
"Cukup, Mi!" seru Ken yang semakin geram dengan tingkah sang mami.
Presdir muda itu menghempas tangan Oliv yang masih saja menempel bak perangko. Dia tidak mempedulikan wanita yang sedari tadi menempel padanya merasa kesakitan akibat perlakuannya. Saat ini yang Ken pikirkan hanya Dara dan Dara.
Sayangnya jumlah security yang ada terlalu banyak, belum lagi para bodyguard yang Nyonya Merry sewa secara khusus. Alhasil sebelum Ken berhasil menghampiri Dara dan menolong kekasihnya itu, dia sudah terlebih dahulu ditahan oleh para bodyguard yang memiliki badan jauh lebih kekar darinya.
"Tanpa kalian paksa aku juga akan pergi dari sini."
Dara mengangkat tangannya saat beberapa security berusaha meraih dan menarik secara paksa.
"Baik, Non. Mari kami antar sampai luar," sahut salah satu security seraya menggiring gadis berambut lurus itu keluar gedung.
Sebelum Dara melangkahkan kaki jenjangnya untuk pergi, dia melirik sejenak ke arah Ken yang sedang ditahan oleh beberapa bodyguard. Netra Ken terlihat mendung, semendung masa depan dia bersama Dara setelah kejadian hari ini.
Seperkian detik Dara menatap wanita yang mengaku sebagai istri Ken. Cantik. Nyaris sempurna. Satu hal yang paling penting wanita itu terlihat berkelas, berpendidikan dan juga elegan. Memang wanita seperti itu yang cocok untuk bersanding dengan Ken bukan? Tidak seperti Dara yang hanya Caddy amatir.
Berbagai pendapat berkelebat di benak gadis berhidung mancung itu. Sepertinya cita-cita untuk bisa mendampingi Ken sampai tua dan akhir hayat hanya impian semata.
"Nona," tegur security yang berdiri di belakang Dara dan berusaha mendorong tubuh gadis itu untuk segera keluar.
Untuk terakhir kalinya Dara kembali menatap Ken cukup lama hingga akhirnya gadis itu menundukkan pandangan dan pergi meninggalkan acara.
Dara tidak memiliki keberanian untuk menatap para tamu undangan yang perhatiannya tertuju padanya. Bahkan para wartawan yang mengejar dan berusaha mengajukan pertanyaan, tidak dihiraukan.
'Aku harus segera pergi dari sini. Harus,' batin Dara sambil mempercepat langkah kakinya.
Adam yang baru saja hendak menyusul ke dalam, terkejut melihat Dara yang berjalan setengah berlari ke arah pintu. Ditambah lagi beberapa security yang mengikuti kekasih tuan mudanya itu.
"Loh, Neng. Kenapa keluar? Aku baru saja beres memarkirkan mobil dan baru mau masuk."
"Nggak papa, Kang. Dara ingin pulang saja."
Pria yang berganti seragam dengan kemeja maroon itu mengerjapkan mata beberapa kali. Dia seakan tahu jika Dara sedang menyembunyikan sesuatu, tapi entah apa itu.
__ADS_1
"Biar saya antar—
"Tidak usah, Kang. Dara bisa pulang sendiri kok. Kang Adam disini saja. Akang, kan, kerjanya sama Mas Ken bukan sama Dara."
Gadis yang mengenakan heels dengan tinggi lima sentimeter itu memotong pembicaraan Adam, lalu melenggang pergi karena para kawanan security sudah semakin dekat dengannya.
Dara tidak ingin berdebat dengan para security di depan Adam dan para tamu undangan yang baru datang. Apalagi para wartawan juga sepertinya tidak merasa lelah untuk mengikuti gadis yang beberapa hari terakhir terkenal sebagai kekasih Kendrick Mahanta itu.
"Loh, Neng!"
Adam berseru dan hendak mengejar Dara, tapi langkahnya terhenti saat tubuhnya terombang-ambing akibat diterpa rombongan wartawan yang mengejar Dara. Hal tersebut cukup membuat asisten kepercayaan Kendrick itu mengernyit heran.
"Ada kejadian apa dalam tiga puluh menit terakhir? Sampai aku ketinggalan begini?" gumam Adam bertanya-tanya.
Setelah memarkirkan mobil Adam memang tidak langsung menyusul ke aula karena dia bertemu dengan rekan sesama asisten dan supir, sehingga pria yang sudah lama mengabdi pada Kendrick itu ngobrol terlebih dahulu hingga akhirnya memutuskan masuk setelah cukup lama.
Pria berkulit sawo matang itu menghela nafas, baru saja selangkah ingin menyusul Dara dan memastikan kekasih tuannya itu baik-baik saja, seorang bodyguard memanggilnya.
Mendapati situasi yang cukup sulit, akhirnya Adam memutuskan untuk mengikuti sang bodyguard. Bagaimanapun juga Adam harus lebih patuh terhadap majikannya.
Merasa susah berjalan dengan heels, Dara segera melepas kedua alas kakinya yang menghalangi langkah. Dia setengah berlari untuk tiba di jalan raya. Beruntung saat itu ada sebuah taksi yang lewat, Dara pun segera menghentikannya.
"Pak bisa minta tolong antarkan saya ke alamat ini?" tanya Dara setelah mencari alamat Ken di google map.
"Wah, ini cukup jauh, Non. Apa tidak apa jika ongkosnya mahal?"
Deg
Dara baru teringat saat pergi tadi dia bahkan tidak membawa uang. Mengingat pergi bersama Ken Dara hanya membawa ponsel dalam dompetnya. Astaga. Jadi bagaimana ini?
"Mmm… jika bayarnya setelah tiba nanti boleh, Pak? Ini darurat soalnya."
Sang sopir taksi berpikir sejenak. Melihat raut wajah Dara yang cukup panik, akhirnya pria paruh baya itu mengangguk setuju.
__ADS_1
Huft
Dara menghela nafas karena sopir taksi masih berbaik hati. Setidaknya dia bisa pergi dan menjauh dari kerumunan para sultan. Setelah taksi melaju meninggalkan pelataran gedung PM group, Dara menyandarkan tubuhnya.
Ucapan Nyonya Merry, Olivia dan semua kejadian dalam rangkaian acara tadi masih terngiang di otak gadis itu. Bagaimana bisa Ken menyembunyikan identitas selama ini?
Jika memang sudah berkeluarga, lalu apa maksudnya menyatakan cinta pada Dara? Belum lagi alasan Ken mengajak ke Jakarta katanya mau memperkenalkan Dara pada orang tuanya. Tapi, faktanya malah sebaliknya. Dara dikejutkan dengan orang tua Ken yang memperkenalkan istri Kendrick yang selama ini tidak diketahui media.
"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku, Mas?" lirih Dara seraya menatap keluar jendela.
Tanpa terasa bulir bening mengalir deras dari sudut matanya. Inilah alasan Dara malas jatuh cinta dan pacaran, dia tidak siap jika sewaktu-waktu perasaan indah yang hadir berubah menjadi luka yang amat mendalam.
Kini saat Dara membuka hati, tiba-tiba saja orang yang semula meyakinkan dirinya bahwa semua yang dia takutkan tidak akan pernah terjadi, tak lebih dari seorang penipu.
Menyadari penumpangnya sedari tadi hanya diam, sang supir melirik dari spion tengah. Dia terkejut saat melihat Dara tengah menangis.
"Non, anda baik-baik saja?" tanya sang sopir yang mencoba simpati.
Sontak Dara mengusap wajahnya dengan punggung tangan. "Ah, ya, Pak. Aku nggak papa, kok. Terima kasih untuk perhatiannya."
Meskipun ragu bahwa penumpangnya tengah baik-baik saja, sang sopir hanya mengangguk karena tidak ingin mencampuri urusan orang lain terlalu jauh. Akhirnya perjalanan panjang Dara dilalui hanya ditemani suara musik yang sengaja dinyalakan oleh sopir taksi.
"Tunggu sebentar ya, Pak," ucap Dara setelah akhirnya sampai di kediaman Kendrick.
Bu Nisa dan Bi Inah yang sedang duduk di teras sambil bercengkrama terkejut melihat Dara yang kembali seorang diri.
"Loh, Dara? Kok kamu sudah pulang? Nak Ken mana?" tanya Bu Nisa seraya mengedarkan pandangan.
"Nanti aja ya, Bu. Dara harus ambil uang dulu untuk bayar taksi."
Dara setengah berlari menuju kamarnya sambil menenteng heels yang sejak keluar dari gedung dia lepaskan. Hal tersebut membuat dua wanita paruh baya yang sedang duduk saling berpandangan.
****
__ADS_1