
Confused eps 11
Jupiter Alfian
Aku berdecak kesal melihat banyak nya pesan yang aku kirim hanya centang biru dan tidak ada satupun yang di balas. Dasar gadis aneh!
Kemarin sore ketika aku nekat mendatangi rumahnya,dia masih bersikap seperti biasanya, meski dia tidak pernah bersikap manis padaku. Tapi cukup baik, karena bersedia mengizinkan aku ke rumahnya,meski hanya sekedar di kursi depan. Bahkan dia memakan roti isi nutella yang aku beli. Aku pikir dia akan melempar kembali plastik belanjaannya seperti siang itu. Tapi, ternyata dia tidak sepemarah yang aku kira.
Kara Kaisara, nama kontak yang masih aku pandangi bahkan aku sampai dijadikan lelucon oleh kakakku Dea, sampai detik ini pun masih belum membalas pesan dariku.
Perut yang terasa perih dan haus, sadar sejak tadi aku belum makan ataupun minum.
"Bibi, Jupiter mau makan." Aku segera duduk di meja makan, dan meminta asisten rumah tangga yang sering aku panggil Bibi menyiapkan nya.
"Tumben makannya malam." Tanya Bibi, sambil menyodorkan satu piring nasi beserta lauk pauknya.
"Baru laper." Jawabku, langsung melahap nasi dan ayam goreng.
Terdengar sayup-sayup dering ponsel, aku sangat hafal iti nada dering ponselku. Dengan tergesa-gesa sambil membawa paha ayam, aku langsung menghambur ke ruang keluarga dimana ponselku berada. Aku menghentikan langkah begitu aku melihat nama yang tertera di layar.
Rian calling…….
Aku berdecak dan kembali ke meja makan,mengabaikan panggilan dari Rian.
"Kara ga mungkin nelpon kakak." Si krucil David bicara melewatiku, bahkan matanya masih menatap buku komik kesukaan nya.
"Arghhhh.," Jika bukan adik sudah aku pukul kepalanya.
Selesai makan, aku langsung masuk ke kamar. Rumah sepi semua penghuni sudah masuk ke kamar masing-masing, hanya tinggal ka Dea yang masih berada di luar rumah. Waktu menunjukan pukul sembilan malam, biasanya jam segini aku masih di tempat tongkrongan atau sekedar menonton balapan liar lainnya. Tapi kali ini aku sangat malas.
"Baiklah, lo mulai mengabaikan gue lagi. Sampai ketemu besok di sekolah Rendang Kara." Itu pesan terakhir yang aku kirim, sebelum akhirnya akupun tertidur.
Keesokan paginya.
"Kenapa ga bawa mobil kaya biasanya?" Tanya Ayah, ketika semua keluarga berkumpul untuk sarapan pagi.
"Males, repot." Jawabku sambil melahap nasi goreng buatan Ibu.
"Emang ga repot ya ke sekolah bawa motor kaya gitu, terus bonceng cewe juga?" Ibu ikut bertanya, tangannya tak henti menyiapkan sarapan pagi untuk semua anggota keluarga.
"Nggak. Jupiter berangkat sendiri ko."
__ADS_1
"Ayu?"
"Dia udah punya gebetan baru,Bu. Tapi kayaknya ditolak." Ka Dea masih saja menggodaku. Sekilas ku tatap matanya, dan dia hanya mengedipkan mata sebelah lalu minum teh hijau favoritnya.
"Sejak kapan putus? Kenapa putus?" Kini aku berbalik menatap jengah ke arah Ibu.
Ibu memang sangat menyukai Ayudia, karena Ibu nya Ayu dan Ibuku satu grup atau lebih tepatnya sudah sejak lama saling kenal. Mungkin dari semenjak mereka masih sama-sama muda. Begitu aku dan Ayu pacaran, Ibu merupakan suporter pertama yang mendukung hubunganku. Meski Ibu tidak tau sampai saat ini aku hanya berpura-pura, dan tidak sedikitpun aku menyukai Ayu.
"Jupiter, kenapa? Kalau ada masalah diselesaikan jangan langsung putus kaya gitu dong."
Aku menghela nafas lemah, "Ibu tau dari mana aku putus sama Ayu?"
"Jadi nggak putus?"
Aku menggeleng, masih fokus menyantap nasi goreng yang hanya tinggal dua sendok.
"Baguslah, ibu hampir saja patah hati mendengar kamu putus." Helaan nafas lega dari mulut Ibu, membuatku berdecak kesal. Inilah yang sangat tidak aku sukai, Ibu selalu mewanti-wanti agar aku memilih calon pacar harus sesuai dengan kriterianya, padahal aku masih sekolah. Berbeda dengan ka Dea, langsung disetujui begitu Ibu tau dia tengah menjalin hubungan dengan Bang Faro, tanpa harus adu mulut terlebih dahulu. Padahal kalau bisa dibandingkan, Bang Faro berasal dari keluarga sederhana dan jauh berbeda dari pacar ka Dea sebelumnya.
"Sabar ya adikku yang paling ganteng." Tangan jahilnya mengacak-acak rambutku.
Setibanya aku di sekolah, pandanganku langsung tertuju pada gadis berambut hitam, bermata bulat, Kara.
Aku sudah dibuat kesal olehnya sejak kemarin malam, tidak akan aku biarkan lolos lagi. Aku segera mengambil langkah cepat menyusul nya, langkah kecilnya tidak sebanding dengan langkah kakiku, sehingga dengan mudah aku bisa mengejar.
"Lepas!" Kara meronta, begitu aku menarik pergelangan tangannya.
"Apa lo terkena penyakit amnesia?" Tanyaku, masih mencengkram kuat lengannya.
"Kamu kenapa sih?!"
"Lo yang kenapa. Kenapa pesan gue gaada yang lo bales, satu pun."
"Penting banget apa, sampai harus gue bales."
"Jelas penting. Lo udah mengabaikan pacar lo sendiri."
"Apa?! Siapa yang lo maksud pacar?" Suara lain ikut menimpali dari belakangku.
"Siapa? Pacar apa maksud nya?" Celaka, kenapa Ayu bisa tiba-tiba datang kayak jelangkung gini sih.
Ayu mendekat, bahkan menarik paksa tanganku yang masih mencengkram lengan Kara.
__ADS_1
"Lo seneng banget ya godain pacar orang!" Tatapan kurang bersahabat Ayu, langsung terpancar begitu melihat Kara.
"Bukan gitu. Itu,, salah paham. Gue ga godain pacar lo."
"Lalu apa? Kaya nya udah dua kali gue lihat lo deket-deket pacar gue."
"Gue ga merasa merebut pacar lo." Kara berbalik, hendak meninggalkan aku dan Ayu. Namun bukan Ayu nanya jika belum puas mendengar jawaban yang ingin ia tahu..
"Mau kemana lo ?" Ayu menarik ransel milik Kara,
"Urusan kita belum kelar."
"Urusan kita udah kelar. Dan gue ga pernah menggoda pacar lo." Kara menepis lengan Ayu.
Sebelum keadaan semakin memanas,aku menarik lengan Ayu, mengajak nya menjauh terlebih dulu.
Ayu akan lebih cerewet dari biasanya jika sudah berkaitan dengan perempuan lain. Jiwa penguasa nya berontak begitu melihat aku dekat dengan Kara.
"Sejak kapan lo deket sama tu anak?" Aku berjalan menuju bangku, di ikuti Ayu dari belakang.
"Jupiter, jawab! Sejak kapan?"
"Dia udah bilang kan, kita gak ada hubungan apapun. Kenapa masih nanya, kaya orang bego."
"Mungkin aja dia bohong."
"Menurut lo, gue juga bohong?"
"Lo berubah akhir-akhir ini, bahkan semalam Riyan bilang lo ga ada di Arena."
Aku malas mendengar celotehan Ayu, membuatku semakin pusing.
"Lo cerewet. Sana pergi sama temen lo, gue mau tidur."
"Kita belum selesai bicara."
"Lo lupa, gue ga suka di bantah?" Aku menatap tajam matanya. Meski kecewa akhirnya Ayu pergi.
Setelah Ayu pergi, segera aku membuka ponsel dan mengirim pesan.
Anjir gue di blokir!
__ADS_1