
Jupiter masih menemani Camelia hingga kondisinya membaik. Pukulan akibat benda tumpul yang mengenai kepala bagian belakang, untunglah tidak terlalu parah, hanya saja kondisi Camelia justru jauh lebih memburuk, setelah ia tahu jika Febian sudah tiada.
Tidak hanya Camelia yang merasa terkejut dengan kabar kematian Febian dan juga Nadia, keluarga besar Nadia pun sempat heboh atas kematian putri sulungnya yang ditemukan sudah tidak bernyawa di sebuah jurang dengan seorang lelaki. Tidak ada yang tahu bagaimana musibah itu terjadi, mobil yang dikendarai Febian ditemukan hangus terbakar pukul lima pagi hari.
Evakuasi mobil dan juga jasad mereka memakan waktu lama, selain medan yang cukup rumit, juga karna lokasi kejadian sangat curam dan terjal.
Jupiter menghadiri pemakaman Nadia setelah jenazah selesai di otopsi dan meyakinkan pihak keluarga jika salah satu jasad itu benar keluarga mereka. Nadira tampak lebih tegar dari kedua orang tuanya, meskipun terlihat jelas raut sedih dari wajahnya, tapi dia tidak bersikap berlebihan. Namun kabar baiknya, Nadira lebih rajin menjalani pengobatan, dan saat ini dia tengah menjalani serangkaian kemoterapi untuk mencegah sel kanker lebih menyebar.
Hari ini Camelia meminta pulang, setelah dapat persetujuan dari Dokter, akhirnya jupiter mengantar Camelia pulang.
"Kamu boleh pulang, aku mau istirahat." Ucap Camelia setelah ia sampai di apartemennya.
"Baiklah, segera hubungi aku, jika kamu butuh sesuatu." Balas Jupiter setelah ia menyimpan beberapa barang bawaannya.
Sebenarnya Jupiter enggan meninggalkan Camelia seorang diri, tapi melihat kondisi Camelia saat ini, Jupiter yakin jika Camelia butuh waktu untuk sendiri. Ia tahu, Camelia begitu terpukul dengan kepergian Febian yang begitu mendadak. Tapi disitulah Tuhan merahasiakan umur seseorang, tidak ada yang tahu sampai kapan kita masih diberi kesempatan untuk bernafas. Mungkin hari ini, atau jam ini, bahkan mungkin bisa saja hanya sampai detik ini.
Sementara itu Jupiter memilih menemui Nadira yang saat ini masih berada di Rumah sakit. Meskipun selama pemakaman Nadia mereka sempat bertemu, tapi mereka tidak pernah bicara secara langsung, terlebih setelah memutuskan untuk berpisah.
"Aku boleh masuk?" Tanya Jupiter,
"Untuk apa bertanya, kalau akhirnya kamu masuk juga." Cibir Nadira sambil merapikan rambutnya. Nadira terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya, meskipun masih terlihat pucat, tapi kini ia jauh lebih segar.
"Kamu baik-baik saja?" Jupiter mendekat, membawa kursi hingga ia bisa duduk disebelah ranjang Nadira.
"Baik. Bahkan jauh lebih baik." Balas Nadira santai.
"Aku turut berduka, atas kematian Nadia."
"Terimakasih," balas Nadira lemah. Meskipun ia tidak menunjukan kesedihannya di depan umum, namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat sedih karena kehilangan satu-satunya saudara kandung.
"Bagaimana keadaan Kara? Dia pasti terguncang karena kepergian Febian yang begitu mendadak."
"Iya,,, dia memang sangat terpukul. Aku bisa mengerti kondisinya, bagaimanapun juga Febian yang selama ini menemaninya, jika Febian menghilang begitu saja, dia pasti sangat sedih."
"Febian sangat mencintainya, sampai dia mengorbankan nyawanya hanya untuk Kara. Meskipun Kara mengalami berbagai cobaan dalam hidup, tapi dia jauh lebih beruntung dibandingkan denganku jika soal pasangan hidup, karena dia dicintai dua lelaki yang begitu luar biasa mencintainya." Nadira tersenyum miris.
"Febian tidak mungkin mencintai Kara, bukankah dia menyukai sesama jenis?"
Nadira terkekeh, "ya Tuhan Jupiter,,, apa kamu buta selama ini? Bagaimana kamu tidak menyadari jika Febian itu sangat mencintai Kara, aku saja yang jarang bertemu dengan mereka, langsung tahu sedangkan kamu yang setiap hari bertemu tidak tahu." Nadira bersecak sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak memperhatikan sekitarku, karena aku hanya memperhatikannya." Balas Febian, membuat senyum Nadira pudar.
__ADS_1
"Aku terlalu fokus dengan satu titik, sehingga aku tidak menyadari banyak bahaya yang sedang menantikan aku lengah. Sampai akhirnya begitu aku lengah, aku kehilangan titik fokus." Jupiter tersenyum miring.
"Kalian bertengkar?" Selidik Nadira.
"Tidak,, bahkan kita tidak pernah bertengkar."
"Lalu?"
"Sulit untuk dijelaskan. Tapi untuk saat ini aku hanya akan memberinya waktu untuk menenangkan diri. Aku tahu dia membutuhkannya setelah begitu banyak kejadian buruk yang ia alami. Sementara itu aku disini akan berusaha untuk mempersiapkan segalanya, karena begitu dia sudah pulih aku akan membawanya kembali."
"Kara memang pantas untuk bahagia. Jadi aku sebagai sahabatnya sangat berharap kamu bisa membahagiakannya. Dan atas nama kakakku, aku minta maaf untuk semua kesalahan yang pernah diperbuatnya." Ucap Nadira tulus.
"Aku berharap kamu juga bahagia." Balas Jupiter.
"Kalau begitu aku pamit pulang, semoga kamu cepet sembuh." Jupiter mengelus lembut rambut Nadira, sebelum ia melangkah pergi.
Nadira hanya bisa menghela nafas lemah, setelah Jupiter hilang dari pandangannya. Tidak berselang lama, Dokter Revan datang untuk memeriksa kondisi Nadira. Namun kali ini Dokter yang selalu tampan itu tidak datang sendiri, melainkan dengan seorang lelaki yang yang menggunakan snelli yang dengan Dokter Revan, namun Nadira baru pertama kali melihat Dokter itu.
"Bagaimana keadaan kamu?" Tanya Dokter Revan, sambil memeriksa obat yang mengalir dari selang infus.
"Baik Dok, saya sudah merasa baikan." Jawab Nadira.
"Siapa yang magang? Aku?" Jawabnya sambil menunjuk dirinya.
"Iya, kenapa kamu tidak memperhatikan Dokter Revan, dan malah memperhatikan isi kamar. Kamu Dokter magang, seharusnya kamu fokus, biar cepet jadi Dokter beneran."
"Apa tampangku seperti seorang yang masih belajar?" Kini lelaki itu menunjukan wajahnya lebih dekat pada Nadira.
"Aku ini Dokter!" Lanjutnya lagi, sambil menegakan tubuhnya dan mengangkat name tag yang menggantung di lehernya.
"Wajahmu tidak menunjukan jika kamu seorang Dokter, benarkan?" Nadira mencari pembelaan pada Dokter Revan, dan untunglah Dokter Revan mengangguk menyetujui ucapan Nadira.
Nadira dan Dokter muda itu saling menatap penuh ejekan, membuat Revan gemas melihat keduanya.
"Jangan saling benci, nanti berubah jadi cinta. Dokter Denis dan Nadira sama-sama jomblo kan?"
"Nggak!" Jawab mereka bersamaan, membuat Revan tertawa geli.
Hari berikutnya setelah kepergian Febian, Camelia memutuskan untuk pergi meninggalkan Jakarta. Setelah berpikir ulang, akhirnya Camelia memilih untuk pulang dan menetap disana. Ia tidak menceritakan kepergiannya pada Jupiter, karena Camelia benar-benar ingin melupakan semuanya.
Setelah berkemas, dan merapikan semua barangnya, Camelia memasuki kamar Febian. Perlahan ia membuka pintu kamar yang kini terasa begitu dingin hingga terasa menembus tulangnya.
__ADS_1
Perlahan ia memperhatikan beberapa barang yang masih tersimpan rapi, dan benerap sudah berantakan di lantai. Dengan telaten ia membersihkan tempat tidur, dan juga lemari yang terbuka. Harum tubuh Febian masih tercium jelas, bahkan Camelia sengaja mengambil satu botol parfum yang sering digunakan Febian untuk dibawanya. Jika sewaktu-waktu ia kembali merindukan Febian, ia bisa cium aroma tubuh Febian dari parfum yang diambilnya.
"Feb,,, gue kangen,,," lirih Camelia sambil memeluk kemeja yang sempat dipakai Febian. Ia memeluk erat kemeja itu dan menangis.
"Kenapa tinggalin gue,,,,"
"Lo janji bakal terus ada di samping gue, tapi ternyata lo bohong." Entah pada siapa ia berbicara, Camelia hanya ingin mengungkapkan segala keluh kesahnya, meskipun kini orang yang selalu menjadi temoatnyaengeluh sudah tidak ada.
"Gue gak bisa disini sendirian. Maaf gue gak bisa jenguk lo sebelum gue pergi, gue takut Feb,,,"
Camelia memang tidak mengunjungi makam Febian, meskipun beberapa kali Jupiter sempat mengajaknya.
Bukan karena ia tidak ingin melihat rumah baru Febian yang kini menjadi tempat peristirahatan terakhir lelaki itu, tapi karena Camelia merasa tidak sanggup jika harus melihat gundukan batu nisan itu secara langsung.
Setelah merasa puas menangis di kamar Febian, Camelia akhirnya keluar dari rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan manis antara dirinya dan juga Febian. Entah bagaimana nasib apartemen ini, karena Camelia tidak berniat menjual ataupun menempatinya. Ia hanya akan biarkan apartemen ini tetap ada, dan berharap suatu saat Febian kembali dari tidur panjangnya, dan apartemen inilah yang menjadi tujuan Febian.
Pesawat yang membawanya pergi meninggalkan negara yang menyimpan banyak kenangan, kenangan yang akan selalu kukenang selamanya di hati. Kenangan yang mungkin tidak akan pernah kembali, selamanya termakan waktu dan usia.
Jupiter tahu tentang kepergian Camelia, hanya saja ia tidak tahu pasti kemana perempuan itu pergi. Yang ia tahu, Camelia pergi meninggalkan Indonesia menuju Singapura. Ia memang membiarkan Camelia pergi, tapi bukan berarti dia akan melepaskan Camelia begitu saja. Seperti ucapannya tempo hari pada Nadira, ia hanya ingin memberikan kesempatan kepada Camelia untuk menenangkan diri, dan membenahi hatinya.
Sementara Camelia menenangkan hatinya, Jupiter pun mempersiapkan segala sesuatu yang sempat tertunda.
Salah satunya menenangkan sang ibu yang masih tetap memintanya untuk menikahi Nadira. Namun seakan Jupiter sudah tuli dan benar-benar sudah mengabaikan ucapan sang ibu, ia justru mundur dari jabatannya.
Meskipun ia harus memulai segala usahanya dari awal dan pasti sulit untuk bisa berdiri di atas kakinya sendiri,namun Jupiter yakin dengan kekuatannya sendiri. Ia yakin pasti bisa.
Waktu berjalan pasti, satu bulan sudah berlalu semenjak rentetan kejadian besar di hidupnya. Kini ia bukan lagi pengusaha muda, tapi ia adalah pengusaha yang baru merintis usaha di usia muda. Meski banyak penolakan dan meragukan kemampuannya, Jupiter tidak pernah patah semangat. Ia terus berusaha dan pantang menyerah, ia hanya perlu mengingat satu nama untuk membuatnya kembali bersemangat, yaitu Kara'nya. Hanya itu yang menjadi alasan ia bertahan sampai saat ini.
"Terima Kasih untuk pengorbanan lo yang begitu besar," ucap Jupiter sambil menatap batu nisan hitam yang sudah satu bulan lamanya tidak ia kunjungi.
"Gue kangen benget sama dia,, " ucapnya sambil menahan malu.
"Gue juga kangen sama dia. Lo belom boleh ketemu sama dia. Sebelum lo menangin tender yang di Kalimantan!"
Jupiter terkekeh, sambil menaruh satu tangkai bunga mawar merah diatas pusara batu nisan.
"Lo gak mungkin miskin cuman gara-gara beli satu buket bunga. Kenapa lo pelit banget cuman bawa satu tangkai," keluhnya sambil menaruh satu buket bunga mawar putih yang ia bawa.
"Gue hemat bukan pelit, Feb."
Mereka berdua tertawa sambil tersenyum memandang batu nisan yang bertuliskan Febian Gunawan, bukan Febian Joseph Irawan.
__ADS_1