah hendak mendekati dua manusia yang sedang bercengkrama itu, tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh seseorang. Saat Ken menoleh, orang tersebut menyunggingkan senyum.
"Sayang, kamu mau kemana? Aku panggil-panggil malah, jalan terus. Kaki aku pegel tau," keluh Oliv seraya bergelayut manja pada pria yang dianggap sebagai suami.
Semenjak kemunculan Olivia, hidup Ken menjadi berantakan dan tidak nyaman. Aktivitasnya pun terganggu karena kemana-mana selalu diikuti oleh wanita yang mengaku sebagai istrinya di hadapan publik tempo hari.
"Baru segitu aja udah ngeluh pegel, gimana kalau jadi caddy? harus bolak-balik di lapangan, bukannya membantu malah ngrepotin nanti."
Sungguh bukan jawaban yang diharapkan Oliv. Dia pikir setelah mengeluh pegal, Ken akan iba dan bersimpati. Akan tetapi malah dirinya dicaci.
Akan tetapi bukan Olivia namanya jika menyerah dan mundur setelah mendapatkan cacian dari pria yang begitu digilainya itu.
"Kamu nggak usah khawatir, istrimu yang cantik ini tidak akan mudah menyerah demi melayani suami tercinta," sahut Olivia sambil mencolek dagu Kendrick.
Hal tersebut bukannya membuat Ken luluh, yang ada malah membuat pria beralis tebal itu merasa risih dan jijik. Dalam hati dia merutuki diri karena bisa kecolongan akal dengan masuknya Oliv dalam hidupnya.
Ken sengaja mengambil tempat duduk yang berdekatan dengan Dara dan juga Jericho. Dia ingin tahu akan sejauh mana Dara menuruti pria yang saat ini tengah menjadi kliennya.
Sorot mata wanita blasteran tersebut sungguh tidak bersahabat. Saat kebetulan Dara menatap sepasang manusia yang duduk berseberangan dengan tempatnya duduk, gadis berambut lurus tersebut langsung mengalihkan pandangan.
"Dara, apa kamu kurang nyaman kita makan disini? Kita bisa pindah ke tempat lain. Di luar misalnya," tawar Jericho yang cukup peka dengan ketidaknyamanan Dara semenjak Ken dan Oliv ikut makan di kantin.
"Ah? Mm… ti-tidak perlu, Mister. Disini saja," tolak Dara dengan tergagap. Dia sedikit salah tingkah karena ketahuan kurang nyaman.
Mungkin sebenarnya Dara ingin sekali menerima tawaran untuk pindah tempat makan. Akan tetapi dia masih trauma jika berinteraksi dengan klien di luar lingkup tempat kerja.
Beberapa saat berlalu Dara dan Jericho sudah memesan makanan, begitupun dengan Ken dan juga Oliv. Kini mereka sama-sama makan, akan tetapi Ken dan Dara sering kali mencuri pandang.
Olivia yang menyadari hal tersebut langsung mencari cara agar perhatian Ken tidak beralih lagi. "Sayang, cobain ini deh. Enak tau," ucap Oliv seraya menyuapkan keripik udang.
Tak ada pilihan lain karena malas selalu ribut dengan Oliv, Ken menurut saja dan membuka mulutnya. Seketika netranya terbelalak saat menyadari makanan yang diberi Oliv adalah seafood.
__ADS_1
Huueekkk…Bwwuuarr…
Ken segera memuntahkan semua makanan yang ada di dalam mulutnya ke sembarang arah. Bahkan saking sembarangannya sampai terkena pakaian Oliv. Hal tersebut tentu membuat si empu nya mendelik kesal.
"Sayang! Kamu apa-apaan sih? Bajuku jadi kotor nih," keluh Oliv sambil meringis jijik.
"Kamu yang apa-apaan? Bisa-bisanya kamu memberikan aku seafood! Kamu mau membunuhku?!"
Perdebatan dua manusia tersebut cukup mengundang banyak perhatian para klien dan caddy lain. Ada yang cuek, ada juga yang takut karena melihat Ken marah. Sudah menjadi rahasia umum jika kemarahan Ken di klub merupakan hal yang buruk.
"Maaf, Mr.Ken. Ini untuk anda," sela seorang pegawai kantin sambil menyerahkan sepiring kecil singkong keju susu dan yogurt buah.
Ken langsung menatap ke arah Dara duduk tadi, akan tetapi tempat tersebut sudah kosong. Dia mengedarkan pandangan, ternyata Dara sudah berjalan bersama Jericho meninggalkan kantin.
Putra tunggal Mahanta grup itu yakin bahwa Dara yang memesankan menu cemilan kesukaannya itu. Selama ini selain Chef Mira, hanya Dara yang mengetahui menu-menu kesukaan Ken. Bahkan Nyonya Merry sendiri yang notabene ibunda Ken, tidak tau apa saja yang disukai atau tidak disukai oleh anaknya.
"Apa ini, Mba? Kamu jangan sembarangan kasih makanan sama suami saya. Aku yang kasih makanan berkelas saja dilepeh, lah ini cuma singkong."
Oliv segera menyambar makanan tersebut dan hendak membuang singkong keju yang diberikan oleh pegawai kantin.
"Oliv! Apa-apaan kamu?" Ken segera merebut piring yang ada di tangan Oliv sebelum dibuang ke tempat sampah. "Kamu bilang aku suamimu?"
"Iya dong, Sayang. Apa kamu lupa setahun yang lalu kita sudah menikah?"
"Lalu istri macam apa yang memberikan makanan paling dibenci suaminya, malah makanan favoritnya malah dibuang."
Plakkk …
Bak ditampar dengan pertanyaan Ken, tangan Oliv mendadak gemetar. Tenggorokannya mendadak kering hingga membuatnya menelan saliva beberapa kali.
****
__ADS_1
.