Caddy Kesayangan CEO

Caddy Kesayangan CEO
Ken Naksir Dara?


__ADS_3

Setelah memastikan Ken tenang dan beristirahat, Dara pun keluar kamar dengan membawa peralatan makan yang selesai digunakan tadi. Selama berjalan dari kamar tamu menuju dapur, pikiran Dara dipenuhi dengan berbagai pertanyaan tentang sikap Ken yang mendadak aneh.


Bruk!


Saking terlalu fokus dengan pikirannya, Dara sampai tidak sadar ada Adam didepannya. "Astaga!" ucap Dara begitu terkejut. Tangannya langsung memegang erat nampan yang hampir saja terjatuh.


"Ya ampun, Dara. Bisa-bisanya aku sebesar ini masih kamu tabrak juga?" Adam yang kebetulan saat itu sedang berbincang dengan Bi Inah, menggeleng keterangan.


"Ma-maaf, Mas Adam. Eh maksud saya Kang Adam. Saya tidak sengaja."


Dahi pria berseragam serba hitam itu mengernyit heran. Pasalnya sejak awal bertemu Dara selalu memanggilnya dengan panggilan 'Mas'. Ketika kini tiba-tiba saja berubah menjadi 'Kang', terdengar aneh saja.


"Tumben manggilnya 'Kang'? Ada apa?" tanya Adam yang mulai merasa janggal.


Dia sendiri sudah terlanjur nyaman dengan panggilan 'Mas'. Tiba-tiba tidak ada angin tidak ada hujan berubah menjadi 'Kang', kan konyol kedengarannya.


"Mmm… sebentar."


Dara meminta dua manusia yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri untuk menunggu, dia meletakkan peralatan makan di meja dapur sebentar lalu kembali bergabung bersama Bi Inah dan Adam.


"Tuan muda seharian ini aneh banget loh." ucap Dara mulai bercerita.


Gadis sederhana itu memang paling tidak bisa memendam sesuatu sendiri. Bukan berarti Dara suka mengeluh, tapi dia tipe orang yang malas berpikir terlalu rumit hanya dengan perubahan sikap seseorang padanya.


Lebih baik diceritakan pada yang lain, barangkali akan menemukan titik terang. Karena biasanya pandangan setiap orang itu berbeda, jika ada yang sama berarti memang menandakan ada perubahan pada orang tersebut.


"Aneh bagaimana, Neng?" tanya Bi Inah semakin penasaran.


Kini mereka bertiga mengambil posisi duduk di meja makan. Karena memang ruangan itu yang paling dekat dengan mereka saat ini.


Dara pun mulai menceritakan tentang Ken yang lebih memilih mengajaknya ke salon, daripada dia balik lagi mengambil peralatan make-up. Padahal tadi pagi itu sudah jelas sekali waktu mereka mepet banget, jika Dara mengambil alat make-up dan bersolek selama perjalanan menuju club golf, waktu tidak akan terbuang banyak.


Tapi ini Ken malah mengajak Dara ke salon dan rela menunggu hingga setengah jam sampai caddy sekaligus asistennya itu selesai di permak. Ya elah, dikata celana levis kali dipermak.


Belum lagi saat di club ada klien yang sepertinya tertarik dengan Dara. Bukannya Dara geer atau besar kepala loh ya, tapi dia memang mendengar sendiri klien tersebut meminta bertukar caddy.

__ADS_1


Sayangnya Ken tidak menerima tawaran tersebut, malah memilih bermain golf sendirian yang ujung-ujungnya bosan dan akhirnya mengajak Dara pulang.


"Kalau itu sih, mungkin Tuan Muda ingin pamer pada rekan golf lainnya, Ra. Dalam dunia bisnis, biasa hal seperti itu terjadi." timpal Adam.


Sebagai orang yang lebih dekat dengan Ken dibandingkan Bi Inah, Adam tahu banyak tentang hal-hal yang berbau bisnis. Kadang ada yang rela membayar caddy gadungan, hanya demi memamerkan bahwa dia bisa mendapatkan yang lebih baik.


Padahal sebenarnya Ken bukan tipe orang yang seperti itu. Niat Ken mencari caddy murni untuk kepentingan olahraga golf yang digemari itu, buktinya dia tidak pernah menyewa caddy dari luar. CEO muda itu hanya meminta caddy terbaik, terbaru dan tercantik diantara caddy yang dimiliki club golf.


Sialnya kali ini dia bertemu dengan gadis ceroboh seperti Dara, hingga dia melibatkan gadis itu dalam berbagai hal dalam kehidupan. Padahal dengan caddy sebelum Dara, Ken biasa saja dan sangat profesional. Meskipun caddy tersebut melakukan kesalahan fatal, dia hanya meminta Robert memotong gaji sang caddy.


Tapi dengan Dara, entah mengapa terbesit untuk memberi sanksi sendiri yang ujung-ujungnya jadi panjang seperti sekarang.


"Begitu?" tanya Dara setelah mendapatkan penjelasan Adam. "Tapi ada hal lain lagi yang membuatku terkejut."


Dara juga menceritakan tentang Ken yang tiba-tiba mengajaknya untuk menjenguk sang ibunda di rumah sakit. Bahkan Ken mempekerjakan Chef Mira sebagai perawat Bu Nisa sampai sembuh nanti.


Perawat disini bukanlah perawat pada umumnya yang bekerja di rumah sakit. Melainkan perawat pribadi, atau baby sister yang memang sengaja digaji untuk menjaga dan mengurus pasien.


"Hah? Serius?" kini giliran Adam dan Bi Inah yang bertanya dengan kompak.


Cetek!


Adam memetik jarinya sambil berpendapat, "Fix, tuan muda naksir sama kamu, Ra". ucapnya begitu yakin.


"Hah? Naksir? Ya nggak mungkin lah, Kang. Tau sendiri bukan level kita berbeda jauh."


Jelas Dara tidak membenarkan jika Ken naksir dia. Secara logika itu tidak wajar, selain Dara yang hanya pegawai sementara Ken adalah CEO muda yang terkenal seantero raya. Ken juga sering menunjukkan rasa tidak sukanya, hampir setiap hari.


Jadi, rasanya masih impossible jika bilang Ken naksir Dara hanya karena perhatian yang diberikan selama satu hari ini.


"Dara!" seru Ken dari kamar tamu.


Jarak kamar yang tidak terlalu jauh, serta kondisi pintu yang memang sengaja Dara buat terbuka, membuat suara Ken terdengar begitu menggelegar.


Obrolan pun berakhir, Dara bergegas menuju kamar tamu kembali. Sementara itu Bi Inah dan Adam sedang sibuk memperhatikan gerak-gerik Dara.

__ADS_1


"Bi, sepertinya Dara juga naksir, Tuan, kan?" bisik Adam memulai gosip.


"Sudah, Dam. Biarkan mereka mengurus perasaan masing-masing. Lagipula mereka sudah besar dan dewasa, tidak semuanya bisa ditentukan berdasarkan pendapat orang lain."


Adam mengangguk setuju, kini pandangan mereka beralih setelah memastikan punggung Dara hilang bersamaan dengan ditutupnya pintu kamar tamu.


"Maaf, Tuan memanggil saya?"


"Tuan?" ulang Ken seraya menatap tajam ke arah wanita yang sudah berhasil membuatnya merasa tidak nyaman seharian ini.


"Ah? Mmm… maksud saya ada yang bisa dibantu, Mas?"


Senyum simpul terukir di bibir Ken, entah mengapa mendengar Dara memanggilnya dengan sebutan 'Mas' seperti itu saja membuatnya bahagia. Tuhan, perasaan apa itu? Ken benar-benar tidak ingin dipermainkan oleh perasaan sendiri seperti bn itu.


"Siapa yang suruh kamu keluar kamar?"


Dara mengernyit, tadi dia melihat Ken sudah terlelap, itulah mengapa dia gunakan sebagai kesempatan untuk keluar. Tapi Dara keluar juga karena ada pekerjaan, bukan karena bosan dan malas menunggu.


"Maaf, Mas. Tadi habis menaruh piring kotor. Lagian tadi Mas Ken sedang tidur, kenapa mendadak bangun lagi?"


"Entahlah, mungkin karena sadar kamu tidak disampingku lagi. Duduk sini!" titah Ken seraya menepuk bagian tepi ranjang, tepat di samping dia berbaring.


Lagi-lagi Dara dibuat terkejut dengan sikap dan pengakuan Ken yang sering kali bikin spot jantung. Dia pun menurut dan duduk dimana Ken memintanya tadi.


"Mana tangan kamu?"


"Tangan? Untuk apa, Mas?"


"Mana?"


Dara menghela nafas, karena permintaan Ken kadang-kadang diluar dugaan. Dia pun mengangkat tangannya itu. "Ini, kenapa?"


Segera Ken meraih tangan Dara dan meletakkannya tepat di dada. Hal itu membuat si empunya terperanjat bukan main.


****

__ADS_1


__ADS_2