
Hanya berselang beberapa menit setelah Jupiter pergi, Febian muncul dari arah pintu lift sebrang, yang dipergunakan Jupiter.
Camelia mencoba tersenyum manis, meski sahabatnya itu hanya melewatinya tanpa sepatah katapun. Camelia kembali mengerucutkan bibirnya, begitu senyuman manisnya tidak terbalas.
"Marah?" Tanya Camelia, sambil mengikuti langkah kaki Febian menuju dapur.
Febian tidak menanggapi, dia menyibukan diri dengan mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih dingin.
"Feb,,, marah ya?" Tanya Camelia lagi. Febian masih mengabaikannya, bahkan kini Febian hendak menuju kamar tidurnya.
"Febian!!" Pekik Camelia. Karena merasa sudah sangat diabaikan, ia akhirnya berteriak memanggil nama Febian.
"Apa?" Akhirnya Febian menoleh, sambil menghela nafas lelah.
"Kamu kenapa cuekin aku?" Tanya Camelia, menghampiri Febian yang kini berada di ambang pintu kamarnya.
"Siapa yang cuekin sih, aku cuman capek!" Camelia tidak akan percaya begitu saja, Febian bukan tipe laki-laki yang mudah lelah dan malas diajak bicara. Sekalipun dia dalam kondisi kurang baik.
"Kamu ada masalah sama Raja?" Tanya Camelia, karena Camelia tau hanya Raja yang bisa membuat mood Febian anjlok hingga ke dasar jurang terdalam.
"Salah satunya, iya." Camelia menyerngitkan dahinya. Itu hanya salah satu alasan, berarti ada alasan yang lain dari itu.
"Terus yang lainnya apa?" Selidik Camelia.
"Nanti gue cerita. Sekarang gue mau tidur, capek banget." Febian memijat-mijat kedua lengannya, berharap Camelia menyerah dan membiarkannya masuk kedalam kamar.
"Gue pijitin sambil cerita, mau?" Tawar Camelia.
"Gak perlu. Gue cuman butuh tidur aja, udah ngantuk banget."
Camelia memicingkan matanya, satu alisnya terangkat mencari kebenaran dari ucapan temannya itu.
"Serius Mel,,," Febian mencoba bersungguh-sungguh meyakinkan Camelia, yangvsebenarnya gadis itu sangat sulit di yakinkan.
"Lo marah gara-gara Jupiter ke rumah?"
"Bukan."
"Terus?"
"Gak ada terusannya. Gue cuman capek."
"Oke, gue minta maaf kalau lo gak nyaman Jupiter masuk rumah ini. Tapi jujur, itu bukan kemauan gue. Dia datang kesini, cari alamat tempat tinggal dari data gue yang ada di kantornya. Jadi gue minta maaf, kalau itu udah bikin lo gak nyaman." Tukas Camelia, setelah itu ia berbalik hendak meninggalkan Febian.
"Edward balik ke jakarta!" Ucapan Febian mampu menghentikan langkah Camelia. Seketika tubuh Camelia menegang, bahkan udara terasa begitu menusuk tubuhnya hingga menggigil.
"Apa?" Kini Camelia berbalik, menatap tidak percaya ke arah Febian.
Febian menghela nafas lemah, dan mengangguk samar. Camelia berjalan mendekati Febian, meski tubuhnya terasa limbung dan terasa berputar-putar, Camelia terus berusaha mendekati Febian.
"Lo gak bercanda kan?" Camelia mencoba meyakinkan. Bahkan kini satu tangan Camelia mengguncang-guncang bahu Febian.
"Lo pasti bercanda kan, Feb?" Camelia berharap apa yang didengarnya salah, dan Febian hanya bercanda.
"Gue juga berharap apa yang gue lihat dan yang gue tahu itu bohong. Tapi, hari ini gue mastiin sendiri dengan mata kepala gue, dan itu memang benar Edward." Febian bisa melihat bagaimana raut wajah ketakutan Camelia. Kini bergantian kedua tangan Febian memegang kedua pundak Camelia.
"Waktu kita udah nggak banyak, Mel. Gue bukannya gak suka lihat lo bahagia bareng Jupiter, tapi keadaan kita sulit. Dan akan sangat menyulitkan lagi kalau kita sampai melibatkan Jupiter. Kamu tahu persis bagaimana perangai Edward, aku yakin kamu pasti tidak ingin melibatkan Jupiter dalam masalah kita ini."
Tubuh Camelia semakin menegang begitu mendengar penuturan Febian. Camelia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya, jika Jupiter ikut terlibat dalam masalahnya dan Jupiter menjadi target balas dendam Edward berikutnya. Camelia akan merasa sangat bersalah, jika itu sampai terjadi. Sudah cukup dirinya dan juga Ibunya yang menanggung kesalahan yang sebenarnya tidak ia lakukan, jangan sampai Jupiter ikut ke dalam lingkar setan yang dibuat Edward.
"Sekarang, gue harus bagaimana?" Suara Camelia bergetar, sama bergetarnya dengan tubuhnya.
__ADS_1
Febian meraih siku Camelia, mengajak gadis itu duduk bersamanya, di sofa.
"Duduk," perintah Febian, dan Camelia mengikuti apapun yang diperintah Febian.
"Dengarkan penjelasan gue. Waktu kita sangat singkat, jadi gue sangat berharap lo gak buang-buang waktu. Kita harus segera menyelesaikan masalah kita, dan melunasi semua hutang kita pada Edward, setelah itu kita tinggalkan negara ini, dan kembali bersama kedua Ibu kamu."
"Tapi,,," Camelia masih nampak terlihat bingung.
"Gue sangat berharap lo bahagia Mel, tapi kalau lo benar-benar nekat melanjutkan hubungan lo dan Jupiter, gue gak jamin Jupiter bakal baik-baik aja." Jelas Febian, yang semakin membuat Camelia ketakutan.
"Gue harus bagaimana, Feb. Gue takut,,," kini Camelia tidak bisa menyembunyikan lagi genangan air mata yang mulai meluncur bebas dari pelupuk matanya.
"Kita harus segera selesaikan masalah ini, secepatnya. Gue udah minta bantuan Raja, cari beberapa investor tambahan. Dan segera selesaikan kerja sama kita dan Global Ink." Jelas Febian. Meski nampak raut tidak suka terlihat jelas di wajah Camelia, tapi tidak ada pilihan lain, selain harus segera menyelesaikan pokok permasalahan yang ada, sebelum kejadian mengerikan itu terulang kembali.
"Percaya sama gue. Jodoh gak akan kemana, jika dia memang benar-benar tulang rusuk lo, dia akan kembali ke sisi lo. Sejauh apapun lo pergi, dia pasti bakal kembali ke sisi lo. Tapi, tidak sekarang." Febian meraih kedua telapak tangan Camelia, menjalin menjadi satu dengan tangannya.
"Kita pasti bisa lewatin ini semua, Mel. Gue yakin lo pasti bisa. Lo gak mau kan Jupiter ikut terlibat masalh ini, dan gue juga yakin lo gak mau Jupiter terluka."
Meski samar, Febian bisa melihat anggukan Camelia.
"Sekarang udah malem, lo istirahat. Besok kita harus menemui beberapa investor baru," Febian mengelus puncak kepala Camelia, dan terlebih dulu meninggalkan Camelia yang masih duduk termangu di sofa.
Kepergian Febian meninggalkan sunyi yang semakin mencekik Camelia yang kini tinggal seorang diri. Hanya suara dentingan jam dinding yang terdengar, dan suara samar-samar deru suara kendaraan yang masih saja terdengar dari lantai setinggi ini.
Camelia mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan. Tidak ada apapun yang bisa menarik perhatiannya, membunuh rasa sunyi di hatinya. Hingga seekor kucing gembul, berjalan perlahan menghampirinya. Meski hanya menggunakan indra perasa dan penciumannya, Jupi masih bisa merasakan dimana tuannya berada.
Hidung Jupi menyentuh betis Camelia, seakan tahu sang majikan tengah dalam keadaan tidak baik, ia mendengus, dan mengeong meminta perhatian.
"Mmmm?" Camelia merasakan Jupi menelusuri betisnya dengan kepalanya.
"Kenapa? Kenapa belum tidur? Sini?" Camelia menepuk-nepuk pangkuannya. Meminta Jupi menghampirinya. Namun, Camelia sadar meskipun Jupi mendengar dan merasakan kehadirannya, tetap saja Jupi tidak bisa melihat.
"Kenapa belum tidur? Gak bisa tidur ya, kalau eomma belum tidur?" Tanya Camelia lagi. Meski ia tahu Jupi tidak akan menjawab pertanyaannya, tapi Camelia selalu merasa jika Jupi mengerti setiap ucapannya.
"Ayo,, kita tidur. Eomma butuh istirahat, besok eomma harus bekerja sangat keras, supaya kita bisa secepatnya pindah ke Singapura menyusul Ibu."
Camelia menggendong Jupi, membawanya ke kamar. Camelia memang lebih suka berbagi tempat tidur dengan Jupi, bahkan sudah menjadi kebiasaannya sejak lama. Camelia sempat merasa sangat kehilangan untuk beberapa waktu, bahkan ia sempat mengalami depresi ringan akibat beberapa waktu ia harus mendekam di penjara dan berjauhan dengan Jupi, si kucing kesayangannya.
Camelia merebahkan dirinya, menyelimuti tubuhnya hingga sebatas leher. Sedangkan Jupi, melipat tubuhnya seperti bola, meringkuk persis di sebelah Camelia, berada di bawah ketiak Camelia yang menjadi tempat kesukaan Jupi.
Mata Camelia masih belum bisa terpejam, meski ia sudah beberapa kali merapalkan mantra-mantra tidur yang sering ia lakukan. Namun, kali ini mantra itu tidak berfungsi sama sekali. Justru, matanya terus terjaga tanpa merasa ngantuk sama sekali.
Merasa sangat frustasi dengan keadaannya, Camelia hendak keluar dari dalam selimut tebal miliknya dan berniat ke dapur, untuk mencari beberapa makanan. Mungkin dengan makan bisa membuatnya merasa ngantuk, dan bisa tertidur.
Perlahan Camelia menggerakan tubuhnya, seolah tengah tidur dengan seorang bayi, dengan perlahan ia menggeser tubuhnya, takut jika pergerakannya bisa saja membuat Jupi terbangun, dan kembali mengikutinya. Jupi sudah tertidur pulas, bahkan ketika Camelia tidak sengaja menggerakan selimut sedikit kencang, tidak juga membuat Jupi terbangun.
Camelia masih duduk di pinggiran tempat tidurnya, melirik sekilas jam weker yang berada di atas nakas, sebelah ranjangnya. Jam sudah menunjukan pukul dua dini hari,dan ia belum sedetikpun memejamkan mata.
Camelia menghela nafas lemah, mengingat dua kejadian yang terjadi hari ini. Ia tersenyum samar, bagaimana bisa dua hal itu terjadi dalam waktu bersamaan. Di saat hatinya baru saja merasa bahagia, detik berikutnya ia kembali harus mendengar berita buruk yang selama ini sangat tidak ingin dia dengar. Seringkali ia berpikir, bagaimana bisa ia tidak pernah menemukan sedikit saja kebahagiaan seperti orang lain. Apa memang hidupnya hanya penuh dengan penderitaan dan dia tidak pernah diberi kesempatan sedikit saja merasakan bahagia?
Mungkin jika diingat-ingat, ia pernah merasakan kebahagiaan, yaitu ketika keluarganya masih utuh, dan salah satu lainnya yaitu ketika ia berada di dekat Jupiter. Namun, semua itu hanya terjadi sekilas, laku kembali hilang dan berganti dengan kesedihan.
Camelia masih duduk di tepian tempat tidurnya, ketika ia hendak melangkahkan kakinya menuju dapur, tiba-tiba terdengar samar suara ponselnya. Ia segera melihat layar ponselnya yang menyala, dan satu nama muncul. Nama yang baru saja berseliweran di pikirannya. Camelia masih menimang-nimang ponselnya, apakah ia akan menerima panggilan itu, atau mengabaikannya dan berpura-pura sudah tertidur.
Masih membiarkan ponselnya berdering beberapa saat, hingga layar ponselnya kembali berubah gelap, Camelia menghela lega. Berharap Jupiter tidak lagi menelfonnya, namun harapannya ternyata tidak terkabul, justru Jupiter kembali menghubunginya,kali ini ia melakukan panggilan video.
Masih sama, menimang-nimang layar ponselnya hingga beberapa saat, namun dorongan kuat di hatinya justru mengalahkan logika yang baru saja hendak ia bangun. Hati memang selalu tidak bisa berbohong, sekuat apapun. Ia membangun pertahanannya, tetap saja Camelia kalah. Hampir di detik-detik dering terakhir, akhirnya Camelia menggeser tombol hijau, dan tidak berselang lama muncullah sosok Jupiter.
Senyum hangat Jupiter adalah pemandangan pertama yang Camelia lihat. Tidak hanya hangat di lihat, tapi juga hangat hingga ke relung hatinya. Sekan senyum Jupiter menular, Camelia pun ikut membalas senyum Jupiter.
"Belum tidur?" Tanya Jupiter
__ADS_1
"Tadi udah, tapi sekarang belum, berisik hp bunyi terus." Sindir Celia, namun Jupiter tidak merasa tersinggung sedikitpun, justru ia tertawa mendengarnya.
"Aku gak bisa tidur," ucap Jupiter, sambil menggeser posisinya dari duduk, kini ia berbaring.
"Kenapa gak bisa tidur?" Tanya Camelia, yang justru melakukan hal sebaliknya. Ia justru bangkit dari tempat tidurnya, dan memilih duduk di kursi, depan meja riasnya.
"Gak tahu, inget kamu terus." Camelia hanya diam menatap Jupiter, tidak menjawab.
"Aku gak bohong," lanjut Jupiter.
"Aku gak bilang kamu bohong. Apa Nadira sudah pulang?" Tanya Camelia.
Pertanyaan Camelia berhasil membuat raut wajah Jupiter sedikit berubah, bahkan terdengar decakan kecil keluar dari bibirnya.
"Dia sudah pulang dari tadi," balas Jupiter. Camelia hanya tersenyum, sambil menganggukan kepalanya.
"Jangan bahas orang lain, kalau kita lagi bareng."
"Aku gak bahas, aku cuman tanya. Kamu aja yang sensi," cibir Camelia.
"Ternyata kucing jauh lebih beruntung ya di banding aku,"
"Maksud?"
"Jupi bisa tidur bareng kamu, setiap hari ketemu kamu, dan juga bisa setiap saat ada didekat kamu. Jadi dia jauh lebih beruntung daripada aku,"
Camelia langsung melirik ke tempat tidur, dimana Jupi berada. Mungkin suaranya cukup keras, sehingga membangunkan Jupi, karena kucing gembul itu mulai menggeliat dari balik selimut dan kembali mencari keberadaan majikannya.
Jupi sangat mengenali bau tubuh Camelia, hingga dengan mudah ia menemukan Camelia.
Camelia segera menggendong Jupi, mengangkat kucing itu dan memperlihatkan pada Jupiter.
"Haiii kamu berisik, aku jadi kebangun tahu." Camelia menggerakan kedua kaki Jupi, menggoyang-goyang kekiri dan kekanan, seolah Jupi yang berbicara.
Jupiter tersenyum dan ikut melambaikan tangannya juga,
"Hai Jupi,,,, lain kali kita tidur bertiga ya… kamu, Ibumu dan juga aku, Ayah kamu " balasnya.
"Ih,, apa sih. Kenapa juga harus tidur bertiga, dosa tidur bareng." Tukas Camelia.
"Kenapa dosa. Kan tidur bareng suami sendiri?"
"Mmm?" Camelia mendongkak, begitu mendengar kata 'suami' keluar dari mulut Jupiter.
"Aku mau kita menjadi pasangan suami istri,dan hidup bahagia. Kamu mau?" Camelia tidak langsung menjawab iya, ataupun menolak. Ia hanya diam, menatap Jupiter, sambil mengelus Jupi yang mulai terlelap lagi di pangkuannya.
"Aku cuman mau menikah sama kamu, gak ada yang lain. Kamu bersedia?" Tanya Jupiter lagi.
"Mungkin terdengar kurang romantis, bahkan tidak romantis, mengutarakan niat lewat video call, tapi aku benar-benar ingin menikah denganmu. Tolong bersabar sedikit lagi, aku pasti berusaha menyelesaikan semuanya dan hiduplah denganku."
Bisakah saat ini Camelia berteriak senang, atau justru menangis sedih? Karena ia bingung dengan perasaan sendiri.
"Kamu tidak perlu menjawab sekarang, karena aku tahu kita masih memiliki masalah masing-masing, yang harus diselesaikan terlebih dulu. Tapi bisa kan, kalau mulai hari ini kamu cari aku, jika kamu dalam kesulitan, jangan cari orang lain?" Tanpa sadar Camelia menganggukan kepalanya, menyetujui ucapan Jupiter.
"Jangan nagis, aku gak mau lihat kamu nangis apapun alasannya," Camelia segera mengusap pipinya, dan ternyata sudah basah, entah sejak kapan.
Dalam hati Camelia hanya bisa berharap, ia ingin menjadi egois untuk kali ini saja. Begitu Jupiter sudah terlelap, ia masih memandangi wajah Jupiter yang terlihat begitu tenang, dengan helaan nafas yang mulai teratur. Camelia seakan kembali diingatkan, beberapa tahun lalu, ketika Jupiter memperhatikannya tidur lewat video call, dan ternyata begitu menyenangkan melihat orang yang kita cintai tertidur lelap. Ingin rasanya Camelia menyentuh wajah Jupiter secara langsung, dan mengusap, hingga ia pun ikut terlelap tanpa perasaan takut ataupun bersalah.
__ADS_1