Caddy Kesayangan CEO

Caddy Kesayangan CEO
Ken Mulai Peduli


__ADS_3

Selama perjalanan dari salon menuju klub 'KGRJ', tak henti-hentinya Ken mencuri pandang kepada Dara dari spion tengahnya. 


'Sial, kenapa dia jadi cantik banget begini? Bisa-bisa para klien lain di klub nanti jelalatan padanya.' gusar Ken dalam hati. 


Ken sendiri tidak menyangka jika perubahan sedikit pada wajah Dara, akan berdampak begitu besar seperti itu. Awal bertemu Dara, baginya gadis tersebut biasa saja, tidak ada bedanya dengan para caddy yang lain. 


Tapi kali ini, setelah satu pekan hidup di bawah atap yang sama dengan gadis berkulit putih itu, selalu melihat kesehariannya, ada rasa tidak rela dalam hati Ken. 


'Huh. Memang apa peduli aku? Dia hanya gadis pembawa sial. Saat masa hukumannya berakhir nanti, aku akan minta ganti caddy yang lebih profesional lagi.' 


Sementara itu Dara yang sadar jika Ken berkali-kali menatapnya dari spion, hanya bisa diam dan sesekali menatap keluar jendela untuk menghilangkan rasa gugup. 


'Emang aku salah apa lagi sih? Liatinnya gitu banget? Pengen tak colok tuh mata.' monolog Dara dalam hati. 


Entah harus bagaimana Dara bersikap, apapun yang dia kerjakan selalu saja salah dan dipermasalahkan. Lama-lama Dara beneran kabur jika masih seperti itu, masalah biaya pengobatan ibunya, bisa cari kerjaan. 


Tapi…bagaimana nasib klub KGRJ, Om Robert dan Shyna jika Dara benar-benar kabur? Ah, memikirkannya saja sudah membuat kepala pusing. 


"Turun! Ambil peralatanku!" titah Ken begitu mobil yang dikemudikan berhenti di parkiran 'KGRJ'. 


Dara pun mengangguk patuh dan segera turun. Dia membuka pintu bagasi dengan sangat hati-hati, karena dia ingat betul peralatan golf milik tuannya itu sangat mahal. Lihat saja, mematahkan satu batang stik golf, Dara harus kerja rodi selama satu bulan. Apakabar jika rusak semua? 


Disaat Dara berjalan di belakang Ken memasuki lapangan, semua mata tertuju pada mereka. Bukan lebih tepatnya pada Dara. 


'Hey, itu bukannya si anak baru? Kok bisa cantik gitu?'


'Wah, aku juga mau kerja rodi, kalau dibiayai perawatan begitu.'


Berbagai pendapat terdengar dari para caddy senior begitu melihat penampilan Dara yang kini jauh lebih cantik, padahal hanya makeup flawless, sementara tubuhnya memang dasar spek model. 


"Hai, Tuan Kendrick." sapa salah satu klien yang bukan lain adalah Tuan Edward, rekan bisnis Ken. 


"Ow, hai Tuan Edward."


"Bukannya itu caddy baru yang bikin mood anda buruk? Kalau anda tidak mau, bolehlah tukeran dengan caddy ku. Aku sudah mulai bosan dan butuh yang fresh."


Edward berbisik sambil menyeringai menatap Dara dengan tatapan nakalnya. Hal tersebut membuat Ken merasa geram, karena telah memandang rendah Dara. 

__ADS_1


Awalnya Ken memang memandang Dara layaknya para caddy lain yang mudah dirayu klien, tapi sikap Dara yang begitu patuh selama jadi asisten di rumah, melunturkan pandangan tersebut. 


Perlahan Ken merasa iba, kenapa Dara bisa masuk ke dalam dunia caddy yang selalu dipandang sebelah mata. 


"Maaf sekali Tuan Edward, anda tau betul bukan? Apa yang sudah menjadi milikku, tidak akan pernah jadi milik orang lain." Jawaban Ken begitu menohok dan membuat lawan bicaranya malu. 


"Oke, baiklah jika seperti itu. Selamat berolahraga Tuan Kendrick semoga harimu menyenangkan." pungkas Edward yang akhirnya memilih pergi. 


Memang mau apa lagi? Menantang Ken untuk adu golf? Tidak mungkin, karena Ken sudah terlanjur membuatnya malu. 


Sepanjang Dara menemani Ken bermain, mata para klien lain tak henti-hentinya mencuri pandang pada caddy baru itu. Hal tersebut jelas membuat Ken tidak nyaman. 


Kenapa jadi Ken yang tidak nyaman? Ya, karena diam-diam Ken memperhatikan keadaan sekitar. Jujur saja dia menyesal telah membawa Dara ke salon. Selain dia sendiri mendapatkan drama di salon, kini di klub pun suasananya membuat mood buruk. 


"Kita pulang!" tegas Ken berjalan terlebih dahulu menuju buggy car. 


Dara pun tergesa-gesa membereskan semua peralatan golf milik tuannya itu. Dia hanya bisa menghela nafas melihat Ken yang suka labil. Bagaimana tidak labil? Tadi pagi membuatnya tergesa-gesa agar bersiap cepat. Sekarang giliran sudah di lokasi malah mengajak pulang. 


"Loh, loh, loh. Tuan Kendrick? Saya baru saja datang, anda sudah mau pergi?" tanya Robert, sang owner 'KBGRJ' yang bukan lain adalah ayah dari Shyna, sahabat Dara. 


"Iya, saya sudah selesai." jawab Ken dengan singkat. 


"Oh, baiklah jika seperti itu."


Ken pun berjalan melewati Robert untuk keluar dari klub. Sementara itu Dara dicegat karena ada sesuatu yang akan disampaikan. 


"Dara! Om ingin bicara sebentar."


Dara yang baru saja akan membuntuti tuan mudanya pun berhenti. "Ada apa, Om?"


"Kata Shyna, ibumu sudah cukup membaik. Beliau ingin bertemu kamu, jika ada waktu tengoklah."


Deg


Seketika raut wajah Dara yang dibuat tegar kini berubah seratus delapan puluh derajat. Bulir bening langsung mengalir deras dari sudut matanya. 


"Hiks… hiks… hiks… Benarkah? Bagaimana bisa? Saya belum membayar biaya ibu, apakah pihak rumah sakit mau merawat ibu walaupun belum ada biaya?"

__ADS_1


Pertanyaan Dara terdengar begitu konyol. Tapi memang begitu kenyataannya. Dara belum membayar sepeserpun untuk biaya menginap dan juga pengobatan ibunya. 


Mungkin dia terkesan menelantarkan, tapi mau bagaimana lagi? Nasib sial tengah menimpanya disaat berjuang mencari penghasilan. 


"Masalah itu, kamu tenang saja. Ada Shyna dan om. Tugas kamu hanya segera menyelesaikan hukuman dan segera kembali ke klub."


Leher Dara tercekat, dia tidak bisa berkata-kata lagi. Keluarga Shyna sudah membantunya terlalu banyak. "Terimakasih banyak, ya, Om. Sampaikan salamku untuk Shyna. Untuk sementara HPku sedang disita sama Tuan Muda."


Robert menghela nafas panjang, memang repot urusannya jika sudah mengusik kenyamanan Kendrick Mahanta. Kini Dara harus membayar atas kecerobohan yang telah dia perbuat sendiri. 


Tanpa mereka sadari, Ken yang mereka kira sudah ke mobil duluan. Ternyata ikut berhenti dan berdiri di balik pagar, saat mendengar Robert memanggil Dara. 


"Dasar gadis bodoh. Kenapa dia tidak pernah cerita kalau ibunya sedang sakit sih?" gerutu Ken sambil berjalan ke mobil, agar tidak ketahuan telah menguping. Di dalam mobil Ken menghubungi Adam yang masih berjaga di rumah. 


Tuutt… tuutt.. tuutt.. 


"Halo Tuan?" jawab Adam di seberang sana. 


"Kamu tahu kalau ibunya Dara sedang sakit?" 


Seperti biasa, Ken tidak pernah berbasa-basi dalam menelpon, apalagi jika itu dengan anak buahnya. 


"Ba-bagaimana Tuan bisa tahu?"


"Bodoh! Ditanya, malah tanya balik. Ceritakan padaku apa saja yang kamu ketahui!"


"Hah?"


"Cepat!"


"I-iya, Tuan. Ja-jadi… 


Adam pun menceritakan apa yang dia lihat pada saat mengantarkan Dara ke rumah sakit, sebelum pergi ke rumah Ken. 


Tentang ibu Dara yang terkena stroke, bahkan tentang pekerjaan caddy yang terpaksa Dara lakukan demi mendapatkan uang untuk pengobatan ibunya. 


"Apa?"

__ADS_1


**** 


__ADS_2