Caddy Kesayangan CEO

Caddy Kesayangan CEO
Sedikit Pujian


__ADS_3

"Dasar sombong! Mentang-mentang orang paling kaya, berlaku seenaknya sama rakyat biasa." celoteh Dara saat kembali ke dalam rumah.


Saking emosinya dengan sikap Ken yang arogan, Dara berucap cukup keras dan tanpa sadar orang yang dia bicarakan mendengar segala sumpah serapahnya.


Salah satu alis Ken terangkat, tangan yang baru saja menyuapkan singkong keju ke dalam mulut, dia lap dengan tissue yang memang selalu tersedia di atas meja.


"Ekhem! Menjelekkan bos di belakang, bisa menambah masa hukuman loh!" seru Ken.


CEO muda itu memang sengaja menyindir dan membuat asisten barunya merasa takut. Entah mengapa mengerjai gadis yang sejak awal jumpa selalu membuat masalah, membawa kesenangan tersendiri bagi seorang Kendrick Mahanta.


Ya, Dara ibarat hiburan bagi pemuda terkaya seantero raya itu.


Deg


Dara menghentikan langkah kakinya, 'Sial, kenapa dia masih dengar juga sih aku jelekin?' batinnya dengan kesal.


"Ti-tidak, Tuan. Mungkin anda salah dengar." sahut Dara seraya membalikkan badan, lalu membungkuk memberikan tanda hormat.


Meskipun Dara sendiri tidak yakin jika bosnya itu memang mendengar ucapannya, tetap saja dia merasa takut. Pasalnya kerja bakti selama satu bulan saja baginya begitu rugi, apalagi jika masa hukuman tersebut ditambah? Mau sampai kapan ibunya meregang nyawa di ranjang pesakitan?


"Begitu?"


Kedua mata elang Ken memicing, mencari sebuah kebenaran dari jawaban sang asisten.


"Be-benar, Tuan. Saya tidak berkata apapun." sahut Dara kembali dengan terbata. Lalu kepalanya tertunduk, karena tidak ingin ketahuan jika dia tengah berbohong.


Salah satu sudut bibir Ken terangkat, melihat ekspresi ketakutan Dara justru baginya sangat menyenangkan. Gadis berambut lurus itu semakin menggemaskan jika dalam suasana tegang.


Tak berapa lama kemudian Ken mengangguk paham, "Baiklah jika seperti itu, kamu boleh kembali masuk." pungkasnya sambil mengibaskan tangan, seakan mengusir Dara.


Tanpa menatap sang tuannya, Dara mengangguk dan mematuhi perintah tersebut. Kini dia mencoba untuk menahan diri untuk tidak berkeluh kesah, sebelum jauh dari bos yang seperti monster itu.


"Dara!"


Baru beberapa langkah Dara melaju, namanya kembali dipanggil oleh Ken. 'Ya Salam, apa lagi sih ni orang? Nggak capek apa ngomel mulu?' gerutunya yang sudah tidak bisa berfikir positif lagi.


"Ya?" tanya Dara.


Sungguh kali ini gadis berkulit putih itu sudah pasrah, setiap kali melakukan pekerjaan tetap saja ada cacatnya. Bahkan kali ini di mencoba membuat makanan sesuai resep yang biasa dipakai Chef Mitha, juru masak andalan di rumah bak istana itu.

__ADS_1


Tapi sepertinya memang Dara ditakdirkan untuk selalu salah di hadapan Ken. Bahkan menu biasa yang dimakan CEO muda itu saja masih salah.


"Cemilan buatanmu…


Dara sampai menahan nafas saat pekerjaannya dikomentari, bahkan kata-katanya sampai digantung seperti itu. Dia menutup kedua matanya, karena takut akan dibuang lagi seperti makanan siang tadi.


"Lumayan. Kamu bisa mengikuti resep Chef Mitha, aku cukup terkesan."


Sontak gadis yang masih mendekap nampan di dadanya itu membuka mata, dia mengerjap beberapa kali memastikan bahwa yang dia dengar itu bukanlah halusinasi saja.


"Ma-maksud Tuan?"


"Ya, maksud saya cemilannya enak. Setidaknya kamu bisa masak. Lain kali cari resep Chef Mitha lagi, dia selalu menulis apa saja yang aku suka."


Ken memberi tahu sambil terus menikmati bola tape goreng, terlihat jelas dia begitu lahap dalam menyantap cemilan sore itu.


Seulas senyum terpancar dari sudut bibir Dara. Setelah dihujat dan dihina habis-habisan, kini pujian dari Ken membawa sedikit angin segar bagi dirinya. Bagai sedang berjalan di padang yang tandus, pujian tersebut ibarat secercah air yang menyegarkan.


"Benarkah?"


Suara Dara terdengar begitu sumringah, tidak ada lagi ketakutan dan kekhawatiran seperti saat Ken tengah membentak dan menyalahkan atas pekerjaannya.


"Tapi jangan senang dulu, ini baru satu pekerjaan yang kamu lakukan cukup benar. Dengar? Cukup benar, belum benar sekali."


"Baik, Tuan. Apakah ada yang diperlukan lagi? Kalau tidak, saya akan melanjutkan pekerjaan berikutnya."


Ken hanya menggelengkan kepalanya, lalu mengibaskan tangan menyuruh sang asisten untuk kembali ke dalam rumah.


Ya, mungkin memang sudah kebiasaannya sebagai atasan, bos dan juga CEO. Bahasa tubuh seperti itu baginya sangat lumrah.


Tapi tidak bagi Dara, bagi gadis yang terbiasa mendapatkan perlakuan lembut dan sopan, melihat bahasa tubuh seperti itu benar-benar penghinaan.


Memang dia hanya seorang caddy amatiran yang tiba-tiba banting stir menjadi asisten pribadi karena sebuah kesalahan, tapi bukan berarti dia layak dihina dan direndahkan seperti itu.


Demi menjaga kehormatannya sebagai pegawai, Dara hanya bisa menghela nafas panjang lalu mengangguk patuh dan berbalik badan. Dia melanjutkan rencananya untuk bersih-bersih ruangan atas.


"Apes banget sih aku, harus bertemu bos sombong macam dia." gerutu gadis yang masih terlihat cantik itu.


Ya, kecantikan yang dimiliki Dara adalah alami. Jadi meskipun polesan make-up di wajahnya yang sudah pudar dimakan waktu, justru kecantikan alaminya lebih menarik.

__ADS_1


Kedua iris berwarna coklat itu menonjol kala melihat keadaan di lantai dua yang sangat luas. "Hah? Ini nggak salah aku harus membersihkan seluruh ruangan disini?"


Berkali-kali Dara menatap catatan yang diberikan oleh Adam, menurut jadwal Dara harus membersihkan lantai dua yang berisi kamar dan ruang khusus bagi Tuan Ken. Hanya saja Dara tidak menduga jika ruangannya akan seluas itu.


Disana terdapat dua pintu dengan warna sama, kemungkinan itu adalah kamar dan ruang kerja pribadi milik Ken. Kemudian ada ruang olahraga, lalu ruang santai dan ada juga balkon. Bahkan disana juga terdapat dapur kecil, mungkin biasa digunakan Ken jika malam-malam butuh ke dapur dan malas turun.


"Aku mulai darimana ini?"


Dara bermonolog sambil mengedarkan pandangan. Rasa terkejut, bingung dan kagum bercampur menjadi satu saat itu juga.


"Ah, lebih baik aku mulai dari kamar saja. Mumpung si sombong itu lagi di taman." ucapnya sambil memetik jari.


Segera Dara melangkah menuju ruangan dengan pintu berwarna putih bersih. Dilihat dari cat dan hiasan, rumah Ken sebenarnya cukup simpel tapi elegan dan mewah. Pokoknya berkelas dan tidak norak.


Klek


Perlahan Dara membuka pintu dan menyembulkan kepala ke dalam ruangan yang masih gelap itu. "Ini kamar apa gua sih? Gelap banget."


Tidak ada hentinya Dara ngedumel, pasalnya memang dia tidak rela melakukan kerja rodi seperti itu.


Sudah memaksakan diri untuk keluar dari zona nyaman, yaitu menjadi caddy, ini malah terjebak jadi asisten dan sukarela.


Sreeeekkkk!


Dara membuka gorden serta jendela yang sedari tadi tertutup rapat. Hal tersebut membawa paparan cahaya masuk ke dalam ruangan yang cukup luas tersebut.


"Nah, gini kan jadi seger."


Melihat barang yang cukup berserakan, membuat tangan Dara gatal untuk segera merapikan. Jika sudah menyangkut bersih-bersih, seketika Dara lupa jika yang tengah dilakukan adalah sukarela. Di otaknya hanya ada ingin segera menyulap tempat tersebut menjadi rapi.


Saking semangat dan sibuknya, Dara sampai tidak sadar jika Ken masuk ke dalam kamar. Ken memutuskan ke kamar untuk ganti pakaian, karena kaos yang tengah dia ken akan ketumpahan yogurt tadi.


Sama seperti Dara, Ken pun terlalu sibuk dengan kaosnya yang kotor. Hingga begitu masuk, dia langsung melepas kaos tersebut dan melemparkan ke keranjang baju yang berada di ujung ranjang.


Saat yang bersamaan Dara bangkit dari posisi membungkuk karena memunguti pakaian yang berserakan, hingga kaos yang Ken lempar tadi mengenai wajah Dara.


"Ish, siapa sih yang lempar-lempar kaos sembarangan begini?" gerutu Dara sambil mengambil kasar kaos tersebut.


Saat itu pula kedua netranya bertemu dengan mata tajam milik Ken. Tapi beberapa saat kemudian iris Dara gagal fokus dengan dada Ken yang sangat bidang.

__ADS_1


"Aaaaaa…. !!!!!"


*****


__ADS_2