CAMELIA

CAMELIA
episode 25


__ADS_3

Enam tahun kemudian


Seorang lelaki bertubuh tinggi, masih lekat menatap pantulan dirinya di balik kaca, entah melihat dirinya atau dia justru tengah menatap hamparan lampu-lampu kota dari lantai 30 tempatnya berada.


Perlahan dia menghembuskan nafas pelan, seolah ada ganjalan yang membuat sesak hatinya. Sebelah tangannya masuk kedalam saku celana, dan satunya lagi memegang secarik kertas biru,usang yang sudah berubah warna.


Setiap kali ia melewati harinya yang terasa mencekik,setiap saat itu juga dia akan berdiri di tempat tinggi,sambilan genggam erat kertas biru. Kertas biru yang sampai hari ini belum juga ditemukan pembuatnya.


"Selamat malam Pak Jupiter, mobil sudah siap di lobby."


"Iya, sebentar lagi saya turun." Jawabnya pelan.


"Baik,Pak!" Lelaki berjas hitam itu meninggalkan Jupiter yang masih mematung,menatap kaca. Ia sudah hafal bagaimana kebiasaan bos besarnya itu.


"Kara, kamu dimana?" Lirihnya. Entah pada siapa ia bertanya, karena ruangan itu hanya ada dirinya seorang.


Jupiter memarkirkan mobil sport hitam miliknya di sebuah kelab terkenal. Ia masih mengenakan pakaian lengkap hanya melepas dasi yang terasa begitu mencekik lehernya.


Jupiter berjalan santai memasuki kelab,matanya melirik ke kanan dan kiri hingga seorang lelaki meneriaki namanya dari seberang tempatnya berdiri.


"Woy,,, sini!" Lelaki itu melambaikan tangannya ke arah Jupiter.


Jupiter menyerngit begitu ia menyadari ternyata kelab lebih ramai dari perkiraannya.


"Akhirnya,,, si penggila kerja hadir juga." Ledek salah seorang lelaki bernama Galih.


"Kalau bukan karena kinerja Lo yang lumayan, gue males datang." Tukas Jupiter, merebahkan dirinya di kursi.


Jupiter dan keempat temannya itu, sengaja memilih kelab sebagai tempat mereka berkumpul kali ini, biasanya mereka akan berkumpul di kedai kopi biasa. Hanya saja kali ini Galih akan melangsungkan pernikahan minggu depan, sehingga mereka meminta pertemuan kali ini berbeda dari biasanya dan kelab menjadi pilihannya.


Jupiter bukan lelaki seperti ketempat temannya yang sering mendatangi tempat seperti ini, dia lebih suka menghabiskan waktu luangnya di Apartemen miliknya atau di atap gedung kantornya.


"Gua gak nyangka si Galih ngeduluin kita berempat, gue kira bakalan Jupiter yang duluan kawin." Ledek Josh,


"Iya,,, secara dia kan udah punya calon."


Jupiter berdecak, tidak meladeni sindiran kedua temannya itu.


"Galih gak bakalan kawin kalau gak kebobolan duluan." Alpa menyeringai,menatap sahabatnya yang terlihat nelangsa padahal dia akan melangsungkan pernikahan minggu depan.

__ADS_1


"Kampret Lo,Al." Umpat Galih


"Makanya kalau maen tu pisang dibungkus, kalau lupa ngangkat ga bakalan melendung." Josh semakin meledek Galih.


"Kalian-kalian gak tau ya kalau udah on fire Itu lupa pake sarung. Jadi ya babalas." Balas Galih pasrah.


Alpha dan Josh terkekeh mendengar keluhan sahabat nya yang sebentar lagi akan menyandang status suami dari gadis bernama Ratna, dan juga akan segera mendapat gelar Ayah dalam waktu dekat.


Berbeda dengan kedua temannya yang masih asyik menggoda Galih, Jupiter justru hanya diam, sesekali ia menyesap minumannya tanpa minat.


"Lo gak capek apa kerja mulu. Lo udah kaya, sekali-kali datengin tempat kaya gini, biar otak lo ga penuh sama tumpukan dokumen." Galih menepuk pundak Jupiter.


"Noh,banyak gadis cakep,bohay dan hot. Kalau Lo bosen sama calon tunangan Lo yang lempeng itu,Lo bisa icip-icip dulu gadis-gadis disana. Mereka di jamin bisa puasin lo." Alpha menunjuk beberapa gadis lantai dansa, yang tengah berjoget-joget,meliukan tubuh moleknya.


"Apa jangan-jangan punya lo ga berdiri sama cewek, berdirinya kalau liat cowok?" Ledek Alpha


"Sialan,Lo.! " Decak Jupiter, sambil melempar cemilan ke arah Alpha.


"Lo kaya gak semanget hidup banget sih! Semangat lo kalau debat di kantor doang." Ejek Yoga,yang sedari tadi asyik membalas chat di ponselnya.


"Gue gak suka buang-buang waktu." Jawab Jupiter, datar.


Ketiga lelaki yang dikenalnya semasa kuliah hanya bisa melirik ke arah Jupiter dan Josh bergantian. Mereka tau Jupiter dan Josh berteman semenjak masih sama-sama mengenakan seragam putih abu-abu. Jadi mereka yakin Josh jauh lebih mengetahui kehidupan Jupiter.


"Kara mantan pacar lo waktu SMA?" Tanya Alpha.


"Itu udah enam tahun berlalu,Man. Mungkin saja si Kara itu udah kawin, bahkan udah punya anak. Terus udah bahagia sama suaminya. Nah,,,Lo masih aja mikirin." Galih menimpali,merasa iba melihat Jupiter seperti tidak pernah bersemangat jika berurusan dengan perempuan.


"Gue udah coba cari, bahkan gue minta bantuan orang-orang kenalan bokap gue, tapi gak ada yang bisa nemuin di mana Kara berada." Josh memang tidak pernah lelah membantu Jupiter, apalagi semenjak mereka kini sama-sama menjadi pengusaha muda, namun dengan segala kekuasaan yang mereka miliki, tidak ada satupun yang berhasil menemukan Kara.


"Entahlah, gue gak tau." Jawab Jupiter pasrah. Merasa jika usahanya selama ini sia-sia, karena tidak bisa menemukan diman Kara berada, meski sudah enam tahun berlalu.


"Lebih baik Lo mulai menata hidup Lo, gak usah nyari yang gak ada. Lagian Lo kan udah mau tunangan juga." Ucap Alpha.


"Iya, kasihan juga pacar Lo itu bolak-balik setiap jam makan siang anterin bekal, sedangkan Lo so sibuk meeting sana-sini."


Jupiter hanya menghela, memijat ujung hidungnya. Mungkin ada benarnya juga ucapan keempat temannya itu,meski terkadang saran mereka tidak masuk akal, tapi terus berlarut mengenang masa lalu juga tidak akan mengubah apapun. Selama enam tahun Jupiter terus mencari keberadaan Kara, namun sampai hari ini dia tidak bisa menemukan gadis itu. Mungkin sekarang sudah saatnya dia melupakan Kara dan membuka hatinya untuk seorang perempuan yang sudah dua tahun ini menyandang status sebagai kekasihnya.


Merasa sudah sangat bosan, Jupiter akhirnya memilih pulang terlebih dulu. Kepalanya terasa pusing akibat beberapa gelas minuman keras yang sempat di tenggaknya.

__ADS_1


Berjalan sempoyongan,meski kepalanya terasa berat tapi dia masih bisa mengendalikan diri. Sadar jika dia mengendarai mobil tanpa sopir, Jupiter tidak membiarkan dirinya terlalu mabuk.


Di tengah kerumunan lautan orang yang tengah asyik berjoget,Jupiter menabrak seorang perempuan dengan kencang, hingga tubuh orang tersebut terhuyung dan hampir saja jatuh. Tapi lengan Jupiter dengan cepat terlebih dulu menarik pinggangnya hingga perempuan itu justru seperti tengah dipeluknya.


Pelukan singkat itu berlangsung satu detik, karena perempuan itu segera meronta melepaskan diri. Tapi begitu tatapan mereka bertemu, mata Jupiter seken loncat dari tempatnya, bahkan jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.


"Kara." Tanpa sadar Jupiter menyebut perempuan di depannya dengan sebutan Kara. Dari wajah perempuan di depannya ini mirip dengan Kara, tapi dari penampilan mereka jauh berbeda. Perempuan bertubuh sexy,mengenakan dress hitam ketat dan memperlihatkan belahan dadanya,nampak berbeda dengan Karanya dulu.


"Hai… " sapa perempuan itu, membuyarkan lamunan Jupiter.


"Kara?"


Perempuan sexy itu menyerngitkan dahinya, kemudian menggeleng dan tersenyum tipis.


"Bukan. Kamu salah orang,Tampan." Perempuan itu mengusap dada Jupiter sekilas, dan pergi begitu saja meninggalkan Jupiter.


Mata Jupiter masih lekat menatap punggung perempuan itu, nampak tato bergambar bunga menghiasi punggungnya yang putih. Sebelum perempuan itu berjalan terlalu jauh, Jupiter mengejar dan mencekal tangan gadis itu,membalikan tubuhnya hingga menghadap ke arahnya.


"Kara. Kamu benar Kara ,iya kan?"


Perempuan itu mencoba melepas cengkraman Jupiter di pergelangan tangannya, namun Jupiter semakin mengeratkan cengkramannya.


"Bukan! Saya sudah bilang,anda salah orang." Elak perempuan bermata coklat, persis dengan mata Kara itu.


"Kamu bohong! Kamu Kara!"


"Hai Bung! Ada apa ini?" Seorang lelaki menghampiri dan menarik tangan Jupiter dengan keras.


"Apa kekasihku melakukan kesalahan padamu?" Tanya lelaki itu lagi.


Perempuan itu merangkul lelaki yang mengaku sebagai kekasihnya itu,


"Dia salah orang, sayang." Perempuan itu bergelayut manja di lengan kekasihnya, membuat Jupiter memalingkan wajahnya.


"Mungkin anda salah orang, dia kekasih saya,Camelia." Lelaki itu memeluk pinggang kekasihnya seolah menegaskan jika Camelia bukan orang yang di maksud Jupiter. Pasangan itu segera meninggalkan Jupiter yang tidak berkata sedikitpun.


Jupiter hanya diam di tengah kerumunan lautan orang-orang, matanya masih memperhatikan dua orang berbeda jenis kelamin tengah berdansa dengan mesra tanpa memperdulikan sekitarnya.


"Camelia,, " jupiter bergumam menyebut nama gadis itu, dia yakin itu Kara bukan Camelia.

__ADS_1


__ADS_2