CAMELIA

CAMELIA
episode 56


__ADS_3

Kondisi Camelia memang sangat memprihatinkan, terlebih badannya selalu menggigil setiap kali ia ingat kejadian hari itu, membuat Febian pada akhirnya membawa Camelia ke Rumah Sakit. Camelia mengalami demam tinggi, dan menggigil. 


Sementara itu kondisi Jupiter pun tidak kalah mengenaskan. Setelah ia sadar dari tidur singkatnya, setelah percintaan panasnya dengan Cameli, ia terbangun seorang diri. Yang tersisa hanyalah tempat tidur yang sudah seperti kapal pecah, dan pakaiannya yang berserakan di bawah lantai. Hatinya kian teriris perih ketika ia melihat, bercak noda darah yang terlihat jelas di atas seprai putih. Ia sempat termenung memandangi seperei yang masih di genggamnya, penyesalan yang kian menyiksa hatinya semakin membuat rasa bersalahnya semakin besar. Ingin sekali ia mencari Camelia, dan bersujud di kaki gadis itu, namun percuma, meskipun ia menangis dan memohon, Camelia tidak kan memakannya. 


Jupiter menyadari jika kemeja yang dikenakannya tidak ada, dan ia hanya menemukan kemeja milik Camelia yang sudah tidak layak pakai. Jupiter memungut kemeja itu dan membawanya pulang, sementara itu ia berjalan keluar dari kamar yang akan terus menjadi kenangan terindah sekaligus kenangan terburuk untuknya. 


Perlahan ia meninggalkan kamar itu, dengan hanya menggunakan kaos putih tipis, ia tidak memperdulikan bagaimana kondisinya saat ini, rambut acak-acakan, berjalan sempoyongan seperti orang mabuk, dan menggunakan pakaian yang sangat aneh. Ia tidak mau peduli lagi bagaimana penilaian orang padanya, karena menurutnya tidak ada satupun orang mau peduli padanya. 


Mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, membuat Jupiter seperti orang kerasukan, bahkan ia mengabaikan beberapa polisi yang mengikutinya dari belakang, karena beberapa kali ia melanggar rambu-rambu lalu lintas. 


Mobil yang ia kendarai berhenti tepat di depan kediaman orang tuanya, yang masih terlihat ramai karena pesat ulang tahun Aksa ternyata masih berlangsung. Semua orang terkejut begitu melihat kedatangan Jupiter dan juga beberapa mobil polisi yang mengikutinya dari belakang.


Polisi langsung meringkus Jupiter, menarik kedua lengan Jupiter dan menjadikan satu di belakang. Jupiter tidak melawan ataupun mengelak, ia pasrah bahkan ia tidak melontarkan satu patah kata pun ketika polisi memborgol kedua tangannya. 


Mala menjerit histeris begitu melihat putra kebanggaannya ditangkap polisi, ia segera berlari menghampiri Jupiter, diikuti Dito, dan juga Dea. 


"Ada apa sebenarnya ini, kenapa menangkap anak saya?" Mala langsung bertanya pada polisi.


"Anak ibu melakukan pelanggaran rambu-rambu lalu lintas, dan mencoba melarikan diri." Jelas salah satu polisi.


"Kita bisa bicarakan baik-baik. Tapi lepas anak saya, saya bisa bayar berapapun denda, tapi lepaskan anak saya!" 


"Ibu bisa mengajukan pembelaan di kantor polisi." 


"Tidak!! Jangan bawa anak saya ke kantor polisi. Saya bayar berapapun yang kalian mau! Jupiter kenapa kamu diam saja!!" Mala semakin berteriak histeris, karena putra yang ia bela tidak berusaha untuk membela dirinya sendiri, ia hanya diam dengan tatapan kosong.


"Bawa saya ke kantor polisi pak," ucap Jupiter tanpa menoleh sedikitpun pada ibu maupun keluarganya. Ia justru berjalan memasuki mobil polisi tanpa perlu diseret. 


"Jupiter apa kamu gila!" Mala mengejar Jupiter, menghadang langkahnya.


"Ibu akan segera mendapatkan apa yang ibu mau, salahkah jika aku menginginkan sebentar saja aku merasakan bagaimana rasanya tinggal di dalam sel jeruji besi. Kita impas sekarang," ucap Jupiter, kemudian ia melewati tubuh sang ibu dan memilih masuk kedalam mobil polisi. 


Sementara itu Dea hanya menyaksikan drama antara anak dan ibu itu dari jauh, ia cukup mengerti bagaimana kondisi Jupiter, dan Dea yakin Jupiter pasti tengah mengalami masa-masa sulit. 


"Sudahlah bu, Jupiter biar aku yang urus." Dea segera menghampiri ibunya, dan memilih untuk menyusul Jupiter. 


Sementara itu Mala kembali kedalam rumahnya di ikuti Ditto suaminya. Sedangkan acara ulang tahun Aksa harus dihentikan begitu saja, karena hari ini ada dua kejadian yang cukup menghebohkan keluarganya. Yaitu ketika tiba-tiba saja Nadira pingsan dan langsung dilarikan ke Rumah sakit, lalu tidak berselang lama Jupiter datang dengan segerombolan polisi yang menangkapnya. 


Dua kejadian itu cukup membuat Mala terkejut, bahkan ia langsung menghubungi beberapa kerabat dekatnya untuk meminta bantuan agar Jupiter bisa cepat dibebaskan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reputasi keluarganya jika sampai tersebar informasi penahan Jupiter. 


Sementara itu Dea mengikuti mobil polisi yang membawa Jupiter, dari belakang. Tidak berselang lama rombongan itu sampai, dan Dea pun segera turun untuk mendampingi sang adik. 


Jupiter tampak seperti mayat hidup, ia hanya mengangguk setiap kali petugas mengajukan berbagai pertanyaan. Tidak satu patah kata pun yang menyangkal atau membela diri, Jupiter justru membenarkan setiap tuduhan padanya. 


Dea merasa gemas dan kesal melihat Jupiter seperti itu, setelah polisi memberikan sanksi pada Jupiter berupa penahanan selama satu minggu, dan denda berupa sejumlah uang. Dea segera meminta pihak kepolisian untuk membebaskan adiknya bersyarat. Ia mau membayar berapapun agar pihak polisi mau membebaskan Jupiter. 


Setelah negosiasi yang tidak berlangsung lama, karena Dea menawarkan sejumlah uang yang cukup besar, akhirnya polisi membebaskan Jupiter tanpa tuntutan apapun. 


Jupiter hanya bisa tersenyum miris, bagaimana tamaknya seseorang hanya karena uang. Bahkan penegak keadilan pun bertekuk lutut hanya karena uang. Ia semakin sadar, jika manusia di belahan dunia ini tidak ada yang benar-benar adil, bahkan mereka lebih mementingkan uang dan kekuasaan daripada toleransinya pada sesama manusia, persis seperti ibunya, yang hanya menjadikannya robot untuk mencari uang dan menjadikannya seperti benda mati, yang bisa diatur sesuka hatinya. 


Selama perjalanan pulang, tidak ada yang bicara. Dea dan Jupiter sama-sama tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Bahkan ketika mobil Dea sudah masuk kedalam pekarangan rumahnya, Jupiter langsung turun dan tidak berkata sepatah katapun. Ia segera masuk kedalam kamar dan mengurung diri. 


Dea hanya bisa menghela lemah, ia sangat prihatin melihat kondisi sang adik. 


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa anak itu bisa sampai ditahan polisi, apa dia tidak malu jika sampai berita ini tersebar, mau ditaruh dimana muka ibu!" Tanya Mala, begitu ia melihat Dea yang masih memperhatikan Jupiter yang sudah hilang di balik pintu.


"Sudah lah bu, ibu tidak melihat bagaimana keadaan Jupiter. Dia sedang dalam kondisi tidak baik, apa ibu tidak merasa prihatin padanya?" 


"Hampir saja dia membuat malu keluarga, suruh dia segera membersihkan diri dan ke Rumah sakit untuk mengunjungi Nadira." 


Dea tidak habis pikir dengan ibunya sendiri, bagaimana seorang ibu tidak memperdulikan keadaan anaknya dan lebih mementingkan kondisi orang lain dan pendapat orang lain. Dea begitu prihatin melihat kondisi Jupiter. Meski ragu, ia menghampiri kamar Jupiter. Perlahan ia membuka gagang pintu, dan beruntunglah Jupiter tidak mengunci pintu kamarnya. 

__ADS_1


Dengan langkah hati-hati, Dea berjalan mendekati Jupiter. Namun matanya terbelalak begitu ia melihat pecahan kara yang sudah berhamburan di lantai, bahkan ia melihat Jupiter tengah memegang satu bongkahan kaca dan menggenggamnya dengan sangat erat. Membuat telapak tangan Jupiter mengeluarkan darah segar yang mengalir deras. 


"Jupiter!!" Dea segera menghampiri Jupiter dan segera menarik lengan Jupiter.


"Kamu gila!! Lepas pecahan kaca itu!" Dea menarik pecahan kaca yang berada dalam genggaman tangan Jupiter, meskipun Jupiter tidak ingin pecahan itu di ambil Dea. Tarik menarik tidak bisa dihindarkan, sehingga pecahan kaca itu secara tidak sengaja mengenai tangan Dea.


"Akhhh" Dea memekik kesakitan, ketika benda tajam itu menggores tangannya,


Jupiter berhenti ketika melihat Dea memegang tangannya yang sudah mengeluarkan darah segar. 


"Aku melukaimu?" Jupiter melempar pecahan kaca, sehingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. 


"Aku hanya bisa menyakitinya, kamu tahu? Dia sama sepertimu kak, dia terluka dan aku yang melakukannya!" 


"Tenang! Kamu harus tenang, kita bisa menyelesaikan semua ini secara baik-baik." 


"Tidak!! Aku sudah menyakitinya dan membuatnya meninggalkanku," cairan bening lolos dari mata Jupiter, membuat Dea semakin tidak tega melihatnya.


"Aku pasti membantumu, aku akan membantumu. Tapi kakak mohon jangan seperti ini." 


"Tidak,,, tidak ada yang bisa membantuku. Meskipun aku memohon dan mengiba, dia akan tetap pergi." Jupiter menjambak rambutnya, frustasi. Membuat Dea segera meraih tubuh adiknya dan memeluknya dengan sangat erat. 


"Jangan sakiti dirimu,,, aku mohon." Dea tidak kuasa menahan tangisnya, ia menangis sambil memeluk tubuh Jupiter,


"Kamu bisa berbagi semua kesedihanmu padaku, jangan seperti ini," pinta Dea.


"Aku menghancurkan semuanya,,, dia pergi…" 


"Dia pasti kembali, percaya padaku." Dea mencoba meyakinkan, meski ia tidak yakin. 


"Pukul aku." Pinta Jupiter begitu Dea melepas pelukannya.


"Pukul aku, aku mohon,,," Jupiter kembali memohon.


Plak,,, 


Satu tamparan melayang di pipi Jupiter, tamparan yang begitu keras.


"Aku sudah merenggutnya dengan paksa…" 


Plak,,, 


Tamparan kedua, kembali mendarat di wajahnya.


"Dia menangis,,, dan,,,"


Plak,,, 


Tamparan ketiga kembali ia rasakan, bahkan sebelum ia menyelesaikan ucapannya.


"Kamu memang pantas menerimanya," ucap Dea sambil menahan perih yang terasa di telapak tangannya, ia tidak tahu bagaimana rasa sakit akibat tamparannya, tapi Dea yakin itu pasti terasa sangat sakit, karena tangannya pun terasa begitu sakit dan perih. 


Tapi, Dea tetap tidak bisa membenarkan tindakan Jupiter yang sudah memperkosa seorang wanita, apapun alasannya Jupiter tetap bersalah. 


Setelah keadaan membaik, Dea mengobati luka yang cukup besar di tangan Jupiter. Meski ia kecewa dengan tindakan sang adik, ia tetap tidak bisa mengabaikan Jupiter begitu saja. Bahkan Dea sengaja memasukan obat penenang pada minuman yang ia berikan pada Jupiter. Dea yakin Jupiter pasti kembali membuat kekacauan atau kembali menyakiti dirinya jika tidak segera diberi obat penenang. Setelah merapikan pecahan kaca yang berhamburan di kamar Jupiter, dibantu beberapa asisten rumah tangga, Jupiter sudah terlelap tidur. 


Sementara itu, Camelia tersadar setelah hampir satu hari ia tidak sadarkan diri. Ia terbangun Febian sudah berada disampingnya. Senyum hangat langsung menyambutnya ketika ia pertama kali membuka mata. 


"Sudah bangun tuan putri. Kenapa lama sekali tertidur. Apa kamu mau menjadi putri tidur, atau kamu ingin membuatku mati cepat?" Goda Febian sambil membantu Camelia duduk. 


"Berapa lama aku tidur?" Tanya Camelia. Kepalanya masih terasa pusing, dan berkunang-kunang.

__ADS_1


"Mau minum?" Tawar Febian sambil menyodorkan gelas berisi air putih. Tenggorokan Camelia terasa begitu kering, sehingga ia langsung menerima air putih pemberian Febian.


"Sudah lebih baik?" Tanya Febian lagi, sambil memegang dahi Camelia yang sudah tidak demam lagi. 


Camelia mengangguk, ia merasa sudah lebih baik. Meski masih merasakan nyeri di bagian tubuh lainnya. 


"Mel,,, " Febian berusaha memulai pembicaraan **** ia tahu, itu bisa membuat Camelia kembali teringat dan bahkan ia bisa kembali berteriak histeris, seperti malam itu, dimana ia membawa Camelia ke Rumah sakit.


"Aku baik-baik saja Feb. Tidak usah mengkhawatirkan keadaanku, setelah aku sembuh, aku akan kembali ke Singapur, dan tinggal disana bersama ibu." 


"Tapi Mel, aku harus mencari siapa pelaku yang sudah melakukan itu padamu." 


"Aku baik-baik saja. Lagipula aku sudah tahu siapa pelakunya, dan aku tidak ingin mempermasalahkannya lagi." 


"Tidak!! Aku tidak terima. Aku harus membalas semua perbuatannya!" Febian tampak begitu kesal dan emosi.


Camelia tidak menceritakan pada Febian jika sebenarnya lelaki yang memperkosanaya adalah Jupiter. Bukan, Camelia bukan diperkosa karena Camelia tidak merasa ada paksaan meski Jupiter merampasnya dengan cara yang yang salah. Camelia tidak menyesalinya sedikitpun, maka dari itu ia tidak menceritakan kejadian itu secara detail. 


"Aku ingin memulai semuanya dari awal. Kamu mau kan terus bersamaku, meski aku sudah seperti ini?" Sorot mata Camelia membuat hati Febian sakit, meskipun di depan Camelia ia akan menuruti kemauan Camelia untuk tidak membalas dendam, tapi jauh di hati kecilnya ia tetap akan membalas semua perbuatan orang yang sudah membuat Camelianya menderita. 


"Kita akan memulai semuanya dari awal." Balas Febian sambil mengusap pipi Camelia yang masih terlihat lebam.


"Lalu Jupiter?" Tanya Febian, 


Mendendengar nama Jupiter membuat tubuh Camelia meremang, 


"Aku memang mencintainya, tapi aku tidak ingin dia menderita dengan menikahi wanita cacat sepertiku. Mungkin aku tidak berlaku adil padamu, karena aku justru memintamu tetap bersamaku, di saat aku sudah hancur seperti ini. Tapi,,"


"Aku akan menerima apapun kondisi kamu Mel. Semua yang ada di diri kamu, tanpa terkecuali." Balas Febian. 


Camelia tahu, sudah sejak lama Febian memang mencintainya. Mungkin Febian tidak menyadari, setiap kali ia datang menghampiri kamar Camelia dan membisikan kata cinta setiap malam, sebelum Febian tidur atau ketika Febian baru pulang kerja. Febian pasti mengira Camelia sudah terlelap dan tidak mengetahuinya, namun Febian lengah karena Camelia selalu tahu setiap kali Febian menghampiri kamarnya. 


 


Camelia mencoba bersikap biasa, agar Febian tidak merasa canggung setiap kali berdekatan dengannya. Lagipula Camelia memang tidak memiliki perasaan lebih pada Febian. Ia hanya menganggap Febian sebagai teman atau kakak untuknya, tidak lebih. Namun setelah kejadian ini, Camelia memutuskan untuk mencoba memulai hidup baru, bersama Febian dan mulai melupakan Jupiter. Camelia yakin, meskipun ia mencintai Jupiter tapi mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersama,di lihat dari masalah yang selalu menghadang, Camelia merasa sudah sangat lelah dan menyerah. Hingga akhirnya ia memilih untuk mengakhiri hubungannya dan Jupiter.


"Mel,,, Nadira juga dirawat disini." Ucap Febian sambil mengupas jeruk dan memberikannya pada Camelia.


"Aku ingin mengunjunginya. Sebelum kita pulang, aku ingin bertemu dengannya." Camelia tahu, dalang dibalik musibah ini adalah Nadia, kakak Nadira. Namun Camelia tidak bisa menyalahkan Nadira begitu saja hanya karena mereka adalah kakak beradik. Camelia ingin menemui Nadira sebelum ia benar-benar meninggalkan Jakarta dan tidak pernah kembali lagi. 


"Habiskan buahnya, setelah itu kamu diantar suster perawat untuk menemuinya, aku ada sedikit urusan. Nanti aku kembali." 


Camelia mengangguk dan segera menghabiskan buah yang dikupas Febian. 


Diantar suster perawat menggunakan kursi roda, Camelia diantara ke kamar yang terletak satu lantai di atas kamarnya. Kamar yang pastinya jauh lebih mewah dibandingkan kamar tempatnya dirawat. Perlahan pintu dibuka oleh suster perawat, dan sosok Nadira tengah duduk di bangkar kamar rawatnya. Ia tampak pucat, bahkan wajahnya terlihat begitu putih seperti mayat. 


"Kara?" Nadira terkejut melihat Camelia datang menghampirinya,


"Kamu boleh keluar sus, nanti aku panggil kalau aku sudah selesai." Pinta Camelia, suster perawat pun meninggalkan Camelia dan juga Nadira. 


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Nadira, sambil mencoba turun dan menghampiri Camelia yang masih duduk di kursi roda. 


"Aku baik. Bahkan lebih baik dari kemarin." 


Nadira tidak yakin dengan apa yang diucapkan Camelia, ia semakin mendekati Camelia dan bersimpuh di dekat kaki Camelia. 


"Aku minta maaf, sungguh… aku minta maaf." Ucap Nadira sambil berlutut di depan Camelia.


"Aku datang kesini bukan untuk melihatmu seperti ini, tapi aku ingin kamu mendengar bagaimana kehidupanku selama ini." 


Perlahan Camelia mulai bercerita dari awal mula hidupnya hingga saat ini, Camelia mungkin tidak menyadari kehadiran orang lain yang juga ikut mendengarkan ceritanya, namun Nadira sudah menyadari kehadiran dua orang itu, dan ia memang sengaja tidak memberitahukan pada Camelia agar dua orang itu ikut mendengar kisah hidup Camelia. 

__ADS_1


Ternyata semua hal buruk yang menimpa Camelia selama ini, semua berasal dari perbuatan Dea, yang terus berdampak buruk pada kehidupan Camelia. 


Terkadang hal yang sering kita anggap sepele justru berdampak fatal untuk orang lain, seperti yang dialami Camelia. 


__ADS_2