CAMELIA

CAMELIA
episode 51


__ADS_3

Selama perjalnana tidak ada yang berbicara sama sekali. Jupiter masih tetap diam, begitu juga dengan Nadira. Bahkan dengan sengaja Jupiter menaikan volume musik, sehingga hanya tersengar suara lantunan lagu yang mengiringi perjalnana mereka. 


Nadira tahu, Jupiter paati tidak ingin bicara padanya, bahkan lelaki itu terlihat gelisah setelah Kara memilih pulang bersama seorang lelaki yang tidak ia kenali. 


Nadira berinisiatif untuk mengecilkan volume musik,


"Kita perlu bicara," ucapnya setelah alunan musik mulai samar-samar.


"Jika kamu ingin bertanya tentang Kara, aku rasa kamu sudah tahu jawabannya." 


"Aku tahu, tapi kita pelu bicara baik-baik. Aku tidak ingin semuanya semakin kacau." 


"Itu yang sedang aku pikirkan."


Tanpa Nadira duga, Jupiter menepikan mobilnya di bahu jalan. Jupiter turun dari mobilnya menuju sebuah taman yang berada tak jauh dari pinggir jalan. Nadira segera mengikuti langkah Jupiter, meski ia tidak tahu apa yang akan Jupiter lakukan. 


Jupiter memilih sebuah kursi panjang berwarna hijau yang disediakan pihak pengelola taman, ia menepuk ruang kosong di sebelahnya. 


"Sini!" Ajaknya pada Nadira yang masih berjalan perlahan dan tampak ragu.


Nadira pun mendaratkan bokongnya pada kursi besi yang terasa begitu dingin, dan menyandarkan tubuh pada sandaran, seperti yang Jupiter lakukan. 


"Aku mau bercerita sesuatu padamu." Ucap Jupiter, manik hitamnya menerawang jauh, ke setiap sudut gelap yang hanya dihiasi lampu taman. Suasana sepi yang hanya terdengar suara kendaraan berlalu lalang, dan beberapa orang yang memilih duduk santai seperti mereka,namun jaraknya berjauhan.


"Aku adalah anak kedua dari bersaudara, kita tiga bersaudara satu perempuan dan dua laki-laki. Aku, Kak Dea, dan juga adikku David." Jupiter memulai ceritanya, sedangkan Nadira masih diam mendengarkan dengan seksama, sambil sekali-kali ia mengusap telapak tangannya yang terasa dingin. Untung saja ia selalu menggunakan pakaian panjang dan cukup hangat, jika tidak ia bisa kedinginan.


"Dari tiga bersaudara, hanya aku yang jadi penerus untuk perusahaan ayah. Kak Dea tidak bisa melanjutkan, selain karena ia memiliki seorang anak, juga kekuatannya terlalu  lemah, karena dia seorang perempuan. Sedangkan David, si pembangkang dan keras kepala yang sangat sulit untuk dikendalikan. Ayah dan ibu sudah menyerah mengurusnya, dan membiarkan dia menjadi seorang pembalap, meski aku tidak tahu pembalap jenis apa dia." Jupiter terkekeh geli, membayangkan sang adik yang kini tengah berada di Australia, tengah mengenyam pendidikan sambil menyalurkan hobi anehnya menjadi seorang pembalap. 


"Kehidupanku menjadi sangat tidak menyenangkan, bahkan sangat membosankan karena ibu mulai mengatur semua kehidupanku, dari mulai pendidikan, bahkan kehidupan pribadi. Kamu masih ingat bukan, bagaimana aku bisa berpacaran dengan Ayu, ketika kita masih sama-sama sekolah."  Nadira mengangguk, membenarkan. Ia pun masih ingat bagaimana populernya Jupiter ketika sekolah dulu, bahkan Jupiter dan Ayu menjadi pasangan paling serasi di sekolahnya, seringkali disebut sebagai Romeo dan Juliet versi muda. Selain karena mereka berdua sama-sama populer, juga karena mereka sama-sama memiliki fisik yang sama sempurnanya. 


"Lalu aku bertemu dengan Kara. Awal aku bertemu dengannya, yaitu ketika aku diajak makan malam bersama ayah dan juga ayah Kara. Malam itu aku baru menyadari jika di sekolahku ada gadis semanis dia. Aku sering melihatnya di sekolah, bahkan di berbagai acara perusahaan lainnya, namun malam itu aku baru melihatnya secara jelas dari dekat. Dari sekian banyak perempuan yang menyukaiku, hanya dia yang tidak tertarik padaku, membuatku semakin penasaran untuk mendekatinya." Nadira masih mendengarkan dengan baik, ia tidak berbicara sedikitpun, dan hanya membiarkan Jupiter mengeluarkan semua ceritanya. 

__ADS_1


"Dia sulit sekali didekati, bahkan aku harus menjahilinya terus, sebelum akhirnya dia mau dekat denganku. Awalnya aku mengira aku hanya penasaran karena dia menjadi satu-satunya perempuan yang tidak tertarik padaku, hanya saja ketika aku tahu dia juga dekat dengan Alfaro, hatiku mulai merasa tidak tenang, bahkan aku mulai merasakan yang namanya cemburu. Hingga kejadian mengerikan itu terjadi dan merubah segalanya." 


Terdengar helaan nafas berat Jupiter, Nadira tahu itu adalah awal mula semua kekacauan ini terjadi. 


"Berawal dari kesalahpahaman yang berakhir dengan kepergian Kara. Dan kamu tahu, di hari Kara menghilang, di hari itu juga aku tahu kalau dia mencintaiku. Dan aku sangat kecewa. Kecewa karena aku tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkannya, karena aku masih anak ingusan. Aku sangat putus asa, kamu tahu persis bagaimana aku saat itu." Kini Jupiter menatap Nadira, namun tatapan itu hanya sekilas dan kembali memandang kedepan, 


"Aku berusaha menjadi lelaki sukses diusia muda, supaya aku bisa melakukan apapun yang aku mau, termasuk mencari keberadaan Kara. Namun mencari keberadaanya tidak semudah yang aku bayangkan, dia menghilang seperti ditelan bumi, bahkan beberapa orang bayaran pun tidak berhasil menemukannya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyerah dan menjalin hubungan denganmu." 


Kini Jupiter benar-benar menghadap Nadira, bahkan ia menggeser duduknya, seolah ia ingin Nadira mendengarkan ucapannya dengan seksama. 


"Aku tidak bermaksud mempermainkanmu. Di Awal hubungan kita, aku memang berharap kita bisa menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai, meski saat itu aku belum mencintaimu, tapi aku berharap aku cinta bisa datang secara perlahan karena terbiasa. Aku sangat berusaha keras mencintaimu, bahkan aku tidak menolak ketika kedua orang tua kita memutuskan untuk segera melangsungkan pernikahan karen, aku berharap setelah melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, aku bisa mencintaimu, tapi ternyata tidak semudah itu." Jupiter menundukan kepalanya, ia benar-benar menyesal.


Nadira bisa merasakan aura penolakan yang mulai Jupiter tunjukan. Bahkan Nadira sudah tahu kemana arah pembicaraan Jupiter, namun ia masih tetap diam, dan tidak bereaksi apapun selain mendengarkan dan hanya bola matanya saja yang bergerak mengikuti setiap pergerakan Jupiter. 


"Lalu suatu hari aku bertemu dengan Kara, namun dengan keadaan yang sangat berbeda. Bahkan dia mengganti namanya menjadi Camelia. Aku tidak tahu kejadian apa yang telah merubahnya, namun satu hal yang aku tahu, perasaanku tidak pernah berubah padanya." 


Kini Jupiter meraih satu tangan Nadira, menggenggam tangan Nadira yang mulai terasa dingin.


Jupiter dan Nadira saling bertatapan, seakan saling menyelami perasaan masing-masing. Jupiter dengan perasaan bersalahnya dan Nadira dengan perasaan perih yang mulai menjalar keseluruh tubuhnya. 


"Terimakasih selama ini sudah mau menemaniku, dan menjadi kekasihku yang baik. Tapi, aku sangat mencintai Kara. Bahkan aku tidak tahu lagi harus berbuat seperti apa jika dia kembali meninggalkanku. Aku sungguh minta maaf, Nad." Jupiter sangat bersungguh-sungguh dengan kesalahan yang ia lakukan. 


Nadira mencoba tersenyum, meski bibirnya terasa kaku dan sulit untuk digerakkan. Ia membalas genggaman tangan Jupiter, seakan ia memberi isyarat jika dirinya baik-baik saja.


"Aku mengerti, dan aku tahu bagaimana perasaanmu selama ini. Sebesar apapun usahaku untuk membuatmu mencintaiku, aku tetap saja tidak bisa menggantikan posisi Kara di hatimu. Jika itu yang terbaik untuk kita, mari kita akhiri semua ini sekarang." 


Jupiter tidak percaya dengan kalimat yang keluar dari mulut Nadira, bahkan Jupiter mengira Nadira pasti menolak dan pasti kembali berdebat seperti waktu itu. 


"Sudah lama aku mempersiapkan diriku untuk hari ini, karena aku yakin ini pasti akan terjadi. Hidupku penuh dengan ketidakpastian, bahkan kisah asmaraku pun sama." Nadira tersenyum kecut, kembali ia harus meratapi hidupnya yang selama ini ia rasakan sangat tidak adil. 


"Jika aku menikah denganmu, bukan hanya kamu dan Kara yang akan terluka tapi juga aku. Tapi jika kalian berdua menikah, hanya aku yang akan terluka." 

__ADS_1


"Nad, kamu pasti bahagia. Percaya padaku." 


"Aku tidak lagi menginginkan bahagia, aku hanya akan menjalani sisa hidupku dengan melakukan banyak kebaikan, karena aku harus siap jika sewaktu-waktu ajal menjemputku, dalam keadaan dan waktu yang tidak aku ketahui." 


Jupiter tahu ini adalah waktu yang sulit, bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk Nadira. Tapi, benang kusut ini tidak segera diputus, selamanya akan menjadi gumpalan masalah yang tidak akan pernah ada habisnya. Menikahi Ndaira bukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah, maski membatalkan pernikahan juga bukanlah solusi yang tepat, karena orang tua Nadira pasti akan langsung menarik saham yang dimilikinya. Namun setiap keputusan memang pasti memiliki resiko, baik dan buruknya pasti ada. Dan Jupiter sudah harus siap dengan segala kemungkinan buruk apapun yang akan dihadapi. 


"Aku akan menyelesaikan yang bisa aku selesaikan, selebihnya aku akan menyerahkannya padamu. Aku harap kita masih bisa berteman seperti biasa, dan aku turut bahagia jika Kara bisa membahagiakanmu. Menikahlah dengannya, dan bahagiakan dia." Nadira tersenyum, meski jauh di dalam hatinya ia menangis. 


Tangan Nadira perlahan mengusap wajah Jupiter, wajah yang selalu ia bayangkan setiap kali ia melakukan pengobatan, dan menjadi pereda saat ia merasa kesakitan. Namun wajah ini juga yang tidak pernah disentuh sedikitpun, meski status mereka sebagai tunangan, tapi Jupiter tidak pernah menyentuh ataupun melakukan hal lainnya pada Nadira. Mereka hanya melakukan ciuman singkat, dan itupun terjadi jika dalam keadaan tertentu saja.


Dan untuk kali ini saja, sebelum ia benar-benar kehilangan Jupiter untuk selamanya, bahkan mungkin ia tidak bisa lagi menyentuh Jupiter untuk selamanya. Untuk kali ini saja, sebagai ucapan salam perpisahan ia ingin sekali menyentuh wajah Jupiter dan merasakan setiap pahatan sempurna wajah Jupiter. Ia menyentuh dari mulai kening, hidung hingga ke dagu, dan Jupiter tidak melarang Nadira melakukannya, ia membiarkan Nadira mengeksplor wajahnya. Ia tahu Nadira hanya ingin menuntaskan rasa penasarannya dan menyelesaikan tugasnya sebagai tunangan Jupiter. Karena esok hari status mereka akan berubah. 


 Nadira masih menempatkan tangannya di wajah Jupiter dengan kedua tangannya, dan masih lekat memandang Jupiter. Perlahan ia mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat bibir Jupiter, bibir yang selalu ia bayangkan berada dalam lumatan bibirnya. Namun Nadira cukup sadar diri, ia tidak berharap Jupiter mau membalas ciumannya, namun di luar dugaan Nadira, Jupiter justru menarik tengkuk Nadira dan membalas ciumannya.


Ciuman perpisahan yang begitu manis. Jupiter ******* bibir Nadira dengan lembut, dan Nadira pun tidak menyia nyiakan kesempatan ini dengan membalas pagutan tiap pagutan Jupiter. Namun semakin lama ciuman itu terasa menyakitkan, bahkan Nadira tidak kuasa lagi untuk menahan isakan yang mulai keluar dari mulutnya. 


Jupiter melepas ciumannya dan merengkuh tubuh Ndira yang mulai bergetar, "Maafkan aku,,," ucap Jupiter lirih di dekat telinga Nadira. Sedangkan Nadira hanya bisa menangis menahan sesak yang kian menghimpit hatinya,dan biarlah untuk malam ini saja ia ingin menunjukan rasa sakit dan kecewanya di hadapan Jupiter. 


Seluas apapun kesabarannya untuk Jupiter, tetap saja cinta tidak bisa dipaksakan. Bahkan segala usaha dan pengorbanannya selama ini tdk ada artinya sama sekali dimata Jupiter. Nadira tidak menyesal telah mencintai Jupiter sedalam ini, tapi ia hanya manusia biasa, ia bisa merasa sakit dan kecewa, bahkan ketika ia ingin sekali menjadi manusia egois, tetap saja tidak bisa. Ia tetap lemah, dan tidak ingin melihat Jupiter menderita karena menuruti keinginannya. 


Batas kesabaran paling tinggi yaitu ketika kita harus merelakan sesuatu yang sangat kita cintai untuk pergi. Sekuat apapun kita mencoba menahannya, tapi ketika ia tidak menginginkan untuk berada didekat kita, maka keseimbangan itu akan hilang dan pasti berakhir dengan sebuah perpisahan. 


Jupiter melepas pelukannya ketika tangis Nadira mulai mereda. 


"Aku pasti sangat menyakitimu. Aku minta maaf." Ucapnya tulus, sambil mengusap lelehan airmata Nadira yang sudah membasahi wajahnya. 


Nadira menggeleng sambil tersenyum, senyum yang sangat dipaksakan. "Aku menangis bukan karena sakit hati, tapi aku butuh pelampiasan untuk mengungkapkan segala luapan segala rasa yang ada di hatiku. Aku mencintaimu dan aku juga menyayangi Kara. Kalian berdua sama berartinya dihatiku, meski pada posisinya masing-masing." 


Jupiter tidak menyangka Nadira langsung mau menyetujui perpisahan ini. Selama ini ia salah menilai Nadira, ia mengira Nadira adalah wanita egois dan keras kepala. Tapi ternyata tidak. 


Jupiter mencium kening Nadira, sebagai ucapan terimakasih karena tidak mempersulit keadaan. 

__ADS_1


"Terimakasih. Aku sangat berhutang padamu." 


__ADS_2