CAMELIA

CAMELIA
episode 18


__ADS_3

Confused eps 18


Kara Kaisara


"Kenapa ajak aku ke rumah kamu?" Tanyaku Setelah Faro mengantarku pulang dari rumahnya.


"Kenapa? Gak suka ya?"


"Bukan begitu. Aku suka, bahkan aku seneng,Mamah kamu baik banget. Sampe bawain cookies segala." Aku menunjuk plastik berisi satu toples berisi cookies coklat.


"Mamah suka banget bikin kue dan kebetulan cookies itu kesukaan Alma."


Aku mengangguk, memang benar Alma sangat menyukai cookies buatan Tante Salma,Ibu Faro. Karena selama proses membuat kue, Alma sesekali mengambil cookies yang baru keluar dari oven, meskipun masih panas.


Hari ini setelah bimbingan belajar selesai,tiba-tiba Faro mengajakku pergi ke suatu tempat. Awalnya aku menolak karena kakiku masih terasa sakit,meski tidak sesakit kemarin. Aku kira dia akan membawaku ke danau seperti waktu itu, tapi justru Faro membawaku ke rumahnya.


Rumahnya tidak sebesar rumahku. Rumahnya sederhana dengan halaman luas yang ditumbuhi berbagai pohon buah dan tanaman hias, sangat nyaman dan juga sejuk. Rasanya ingin berlama-lama di tempat itu.


Faro memiliki seorang adik perempuan cantik, dan Ibu yang tak kalah cantik juga. Mereka menyambutku dengan baik, bahkan Tante Salma mengajakku membuat cookies kesukaan Alma. Aku sangat menyukai interaksi keluarga Faro,meski hidup dalam kesederhanaan tapi mereka saling melengkapi satu sama lain. Tante Salma tidak menganggapku sebagai tamu, dia justru langsung akrab begitu aku datang padahal ini pertemuan pertama.


Dengan cekatan Tante Salma membuat cookies, dibantu aku dan juga Alma, sementara Faro membeli beberapa bahan yang sempat kurang, di minimarket tak jauh dari rumah mereka.


Aku tidak pernah melihat sosok keibuan seperti Tante Salma dalam diri Ibu. Meskipun hanya sekedar membuat kue ataupun membuat hidangan lainnya, Ibu tidak pernah melakukan hal seperti itu. Berbeda dengan Tante Salma yang sangat perhatian dan membuat makanan yang disukai anak-anaknya,membuatku iri.


Dering ponsel Faro membuatku sadar dari lamunan. Faro beranjak dari motornya, melangkah sedikit menjauh dari tempatku berdiri. Aku masih menunggunya hingga beberapa menit, tidak tau apa yang dibicarakannya, tapi raut wajahnya terlihat kesal.


"Ada masalah?" Tanyaku, begitu Faro menyelesaikan panggilannya dan kembali ke tempatku berada.


"Sedikit. Aku lupa kalau hari ini ada janji bareng Dea." Aku melupakan satu hal, jika Faro masih berstatus pacar Kak Dea. Terkadang aku melupakan hal itu, seperti hari ini misalnya.


"Aku mau langsung pulang ya?"


"Iya." Sedikit tergesa, Faro melajukan motornya,hingga tidak tetlihat lagi.


"Dari Mana kamu?" Aku menoleh begitu sampai di depan kamar dan mendapati Ibu berdiri di dekat pintu kamarnya, tak jauh dari kamarku.


"Dari rumah teman."


"Sejak kapan guru les itu jadi teman kamu?"


Aku tidak menjawab, aku menunduk mencengkram erat plastik berisi toples cookies pemberian Tante Salma. Kudengar derap langkah Ibu semakin mendekat, hatiku semakin tidak karuan.


"Ibu menyuruhmu belajar, apa itu sulit? Tugasmu hanya belajar, bukan keluyuran keluar dengan lelaki seperti itu!"


"Kara minta maaf, tadi cuman main sebentar."


"Cuman kamu bilang? Pergi tanpa ijin kamu bilang cuman? Sejak kapan kamu mulai menganggap hal seperti ini, cuman. Apa karena lelaki itu yang mengajarimu?!" Suara Ibu kian meninggi,membuatku menggigil ketakutan. Ibu memang sering marah, tapi setiap kali dia marah seperti ini tetap saja masih membuatku ketakutan.


"Bukan gitu,Bu. Baru kali ini Kara keluar, itupun ke rumahnya. Nggak kemana-mana lagi."


"Sekarang belum kemana-mana. Tapi nanti? Bisa saja kalian keluar di saat Ibu tidak di rumah. Dengar baik-baik, Ibu tidak ingin mendengar ataupun melihat kamu pergi dengan siapapun,termasuk dia tanpa ijin terlebih dulu. Atau Ibu akan mengganti guru les kamu itu. Paham?!"


Ibu kembali ke kamarnya, sedangkan aku masih berdiri,tubuhku bergetar menahan tangis sejak tadi.


Setelah mengunci pintu kamar, aku langsung melemparkan diri ke atas kasur, membenamkan diri di balik selimut,meredam isak pelan yang tak bisa lagi aku tahan.


Aku meringkuk seperti janin, satu tangan masih memegang plastik berisi toples cookies yang belum sempat aku simpan,satu tangan mencengkram baju bagian depan, menahan sesak hatiku yang kian berdenyut nyeri.


Aku tidak pernah melakukan hal-hal lain yang aku sukai seperti kebanyakan anak seusiaku. Aku selalu menuruti semua kemauan Ibu, termasuk belajar dan terus belajar sampai kepalaku seperti mau pecah. Tapi sedikitpun Ibu tidak pernah memuji ataupun menghargai semua usaha dan kerja kerasku agar terlihat baik di mata Ibu.


Ibu selalu marah jika aku melakukan kesalahan sekecil Apapun, dan tidak pernah memuji meskipun semua nilaiku di atas rata-rata,itu tidak adil. Aku menangis bukan karena larangannya, tapi aku menangis karena semua tuntutannya, tapi sedikitpun Ibu tidak pernah memperhatikanku.


Nyanyian lagu DNA BTS mengalun pelan dari ponselku, pertanda panggilan masuk. Aku masih mengabaikannya hingga beberapa kali, tapi ponselku terus berdering hingga berulang kali. Aku meraba-raba di sekitar tempat tidur, mencari ponsel yang entah dimana. Begitu aku menemukan hp di dekat bantal dan melihat layar, ternyata ada banyak panggilan masuk dan pesan dari orang yang sama.


Tidak berselang lama, layar ponsel kembali nyala. Kali ini panggilan video call. Sekali panggilan masih aku abaikan, aku kira dia akan berhenti karena pengabaianku, tapi justru semakin sering bahkan tanpa jeda. Aku bangkit,duduk di tempat tidur dan menggeser tombol hijau, sesaat hanya gambar hitam kemudian munculah wajah seseorang.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanyaku begitu wajah Jupiter terlihat di layar ponsel. Tapi bukannya menjawab, dia masih diam menatapku. Untuk beberapa saat akupun ikut terdiam.


"Kalau gak mau ngomong aku matiin!" Aku Mengangkat tanganku hendak memencet tombol merah di layar.


"Susah banget sih hubungin Lo,"


Ku urungkan memencet tombol merah, begitu Jupiter bersuara.


"Kalau aku gak angkat,berarti sibuk."


"So sibuk banget jadi orang."


"Emang sibuk ko!" Elakku.


Jupiter hanya berdecak, masih menatap lurus ke arahku. Tatapannya aneh,sedikit membuatku salah tingkah, sesekali aku berdehem karena Jupiter hanya diam tidak seperti biasanya.


"Kamu video call mau apa sih sebenarnya? Kalau gak ada yang mau di bicarakan aku mau tidur."


"Tidur aja, tinggal merem."


"Tapi aku gak mungkin tidur, sedangkan ponselku masih nyala kaya gini."


"Kamu tinggal taruh ponsel dekat bantal, dan kamu tidur. Udah beres kan?"


"Eh tunggu. Sejak kapan kamu ngomong aku,kamu. Biasa juga gue,elu." Aku baru menyadari Jupiter lebih kalem bahkan dia tidak lagi menggunakan kata Lo, tapi justru kamu.


"Aku merinding dengernya." Aku mengusap kedua lenganku bergantian.


"Gak usah bawel kalau mau tidur ya merem aja. Tapi jangan di matiin."


"Aku beneran ngantuk,Jupiter. Aku mau tidur!"


"Aku ga bilang kamu bohong. Tinggal tidur repot banget."


Meski lebih diam dan kalem dari biasanya, tetap saja Jupiter sulit dibantah. Aku kembali merebahkan tubuhku di kasur, meletakan ponsel di bantal persis di sebrang bantal yang aku pakai dan mulai memejamkan mata. Aku sengaja berpura-pura tidur, agar Jupiter mau mematikan panggilannya.


Lama-lama tanpa aku sadari, aku benar-benar tertidur,bahkan aku masih mengenakan pakaian tadi, belum sempat mengganti baju atau membersihkan diri sekalipun. Entah berapa lama aku terlelap, mungkin sekitar satu jam karena aku mulai merasakan dingin begitu aku menyadari selimut masih tergeletak di sebelah,belum sempat aku pakai.


Aku terkejut melihat layar ponsel masih menyala dan Jupiter masih berada disana menatapku persis seperti tadi. Hanya sekarang dia berbaring, tidak lagi duduk seperti terakhir kali aku lihat. Kulirik sekilas jam di atas nakas, aku terkejut melihat jarum jam menunjukan pukul dua belas malam.


Astaga,,, berarti aku sudah tertidur selama tiga jam, karena seingatku terakhir kali sebelum aku tidur masih pukul sembilan malam.


"Kamu belum tidur? Kenapa ga di matiin aja," aku masih mengucek kedua mataku bergantian. Tidak Ada Jawaban,Jupiter masih diam menatapku.


"Jupiter! Kamu sebenarnya kenapa? Ditanya diem, dimatiin ga boleh." Aku semakin bingung dibuatnya.


"Aku cuman mau mastiin kamu gak nangis lagi."


"Ha? Aku gak nangis. Kapan aku nangis?"


"Mata kamu ga bisa bohong."


Aku baru ingat, sebelum mengangkat panggilan dari Jupiter aku memang menangis dan mungkin saja mataku masih terlihat merah.


"Itu bukan menangis, tapi aku habis bersihin kamar. Banyak debu jadi mataku perih."


"Semoga bukan karena debu jalanan."


"Maksud kamu?"


"Tidak ada," jawabnya acuh. Tapi aku justru melihat ada sesuatu yang disembunyikannya. Sebenarnya ada hal yang ingin aku tanyakan pada Jupiter, karena sore tadi begitu aku baru sampai di rumah Faro,aku melihat seseorang tengah memperhatikan dari jauh menggunakan motor ducati merah,persis seperti milik Jupiter.Hanya saja aku tidak terlalu yakin, karena tidak mungkin Jupiter mengikutiku sampai sejauh itu.


"Tadi siang kamu kemana? Apa kamu pergi ke suatu tempat." Meski ragu, tapi aku perlu memastikannya.


"Aku di rumah sejak pulang sekolah." Jawabnya

__ADS_1


"Beneran?"


"Aku tidak pernah berbohong, atau mungkin sebaliknya justru kamu yang berbohong." Jupiter membalikan pertanyaanya padaku.


"Bohong apa maksud kamu?"


"Aku bilang mungkin,Kara! Bukan berarti iya. Terkecuali kalau memang kamu bohong."


Obrolan yang semakin membuatku bingung, hanya berputar soal bohong dan tidak.


"Aku mau mandi." Aku bangkit, masih memegang ponsel sambil berjalan menuju kamar mandi.


"Gak mungkin kan kamu ikut ke kamar mandi,jadi sebaiknya kamu matiin. Lagipula udah malem." Aku menaruh ponsel di dekat wastafel kamar mandi,menyalakan air panas sebelum mandi.


"Aku boleh minta tolong?"


"Sejak kapan kamu perlu minta ijin? Biasa juga maksa."


"Aku serius,Kara!"


"Iya,,,iya. Mau minta tolong apa?"


"Cari aku jika kamu butuh bantuan, jangan cari orang lain."  Aku tertegun mendengar ucapannya.


"Hari ini kamu aneh banget, apa terjadi sesuatu atau mungkin kamu tersandung terus otak kamu jatuh sedikit gitu?" Godaku. Biasanya Jupiter langsung bereaksi begitu aku mengatainya, tapi kali ini dia hanya diam,meski terlihat seulas senyum tipis terbit di bibirnya.


"Tuh kan,,, aku kata-katain masih diem juga. Kamu aneh tau gak."


"Kamu boleh ngatain aku sepuasnya, kalau kamu mau."


Aku balik menatap matanya. Pertama kalinya aku bertatapan dengan Jupiter tanpa harus saling adu mulut terlebih dulu, bahkan kali ini saling menatap dalam keadaan tenang, bukan berdebat seperti biasanya. Aku baru menyadari ternyata Jupiter memiliki bola mata coklat yang sangat indah, bibirnya tipis, hidungnya mancung dan alis nya tebal. Tanpa sadar aku pun tersenyum, memperhatikan wajahnya.


Begitu Jupiter membalas senyumanku, tiba-tiba pipiku terasa panas, dan suhu kamar mandi yang seharusnya dingin justru terasa panas. Aku segera memutus pandangan,berpura-pura mengambil sikat gigi, hanya benda itu yang langsung terlihat,karena jaraknya paling dekat dengan tempatku berdiri.


"Aku mau mandi." Aku mengacungkan sikat gigi menggoyang kan kekiri dan kekanan.


"Mandi pakai air hangat,jangan lama-lama nanti masuk angin." Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Oh iya, aku ulang tahun hari ini. Kamu gak mau ngucapin?"


"Beneran?"


"Ulang tahunnya kemarin, karena sekarang udah ganti hari lagi."


"Aku gak tau. Meski telat, selamat ulang tahun Jupiter. Doa nya semoga apa yang kamu mau bisa terkabul secepatnya."


"Kado?" Jupiter menengadahkan tangannya ke arahku.


"Mau kado apa? Kamu pasti udah punya segalanya."


"Siapa bilang aku udah punya segalanya."


"Kan udah tadi Doa aja."


"Justru aku mau nagih kado, yaitu doa kamu."


"Doa itu gak bisa instan."


"Siapa bilang."


"Terserah deh!"


Jupiter tertawa melihatku berdecak kesal,karena dia terus menyela ucapanku.


"Kamu tadi berdoa semoga apa yang aku mau cepat terkabul. Dan, yang aku mau itu kamu. Jadi aku boleh tagih kadonya? Karena aku mau kadoku secepatnya." Lanjutnya, tidak ada sedikitpun keraguan ketika mengucapkannya. Aku hanya bisa terdiam,mengerjapkan mata, tidak percaya sekaligus terkejut mendengar pengakuan Jupiter.

__ADS_1


"Good night,Kara. Sampai ketemu besok. Aku masih nunggu kado dari kamu." Jupiter mematikan panggilan,aku justru tersenyum setelah Jupiter menghilang dari layar ponsel.


Layar ponsel berubah gelap, tapi tidak dengan hatiku. Seperti ada sinar terang di hatiku, perlahan sinar itu mampu menghangatkan relung hatiku yang selama ini dingin dan kosong.


__ADS_2