CAMELIA

CAMELIA
episode 12


__ADS_3

Confused 12


Kara Kaisara


Hanya dentingan suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring, tidak ada satupun yang bicara semenjak aku,Ayah dan Ibu berkumpul di meja makan pagi ini.


Setelah mendapat kabar tentang surat peringatan dari Bu Tania, malam harinya Ibu pulang dari Malaysia setelah hampir dua minggu berada disana. Suasana sarapan pagi tidak pernah ada obrolan seperti keluarga normal pada umumnya, bukan hal baru untuk ku merasakan seperti ini. Hanya saja kali ini berbeda, setiap tatapan Ibu dingin dan menusuk.


"Bisa jelaskan kenapa kamu bisa mendapat surat teguran dari guru, kemarin siang?" Suara datar penuh tanya akhir nya keluar dari mulut Ibu.


Aku meletakan kedua sendok, mendongkak melirik Ibu


"Kara, telat masuk kelas" jawabku pelan.


"Dari Mana?"


"Dari mini market,"


"Ngapain?'


"Beli minum."


"Kenapa harus keluar area sekolah? Kamu bisa jajan atau makan siang di kantin sekolah. Apa kurang jelas,Ibu menyuruhmu sekolah dan bukan keluyuran tanpa alasan seperti itu!" Nada suara Ibu mulai meninggi.


"Maaf." Kutundukan wajah, mencengkram erat rok sekolah yang kukenakan.


"Kamu seharusnya belajar dengan serius. Bukan main-main seperti itu!"


"Sudah cukup!" Suara lantang Ayah menyela ucapan Ibu


"Kamu tidak dengar tadi Kara bilang tidak sengaja. Lagipula ini hanya surat peringatan, bukan skors."


"Dia anakku. Aku berhak memantau semua kegiatannya dan memastikan semua yang di lakukannya!"


"Kamu lupa, dia juga anakku. Aku lebih berhak menyebutnya sebagai anakku, karena kamu lebih sering meninggalkannya di banding mengurusnya."


Ayah dan Ibu semakin memanas. Saling menyalahkan satu sama lain dan itu karena ulahku.


"Kara minta maaf. Kara janji ga akan ulangi lagi." Cicitku, bahkan suaraku nyaris tak terdengar, tertahan desakan air mata yang memaksa keluar.


Tanpa mengucapkan apapun lagi, Ibu beranjak dari kursi meninggalkan aku dan Ayah yang masih berada di meja makan.


Langkahnya terhenti, kembali berbalik menatap tajam ke arah Ayah "Jangan lupa nanti malam kita ada undangan acara makan malam keluarga Rahadian. Jangan sampai telat." Keudian Ibu pergi di susul Tante Mala, asisten pribadi Ibu.


"Ayo berangkat. Ayah antar ke sekolah." Ayah mengelus rambutku sekilas sebelum akhirnya beranjak keluar terlebih dulu.


Aku masih menatap hampa dua kursi kosong yang tadi ditempati Ayah dan Ibu.


Bukan. Bukan seperti ini yang aku mau,aku ingin keluarga utuh yang saling menyayangi. Bukan keluarga yang saling menjauh, dan hanya bertengkar setiap kali berkumpul. Ini semua salahku,jika saja aku tidak bersikap kekanak-kanakan, dan tetap menghadapi Jupiter seperti biasa, mungkin Ibu dan Ayah tidak akan bertengkar. Mungkin jika yang di terima ibu adalah kertas nilaiku yang semua nya bagus dan bukan sebuah kertas teguran, aku bisa membuat Ibu bangga.

__ADS_1


"Karaaaaaaa." Suara Nadira begitu nyaring di telinga. Aku menoleh, menatapnya sekilas. Dia datang ke perpustakaan membawa beberapa makanan dan minuman.


Aku memutuskan kembali ke perpustakaan setelah jam istirahat tiba. Kali ini bukan untuk menghindari Jupiter, tapi benar-benar untuk belajar.


"Makan dulu. Lo belom makan apa-apa dari tadi." Nadira menyodorkan roti isi selai kacang dan es teh manis.


"Nanti aja." Aku masih fokus membaca,


"Nanti keburu masuk kelas." Nadira berdecak, kembali menyodorkan makanan yang di belinya.


"Gue ga laper,Nad."


"Ya udah buang aja!" Nadia meraih roti hendak di lempar ke dalam tong sampah yang tak juh berada di sekitar perpustakaan.


"Jangan!" Aku segera meraih tangan Nadira, merebut roti isi yang sempat ingin di buangnya.


"Gue makan." Lanjutku, membuka plastik pembungkus dan memakannya.


"Puas?" Tanyaku


"Nah,, gitu kek dari tadi. Kan ga sia-sia gue beli. Buka gue sih yang beli, tapi si Jupiter." Seketika aku tersedak.


"Apa?!"


"Iya, tadi pas gue mau bayar dia ngelarang dan maksaaaaa mau bayarin. Jadi ya udah." Jawab Nadira cuek.


Aku menaruh kembali roti di meja, hanya menelan yang sudah terlanjur masuk mulutku saja.


"Ko ga di habisin sih?"


"Ga mau,"


"Karena Jupiter yang beli?"


Aku tidak menjawab hanya menghela nafas dan kembali fokus membaca.


"Lo ribet banget deh. Apa salahnya tu roti di bayarin si Jupiter. Gak ada racunnya juga kali."


"Justru karena yang beli dia. Gue ga mau hidup gue makin ribet. Udah cukup ribet dengan semua pelajaran, gue ga mau nambah-nambah lagi." Nadira mengangguk


"Terus ini roti mau di apain?"


"Lo makan aja."


"Gue juga kenyang." Ucapnya sambil mlengelus-elus perutnya. Jelas pasti kenyang, Nadira menghabiskan tiga roti dan satu cup es teh manis. Sedangkan aku hanya memakan satu gigitan.


"Kasih pak Syarif aja. Buang yang udah gue gigit."


"Oke." Nadira segera mendekati Pak Somad, memberi beberapa roti yang masih tersisa.

__ADS_1


______


"Siapa dia?" Tiba-tiba Ibu datang ketika aku dan Faro tengah berada di ruangan yang sering di pakai untuk belajar. Aku tidak tau sejak kapan Ibu berada di ambang pintu memperhatikan ku dan Faro. Tatapan tajam Ibu langsung menelisik, menatap Faro penuh penilaian dari atas sampai bawah.


"Dia guru bimbingan Kara yang baru." Jawabku.


"Selamat sore,Bu. Saya Alfaro, guru pembimbing Kara."


"Sejak kapan guru les kamu ganti?"


" Sejak satu bulan lalu."


"Siapa yang mengganti?"


"Aku yang ganti." Tiba-tiba suara Ayah terdengar dari arah belakang Ibu.


"Kenapa ga ada yang ngasih tau kalau Kara ganti guru pembimbing?" Tanya Ibu, kali ini dia nampak kesal dan emosi.


"Tidak ada yang memberitahuku!" Lanjut Ibu.


"Sejak kapan kamu mau ikut mengurusi hal seperti ini. Biasanya juga kamu hanya sibuk mengurusi diri kamu sendiri." Balas Ayah.


Oh tuhan… jangan lagi mereka bertengkar.


Kulirik sekilah wajah Faro, dia mulai nampak tidak nyaman dengan perdebatan Ibu dan Ayah. Mungkin Ayah menyadari jika di rumah ini tidak hanya ada aku dan mereka saja, tapi juga ada orang lain yang menyaksikan pertengkarannya.


Ayah segera menarik lengan Ibu menuju ke lantai dua, ke kamar pribadi mereka. Sayup-sayup masih terdengar suara teriakan dan suara benda jatuh. Aku yakin kali ini Ayah pasti melempar barang-barang seperti biasa, jika tengah emosi.


Tubuku bergetar, bahkan pensil yang pegang ikut bergetar. Mendengar teriakan dan suara nyaring benda pecah,membuatku hilang konsentrasi. Dadaku sesak dan sakit.


"Janagn di paksa." Tangan Faro menyentuh jemariku, menahan getaran hebat yang tengah aku alami.


"Jangan di paksa. Cukup. Kamu ga akan bisa lanjut kalau kamu kaya gini." Aku menatap matanya, hingga tak terasa cairan hangat meluncur bebas dari kelopak mataku.


Satu tangan Faro masih menggenggam erat jemariku dan satu tangannya mengusap air mataku. Kepalanya menggeleng, bibirnya tersenyum penuh simpati seolah meyakinkanku, jika aku harus menghentikan tangisanku.


"Maaf."


"Untuk?"


"Kamu harus liat kejadian tadi dan juga liat aku kaya gini."


Kali ini kedua tangan Faro menangkup kedua tanganku menjadi satu, rasa hangat yang dia tularkan lewat sentuhan membuatku merasa nyaman dan akhirnya aku berhenti menangis.


"Aku tidak akan bertanya alasan dan kenapa. Aku cuman pengen kamu berhenti menangis dan bisa menyelesaikan masalh ini secepatnya." Aku diam mengamati setiap kata yang keluar dari mulutnya.


"Setiap orang punya masalah sendiri-sendiri dalam hidupnya. Aku pun sama, hanya saja kita harus bisa menghadapinya, karena tidak ada masalah yang selesai dengan menangis. Mengerti?" Aku mengangguk. Faro memang sosok dewasa dengan pemikiran jauh lebih realistis, sosok pengertian yang sangat aku butuhkan.


Senyum hangat dan perlakuannya membuatku merasa di perhatikan. Selama ini tidak ada satupun yang memberiku dukungan ataupun mendengar semua keluh kesahku. Kehadiran Faro seperti mata air di tengah padang pasir, memberi ketenangan dan kesejukan secara bersamaan. Aku bersyukur dia hadir di hidupku, meski aku tau dia hanya sekedar guru pembimbing untuku, dan mungkin saja dia hanya menganggapku sebagai murid didiknya. Tidak lebih.

__ADS_1


__ADS_2