Caddy Kesayangan CEO

Caddy Kesayangan CEO
Dara Pergi


__ADS_3

"Ayo, Dam… kita harus segera pergi dari sini sebelum ada yang melihat. Nanti malah rencana kita gagal," gegas wanita paruh baya yang mengenakan setelan kebaya jaman kuno.


"Iya, Bi," sahut pria berseragam serba hitam itu.


Dua manusia kepercayaan Kendrick yakni Bi Inah dan Adam segera pergi dari balik pintu tempat bersembunyi. Sengaja mereka menguping pembicaraan antara Dara dan Bu Nisa bersama Ken dan Oliv.


Sebagai orang yang selalu tahu apapun mengenai Kendrick, baik Bu Inah dan Adam merasa janggal dengan kedatangan Oliv yang begitu tiba-tiba dan mengaku sebagai istri Ken.


Mereka lebih terkejut lagi saat melihat Oliv menunjukkan buku nikah yang berisi foto wanita itu bersama Ken. Akan tetapi sebagai pegawai, mereka tidak memiliki wewenang apapun.


Bukan takut kehilangan pekerjaan, mereka lebih memikirkan dampak jika mereka pergi nanti maka tidak ada lagi yang bisa mengawasi Oliv di wanita licik. Kini Bi Inah dan Adam pura-pura nurut saja seperti yang lainnya, walau dalam hati begitu kasihan dengan Dara dan. Bu Nisa yang menjadi korban.


Disisi lain, Dara tengah mengemasi barang-barang miliknya dan juga milik sang ibu. Saat tangannya meraih sebuah seragam dress berwarna putih, gadis berhidung mancung itu tertegun.


Bayang-bayang saat pertama kali dia bertemu dengan Ken kembali terlintas. Saat membuat seorang Kendrick Mahanta marah hingga membuatnya harus menjadi asisten pribadi tanpa digaji.


Kedua sudut gadis itu terangkat mengingat hal-hal konyol yang dia lalui selama ini. Ya, mengenal Ken dengan kecelakaan seperti itu membuat Dara merasa konyol.


Semua yang terjadi antara dirinya bersama Ken selalu diingat dan akan diingat. Akan tetapi senyum itu kembali memudar saat menyadari semua yang terjadi hanyalah semu.


Kenyataan bahwa Ken telah menikah dan hanya menjadikan dirinya selingan, membuat hati Dara kembali teriris.


Srak…srak…srak…


Ritme beberes Dara semakin cepat karena terbawa suasana hatinya yang kembali tersulut emosi. Wanita mana yang tidak emosi dan sakit hati? Setelah dirayu-rayu dengan berbagai cara hingga pertahanannya runtuh untuk membuka hati, tapi tiba-tiba sebuah fakta terungkap bahwa pria tersebut telah beristri.


Dara bukan hanya merasa kecewa,tapi dia merasa begitu bodoh karena sudah tertipu dan termakan rayuan Kendrick.

__ADS_1


"Sudah paling bener aku tuh jomblo dari dulu. Cinta hanya bikin masalah tambah banyak aja. Hwaaaahhh!"


Dara ngedumel sampai berteriak saking kesalnya. Dia berharap dengan berteriak seperti itu bisa melepaskan semua sesak di dalam dada.


"Dara… Ibu tau kamu sedang sedih dan kecewa. Tapi tidak baik berteriak seperti itu disini," tegur Bu Nisa.


Bukan tidak memahami apa yang tengah dirasakan oleh putri tunggalnya itu. Tapi Bu Nisa hanya tidak ingin menambah masalah. Semenjak wanita bernama Olivia masuk ke kediaman Ken, rumah tersebut seakan berpindah kuasa pada wanita tersebut. Padahal dia baru saja menginjakkan kaki di rumah Ken.


"Maaf, Bu. Dara sudah tidak kuat lagi. Semua ini terlalu sakit." Dara mengadu dengan suara yang bergetar diiringi dengan bulir bening mengalir dari sudut matanya.


Bu Nisa yang berdiri tak jauh dari Dara langsung mendekat dan memeluk putrinya. Dalam hati dia merasa bersalah karena secara tidak langsung semua yang terjadi dialah perantaranya.


"Maaf ya, Ra…Coba aja Ibu nggak sakit, pasti kamu tidak akan merasakan sakit seperti ini," ucap Bu Nisa menyesali.


Sontak saja Dara mengurai pelukan sang ibu. "Ibu ngomong apa sih? Ini sama sekali bukan salah, Ibu. Jika mau disalahkan, Ken, lah yang salah. Karena dia tidak jujur sejak awal."


"Sudah,sudah, Nak. Lebih baik kita segera pergi dari sini, sebelum mereka kembali dan mengusir kita dengan kasar."


Bu Nisa tidak ingin memperpanjang masalah di kediaman Ken lagi. Lebih cepat pergi itu jauh lebih baik. Dara pun menurut saran dari ibunya, dia masih terlalu lemah jika berhadapan dengan Ken dalam suasana hati yang seperti itu. Lebih baik menepi dulu.


"Tapi kita mau pergi kemana, Ra?" tanya Bu Nisa saat mereka telah keluar kamar.


"Kemana lagi,Bu? Kita masih punya rumah bukan? Kita akan kembali ke rumah kecil itu. Dara akan cari kerja lagi untuk kebutuhan kita, jadi Ibu tidak usah cemas."


Gadis yang sudah mengenakan kaos oblong dan celana levis panjang itu merangkul ibunya. Memberi keyakinan bahwa mereka akan tetap bisa hidup meski tanpa uluran tangan dari Ken.


Sudah cukup bagi mereka bermanja-manja dan dijadikan ratu. Kini mereka harus kembali ke habitat asalnya. Ya, habitat orang biasa yang kadang untuk makan saja begitu susah.

__ADS_1


Wanita paruh baya yang telah mengenakan blouse dengan motif daun itu pun mengangguk setuju. Kini mereka melanjutkan langkah untuk benar-benar keluar dari istana Mahanta.


"Bu Nisa… Neng Dara…"


Langkah mereka terhenti saat ada suara yang memanggil. Mereka menoleh ke arah sumber suara, terlihat Bi Inah dan Adam tengah berjalan mendekat.


Sontak saja Bi Inah memeluk dua wanita yang dianggap sudah seperti keluarga sendiri. "Maafin Bibi karena tidak bisa bantu apa-apa. Ini diluar kendali kami."


Dara menggeleng pelan lalu mengurai pelukan dengan perlahan. "Bi Inah ngomong apa sih? Bibi sama Mang Adam sudah begitu banyak membantu kami. Justru kami yang minta maaf karena sudah terlalu banyak merepotkan."


"Neng Dara tenang saja…Kami akan usut ada konspirasi apa sebenarnya ini, setahu kami Tuan Muda itu belum pernah menikah, Neng. Percaya deh."


Gadis yang sudah tidak menaruh harapan lagi pada sang presdir muda itu tersenyum getir. "Kalian mungkin belum diberi tahu. Sudahlah jangan membuatku berharap sesuatu yang tidak mungkin lagi. Aku sadar diri kok."


Dua pegawai kepercayaan Ken itu menatap Dara dengan sendu. Kini mereka mengantar kepergian Dara dan ibunya sampai ke depan gerbang, bahkan sampai naik taksi.


"Kabari kami jika ada sesuatu ya Neng…Bu…" ucap Adam sambil melambaikan tangan.


Dari kejauhan tepatnya di lantai dua, Ken tengah berdiri di balkon sambil menatap kepergian Dara yang semakin hilang dibawa taksi. Netra pria itu berkaca-kaca, jakunnya bergerak seakan tengah menahan sesuatu yang begitu menyiksa.


"Maafin Aku,Ra… Aku janji akan segera selesaikan semua ini dan jemput kamu lagi."


"Itu nggak akan pernah terjadi, Sayang. Kamu mau mengorbankan para pegawaimu demi gadis murahan itu?" sambar Oliv yang entah sejak kapan ikut berdiri di samping Ken.


Ken menoleh kaget. "Bisa tidak ikut campur urusanku tidak. Perjanjian kita hanya sebatas aku tetap pura-pura  jadi suamimu, tidak untuk urusan pribadiku."


Pria berbadan tegap itu melenggang pergi karena merasa terganggu dengan kedatangan Oliv.

__ADS_1


**** 


__ADS_2