CAMELIA

CAMELIA
episode 39


__ADS_3

Camelia 39


Jupiter segera bergegas menuju kantor, menyelesaikan beberapa pekerjaan yang ia tunda semenjak pagi. Untung saja ada orang kepercayaannya yang bisa mewakilinya menghadiri rapat pagi tadi. 


Dengan langkah tergesa ia segera memasuki ruangannya, di sambut hangat sekretaris yang sudah menunggunya. 


"Ada tamu, sudah menunggu kehadiran bapak dari tadi." Ucap sekretaris yang selalu berpakaian sexy itu.


"Siapa?" Tanya Jupiter, dia tidak merasa memiliki janji dengan siapapun, termasuk dengan sahabatnya Alfa ataupun Josh.


"Beliau meminta saya untuk tidak memberitahu Bapak. Jadi bapak bisa mengecek nya sendiri." 


Merasa penasaran, Jupiter Pun bergegas membuka pintu untuk memastikan siapa yang ingin bertemu dengannya tanpa membuat janji terlebih dahulu.


"Dari mana saja kamu?" Sura yang begitu familiar langsung terdengar begitu tatapan mereka bertemu. 


Di ruang tunggu tampak dua wanita yang begitu Jupiter kenali, yaitu Dea kakaknya dan juga Mala, Ibu Jupiter.


"Aku ada urusan, Bu." Jupiter segera menghampiri perempuan yang telah membesarkannya itu. Meski tampak raut wajah kesal, Jupiter mencoba bersikap biasa dan duduk disebelah sang Ibu. 


"Urusan apa yang membuat kamu tidak pulang seharian?!" Masih dengan nada kesal, Mala memberondong putranya dengan pertanyaan. 


"Urusan kerja, bu. Urusan apalagi coba." Dea mencoba menenangkan sang Ibu, agar adiknya terhindar dari amarah Ibunya.


"Untuk apa banyak pegawai, tapi tidak bisa membantu pekerjaanmu. Kamu bisa meminta salah satu karyawan terbaik di sini, untuk mewakili semua pekerjaanmu." 


"Iya, bu. Jupiter sudah meminta salah satu perwakilan dari sini untuk menggantikan rapat."


"Lalu kenapa kamu tidak mengurus Nadira? Setiap saat dia menanyakan keberadaanmu, dan kamu sama sekali tidak peduli padanya? Dimana letak nuranimu, dia itu calon istrimu Jupiter!!" 


"Sudahlah bu. Ibu gak perlu marah-marah, Jupiter pasti lelah karena bekerja semalaman. Dan itu juga untuk masa depan dia dan juga Nadira. Lagipula Nadira dijaga dengan baik keluarganya, dan aku juga bolak-balik kesana untuk menjenguknya." Dea masih membela adiknya, meski ia tahu Jupiter menghilang bukan karena pekerjaan. 


Sedangkan Jupiter hanya menghela lemah, bagaimanapun juga ia tidak bisa menyala setiap ucapan Ibunya, karena sedikit saja ia salah ucap maka masalahnya akan jauh lebih panjang dan rumit. 


Untuk mempersingkat amarah sang Ibu, akhirnya Jupiter berjanji jika setelah pulang kantor ia akan menjenguk Nadira yang masih berada di Rumah sakit.  Setelah mendapat janji dari anaknya, Mala segera bergegas pulang dan meninggalkan Dea, dan Jupiter yang masih berada di ruang kerja Jupiter.


"Darimana kamu sebenarnya?" Tanya Dea, 


"Kakak yakin kamu pergi bukan karena urusan pekerjaan, tapi karena urusan lain. Nadia sempat memberitahu kakak, kamu pergi begitu saja setelah mendapat panggilan dari seseorang." Selidik Dea.


"Aku memang benar-benar ada urusan kak." Elak Jupiter.


"Kamu bisa membohongi ibu,,"


"Tapi tidak dengan kakak?" Sela Jupiter.


"Dengar kakak. Kakak tidak akan menghakimi kamu seperti ibu ataupun keluarga Nadira, tapi akaka perlu tahu kemana kamu pergi begitu saja di saat Nadira tengah kritis." 


Jupiter menghela, membuang nafas berat. Mungkin lebih baik jika ia berterus terang kepada salah satu keluarganya tentang keberadan Kara, ia yakin Dea bisa membantunya dan tidak akan menghakimi pilihannya, seperti janji Dea tempo hari. 


"Iya,,, aku memang pergi bukan karena urusan pekerjaan. Tapi karena aku menemui Kara." 


"Apa?!" Dea terkejut mendengar nama Kara, 


"Dimana dia sekarang?" Dea menggeser duduknya lebih dekat dengan Jupiter. Ia sangat penasaran dengan keadaan Kara.


"Aku tidak akan memberitahu kakak dimana dia sekarang, sebelum kakak berjanji tidak akan menyakitinya ataupun menjauhkanku darinya lagi, seperti dulu." 


"Aku sudah berjanji, aku tidak akan menyakitinya lagi. Kakak mohon pertemukan kakak dengannya, satu kali saja." Dea memohon pada adiknya untuk di pertemukan dengan Kara, karena bagaimanpun juga Dea masih berhutang banyak pada Kara. Dan yang paling terpenting Dea hanya ingin meminta maaf pada Kara, karena kecerobohannya beberapa tahun silam. 


"Aku akan mempertemukan kakak dengan Kara. Tapi tidak sekarang-sekarang, karena kondisi Kara masih sangat sulit dipastikan. Aku takut sedikit saja aku salah melangkah, dia akan kembali menghilang seperti dulu." Dea mengerti dengan kekhawatiran yang dirasakan Jupiter. Karena sedikit saja kesalahan bisa membuat seseorang pergi, seperti dirinya dan juga Alfaro. Dea tidak ingin Jupiter mengalami hal yang sama dengan dirinya. 


"Lalu bagaimana dengan Nadira?" 


"Itulah masalah terbesar yang aku hadapi saat ini, dan Kara sudah tahu jika aku adalah kekasih Nadira." Jupiter menghela, ia sangat menyesali keputusan orang tuanya dan  menyetujui pertunangan dirinya dan Nadira. 


"Untuk masalah ini, kakak tidak bisa banyak membantumu, karena hanya kamu, Kara dan Nadira yang bisa menyelesaikan masalah kalian. Tapi, sebisa mungkin kakak akan selalu mendukung kamu." Dea menepuk punggung adiknya, memberi semangat agar Jupiter tetap memperjuangkan cintanya. 


"Kakak hanya perlu seperti tadi. Menolongku jika tiba-tiba saja ada serangan mendadak dari Ibu ataupun keluarga Nadira." Kekeh Jupiter. Dan Dea pun ikut tersenyum.


Meski memiliki banyak halangan tapi memiliki Dea dan Kara di belakangnya, membuat Jupiter tidak merasa takut sedikitpun. Dan untuk melancarkan aksinya, Jupiter datang menjenguk Nadira ditemani Dea. 

__ADS_1


Ia sengaja membawa sang kakak hanya sebagai tameng jika sewaktu-waktu Jupiter kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan dari keluarga Nadira. 


Jupiter dan Dea segera menuju Rumah sakit setelah Jupiter menyelesaikan beberapa pekerjaan. Sebelum berangkat Jupiter terlebih dahulu mengganti pakaian karena masih terlihat jelas ada beberapa bercak makanan yang menempel pada kemejanya, tidak lupa juga ia menghubungi Kara, memberitahu gadis itu jika ia akan terlambat datang. 


Melihat bagaimana interaksi Jupiter dan Kara membuat Dea tersenyum bahagia. Meski tidak melihat secara langsung interaksi keduanya, tapi Dea bisa merasakan pancaran kebahagiaan dari keduanya, dan Dea sangat bahagia bisa melihat senyum merekah terukir dari bibir adiknya, yang selama ini jarang terlihat.  


Mungkin saja jika Dea tidak menyebabkan kekacauan, Jupiter dan Kara pasti sudah bahagia saat ini. Namun seberapa besar rasa bersalahnya, tidak akan membalikan waktu. Dan untuk menebus rasa bersalahnya, ia berjanji akan membantu adiknya, hingga ia benar-benar menemukan kebahagiannya. 


Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di Rumah sakit, dimana Nadira dirawat. Mereka berdua berjalan beriringan menuju kamar tempat Nadira berada. Sebelum membuka pintu, Jupiter sempat menghela, memberi kekuatan pada dirinya jika sewaktu-waktu ia dihadapkan dengan pertanyaan yang sulit. 


Begitu pintu terbuka, tampak Nadira masih terbaring, meski terlihat sudah lebih baik dari terakhir kali Jupiter melihatnya. Di sisi ranjang ada Dokter Revan dan juga dua suster yang tengah memeriksa kondisi Nadira. 


"Bagaimana kondisi kamu?" Tanya Jupiter, ia langsung menghampiri tempat tidur Nadira. 


"Sudah mendingan." Jawab Nadira lemah. Wajah Nadira masih sangat pucat, bahkan tampak lebih kurus.


"Keadaannya sudah mulai stabil, hanya tinggal menunggu pemeriksaan selanjutnya. Jika hasilnya bagus, lusa sudah boleh pulang." Jelas Dokter Revan. 


"Kalau begitu saya permisi. Semoga lekas sembuh, Nadira." Ucap Dokter Revan,


"Terima Kasih, Dok." 


Dokter Revan akhirnya keluar ruangan. Meninggalkan Jupiter, Dea, Nadira dan juga Nadia yang masih diam di kursi tanpa bereaksi sedikitpun. 


Jupiter menyadari jika Nadia pasti marah karena pada waktu itu ia meninggalkan Nadira seorang diri untuk menemui Kara. Seakan tidak peduli dengan sikap kurang bersahabat dari calon kakak iparnya itu, Jupiter duduk di sebelah bangkar tempat Nadira berbaring. 


Jupiter menggenggam tangan Nadira, "maaf kemarin aku gak datang, ada banyak pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan begitu saja." 


"Aku baik-baik saja." Balas Nadia, sambil menggenggam lengan Jupiter lebih erat, seakan ia tidak ingin lelaki itu kembali meninggalkannya. 


"Pernikahan kalian akan dipercepat menjadi dua bulan lagi. Kondisi Nadira yang tidak pasti, lebih baik dipercepat dan setelah menikah kalian bisa tinggal di Singapura untuk pengobatan Nadira lebih lanjut!" Nadia ikut menimpali. Bahkan seolah ia adalah orang yang paling berhak menentukan keputusan.


"Kenapa kamu mengambil keputusan sebelah pihak? Kenapa kamu tidak bertanya terlebih dahulu pada adikku. Apa dia menyetujuinya atau tidak. Ini pernikahan mereka, kenapa kalian tidak menghargai keputusan dari keluargaku juga." Dea yang merasa tidak terima dengan keputusan sepihak yang diajukan keluarga Nadia, ikut angkat bicara. 


"Apa kamu bilang? Keputusan sepihak? Ini juga keputusan dari keluarga kalian. Ibu kalian juga meminta pernikahan ini dipercepat." 


"Apa?"


"Tante Mala yang mengusulkan rencana ini. Dan keluargaku hanya menyetujui, apa itu salah?" 


"Sudah,,, tidak perlu bertengkar. Aku menyetujui usul tante Mala. Lebih baik kita segera menikah, lagipula apalagi yang kita tunggu. Kamu tidak perlu bekerja terlalu keras, karena semua saham milik keluargaku akan menjadi milikmu seutuhnya." Ucap Nadira. 


"Kenapa kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk mengutarakan keinginanku. Dari awal kita pacaran sampai akhirnya kita tunangan, semua rencana keluarga dan juga dirimu. Tidak bisakah kali ini kamu mau mendengar keinginanku." 


"Aku hanya ingin kita menikah. Apa itu salah? Kamu tahu aku tidak akan hidup lebih lama lagi." 


"Jangan selalu mempergunakan penyakitmu sebagai alasan untuk menahanku. Hidup dan mati tidak ada yang tahu, bisa saja kamu sakit tapi yang terlebih dulu mati aku. Kita tidak akan pernah tahu. Jadi aku mohon. Tolong untuk kali ini saja dengarkan permintaanku." 


Wajah Nadira sudah memerah, karena ia tahu apa yang akan ia dengar. 


"Tidak,,, aku tidak mau mendengar apapun lagi. Aku mau kita segera menikah!!" Tegas Nadira.


Jupiter segera melepas tautan tangannya, ia beranjak dari tempat tidur Nadira. 


"Yang akan menikah adalah aku, jadi tidak akan ada pernikahan sebelum aku yang menyetujuinya." Jupiter merapikan jas yang ia kenakan, "Aku masih banyak pekerjaan, jadi aku pamit pulang." Lanjutnya lagi.


"Jupiter!!" Nadira meneriaki nama Jupiter, namun Jupiter terus berjalan meninggalkan ruangan Nadira tanpa memperdulikan teriakan Nadira yang sudah mulai menangis. 


Dea tidak melakukan apapun, ia hanya mengikuti langkah adiknya keluar dari ruangan Nadira. Namun baru saja mereka keluar tiba-tiba saja Nadia berlari menghampiri Jupiter dan melayangkan satu tamparan keras di wajah Jupiter. 


"Dengar, sekali saja kamu melukai adikku, aku akan hancurkan hidupmu." Ancam Nadia.


"Aku tunggu." Balas Jupiter santai. 


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Dea ketika mereka sudah berada di dalam mobil hendak pulang. 


"Aku baik-baik saja kak." Balas Jupiter.


"Pasti sakit," Dea meringis membayangkan tamparan keras yang mendarat di wajah Jupiter.


"Kalau aku bilang gak sakit itu bohong, karena memang sakit. Tapi, aku mau menemui obatku, dia bisa mengobati segala jenis sakit yang aku alami." Jupiter tersenyum, mengerlingkan matanya. Dea seakan tahu maksud dari ucapan adiknya, ia hanya tersenyum menanggapi. 

__ADS_1


Setelah mengantar Dea sampai kerumah, Jupiter segera bergegas menemui Kara. 


Ucapannya pada sang kakak bukan hanya bualan semata, karena pada kenyataanya rasa sakit akibat tamparan yang di terimanya langsung hilang begitu ia melihat senyum manis terpancar dari wajah Kara. 


Sesuai janjinya, Jupiter membawa Kara ke apartemen miliknya. Meski bukan tinggal bersama, tapi untuk malam ini saja ia akan mengajak Kara tinggal di rumahnya.


"Apartemenmu besar sekali. Kamu beneran tinggal disini sendirian?" Tanya Kara as Camelia, sambil mengelilingi setiap sudut apartemen milik Jupiter, yang jauh lebih bagus daripada miliknya. 


"Aku tinggal sendiri. Tapi sebentar lagi aku akan tinggal berdua, bahkan mungkin bertiga." Balasnya sambil memeluk Kara dari belakang. 


Jupiter menaruh dagunya di pundak Kara, menghirup aroma segar yang ia cium dari rambut hitam milik Kara.


"Pasti menyenangkan bukan memiliki keluarga utuh," balas Kara sambil mengelus punggung tangan Jupiter yang kini melingkar di perut ratanya. 


"Pasti. Dan aku mau kita memiliki keluarga utuh yang bahagia." Jupiter mencium pelipis Kara, menempelkan hidungnya berlama-lama, seolah wangi tubuh Kara candu untuknya. 


"Memangnya kita mau menikah?" Goda Kara. 


Jupiter yang tidak suka dengan pertanyaan Kara, segera membalik tubuh yang ada di dalam pelukannya. 


"Kamu tidak mau menikah denganku?" Selidik Jupiter dengan satu alis terangkat.


 


"Belum tentu." 


"Kara!!" 


Kara justru terkekeh, melihat Jupiter merajuk. Ia segera mengalungkan kedua tangannya di leher Jupiter. 


"Aku mau menikah denganmu, setelah masalah kita selesai. Dan juga setelah aku mendapat kembali semua hakku yang diambil paksa oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Jadi, sebelum itu selesai kita hanya akan seperti ini dulu." 


"Aku bisa membantumu." 


"Aku tau, kamu pasti akan membantu. Tapi, ini masalah yang aku perbuat, aku tidak ingin melibatkanmu dalam masalahku."


"Masalahmu, masalahku juga,,," Kara segera membungkam mulut Jupiter dengan bibirnya. Ia tahu lelaki itu tidak akan mau berhenti mencari alasan untuk membantunya, tapi Kara tidak ingin melibatkan Jupiter apalagi sampai membahayakannya. 


"Aku pasti bisa. Percaya padaku." Kara melepas ciumannya, dan mengusap wajah Jupiter dengan lembut. Sementara Jupiter tidak bisa memaksa lebih jauh, karena ia takut jika ia bertindak lebih jauh dan tidak mempercayai Kara, Jupiter takut Kara akan kembali menghilang dan meninggalkannya. 


"Aku percaya sama kamu." Balasnya. 


"Pipimu merah dan sedikit panas. Kenapa?" Kara menyadari jika pipi Jupiter sebelah kanan, terasa lebih hangat dan warnanya sedikit merah. 


"Ah… ini sedikit kecelakaan tadi."


"Kecelakaan apa yang bisa membuat wajah merah seperti  ini?" Kara masih mengusap pipi Jupiter dengan sangat perlahan, bahkan Jupiter terlihat meringis ketika Kara sedikit menekan pipinya. 


"Ayo,,, aku obati." Kara mencoba melepas tangan Jupiter yang masih melingkari pinggangnya. Namun Jupiter tidak mau melepas, dan justru malah mengeratkan kedua tangannya.


"Aku obati dulu,,," pinta Kara, ia kembali mencoba melepas tangan Jupiter.


"Aku gak butuh obat, aku butuh kamu." Jupiter kembali meraup bibir Kara, dan melumatnya perlahan. 


Seakan tahu apa yang diinginkan Jupiter, Kara tidak mengelak ataupun menolak, justru ia membalas tiap lumatan Jupiter dan mengimbangi setiap gelombang panas yang kini mulai menjalar keseluruh tubuhnya. 


Jupiter mendorong tubuh Kara hingga punggungnya menyentuh kasur empuk milik Jupiter. 


Ciuman yang kian panas, dan tak terkendali karena bukan hanya bibir Jupiter yang bekerja, namun tangannya pun ikut menelusuri setiap inci tubuh Kara. 


Sapuan lembut yang dirasakan Kara begitu tangan Jupiterasuk kedalam kaos yang ia kenakan, membuatnya hilang kendali,


"Ahhh,,,," desahan lolos dari mulut Kara. Membuat Jupiter semakin hilang kendali. 


Namun sebelum Jupiter melanjutkannya lebih jauh, ia segera melepas ciumannya dan menghela lemah.


"Aku bisa gila." Ucapnya sambil mencium kening Kara,


"Maaf, aku sudah keterlaluan." Ia membelai wajah Kara yang masih berada di bawah kungkungan tubuh besarnya. 


Sedangkan Kara tahu, jika lelaki itu tengah menahan mati-matian hasrat yang sudah berada di puncak kepalanya, ia segera membelai wajah Jupiter menarik kepalanya dan memeluk tubuh Jupiter dalam dekapannya.

__ADS_1


"Begini lebih baik." Bisiknya, sambil perlahan mengusap punggung Jupiter. 


 


__ADS_2