
"Aku hanya ingin menceritakan pengalaman hidupku, karena aku ingin kamu tidak lagi membandingkan hidupmu dan juga orang lain." Camelia memulai ceritanya, sedangkan Nadira mendengarkan dengan seksama.
"Setelah kejadian waktu itu disekolah, ibu memilih bercerai dengan ayah, dan membawaku pindah ke Singapur, untuk menghindari tersebarnya video siaran langsung yang sengaja direkam oleh Ayu." Mata Camelia melihat ke arah pantulan cahaya dari jendela, menerawang jauh dan mengingat awal mula hidupnya berubah.
"Di tempat baru, aku melanjutkan sekolah tapi tidak sampai jenjang perguruan tinggi, karena ternyata vidio itu sudah terlanjur menyebar dari satu orang ke orang lain, sehingga aku menjadi bahan bullyan teman-temanku di sekolah. Saat itu aku masih mau bersekolah, meski mereka menganggapku sebagai wanita murahan, tapi aku tidak memperdulikan ucapan mereka dan memilih tetap fokus. Tapi, ternyata mereka tidak sampai hanya mengataiku saja, mereka bahkan mulai melecehkanku. Hingga akhirnya aku dibawa kembali ke Indonesia, lebih tepatnya aku tinggal di pelosok desa kecil di Solo. Awal mula aku tinggal disana cukup baik, apalagi aku bertemu dengan ibu kandungku mama Nia, meskipun dia tidak mengenaliku, tapi aku begitu bahagia ketika bertemu dengannya."
Nadira semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Camelia, ia merasakan bagaimana sulitnya Camelia menjalani hidup.
"Ketika aku tinggal di Solo aku sempat merasakan bagaimana rasanya mengenyam pendidikan perguruan tinggi, aku menjadi salah satu murid yang cukup berprestasi, bahkan berkali-kali aku datang ke Jakarta untuk menghadiri undangan dari universitas ternama, salah satunya universitas tempat kamu dan Jupiter berada. Aku hanya bisa melihat kalian dari kejauhan, aku tidak berani mendekat karena aku merasa begitu malu dan tidak pantas berteman dengan kalian lagi. Kalian tampak begitu dekat satu sama lain, tapi saat itu aku tidak tahu apakah kalian sudah menjalin hubungan atau belum." Camelia terkekeh pelan, ketika ia membayangkan dirinya waktu itu, ia hanya bisa bersembunyi di balik ribuan para mahasiswa lainnya, agar ia tidak dikenali Nadira dan juga Jupiter.
"Setelah beberapa kali datang ke universitas itu, aku baru menyadari setelah semester lima kalian tidak lagi berada disana dan memilih melanjutkan pendidikan di luar negri. Aku sedih sekaligus bahagia, karena kalian bisa mengejar impian kalian bersama. Lalu setelah itu aku bertemu Nathan." Raut wajah Camelia berubah sendu ketika ia mengingat sosok lelaki bernama Nathan.
"Nathan lelaki baik yang mulai mendekatiku, awalnya kita hanya berteman. Namun lama-lama Nathan mulai menyatakan perasaanya padaku. Aku tidak lantas menerimanya sebagai kekasih, aku belum mau menjalin hubungan apapun dengan lawan jenis, hingga suatu hari entah mendapat rekaman video itu dari mana, hingga Nathan mulai menganggapku wanita murahan, sama seperti yang lain. Dan Nathan mencoba memperkosaku," tubuh Camelia menegang, setiap kali ia teringat kejadian itu.
"Nathan mencoba memperkosaku, setelah ia mengundangku datang ke apartemen miliknya. Aku mencoba mempertahankan satu-satunya harga diri yang aku miliki, hingga tanpa sengaja aku menusuknya dengan pisau buah yang terletak tidak jauh dari kamarnya. Nathan kesakitan, dan ia pingsan setelah ia mengeluarkan begitu banyak darah."
Camelia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, terisak pelan.
"Aku ketakutan dan sangat takut melihat darah yang mulai mengalir dari perut Nathan dan mulai menyebar di lantai. Aku ditangkap pihak berwajib dan di penjara selama dua bulan karena pada akhirnya nyawa Nathan tidak tertolong. Jeruji besi yang menjadi tempat tinggal baruku, membuat kejiwaanku terguncang. Apalagi ketika seluruh harta benda yang ibu miliki habis untuk menebusku di penjara, aku semakin merasa bersalah. Kesehatan mental ku mulai terganggu, hingga akhirnya keluarga memutuskan untuk membawaku kembali ke Singapur, atas bantuan tante Mala. Disanalah aku bertemu Febian, lelaki yang selalu menolongku hingga kini."
Nadira ikut menangis mendengar cerita menyedihkan yang dialami Camelia. Ia sangat menyesal karena selama ini dirinya tidak bisa menolong sahabat baiknya itu.
"Setelah keluargaku benar-benar kesusahan, aku kembali mencoba membangun sisa-sisa kehancuran yang ada. Aku mulai menata kembali usaha yang pernah ibu bangun, secara perlahan. Dengan bantuan Febian, sedikit demi sedikit kehidupanku mulai membaik, namun ternyata keluarga Nathan masih menyimpan dendam, dan menuntut ganti rugi berupa uang yang jumlahnya tidak sedikit. Hingga akhirnya aku menghalalkan segala cara agar aku bisa mendapatkan banyak investor meskipun mereka meminta jasa lebih padaku. Kamu pasti pernah mendengar sosok Camelia yang sering dibicarakan para pengusaha, benar bukan?"
"Iya, aku pernah mendengarnya." Jawab Nadira.
"Camelia adalah aku,"
"Apa?! Tidak mungkin. Kamu,,,"
"Iya, aku mengganti namaku setelah aku terjun ke dunia kotor. Aku merada tidak pantas menggunakan nama Kara, karena menurutku Kara adalah gadis baik, pintar dan cantik. Aku membuat sosok Kara mati, dan mengganti dengan nama Camelia sebagai sosok baru. Sosok perempuan dingin, dan penuh ambisi. Itulah aku saat ini. Sula berjalan sesuai rencana, hingga suatu hari aku kembali bertemu dengan Jupiter."
Camelia menghela berat sebelum akhirnya ia akan memulai pertemuan dengan Jupiter. Ia butuh kekuatan lebih untuk menceritakan bagian penting dalam hidupnya, sekaligus bagian paling menyakitkan.
"Aku tidak pernah berniat mencarinya, namun seakan alam kembali mempermainkanku, terus menerus aku dipertemukan dengannya. Sekuat apapun aku mencoba menghindar, tetap saja aku kembali bertemu dengannya. Aku tahu kalian sudah bertunangan,dan akan melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius lagi. Katakanlah aku memang perempuan penggoda, di belakangmu aku sering bertemu dengannya. Aku tidak bisa mengendalikan hatiku ketika aku berada didekatnya, bahkan rasa cintaku yang sudah dikubur bertahun-tahun tiba-tiba kembali bersemi. Aku mencintainya. Aku murahan sekali bukan?"
"Tidak,,, aku tidak pernah menganggapmu seperti itu. Kalian memang saling mencintai, aku hanya pengganggu yang hadir di tengah-tengah hubungan kalian."
"Kamu bukan pengganggu, Nad. Kamu memang pantas menjadi pendamping Jupiter."
"Aku tidak akan melanjutkan pertunangan ini. Kembalilah pada Jupiter, kamu berhak bahagia." Nadira semakin mengeratkan tautan tangannya, ia benar-benar ingin melihat Kara dan Jupiter bahagia. Karena kedua orang itu saling mencintai.
"Tidak! Aku tidak akan kembali pada Jupiter. Aku menceritakan semua ini hanya karena aku ingin kamu mengerti dan berhenti membandingkan hidupmu dengan orang lain. Meskipun kamu diberi cobaan dengan penyakit yang kini berada di dalam tubuhmu, tapi lihat orang disekitarmu, semua orang menyayangimu. Mereka menginginkan kamu sembuh, jadi jangan selalu menjadikan Jupiter sebagai alasan untuk semua kekurangan yang kamu miliki." Nadira merasa tertohok dengan ucapan Camelia, ia menyadari jika selama ini ia sering menjadikan Jupiter sebagai alasan untuk kesembuhannya. Ia tidak pernah sungguh-sungguh melakukan pengobatan untuk dirinya sendiri.
"Kamu memiliki keluarga utuh, dan kakak yang begitu mencintaimu." Lanjut Camelia. Mendengar nama kakaknya disebut, Nadira yakin pasti terjadi sesuatu pada Camelia. Karena sahabatnya itu tiba-tiba dirawat di Rumah sakit.
__ADS_1
"Apa yang sudah kakakku lakukan padamu?" Tanya Nadira.
"Tidak ada," balas Camelia.
"Bohong!! Dia pasti melakukan sesuatu hal buruk padamu, ceritakan semuanya padaku!" Nadira memohon adar Camelia mau menceritakan semua yang ia alami, namun Camelia tidak ingin menceritakan apa yang sudah terjadi padanya.
"Tidak ada yang terjadi padaku. Semua yang aku alami hanya sebatas karena kelalaianku saja. Dia sangat menyayangimu Nad, dia kakak yang baik."
"Tidak!! Dia tidak pernah menyayangiku, dia yang memaksaku menikah dengan Jupiter, meski sudah berulang kali aku menolak! Dia tidak menyayangiku!!"
"Aku mengerti mengapa kakakmu membenciku. Karena aku hampir saja merebut calon adik iparnya,"
"Bukan!! Bukan seperti itu Kara!"
Camelia tersenyum lemah, "mungkin ini pertemuan terakhir kita, sebelum aku benar-benar pergi, aku ingin kamu bahagia. Menikahlah dengan Jupiter, jangan sampai pengorbananku selama ini sia-sia, tetaplah sehat dan jalani hari-hari bahagiamu bersamanya. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian." Ucap Camelia tulus.
"Jangan,,, jangan pergi lagi." Nadira menangis, menahan agar Camelia tidak kembali pergi.
"Aku sangat lelah dengan semua yang terjadi dihidupku, semua orang menghakimiku tanpa pernah bertanya terlebih dulu. Baik sekarang maupun dulu, mereka selalu menghakimiku, bahkan aku tidak diberi kesempatan sedikitpun untuk membela diriku."
"Aku mohon jangan pergi,,," Nadira semakin memohon, namun Camelia hanya menggelengkan kepala, "aku pun ingin bahagia, dan aku akan mencari kebahagiaanku dengan cara lain. Waktuku tidak banyak, aku pulang sore ini. Sampai ketemu suatu saat nanti," Camelia memeluk tubuh Nadira, begitu juga sebaliknya.
Setelah berpelukan Camelia manggil suster perawat yang membawanya, namun begitu ia berbalik menuju pintu keluar, ia melihat Dea dan Jupiter sudah berdiri kaka di depan pintu.
"Jadi semua ini berawal dari kesalahanku dulu? Sehingga kamu mengalami begitu banyak penderitaan. Semua karena ulahku dulu?" Tanya Dea.
"Tidak,,, aku tidak pernah menyalahkan kak Dea. Karena aku yakin semua ini sudah menjadi takdirku."
"Aku penyebabnya, aku pelakunya. Aku yang seharusnya mendapatkan semua ini, bukan dirimu." Dea bersimpuh di dekat kursi roda Camelia, ia menangis dan menyesali semua perbuatannya.
"Aku tidak menyalahkanmu kak, berhenti menangis." Camelia meraih pundak Dea, agar ia berdiri.
"Masalah sudah selesai, dan tidak ada yang perlu disalahkan. Semua sudah ada yang mengatur," Camelia mengusap lembut tangan Dea.
"Aku tidak membenci siapapun, termasuk kak Dea. Aku sudah memaafkannya sejak lama. Apapun yang menimpa hidupku, itu sudah menjadi bagian hidupku yang harus aku lewati."
"Aku akan menebus semua kesalahanku padamu, Kara. Aku berjanji!" Ucap Dea.
"Jika kak Dea merasa bersalah, hiduplah dengan bahagia. Itu sudah cukup untukku." Camelia tersenyum, sesekali ia melirik kearah Jupiter yang tidak pernah lekat memandangnya.
"Aku harus segera turun. Karena aku akan pulang sore ini."
Camelia hendak mencari suster yang akan mengantarnya kembali ke kamar. Tapi, jupiter terlebih dahulu meraih pegangan kursi roda, "aku yang akan mengantarnya."
Tanpa menunggu persetujuan dari Camelia ia segera mendorong kursi roda,
__ADS_1
"Kamarku ada di lantai bawah, nomor 3003." Jupiter tidak bersuara, ia hanya mendorong kursi roda sampai ketempat tujuan.
"Aku bisa sendiri, kamu boleh keluar." Ucap Camelia. Namun Jupiter justru membalik kursi roda hingga Camelia menghadap padanya. Jupiter berlutut agar ia bisa sejajar dengan Camelia.
"Kenapa kamu tidak menusukku, seperti yang kamu lakukan pada lelaki itu?" Tanya Jupiter, membuat Camelia mengerutkan keningnya.
"Selama ini kamu berusaha mengobati rasa trauma akibat kejadian itu, tapi aku justru membuatmu kembali teringat, bahkan aku yang merenggutnya dengan paksa. Kenapa kamu tidak membunuhku saja? Itu lebih baik, daripada aku hidup dalam penyesalan."
Sekilas perhatian Camelia tertuju pada perban yang membalut telapak tangan Jupiter. Ingin sekali ia bertanya apa yang terjadi pada lelaki itu, tapi ia urungkan.
"Apa kamu memang sengaja menghukumku, agar aku hidup dalam penyesalan?"
"Aku tidak mungkin membunuhmu, sebelum itu terjadi aku pasti membunuh diriku terlebih dahulu."
"Jadi ini yang kamu maksud cinta? Membuat kita hanya saling menyakiti? Baiklah jika itu maksud dari ucapanmu. Aku akan membuktikannya padamu, sejauh apapun kamu pergi, aku pasti akan mencarimu. Aku tidak akan menyerah, dan aku akan menebus semua kesalahanku padamu."
"Kita sudah membahasnya kemarin. Dan kamu sepakat untuk tidak mencariku lagi. Aku berharap kamu tidak mengingkari ucapanmu sendiri."
"Aku memang tidak akan mengingkari ucapanku sendiri, dan tidak akan mencarimu, untuk saat ini. Tapi tidak nanti."
Jupiter meraih tubuh Camelia dan membaringkannya di atas tempat tidur. Kemudian ia meninggalkan kamar Camelia menuju kamar Nadira. Namun ketika ia melewati lorong yang cukup sepi, tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik dan hanya dalam sekejap mata, pukulan keras menghantam wajahnya.
"Jadi lo yang memperkosa Camelia?" Ucap Febian sambil mencengkram kerah baju Jupiter.
"Lo memang laki biadab! Lo tahu bagaimana dia melewati hari-harinya setelah kejadian itu?! Dia hampir gila! Dan sekarang kembali terulang, bahkan kini jauh lebih parah, karena lo benar-benar merenggutnya! Lo memang bukan manusia!" Febian kembali menghajar wajah Jupiter dengan sangat keras. Jupiter tidak melawan, ia pasrah menerima setiap pukulan Febian.
"Dan gue bersyukur Camelia tidak membunuh lo, karena dengan begitu lo akan hidup dalam rasa bersalah yang secara perlahan akan membunuh lo. Asal lo tahu, dalang dibalik kejadian ini adalah kakak ipar lo, si Nadia!!"
Kali ini Jupiter mencoba menyadarkan dirinya, dan mencerna ucapan Febian.
"Maksud lo?"
"Calon kakak ipar lo itu begitu terobsesi dengan segala kemewahan, sama seperti ibu lo. Miris sekali bukan, dua keluarga yang tamak dan haus akan kekuasaan akan bersatu. Dan mengorbankan Camelia sebagai tumbal. Lucu,," Febian menyeringai, dan sangat menikmati keterkejutan Jupiter.
"Hidup ini adil. Lo hidup mewah dengan segala tekanan dari kedua keluarga lo, yang menjadikan lo sebagai mesin pencetak uang dan juga rasa penyesalan yang begitu besar. Sekarang impas! Semoga lo menikmati masa-masa penyesalan lo!" Febian mendorong tubuh Jupiter dengan sangat kencang, sehingga lelaki itu terhuyung dan jatuh ke lantai.
Dea datang ketika ia melihat sang adik tenga duduk dilantai. Sebenarnya Dea menyimak pembicaraan Jupiter dan Febian, hanya saja Dea tidak melerai perkelahian keduanya. Karena menurut Dea, Jupiter memang harus menyelesaikan kekacauan yang diperbuatnya sendiri. Namun begitu ia mengetahui satu fakta yang cukup membuatnya terkejut, ia segera mendekati Jupiter, namun setelah Febian pergi.
"Kita sudah menemukan titik permasalahan yang ada. Semua kesalahan ternyata berawal dari kita, sekarang bukan saatnya meratapi kepergian Kara. Tapi kita harus menyusun rencana membalas semua perbuatan jahat yang telah menimpa Kara, setelah itu bawa Kara kembali dan bahagiakan dia."
Benang kusut yang selama ini menjadi sumber masalah, perlahan mulai terurai. Dan Jupiter setuju dengan pendapat kakaknya, ia harus terlebih dulu menyelesaikan inti masalahnya, dan setelah itu ia akan membawa Kara kembali. Itulah yang ia rencanakan. Sebuah rencana yang akan ia laksanakan, semampunya dan akan mengorbankan apapun yang ia miliki.
Jupiter bangkit, dan menegakan tubuhnya. Mungkin saat ini ia kalah, kalah karena kesalahan yang telah diperbuatnya dan juga karena selama ini ia lalai, jika sebenarnya musuh yang paling berbahaya adalah orang yang selama ini dekatnya. Namun ia tidak akan meratapi kekalahannya, justru ia akan bangkit dan merebut semua yang seharusnya menjadi miliknya.
__ADS_1