
Menemani Ken menonton cukup lama, membuat Dara tertidur di sofa. Hal itu membuat CEO muda itu tersenyum gemas. Tak ingin membiarkan tubuh Dara sakit karena tidur di sofa, akhirnya Ken mengangkat tubuh ramping itu ala bridal style dan memindahkannya ke kasur.
Ken sungguh merasa jauh lebih baik sekarang, bahkan rasanya tubuh Dara begitu ringan. Dia tidak lagi lemas seperti sebelumnya, mungkin karena efek obat yang sudah bekerja dengan optimal, atau karena ada Dara di sampingnya? Entahlah.
"Aku nggak tau kenapa bisa tertarik sama kamu, tapi rasanya diri ini ingin selalu dekat denganmu. Semoga kamu pun merasakan hal yang sama." lirih Ken seraya memperhatikan wajah Dara yang terlihat tetap cantik walaupun sedang tidur.
Pria beralis tebal itu menyisihkan anak rambut yang menghalangi wajah Dara, hingga dia bisa lebih puas memandangi wajah gadis sederhana yang telah berhasil memikat hatinya. "Nice dream." imbuhnya.
Ken kemudian menyelimuti tubuh Dara, dia tidak akan membiarkan tidur nyenyak sang gadis cantik terganggu karena dingin. Dia kemudian mengambil posisi tidur di sofa.
Meskipun dia tertarik dengan Dara, tapi pria tampan itu masih memiliki akal sehat. Tidak mungkin dia mau tidur satu ranjang dengan wanita yang belum sah menjadi miliknya. Dia lebih baik tidur di sofa, karena menjaga kehormatan wanita yang dia sayangi itu jauh lebih penting daripada menuruti hawa nafsu.
"Mmmhhh…" Dara terbangun dari tidur lelapnya. Sudah seperti alarm setiap jam lima pagi dia akan terbangun dengan sendirinya.
Perlahan gadis berambut panjang itu mengedarkan pandangan, butuh cukup waktu untuk dia mengumpulkan nyawa.
"Loh, aku dimana?" ucap Dara seraya mengedarkan pandangan. Dia baru sadar bahwa saat ini tidak berada di kamarnya. "Ini, kan, kamar tamu? Mm-mas Ken kemana? Kenapa jadi aku yang tidur disini?"
Segera gadis berhidung mancung itu beranjak dari tempat tidur dan merapikannya sejenak, sebelum akhirnya mencari keberadaan sang tuannya.
Langkah Dara terhenti saat melihat Ken tengah tertidur nyenyak di sofa, bahkan pria itu rela tidak mengenakan selimut. Hanya memakai bantal dan memeluk bantal guling.
"Padahal, kan, dia yang habis sakit. Kenapa malah tidur di sofa begitu si?" gumam Dara.
Tanpa pikir panjang Dara segera mengambil selimut yang tadi dia lipat, lalu menggunakannya untuk menyelimuti Ken. Gerakan gadis itu berhenti saat menarik selimut tepat di bawah wajah tampan yang terlihat tenang itu.
Dara sampai menelan ludah saat menatap wajah Ken dengan jarak yang begitu dekat. Seulas senyum terpancar di wajahnya, mengagumi betapa tampannya pria di hadapannya itu.
"Aish, mikir apa sih aku ini?" ucap Dara saat menyadari pikirannya telah melayang entah kemana.
"Kenapa? Terpesona sama aku? Baru sadar aku tampan?"
__ADS_1
Deg!
Sontak Dara melirik wajah yang ada di hadapannya itu, dia merasa heran karena sebelumnya dia melihat jelas netra tuannya itu masih terpejam. Hanya ditinggal melamun sebentar, tiba-tiba saja sudah terbuka lebar.
Blush
Seperti biasa, disaat tersipu malu pipi gadis berkulit putih itu langsung merona. Tak ingin terjebak dalam situasi yang membuatnya semakin malu, Dara segera menegakkan badan dan berniat pergi.
Sayangnya tangannya sudah ditahan oleh Ken terlebih dahulu. "Mau kemana? Aku masih mau diliatin seperti itu." goda CEO muda itu.
"Maaf, Mas. Aku harus segera keluar, takut Ni Inah atau Mas Adam salah paham melihat kau keluar dari sini."
"Mas Adam?" ulang Ken dengan menaikkan satu alisnya.
"Mmm… Maksudnya Kang Adam." sahut Dara meralat kata-katanya.
Dalam hati dia merutuki diri karena sering salah menyebutkan panggilan untuk orang lain di depan Ken, sudah tau jika tuannya itu tidak suka jika panggilannya disamakan dengan orang lain.
Sang CEO muda itu kemudian bangun dari tidurnya, dan menarik tangan Dara agar duduk di sampingnya. Dia memperhatikan wajah Dara yang terlihat cantik walaupun baru bangun tidur.
"Memangnya apa peduliku tentang pendapat mereka? Bukankah semalam aku sudah bilang, akan menunjukkan kamu sesuatu?" ucap Ken sambil menggeser tubuh menjadi berhadapan dengan Dara.
Dara mengernyit heran, netranya mengedar mengingat apa yang diucapkan Ken semalam. Ya benar, bosnya itu memang berkata demikian, tapi dia sendiri masih tidak paham apa maksud dari semua itu.
"Mas, aku harus mengerjakan kewajibanku. Aku tidak mau mendapatkan banyak hukuman lagi." sahut Dara mengalihkan pembicaraan.
"Aku ini bos kamu, yang menentukan hukuman kamu bertambah atau berkurang itu aku juga. Jadi jangan banyak alasan untuk mencoba menghindariku."
Ken mendekatkan wajahnya ke wajah gadis yang ada di hadapannya itu. Hal tersebut tentu membuat Dara semakin malu dan salah tingkah.
Sepagi ini jantungnya sudah dibuat olahraga karena tingkah Kendrick. Pria berahang tegas itu mengangkat salah satu sudut bibirnya melihat Dara yang salah tingkah.
__ADS_1
Hal itu semakin membuatnya yakin jika sebenarnya Dara memiliki perasaan yang sama, hanya saja masih malu untuk mengakuinya.
"Oke, kamu boleh keluar dan siapkan sarapan yang spesial buatku." titah Ken yang akhirnya melepaskan Dara dari genggamannya.
Ini masih terlalu awal jika Ken akan melakukan sesuatu pada Dara, terlebih status merek masih abu-abu. CEO muda itu tidak ingin dianggap sebagai pria yang jahat karena memaksakan kehendak.
Lebih baik membiarkan semua berjalan seperti apa adanya. Bukankah sesuatu yang ditarik ulur itu jauh lebih menantang?
Mendapatkan perintah demikian, Dara bernafas lega dan segera pamit untuk keluar. Saat menutup pintu Dara mengedarkan pandangan, khawatir Bi Inah atau Adam akan memergokinya keluar dari kamar tamu.
Jika kamar tamu dalam keadaan kosong mungkin mereka berdua tidak akan banyak tanya, tapi masalahnya ini ada Ken, majikan mereka. Rasanya terlalu impossible jika Ken membutuhkan sesuatu di pagi subuh begitu. Karena sang tuan muda terbiasa bangun ketika matahari sudah hampir terbit.
Merasa aman, Dara segera berlari menuju kamarnya untuk bebersih dan berganti pakaian, sebelum akhirnya berkutat di dapur menjalankan rutinitasnya.
"Kenapa kamu masih pakai baju pelayan seperti ini?" tegur Ken saat Dara tengah menyiapkan sarapannya.
"Ini memang seragamku disini, kan, Mas?"
Bukannya menjawab, Dara malah balik bertanya
Hal itu membuat Ken menepuk jidatnya. "Oh, iya. Aku lupa. Hari ini aku mau mengajakmu menghadiri sebuah acara, jadi gantilah bajumu. Kemarin aku membelikan beberapa gaun dan seragam caddy, itu bisa kamu pakai."
Dara kembali mengernyit, karena seharian kemarin Ken terkapar di ranjang tidur. Bagaimana bisa tuannya itu membelikannya baju?
"Aku beli via online, tinggal klik di ponsel aja barangnya sudah datang sendiri ke rumah. Mungkin Bi Inah yang menerima dan menyimpannya."
Sungguh Ken seperti cenayang saja, seakan tahu apa yang ada dipikiran Dara, dia sudah menjelaskan tanpa perlu ditanya.
Gadis serba bisa itu mengangguk paham, dia pun pamit untuk bersiap terlebih dahulu. Meskipun sebenarnya dia bingung kenapa harus diajak ke sebuah acara, tapi mungkin ini salah satu bagian dari tugas asisten pribadi, mengikuti kemanapun tuannya pergi.
"Satu lagi, make-up nya tipis saja. Jangan terlalu cantik. Aku nggak suka kamu jadi pusat perhatian pria lain nanti."
__ADS_1
Suara Ken menghentikan langkah Dara yang sudah cukup jauh dari meja makan. Gadis itu pun kembali membalikkan badan dan mengangguk patuh.
****