
JUPITER ALFIAN
Arena, tempat yang sering aku datangi setelah pulang sekolah, kali ini sepi. Hanya ada Josh,Rian dan Daniel. Mereka semua teman satu tongkrongan,sekaligus satu sekolah denganku. Balap motor sudah menjadi bagian dari diriku. Dari sekian banyak tuntutan belajar, aku masih sering menyempatkan melakukan hobiku ini.
Di arena yang aku maksud ini, yaitu tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki nyali lebih, menguji seberapa kencang nyali dan kuda besi yang mereka tunggangi.
Siapa yang tidak mengenalku,banyak julukan yang disandang dari mulai Red devil, sampai si penguasa arena.
Satu tahun ini belum ada satupun yang bisa menyaingi kemampuanku. Aku sedikit merasa bosan, karena tidak ada lawan yang bisa menandingiku saat ini. Semua akan kalah, bahkan di putaran pertama.
Namaku kian dikenal banyak orang, terlebih aku memiliki kekasih berparas cantik, Ayudia Calra.Menjadi satu paket komplit seorang pembalap dan wanita cantiknya.
Sebenarnya aku tidak menganggap aku dan Ayu berpacaran, hanya saja aku membutuhkan pesona Ayu untuk melengkapi kesempurnaan yang aku miliki.
"Pada kemana, tumben sepi?" Daniel menghampiri, membawa satu plastik minuman soda dingin.
"Blom pada dateng, paling bentar lagi." Sahut Josh,sambil meraih satu kaleng minuman.
"Lo mau kemana?" Tanya Rian, begitu aku meraih helm yang berada di atas motor.
"Balik." Sahutku
"Masih siang, ga nunggu yang lain dateng dulu?"
"Ada urusan. Kabarin aja kalau yang lain udah pada kumpul."
Aku bergegas pergi meninggalkan arena, lima belas menit sebelumnya Ayah menghubungiku. Mengajakku ikut ke acara makan malam bersama rekan bisnisnya.
Menurutku acara makan malam yang di maksud Ayah, hanya sekedar formalitas. Pada kenyataannya selama makan malam berlangsung mereka hanya membahas masalah perusahaan atau saling pamer kekuasaan.
Tapi kali ini, Ayah menjanjikan tidak ada pembahasan bisnis seperti biasanya,hanya sekedar makan malam seperti biasa,karena orang yang akan ditemui adalah teman baiknya.
Begitu sampai di tempat tujuan, aku melihat seorang lelaki seumuran Ayah dan seorang gadis muda di sebelahnya. Wajah gadis itu seperti tidak asing. Aku mencoba mengingatnya dan ya,, aku ingat!
Dia gadis yang ada di sekolahku, aku tak mungkin salah, karena beberapa kali aku pernah melihatnya di kantin. Tapi dia sangat berbeda dari biasanya, hampir saja aku tidak mengenalnya, jika bukan karena rambut hitam panjang dan mata bulatnya, mungkin aku tidak akan ingat. Karena hampir semua siswi perempuan di sekolahku mewarnai rambutnya, sesuai trend warna terbaru.
Di sekolah dia seperti gadis biasa pada umumnya, bahkan dia kurang menonjol untuk gadis kaya seperti dirinya. Tapi malam ini dia sungguh manis, dan cantik. Rambut panjangnya terurai, mengenakan dress hitam selutut, menambah kesan manis.
Dengan canggung gadis itu memperkenalkan diri.
Namanya Kara.
Nama yang sangat lucu seperti sebuah merek santan kemasan.
Setelah memperkenalkan diri, aku masih menatapnya. Tempat duduknya berada persis di depanku, memudahkanku menatap mata bulat miliknya.
Aku masih menatapnya lekat, entah mengapa aku menyukai sikap canggung nya. Sesekali dia melihat penampilannya, mungkin dia mengira ada yang salah dengan riasan wajahnya. Tapi justru dia tampil sederhana,tapi sangat cantik.
Merasa terus diperhatikan akhirnya dia balik menatapku, dan benar saja bola mata hitam nya begitu indah,jernih dan tenang. Aku sempat berfikir kemana saja dia selama ini dan kenapa baru hari ini aku tau jika ada gadis semanis Kara.
Kara terlihat kurang nyaman berada di acara makan malam ini, tentu saja Ayah nya dan Ayahku sibuk membahas kerjasama perluasan bisnis yang akan mereka kerjakan. Dia butuh keluar dari situasi membosankan seperti ini, begitu juga denganku.
Akhirnya aku mengusulkan mengajak Kara keluar, meski aku tau Kara tidak menyetujui , aku tetap mengajak nya keluar. Aku langsung menariknya keluar, begitu Ayah Kara memberi izin.
Tangan kecilnya aku genggam,keluar dari Restoran menuju taman depan. Mungkin langkahku dan langkahnya tidak seimbang , sehingga Kara merintih kesakitan begitu telapak kakinya lecet akibat sepatu yang dikenakannya.
"Sakit?" Tanyaku.
"Menurutmu." Jawabnya ketus.
Aku suka melihatnya terus berdecak sebal, sesekali dia menggembungkan pipi dan mengerucutkan bibirnya.
Aku membungkuk memeriksa lecet yang ada di kaki nya
"Awww ,, jangan di tekan. Sakit!" Protesnya,Ingin sekali aku mencubit pipinya.
"Sorry,, ga sengaja."
Aku suka menggoda nya. Bahkan aku membuat dia berhutang budi,karena aku membawa nya keluar dari acara makan malam. Tentu saja Kara menolak mentah-mentah hutang sepihak yang aku buat,tapi aku tidak peduli. Aku tetap menganggapnya hutang, aku yakin jika tidak dianggap hutang dia pasti akan menghindar jika melihatku di sekolah.
Ingin rasanya berlama-lama dengannya,tapi tidak lama seorang pelayan datang,memberi tahu jika para Ayah sudah selesai makan malam. Aku dan Kara akhirnya kembali masuk.
"Terimakasih,sampai ketemu di pertemuan selanjutnya." Ucap Om Fathur, merangkul Ayah dan juga Aku.
"Sama-sama,lain waktu kita bertemu lagi." Balas Ayah, tak lupa Ayah juga merangkul Kara, mengusap kepalanya.
Sedangkan aku masih menatap Kara, tapi Kara justru berpura-pura mengabaikanku. Baiklah, sampai sejauh mana dia bisa mengabaikan keberadaanku.
__ADS_1
Begitu sampai di rumah, aku langsung masuk kamar. Mengabaikan beberapa panggilan telepon dari teman-temanku di arena. Mereka pasti menunggu kedatanganku, tapi kali ini aku tidak berniat datang karena ada hal lain yang harus aku kerjakan.
Beberapa kali aku mencari akun media sosial milik Kara,tapi hanya ada akun instagram,itu pun tidak banyak postingan. Hanya ada beberapa unggahan foto.
Berlanjut aku mencari informasi yang lain,tidak sulit bagiku mencari nomor ponselnya. Setelah bertanya ke beberapa orang yang cukup ahli dalam mencari informasi di sekolah, akhirnya aku tau nomor ponsel Kara.
"Rendang,Kara." Aku mengirimnya pesan.
Satu menit,dua menit,bahkan sudah setengah jam tidak ada balasan. Kara hanya membaca, tanpa membalas pesan dariku.
Ternyata dia mengabaikanku lagi. Baiklah mungkin dia perlu di ingatkan jika dia kini berada dalam pengawasanku, dan aku tidak suka diabaikan.
_________
Aku sengaja berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya,bahkan ini merupakan berangkat terpagi yang pernah aku lakukan. Aku sengaja menunggu kedatangan Kara,persis di depan pintu gerbang. Mengabaikan tatapan aneh siswa lain. Mereka pasti terkejut melihat keberadaanku sepagi ini di sekolah,biasa nya aku datang di detik-detik terakhir, tapi kini aku datang lebih awal dari anak paling rajin sekali pun.
Selang setengah jam, aku melihat mobil BMW putih mulai mendekati gerbang, itu mobilnya Kara.
Kara turun dari mobil, tatapannya langsung berubah begitu melihat senyum jahilku. Aku melambaikan tangan ke arahnya, dan dia hanya mendengus kesal dan membuang muka,menolak melihat ke arahku.
"Selamat pagi, Car." Kara berjalan melewatiku,bahkan dia mengabaikan sapa selamat pagi dariku.
Aku segera mengikutinya,berjalan persis di belakangnya.
"Car,,, Car,,,." Dia masih tidak bergeming.
"Car,,, bumbu rendang." Teriakku, dan akhirnya dia menoleh.
"Apa sih! Car,, Car,, kamu pikir aku mobil?"
"Lo dipanggil ga nyaut, gue nyapa aja ga jawab."
"Nama aku Kara. Bukan Car."
"Judes amat ya, inget lo masih punya utang sama gue."
"Utang apa sih, aku ga ngerti."
"Ahh,,lo pura-pura lupa ternyata. Mau gue ingetin?" Aku mendekat,mengikis jarak.
"Mau kamu apa?" Kara mundur begitu aku mendekatinya.
Aku semakin mendekat, bahkan Kara semakin waspada begitu punggungnya menyentuh dinding,mempermudah menakutinya.
"Jupiter!"
Ohh jangan suara itu lagi....
Aku menoleh ke sumber suara yang sangat aku kenali. Ayu datang dengan tatapan menyelidik begitu melihatku dan Kara.
"Ngapain kamu disini?" Tanya Ayu.
"Ngapain juga sama nih cewek?" Lanjutnya.Tatapan Ayu begitu tajam melihat Kara berada persis di depanku.
"Ada urusan sebentar sama dia." Balasku.
Baru satu kalimat keluar dari mulutku,Kara sudah terlebih dulu melarikan diri. Dia berlari menuju kelasnya, membuatku berdecak kesal karena belum sempat menggodanya.
Ayu segera menggandeng tanganku, menuju kelas. Aku tidak begitu suka dengan cara Ayu memperlakukanku. Kemana-mana harus bergandeng tangan dan dia akan menempel kemanapun aku pergi.
"Lo mau makan apa, sekalian gue mau pesen." Tanya Rian begitu jam istirahat tiba. Seperti biasa aku dan teman-teman pasti berada di kantin begitu jam istirahat tiba, menempati bangku paling pojok seperti biasanya.
"Gue mau es teh manis aja." Sahutku
Riyan mengacungkan jempol,langsung memesan makanan. Mataku menyusuri seluruh kantin, berharap bisa menemukan Kara. Tapi aku tidak menemukan keberadaannya, aku hanya melihat teman akrabnya tengah memesan minuman persis di seberangku.
"Mau kemana?" Tanya Ayu, begitu aku bangkit dari kursi.
"Toilet." Aku berbohong,
Aku mengikuti siswi perempuan yang aku yakin itu teman akrab Kara. Aku seperti penguntit,mengikutinya perlahan hingga ke perpustakaan.
Dan seperti dugaanku,Kara sudah berada di perpustakaan terlebih dulu.
Aku masih bersembunyi, memperhatikan mereka berdua dari balik rak buku tak jauh dari tempat Kara berada. Kara memang benar-benar menghindariku, terbukti dia lebih memilih makan siang di perpustakaan dibanding di kantin, karena dia tahu aku pasti berada di sana.
Aku tidak bisa hanya berdiam diri, akhirnya aku mengambil salah satu buku , duduk persis di depannya.
__ADS_1
Kara nampak terkejut dengan kedatanganku.
"Ini tempat umum." Sebelum Kara bersuara, aku terlebih dulu menunjuk papan bertuliskan Perpustakaan Umum.
"Boleh tinggalin kita berdua,ada yang mau gue omongin sama dia." Temannya mengangguk canggung, bahkan dia nampak masih terkejut melihat kedatanganku.
"Nad,lo mau kemana?" Kara menahan pergelangan tangan temannya, menahan agar tidak pergi.
"Gue keluar dulu, nanti gue balik."
"Nad,, lo,,." Gadis bernama Nadira itu pun pergi.
Terdengar helaan kasar dari mulut Kara,membuatku tersenyum melihatnya. Kini tinggal aku dan Kara, karena ini jam istirahat,suasana Perpustakaan sepi, hanya ada beberapa siswa yang berada di sini,selebihnya mereka lebih suka berada di kantin,taman atau di atap gedung sekolah.
Jarang sekali ada yang menghabiskan waktu di perpustakaan, bahkan ini kali pertama nya aku mendatangi tempat yang penuh dengan buku-buku seperti ini.
Aku masih memperhatikan Kara, dia masih mengabaikan keberadaanku, bahkan dia asik sendiri menyantap roti isi yang dibeli temannya tadi.
Aku semakin gemas melihatnya mengunyah roti dengan kesal.
"Kayaknya enak, gue mau coba." Aku mencomot roti isi dari tangan Kara.
"Jupiter..!" Pekiknya,nada bicaranya masih pelan.
"Ga enak, gue ga suka kacang." Aku menggigit kembali roti miliknya.
"Itu punyaku."
"Nih gue balikin." Ku kembalikan roti yang tinggal satu gigit.
"Nih... Buka mulut nya. Aaaaaa"
" Jupiter!" Kini suaranya semakin tinggi.
"Kara,,, tolong jangan berisik. Ini perpustakaan, kalau mau ngobrol silahkan keluar !" Pak Syarif, selaku pengelola perpustakaan menegur Kara, begitu dia meneriaki namaku dengan kencang.
"Maaf pak. Kara ga sengaja." Cicitnya.
Aku hanya tersenyum melihat Kara yang semakin kesal.
Kara mendelik menatap tajam ke arahku. Aku hanya mengangkat bahuku, seolah tidak peduli dan menenggak es teh manis miliknya hingga hingga tandas.
"Mau kamu sebenarnya apa?" Ucap Kara pelan, menahan emosi.
"Gue mau lo ga usah menghindar kalau ketemu gue."
"Aku ga menghindar." Elaknya.
"Tadi pagi, lo ga jawab sapaan gue."
Kara menghela nafas, "Oke, besok aku jawab, kalau kamu nyapa aku." Aku mengangguk,menyetujui.
"Sekarang kamu boleh pergi,aku mau belajar."
"Ngusir?"
"Ini perpustakaan, Jupiter."
"Siapa bilang ini kantin, lo aja yang merangkap perpustakaan jadi kantin."
"Bisa ga kamu pergi aja. Sana gabung sama temen-temen kamu."
"Gue udah pernah bilang kan kalau ini tempat umum." Kesabaran Kara mulai menipis, dia mulai merapikan buku menumpuknya jadi satu.
"Terserah." Ucapnya, kemudian dia berdiri hendak meninggalkanku.
Belum sempat dia beranjak, aku terlebih dulu menarik lengannya.
"Satu langkah pergi dari sini, aku bakal teriak kalau kita pacaran."
"Apa?!"
"Pilihan ada di tangan lo, pilih tetap disini atau gue teriak kalau lo pacar gue. Lo tau kan gue udah punya pacar? Dan lo pasti tau juga siapa pacar gue." Aku sengaja kembali menggunakan Ayu sebagai ancaman, karena semua orang tau siapa Ayu. Si wanita bar-bar yang akan menyerang siapapun yang mengusik hidupnya.
Ancamanku kembali berhasil, Kara kembali meletakan buku dengan kasar hingga menimbulkan suara cukup keras.
"Jangan marah. Lo ga takut di tegur lagi sama pak Sarif?"
__ADS_1
"Aku lebih takut dijambak pacar kamu, di banding ditegur Pak Sarif. Puas?"
Aku semakin terkekeh melihat Kara berdecak kesal. Entah kelainan apa yang aku alami saat ini, aku suka melihat Kara cemberut, mengerucutkan bibir kecil nya.