
Glek!
Dara menelan saliva saat begitu dekat dengan majikannya itu. Aroma parfum maskulin milik Ken masih jelas tercium, walaupun sudah dibawa beraktivitas seharian tadi.
Belum lagi otot Ken yang kekar, perutnya bak roti sobek, hingga Dara gemas ingin rasanya mencubit. 'Aish, ini jantung kenapa ikut-ikutan olahraga segala si?' rutuknya dalam hati. Dara baru sadar jika detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya ketika berjarak begitu dekat dengan Ken.
"Kamu suka vanila?" celetuk Ken tiba-tiba.
Dara yang baru saja selesai membantu melepaskan t-shirt, terpaksa menoleh karena mendengar pertanyaan tersebut. "Wangimu vanila, enak banget. Jadi pengen makan kamu."
Deg!
Sontak Dara memundurkan diri, "Ma-maksud Tuan apa?"
Melihat Dara yang seperti ketakutan malah membuat Ken semakin gemas. "Ya salah kamu sendiri pake parfum wanginya vanilla, kan, jadi pingin makan kamu. Eh, maksudnya makan vanila." sahut Ken menggoda.
Dara mengernyit heran, sepertinya Ken ini ketularan Dokter Kinan. Sejak kapan coba pria yang biasa bersikap dingin dan angkuh itu mendadak jadi doyan gombal?
Bukannya tergoda, Dara malah menjadi takut. Bukan takut Ken akan macam-macam, tapi takut dengan kewarasan majikannya itu. Jangan-jangan gara-gara alergi jus, merubah kepribadian CEO tampan itu?
Ah, tidak mungkin. Jangan overthinking Dara, bisa jadi memang dia sudah berubah menjadi jauh lebih lembut. Bukannya itu akan lebih baik? Kamu tidak akan jadi korban kemurkaannya lagi.
"Maaf Tuan, ini silahkan pakai gantinya sendiri." ucap Dara seraya menyodorkan kaos oblong berwarna hitam.
Ken menghela nafas, "Aku sudah bilang bukan? tenagaku masih belum pulih, untuk memakai kaos saja rasanya susah."
"Pelan-pelan saja, Tuan."
Kali ini Dara masih mencoba menolak, karena dia tidak ingin terjebak seperti tadi. Apalagi jantungnya turut jadi korban olahraga, hanya karena berjarak begitu dekat dengan Ken.
Tak ingin berdebat dengan Dara hanya perkara kaos, akhirnya Ken pun mencoba mengenakan benda tersebut dengan sendiri. Dia heran, kenapa tubuhnya terasa begitu lemas, hingga untuk mengangkat tangan saja rasanya susah.
Dara yang melihat Ken cukup kesusahan pun merasa tidak tega. Dia mengenyahkan segara keraguan dan ketakutan yang sempat ber singgah tadi, lalu meraih kaos yang masih dipegang Ken.
"Kalau tubuh Tuan dibiarkan terbuka terlalu lama, nanti malah masuk angin yang ada. Makin lama untuk bisa sembuh." celoteh Dara sambil membantu mengenakan kaos.
__ADS_1
Ritme kali ini sengaja Dara percepat, lagi pula Dara juga tidak ingin berlama-lama menatap gubuk Ken yang begitu maco. Ah, jangan berpikir yang aneh-aneh Dara.
Untuk celananya, Ken bisa berusaha sendiri dengan sangat pelan. Dara sengaja pergi sebentar untuk menaruh pakaian kotor, agar Ken tidak merasa canggung.
"Sudah, Tuan? Sekarang makan dulu ya, mumpung supnya masih hangat." ucap Dara sambil tepi ranjang.
Dara mengambil mangkuk sup tadi dan siap menyuapi Ken tanpa ragu. "Aaa…" titahnya agar Ken membuka mulut.
Terang saja Ken tertegun dengan perlakuan Dara, terakhir kali dia makan disuapi itu dulu sekali saat dia masih kecil. Bahkan ibunya saja tidak pernah memiliki waktu untuk sekedar menyuapi karena saking sibuknya.
Mungkin itu juga yang membuat Ken menjadi sosok dingin dan menyebalkan. Parahnya lagi tidak peka. Itu semua karena dari kecil saja Ken tidak begitu dekat dengan ibunya, wanita pertama yang biasanya akan memperlakukan anaknya dengan baik.
"Tuan. Ayo buka mulutnya, nanti keburu tanganku pegel ini loh."
Suara Dara mengembalikan Ken dari lamunannya, dia pun terkekeh dan segera membuka mulut seperti yang Dara minta.
Suapan demi suapan akhirnya Ken bisa menghabiskan sup buatan Dara tanpa sisa. Dia sendiri merasa aneh, biasanya jika sedang tidak enak badan begitu, nafsu makan pun hilang.
Tapi kali ini bahkan Ken menghabiskan sup yang diberikan Dara. Apa karena itu Dara yang masak, atau karena di suapin Dara? Entahlah.
"Sekarang tinggal minum obatnya ya, Tuan."
Miris. Nasib Dara begitu miris jika dipikirkan, tapi kadang ada hikmah juga dibalik setiap kejadian. Buktinya kini Dara merasa Ken berubah sedikit demi sedikit.
Pelan tapi pasti, Dara melihat sisi lain dari Ken. Bukan lagi pria angkuh yang hobinya marah-marah tak jelas. Tapi ada sisi kemanusiaan yang Ken miliki dan bahkan membuat Dara cukup kagum.
Tok! Tok! Tok!
Baru saja Dara selesai membantu Ken untuk minum obat, tiba-tiba saja Adam datang untuk membawakan titipan dari Dokter Kinan. Dua manusia yang sedang berjarak cukup dekat itu lalu menjauh dan menoleh ke arah sumber suara.
"Permisi Tuan, tadi Dokter Kinan lupa memberikan vitamin." ucap Adam seraya menunduk takut.
Pria berseragam serba hitam itu merasa tidak enak karena datang di saat yang tidak tepat. Dia merasa mengganggu momen Ken dan Dara yang sedang cukup intens.
Loh, kenapa mengganggu? Memangnya Dara dan Ken ada hubungan apa? Hubungan mereka tidak lebih antara bos dan pegawai saja bukan?
__ADS_1
"Tolong ambilkan Dara." titah Ken seraya menunjuk ke arah Adam dengan dagunya.
Tindakan Ken cukup membuktikan bahwa kehadiran Adam memang mengganggu, buktinya saja dia tidak membiarkan pria yang sudah mengabdikan seluruh hidup hanya untuk melayaninya itu.
"Terimakasih banyak ya, Mas Adam." ucap Dara sambil tersenyum simpul.
"Sama-sama, Neng. Aku permisi dulu ya." Adam tak kalah membalas senyum. "Mari Tuan." lanjutnya sambil mengangguk takzim ke arah Ken.
Tapi Ken tidak menyahut, dia hanya mengangkat tangannya. Bahkan raut wajah Ken terlihat marah, padahal sebelumnya baik-baik saja. Aduh, orang satu ini memang susah sekali ditebak.
"Tutup pintunya!" titah Ken dengan suara bariton nya.
Sepertinya sup buatan Dara tadi cukup memulihkan keadaan Ken, hingga kini bisa berkata dengan ketus seperti biasanya.
"Tutup pintu?" ulang Dara. Dia sengaja bertanya lagi karena takut salah dengar dan ujung-ujungnya salah pekerjaan lagi.
"Iya! Kamu tidak dengar?"
Baru saja Dara merasakan sisi positif dari Ken, hanya selang beberapa menit sudah kembali ke watak aslinya. Dara hanya menghela nafas dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh tuannya itu.
"Jadi nggak mau manggil aku, Mas. Tapi panggil Adam, Mas? Emang aku terlihat lebih tua dari Adam apa?"
Dara semakin tidak paham kenapa tiba-tiba Ken mempermasalahkan panggilannya terhadap dua pria yang jelas-jelas beda kedudukan itu.
"Maaf, maksudnya Tuan gimana ya?"
"Kamu suka sama Adam? Jadi kalau ngobrol sama dia begitu lembut, dan panggil Mas begitu?"
Dara menggeleng pelan. Dia mengerjapkan netranya berkali-kali, karena mendadak bosnya merajuk tidak jelas.
"Aku perintahkan kamu jangan panggil aku 'Tuan' lagi, tapi 'Mas'. Panggilan Mas hanya berlaku untukku, tidak boleh ada orang lain yang dipanggil Mas juga, termasuk Adam." lanjut Ken masih dengan tampang ngambeknya.
"Terus aku harus panggil apa?"
"Terserah lah, mau Kang kek, mau Mang kek, Abang kek. Intinya panggilan Mas hanya berlaku untukku."
__ADS_1
Gadis berkulit putih itu hanya mengangguk patuh, dia masih tidak paham kenapa mendadak bosnya itu iri seperti anak kecil saja.
****