Caddy Kesayangan CEO

Caddy Kesayangan CEO
Pagi yang Sial


__ADS_3

Tanpa terasa, Dara sudah menjalankan masa hukumannya selama satu minggu. Gadis berkulit putih itu menjadi kebal dengan sikap angkuh Ken. Bahkan dia sudah tidak menangis lagi saat dia dihina.


Seperti biasa, setiap pagi Dara menyiapkan sarapan untuk sang Tuan Muda. Dia pun sudah mulai hafal menu apa saja yang disukai dan tidak disukai oleh Ken.


"Loh, kok dia belum siap-siap sih?" batin Dara dengan heran.


Jarum jam sudah menunjukkan setengah delapan pagi, tapi Ken turun tidak mengenakan jas atau pakaian ke kantor pada biasanya.


"Tapi kok, aku kaya paham pakaian itu? Jelas bukan pakaian rumahan." lanjut Dara membatin.


Ya, saat ini Ken mengenakan polo shirt berwarna navy dan celana panjang berwarna krem. Dia juga mengenakan sepatu puma men's berwarna putih.


"Kamu belum siap-siap?" tanya Ken.


Kini Dara dibuat bingung dengan pertanyaan tersebut. "Siap-siap?" ulangnya dengan dahi berkerut.


Ken yang sudah duduk di kursi makan menoleh sejenak. "Kamu lupa pekerjaan kamu sebenarnya apa?"


Netra Dara berputar kesana kemari menerka-nerka apa maksud tuannya itu. 'Pekerjaan tetap? Ah… ya, itu pakaian golf.' batin Dara saat ingat pekerjaan sebenarnya dia adalah seorang caddy.


Menjalani keseharian sebagai asisten pribadi Ken, membuat Dara lupa dengan pekerjaannya sendiri yaitu pramu golf. Bagaimana tidak lupa? Dia bahkan belum genap sehari bekerja, tapi sudah melakukan kesalahan cukup fatal hingga berakhir di penjara megah itu.


"Tu-tuan mau ke club?"


"Menurut kamu, hari libur begini aku ke kantor gitu?"


Dara mengedipkan matanya beberapa kali. Dia bahkan baru sadar jika hari ini adalah minggu. Saking terbiasa dengan pekerjaan yang itu itu saja, membuat gadis berhidung mancung itu sampai lupa tanggal dan hari.


Padahal kata Adam, sebagai asisten pribadi, Dara akan mengikuti kemanapun Ken pergi. Tapi nyatanya sudah satu minggu, pekerjaan Dara masih sekitar penjara megah itu saja. Menurut Ken, Dara hanya akan merepotkan jika dibawa ke kantor atau urusan kerja.


'Itu sih bukan asisten pribadi, sama aja babu.' Tapi dengan demikian, Dara bisa bernafas lega. Karena setiap Ken sudah berangkat kerja, dia bisa melakukan pekerjaan dengan santai, tanpa mendengar perintah dengan nada tinggi dari sang Tuan Muda.


"Hehehe, ya eng-nggak si, Tuan."


"Ya sudah, sekarang kamu cepetan siap-siap. Aku selesai sarapan, kamu harus sudah di mobil. Kalau tidak aku tinggal, dan hukuman kamu aku tambah."


Netra Dara membulat sempurna, melihat Ken yang menyantap sarapan dengan ritme begitu cepat, membuat gadis berambut lurus itu kalang kabut menuju kamarnya.

__ADS_1


Sialnya, Dara belum sempat mandi, karena dia memang terbiasa mandi setelah semua pekerjaan selesai. Dia tidak pernah menduga jika hal ini akan terjadi.


"Duh, ini baju caddy yang dikasih Shyna waktu itu dimana lagi?"


Dara menggerutu sambil terus mengobrak-abrik isi lemarinya. Dia pertama dan terakhir menggunakan seragam caddy ya seminggu yang lalu, di hari pertama dia bekerja di club golf keluarga Shyna.


Tin! Tin!


Baru saja Dara bisa menemukan seragam caddy nya, tiba-tiba saja terdengar suara klakson yang cukup kencang.


Dug!


"Aw! Itu orang bisa sabar sedikit nggak sih? Aku jadi kejedot kan?" gerutu Dara sambil mengusap-usap jidatnya yang terbentur rak lemari.


Dia pun bergegas mengenakan seragam tersebut, saking tergesa-gesa nya, Dara belum sempat merias wajahnya. Bahkan rambutnya pun belum disisir.


Dara langsung lari tunggang langgang menuju halaman samping. Sampai-sampai dia hampir menabrak Bi Inah yang sedang membawa barang pecah belah.


"Astaghfirullah, Neng. Pelan-pelan kalau jalan, jangan lari-larian begitu." ucap Bi Inah yang terkejut, beruntung beliau tidak memiliki riwayat jantung.


"Ma-maaf, Bi. Dara buru-buru, sudah ditunggu Tuan. Duluan ya, Bi." sahut Dara sambil berlalu.


Baru saja Dara bernafas lega saat melihat Ken masih menunggunya, tiba-tiba saja mobil yang semula masih berhenti itu melaju menuju gerbang.


Terpaksa Dara berlari kembali, "Tuan! Tunggu saya, Tuan!" serunya dengan nafas yang cukup tersengal.


Sungguh kegiatan mandi yang Dara lakukan beberapa menit yang lalu, seakan tidak ada gunanya. Karena sekarang tubuhnya sudah merasa gerah dan keringat pun bercucuran.


Pada dasarnya Ken memang sangat suka mengerjai Dara, buktinya setelah sampai di depan gerbang, Ken menghentikan laju mobilnya. Padahal keadaan pintu gerbang sudah dibuka oleh Adam.


Ya, kali ini Ken memilih untuk pergi ke club hanya dengan caddy sekaligus asistennya saja yaitu Dara.


Dara tidak sempat menyapa rekan kerjanya yaitu Adam, dia hanya tersenyum kecut dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Duh, Dara, Dara. Kebiasaan banget bikin mood Tuan Muda jadi berantakan." monolog Adam saat mobil majikannya itu sudah melaju dan melesat di jalanan dengan kecepatan yang perlahan bertambah.


Pria berseragam serba hitam itu segera menutup kembali pintu gerbang, lalu melanjutkan pekerjaan yang lain.

__ADS_1


Di dalam mobil, Dara berulangkali mengatur nafas sambil mengipasi badan dengan tangannya. Ha itu membuat Ken memantau sang asisten pribadinya itu dari spion tengah.


Ciiitt!


Bug!


"Aw, aduh Tuan. Kenapa tiba-tiba ngerem mendadak begitu? Ada apa?" protes Dara.


Lagi-lagi Dara mengusap jidatnya yang belum apa-apa sudah jadi korban sampai dua kali.


"Kamu yang ada apa?"


Kedua alis Dara yang sudah hitam tanpa perlu mengenakan pensil alis itu tertaut. Dia heran karena tuannya itu membalikkan pertanyaan. "Kenapa jadi Saya, Tuan?"


"Kamu mau merusak nama baik saya di depan Tuan Robert?"


Kini giliran kening Dara mengernyit, karena masih saja tidak mengerti arah pembicaraan bosnya itu. "Maksudnya?"


Gemas melihat asisten pribadinya yang rada lemot, Ken segera mengambil sesuatu dari laci mobilnya itu.


"Lihat wajahmu! Sejak kapan caddy pucat pasi kaya orang gila begitu? Mana rambut berantakan pula!"


Ken memberikan sebuah cermin yang selalu dia bawa kemana-mana. Sebagai petinggi di perusahaan, harus sering memastikan bahwa penampilannya itu sempurna.


Tanpa basa-basi Dara segera menerima cermin tersebut. Kedua irisnya hampir saja melompat dari tempatnya itu saat melihat pantulan wajahnya di balik cermin.


"Astaga! Aduh, Tuan. Bagaimana ini? Saya kembali dulu untuk merias wajah ya."


Dara benar-benar tidak sadar, jika dia pergi begitu saja. Disisi lain, dia juga sebenarnya tidak terlalu suka bersolek. Tapi apa jadinya jika seorang caddy tidak bersolek?


Ken mendengus kesal, tidak menjawab usulan caddynya itu, dia malah kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Melihat situasi yang cukup genting, membuat Dara tidak berani berkata banyak lagi. Dia hanya dia sambil berpegangan, karena Ken melajukan mobil seperti sedang balapan di sirkuit saja.


Tapi Dara dibuat heran karena jalan yang dilalui bukanlah menuju 'KGRJ', dia paham betul arah menuju club golf milik sahabatnya itu.


'Ini Tuan angkuh mau bawa aku kemana sih? Jangan bilang aku mau dijual untuk menebus stik golfnya yang sudah patah.'

__ADS_1


Berbagai pikiran negatif mulai menghinggapi otak gadis berkulit putih itu.


****


__ADS_2