
Jebred!
Cukup keras Dara menutup pintu kamar tamu, sungguh semenjak mendengar Ken mengutarakan perasaan, membuat gadis sederhana itu serba salah.
Bagaimana tidak? Dia hanyalah gadis biasa yang mendapatkan cobaan ibunya stroke, hingga mau tidak mau Dara mengambil pekerjaan yang ditawarkan Shyna sahabatnya.
Tapi malang seribu malang, di hari pertama kerja Dara melakukan banyak kesalahan hingga ada satu kesalahan yang begitu fatal, membuat Kendrick yang saat itu kliennya marah besar.
Demi mengganti rugi stik golf kesayangan Ken, Dara harus menjadi asisten pribadi CEO muda itu selama satu bulan tanpa digaji.
Lalu tiba-tiba sekarang sang CEO tersebut menyatakan cinta? Ah, apakah benar itu cinta? Atau hanya rasa kagum semata. Dara sadar diri siapa posisinya di penjara megah itu, jadi dia tidak ingin berharap terlalu besar.
"Sadar Dara, mungkin karena Mas Ken lagi kurang enak badan, jadi omongannya suka ngelantur." monolog Dara menenangkan diri.
Jujur saja ini kali pertama Dara ditembak oleh seorang pria. Kaget sudah pasti, gugup, salah tingkah dan juga malu semua berbaur menjadi satu.
Tapi satu hal yang harus Dara ingat, tujuan dia ada di rumah tersebut hanyalah untuk ganti rugi stik golf. Setelah masa ganti rugi itu selesai, Dara tidak ada hubungannya lagi dengan rumah itu bahkan dengan Ken.
Tunggu, lalu bagaimana dengan kebaikan hati Ken yang meminta Chef mira untuk mengurus Bu Nisa di rumah sakit? Apa itu juga belum cukup untuk membuktikan ketulusan Kendrick?
Anggap saja itu adalah sebuah hutang yang harus Dara ganti. Ya, seperti itu lebih baik daripada geer dengan ungkapan Kendrick barusan.
"Neng Dara?" sapa Bi Inah seraya menepuk bahu gadis itu.
Saking fokusnya dengan pikiran sendiri, Dara sampai tidak sadar dengan kehadiran Bi Inah, hingga akhirnya dia pun terkejut saat disapa.
"Astaga! Bi Inah? Bikin kaget saja." ujar Dara sambil menekan dada.
Bi Inah menoleh ke arah darimana dia datang tadi, jika orang dalam keadaan fokus seharusnya dari posisi Dara sekarang bisa melihat orang dari arah tersebut. Tapi ini Dara malah terkejut.
"Hayoloh, lagi mikirin apaan? Masa Bi Inah jalan dari sana kesini tidak kelihatan?"
Bi Inah menerka sambil menjentikkan telunjuknya ke wajah Dara. Sebenarnya wanita paruh baya itu tidak termasuk orang yang terlalu ingin tahu urusan orang lain. Tapi jika hal tersebut sudah membuat orang termenung, lama-lama Bi Inah khawatir.
Bagaimanapun juga dia sebagai sosok yang paling tua di rumah tersebut, memiliki tanggung jawab tinggi, walaupun tanggung jawab sepenuhnya ada pada sang tuan muda.
__ADS_1
"Hah? Eng-enggak mikirin apa-apa kok, Bi." alibi Dara.
Mana mungkin dia akan jujur jika Kendrick baru saja menyatakan cinta padanya? Nanti bukannya percaya, yang ada Dara malah ditertawakan dikira halusinasi, kan repot.
"Jangan bohong sama Bi Inah. Ngomong aja jika ada masalah atau sesuatu yang ngeganjel. Siapa tau Bi Inah bisa bantu. Atau ini soal ibumu ya?"
Rasa khawatir seorang ibu pasti dimana-mana sama, jadi wajar saja jika Bi Inah khawatir dengan Dara yang tiba-tiba melamun.
Dara mengangguk pelan, "Ya karena itu, Dara sedih karena tidak bisa menemani dan merawat ibu selama di rumah sakit."
Walaupun sebenarnya bukan itu penyebab utama Dara melamun, setidaknya itu menjadi salah satu alasan juga karena bagaimanapun dia ingin menemani sang ibunda tercinta.
Seketika Bi Inah langsung merangkul gadis berkulit putih itu. "Yang sabar, kamu pasti bisa melewati semua ini." ucapnya seraya menepuk-nepuk bahu Dara.
"Iya, Bi. Makasih banyak ya. Berkat Bi Inah, Dara merasa seperti dekat dengan ibu selalu."
Selalu saja jika obrolan menyangkut hubungan antara ibu dan anak pasti mengundang haru. Tapi Dara tidak ingin menangis, karena menangis pun tidak akan menyelesaikan masalah.
Usai berbagi cerita dan semangat dengan Bi Inah, Dara langsung pamit menuju kamar untuk istirahat. Kali ini dia menjadi bingung jika ada tugas yang harus berhadapan langsung dengan Kendrick, dia masih malu dan takut.
Tok! Tok! Tok!
"Neng? Neng Dara tidur?" seru Bi Inah dari luar.
Sontak Dara menoleh kaget saat mendengar seruan itu. "Duh, gimana ini? Kalau tidak makan dan minum obat nanti Mas Kendrick makin lama pulihnya. Tapi… aduh gimana dong?"
Bukannya menjawab pertanyaan Bi Inah, Dara malah masih saja sibuk ngomong sendiri. Tapi dia tidak mungkin lari dari tanggung jawab bukan?
Sejenak Dara menghela nafas, mengumpulkan segenap keberanian dan akhirnya dia melangkah untuk membuka pintu.
"Eh, Bi Inah. Ada apa?" tanya Dara pura-pura polos.
"Ada apa, ini sudah waktunya tuan muda makan malam dan minum obat. Cepat antarkan makanan yang kau buat tadi."
Tidak langsung bergerak seperti biasanya, Dara malah senyum senyum sambil bersandar di pintu. "Bi… boleh minta tolong tidak? Kali ini Bi Inah saja yang mengantarkan. Dara rasanya lagi pegel-pegel banget nih, capek, mau tidur lebih awal".
__ADS_1
Dara meregangkan otot-ototnya, karena dia memang benar-benar capek dan lelah. Hanya saja dia tidak biasanya menjual rasa lelah dan capeknya itu untuk tidak melakukan pekerjaan.
"Pasti karena sudah mengurus tuan muda selama seharian ini. Ya sudah kamu istirahat saja sana, biar Bi Inah yang antarkan ke kamar tamu."
"Beneran, Bi?" tanya Dara terlonjak kaget. Melihat Bi Inah mengangguk pasti membuat Dara memeluk wanita paruh baya itu. "Makasih banyak ya, Bi." imbuhnya.
"Iya, sama-sama. Udah gih masuk lagi, istirahat jangan sampai sakit juga." titah Bi Inah sambil berlalu pergi.
Dara menghela nafas panjang, setidaknya untuk kali ini dia bisa terhindar untuk berhadapan langsung dengan Ken. Gadis yang mengenakan piyama itu kembali masuk kamar dan berbaring di tempat tidur.
Tapi karena Dara belum terlalu mengantuk yang ada dia hanya gulang-guling di kasur, hingga akhirnya dia memilih duduk dan memainkan ponselnya.
"Astaga, aku sampai lupa lagi tidak meminta nomor ponsel Chef Mira. Kaya gini jadi repot sendiri, kan, kalau mau tahu keadaan ibu sekarang?" Akhirnya Dara kembali menjatuhkan tubuhnya di kasur dan memaksakan netranya untuk terpejam.
Sementara itu di sisi lain, Bi Inah tengah menggantikan tugas Dara untuk mengantarkan makan malam dan obat ke kamar Ken yang sementara waktu bertempat di kamar tamu.
"Permisi Tuan… waktunya makan malam sama minum obat." ucap Bi Inah sambil berjalan memasuki kamar.
Melihat Bi Inah yang melakukan tugas Dara, membuat Ken segera bangun dari tidurnya.
"Eh, Tuan Muda jangan langsung bangun seperti itu, apa sudah enakan?"
"Kok Bi Inah yang kesini? Dara mana?"
Bukannya menjawab, Ken malah balik bertanya dengan nada yang terdengar tidak suka jika Bi Inah yang datang.
"Oh… Dara sudah istirahat. Tadi dia bilang sedikit kurang enak badan, jadi Bibi suruh istirahat."
"Dara sakit, Bi?"
Tanpa menunggu jawaban, Ken langsung turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar.
"Loh, Tuan! Tuan Muda mau kemana?"
Sayangnya seruan Bi Inah tidak dihiraukan oleh Kendrick. CEO muda itu terus berjalan walaupun masih sedikit lemas badannya.
__ADS_1
****