Caddy Kesayangan CEO

Caddy Kesayangan CEO
Sikap Ken yang Labil


__ADS_3

"Loh, Tuan. Ini bukan arah jalan pulang." 


Mana mungkin Dara berani jujur, jika itu jalan menuju rumah sakit? Takutnya bukannya mendapatkan empati, malah mendapatkan caci maki. 


"Siapa bilang kita mau langsung pulang?"


Nah, loh, kan? Pertanyaan seperti itu saja dijawab dengan ketus. Alhasil Dara tidak berani bertanya lagi, dia hanya berharap tuan mudanya itu berkepentingan di sekitar rumah sakit, agar Dara bisa menggunakan kesempatan untuk menengok ibunya. 


Saat melihat rumah sakit yang dituju, Ken jadi ingat saat awal Dara akan masuk rumahnya, gadis polos itu minta bertemu dengan ibunya yang sebenarnya sedang sakit. 


Sesekali pria berahang tegas itu memijit pelipisnya, karena terlalu acuh saat Dara dan Adam masuk ke dalam rumah sakit. Dia bahkan lebih memilih menunggu dari mobil. 


Ken tidak menyangka jika sakit yang diderita ibunda Dara sangat serius. Dalam hati pria yang cukup angkuh merutuki diri dan merasa menyesal. 


Netra gadis bertubuh jenjang itu membulat sempurna, saat Ken benar-benar menghentikan mobil di area parkir rumah sakit. 


"**-Tuan… 


"Kamu bilang ibumu dirawat di sini kan? Tidak ingin bertemu sebentar?" potong Ken begitu saja, bahkan Dara belum selesai berkata-kata. 


"Ii-ya, Tuan." Sungguh Dara masih tidak percaya Ken akan memberikan kesempatan itu tanpa diminta. "Saya permisi sebentar." imbuhnya seraya membuka pintu. 


"Tunggu!"


Gerakan tangan Dara yang semula begitu semangat, mendadak terhenti. Dia khawatir jika Ken hanya memberikan harapan palsu. 


Perlahan Dara menoleh ke arah bangku kemudi, dimana terlihat Ken tengah membuka sabuk pengaman. 


"Aku ikut." ucap Ken. 


Hal itu membuat mulut Dara terbuka cukup lama. Dia merasa ada yang aneh dengan sang bos hari ini. Mulai dari membawanya ke salon, meminta duduk bersebelahan, bahkan sekarang dengan terang-terangan Ken mau ikut menjenguk Bu Nisa. 


Dara masih ingat betul bagaimana cueknya Ken, saat pertama kali akan dibawa ke penjara megah. Bahkan saat mendengar ibunya sedang sakit, Ken hanya diam saja. 


Tapi saat ini, sungguh berbanding terbalik. Dara benar-benar tidak mengerti apa tujuan Ken akan ikut masuk menjenguk ibunya. 


Dog! Dog! Dog! 

__ADS_1


Terlalu fokus dengan pikirannya, Dara sampai tidak sadar jika Ken telah keluar. Bahkan Ken sampai mengetuk kaca jendela untuk memanggilnya. 


Dara pun menoleh kaget. Terlihat Ken menggerakkan kepala sebagai isyarat agar Dara segera keluar. 


"I-iya, Tuan." sahut Dara terburu-buru. 


Dug! 


"Aish!"


Ken mendesis seraya mengusap keningnya yang terkena pintu. Saking gugupnya Dara, gadis itu sampai ceroboh membuka pintu mobil begitu saja. Hingga Ken yang masih membungkukkan badan harus menjadi korban pintu. 


"Astaga! **-Tuan, nggak papa?" tanya Dara berusaha melihat kening Ken yang terluka itu. 


"Jangan pegang-pegang!" tolak Ken sambil menangis tangan Dara. "Hanya karena aku ingin menjenguk ibu kamu, bukan berarti kamu bisa akrab denganku!"


Perlahan Dara menurunkan tangannya dan sedikit menjauh. Ternyata Ken masih sama, angkuh dan keras kepala. Atau mungkin gara-gara terbentur pintu mobil, Ken yang tadinya akan baik kini kembali galak? 


Ah, jika memang iya, Dara sangat menyesal telah bertindak ceroboh. Gadis berhidung mancung itu sendiri juga bingung, kenapa jika keadaan panik dirinya malah jadi ceroboh. 


"Maaf, Tuan." sahut Dara begitu lirih. Gadis yang masih mengenakan dress putih seragam caddy itu pun berjalan memimpin langkah. 


Belum lagi bagian dada Dara yang cukup padat, begitu juga bagian belakang, hingga membuat gadis berkulit putih itu terlihat begitu menggoda. 


Entah mengapa Ken merasa tidak nyaman dengan sorot mata para lelaki di rumah sakit pada Dara. Tiba-tiba saja Ken yang tadinya di belakang, maju menjadi sejajar dengan Dara. Bukan hanya itu, Ken juga melingkarkan tangannya di bahu Dara. 


Deg


Jantung Dara mendadak berdesir saat mendapatkan perlakuan Ken seperti itu. 'Ini orang kenapa lagi sih? Berubah-ubah mulu sikapnya.' racau Dara di dalam hati. 


"Nggak usah geer. Aku hanya menyelamatkanmu dari mata keranjang para pengunjung itu." bisik Ken. 


Sontak saja Dara mengedarkan pandangan, dia baru sadar jika saat ini dirinya bersama sang tuan muda tengah menjadi pusat perhatian. 


"Maksudnya?" tanya Dara yang kadang terlihat bodoh. 


"Lain kali, bawa jaket atau sweater kek. Biar kamu tidak jadi tontonan murah seperti ini. Atau memang sengaja mau beramal?"

__ADS_1


Lagi dan lagi. Ken memang paling bisa menarik turunkan perasaan. Baru saja Dara dibuat tersipu karena perlakuan Ken, kini kata-kata yang keluar dari mulut angkuh itu kembali menyayat hati. 


Dara hanya bisa menghela nafas panjang. Kini dia mempercepat langkah agar bisa segera sampai ke ruangan ibunya. 


Para mata nakal serta sikap Ken yang sok perhatian tapi sebenarnya menyebalkan itu, tidak Dara hiraukan lagi. 


"Maaf, sudah sampai, Tuan." ucap Dara seraya melepaskan tangan Ken dari pundaknya. 


Klek! 


Sebuah pemandangan yang Dara rindu seminggu terakhir ini. Terlihat dengan jelas Shyna sedang begitu telaten menyuapi Bu Nisa. 


"Dara?" ucap dia wanita beda usia itu dengan kompak. 


Dara langsung berhambur memeluk dia manusia yang sangat berarti itu. Ya, bagi Dara saat ini yang lebih berarti adalah ibunya dan juga Shyna. 


"Ibu, Shyna, aku kangen kalian." ucap Dara dengan suara parau. Air, mata kebahagiaan tidak bisa disembunyikan lagi, hingga kini mengalir deras di kedua pipinya. 


"Kami juga kangen banget sama kamu, Ra. Gimana kabar kamu?"


Shyna menatap Dara dari ujung kaki hingga ujung rambut, dan kembali lagi ke bawah. Sebagai wanita yang hobinya keluar masuk salon, dia tahu betul jika Dara baru saja dari salon. 


"Aku baik. Makasih ya, Na. Udah mau jagain  ibu selama aku nggak ada."


Terkadang Dara tetap harus merasa bersyukur, meskipun dia tumbuh tanpa adanya peran dari seorang Ayah. Setidaknya orang-orang di sekelilingnya begitu baik dan tulus. 


Shyna hanya tersenyum seraya menepuk pundak Dara. "Kalau begitu, aku tinggal keluar bentar ya. Mau ke kantin beli cemilan, kamu mau aku belikan apa?"


"Tidak perlu, aku sudah hutang terlalu banyak padamu."


"Dara! Apa-apaan sih kamu? Tidak ada hutang piutang diantara kita. Namanya juga sahabat, ya wajib saling bantu bukan?"


Bu Nisa yang sedari tadi belum bersuara, hanya bisa tersenyum melihat putrinya bersama sang sahabat kembali melakukan perdebatan. Beliau sangat rindu suasana itu. 


"Oke, oke. Terserah kamu aja deh." pungkas Dara mengalah. 


Shyna pun beranjak dan Dara duduk menggantikan posisi Shyna yang tadinya tengah menyuapi Bu Nisa. Baru saja satu langkah keluar dari kamar, putri semata wayang Robert itu terkejut saat melihat sosok yang begitu tampan dan gagah. 

__ADS_1


Bahkan Shyna terlihat begitu terpesona dengan pria tersebut, sampai-sampai dia berdiri cukup lama di pintu. 


****


__ADS_2