
Wajah Dara yang putih mendadak pucat mendengar ucapan Ken. Dia menjadi merasa bersalah, karena telah mengulur waktu dan membuat Ken menunggu cukup lama.
Sebenarnya bukan maksudnya untuk mengukur waktu, tapi sebagai wanita tentu saja Dara tidak ingin terkesan gampangan. Apalagi untuk pria sekelas Kendrick Mahanta, Dara harus meyakinkan berkali-kali bahwa presdir muda itu benar-benar tulus padanya, atau hanya modus demi terlihat wah di depan rekan dan media.
Tapi, setelah melihat kesungguhan Ken yang ternyata tulus, cukup membuat Dara untuk bisa menentukan jawaban. Walaupun dia sendiri takut dengan jawaban tersebut.
"Mas, aku… aku…" lirih Dara dengan curi-curi pandang lalu kembali menunduk.
Ken mengangkat kedua alisnya menunggu kelanjutan kata-kata yang dikeluarkan dari gadis cantik yang tengah berdiri di depannya.
"Aku tuh disini, bukan di lantai," celetuk Ken dengan gemas. Dia pun menarik dagu Dara, agar wajah ayu itu terlihat jelas. "Dara!"
Sontak saja iris coklat Dara yang sedang kemana-mana mencari pelampiasan karena merasa gugup, kini menatap lurus ke arah Ken.
"Nah, gitu dong. Kalau ngomong sama orang itu ditatap, bukannya pandangannya kemana-mana. Nggak sopan."
Glek!
Dara menelan saliva dengan susah payah mendapat teguran seperti itu dari Ken. Sungguh jiwa kepemimpinan Ken terlihat begitu jelas saat berbicara tadi. Hal itu membuat Dara cukup gugup.
"Jadi gimana? Kamu mau, kan, jadi kekasihku? Bisa malu tujuh turunan kalau kamu nggak mau. Aku sudah begitu percaya diri memperkenalkan kamu sebagai calon istriku tadi."
Sungguh, Ken ini memiliki banyak kepribadian. Sebelumnya terdengar begitu tegas dan mengintimidasi, sekarang tinggal melawak yang sayangnya cukup garing, hingga Dara hanya bisa nyengir kuda.
Gadis yang masih terlihat cantik walaupun di bawah cahaya lampu basement yang cukup redup itu menghela nafas. Dia mengumpulkan keberanian untuk bisa menjawab pertanyaan pria yang mana adalah majikannya itu.
"Mas… apa kamu tidak malu jika memiliki kekasih seperti aku? Aku bukan anak orang kaya, tidak memiliki usaha apapun yang bisa dibanggakan. Nanti kalau kumpul-kumpul dengan Nyonya Viona dan lainnya yang ada malah hanya malu-maluin."
Ken menatap Dara dengan seksama, kini dia sadar bahwa membawa gadisnya ke acara besar seperti itu hanya membuat Dara tidak nyaman dan minder.
"Kalau begitu aku tidak akan hadir lagi ke acara beginian. Biar Adam sama sekretarisku saja yang hadir."
"Loh, kenapa begitu, Mas?"
__ADS_1
"Karena aku tidak ingin wanita yang kusayangi merasa terintimidasi oleh para wanita sosialita seperti tadi."
Pertahanan Dara sungguh runtuh mendengar Ken berucap demikan. Presdir muda itu bukan hanya berhasil membuat Dara semakin terpesona, tetapi dengan perhatian sekecil itu cukup meluluh lantahkan hati Dara yang semula beku.
"Jangan seperti itu. Aku tidak ingin terkesan merubah hidup orang, hanya karena aku telah menjadi bagian dari hidupnya. Sebisa mungkin akan ku coba untuk belajar beradaptasi."
Mata legam Ken terlihat begitu berbinar, ada kilatan bahagia dibalik iris hitam itu. "Jadi… maksudnya kamu menerima aku sebagai kekasihmu? Kamu mau jadi kekasihku?" tanya Ken dengan begitu bersemangat.
Gadis yang mengenakan dress berwarna baby blue itu mengulum senyum seraya mengangguk pelan. "Hanya orang bodoh yang akan menolak pengorbanan dan perjuanganmu sejauh ini, Mas."
Saking bahagianya, Ken berjalan kesana kemari sambil mengayunkan tangan. Tak lupa senyum bahagia menghiasi wajahnya. Seketika dia menggendong Dara ala bridal style dan membawanya untuk berputar-putar.
"Aw!" Dara membekap mulutnya yang hampir saja berteriak karena terkejut, beruntung dia bisa mengerem volume suara, sehingga tidak mengundang perhatian. Suasana basement saat itu masih sepi, karena acara di dalam belum selesai.
"Ih, malu, Mas. Turunin ayo," pinta Dara sedikit ketakutan.
Meskipun memiliki berat badan yang ideal, tetap saja Dara khawatir Ken akan merasa berat dengan mengangkat tubuhnya seperti itu. Padahal bagi Ken, tubuh Dara tidak ada bandingnya dengan barbel yang biasa digunakan saat olahraga.
"Biarin. Orang lagi bahagia, juga. Lagi pula nggak ada orang tuh." Ken mengelak sambil menunjuk ke segala arah yang kebetulan memang tidak ada orang lalu lalang satupun.
Tanpa permisi, pria yang mengenakan setelan tuxedo berwarna navy itu meraih kedua tangan wanitanya, hingga membuat si empunya sedikit tersentak.
Cup.
Satu kecupan mendarat di punggung tangan Dara. "Terima kasih ya, Dara. Kamu sudah mau menerimaku, dan membuat warna baru dalam hidupku. Jujur saja, semenjak kamu hadir, semua berubah dan aku suka perubahan itu."
Senyuman Dara semakin lebar, dia mengangguk pelan. "Sama-sama, aku yang berterimakasih sama kamu, Mas. Kalau kamu nggak pungut aku begini, aku nggak tau bagaimana keadaan ibu selanjutnya."
"Sssttt!" Jari telunjuk Ken langsung mendarat di bibir Dara. "Aku tidak memungutmu. Aku hanya membuatmu bertanggungjawab atas kesalahan yang kau buat."
Tentu saja presdir muda itu merasa tersinggung karena dianggap memungut Dara. Emang Dara sampah atau barang? Dia manusia dan Ken orang yang selalu memanusiakan manusia, walaupun tampangnya begitu angkuh dan dingin.
"Maaf, aku hanya merasa beruntung saja bertemu dengan kamu, Mas. Walaupun awalnya terasa hidup di neraka."
__ADS_1
Dara meringis menampakkan deretan gigi putih nya, khawatir menyinggung perasaan Ken saat berkata demikian. Benar saja, pria tampan yang duduk di sampingnya itu terbelalak saat mendengar pengakuan Dara.
"Apa… aku semenakutkan itu?"
Sang caddy amatiran itu terkejut saat mengetahui Ken tidak marah, saat dia mengatakan tentang perilaku presdir tersebut yang dingin.
"Boleh jujur?" tanya Dara kembali, kali ini dia lebih hati-hati lagi.
"Tentu."
Bagaimanapun Ken ingin tahu penilaian orang lain tentang dirinya. Sebenarnya selama ini dia menjadi orang yang sangat cuek dan tidak peduli dengan apa kata orang. Tapi sekarang dia menjadi penasaran, karena Dara.
Dara akhirnya memberanikan diri menceritakan bagaimana dia benci dan dendamnya dengan Ken saat pertama bertemu. Apalagi Ken adalah presdir yang arogan dan cukup kejam, benar-benar tidak berperi kemanusiaan. Dara sampai beberapa kali ingin kabur, tapi mengingat dia tidak punya uang untuk mengganti stik golf yang dia patahkan, terpaksa dia bertahan.
Namun seiring berjalannya waktu, ternyata Ken tidak sedingin dan tidak searogan seperti saat pertama bertemu. Ternyata dia adalah orang baik yang menutupi diri dengan sikap-sikap tersebut.
"Oh, sayang… aku tidak menduga kamu begitu tertekan dengan sikapku sebelumnya," ucap Ken seraya membelai rambut kekasihnya itu.
"Tak apa, setiap orang memiliki kesan pertama ketika bertemu."
"Ya. Mirisnya kesan pertamaku sangat buruk dimatamu."
Ken mengerucutkan bibirnya, dia menyesali sikapnya yang begitu buruk sebelumnya, terutama sikap terhadap Dara.
"Hey, apa ini? Jangan cemberut begitu, nanti tampangnya hilang," hibur Dara seraya mencubit pipi Ken dan menggoyangkannya.
Dua sejoli yang baru resmi memiliki status pasangan kekasih itu mengobrol sambil bercanda, lalu melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah karena memang tidak ada kepentingan lagi di tempat tersebut.
"Mmm… Mas, kita ke rumah sakit dulu ya. Kata Chef Mira, eh maksudnya Mba Mira, kondisi ibu sudah jauh lebih baik."
"Oke."
Ken pun melajukan mobilnya menuju arah rumah sakit, tempat dimana ibunda Dara dirawat.
__ADS_1
****