
Malam harinya setelah Jupiter, Aksa dan Juga Elea pulang, kini tinggal Camelia dan Jupi yang tersisa. Febian tidaka akan pulang dalam beberapa hari ini, karena lelaki itu berkunjung kerumah orang tuanya.
Suasana rumah yang awalnya ramai, kini berubah sepi. Bahkan Camelia merasa kesepian begitu tamunya pergi. Padahal tadi siang Camelia sempat marah dan kesal karena Jupiter dan kedua bocah kecil itu bermain petak umpet, dan berakhir dengan perang bantal, yang mengakibatkan rumahnya lebih mirip kapal pecah.
Kini Camelia mendapatkan tugas merapikan segala kekacauan yang dilakukan Jupiter dan anak-anak. Sambil sesekali tersenyum, Camelia membersihkan lantai dengan vacuum cleaner dan merapikan kembali bantal yang sempat berhamburan entah kemana. Sesekali pikirannya kembali teringat dengan ucapan Jupiter yang menginginkan dua anak kembar, untuk melengkapi keluarga impiannya. Sebenarnya Camelia pun ingin memiliki keluarga dan anak-anak yang lucu, karena selama ini ia pun tidak mendapatkan kasih sayang dari keluarga utuh seperti orang lain.
Sejak kecil ia sudah terbiasa dengan kehidupan serba sendiri, bahkan ketika kedua orang tuanya masih tinggal satu atap pun, Camelia jarang sekali merasakan hangatnya sebuah keluarga. Orang tua yang sangat sibuk dengan dunia nya masing-masing, membuat Camelia harus terbiasa hidup hanya dengan pengasuh. Namun itu lebih baik, karena ia masih memiliki kedua orang tua yang bisa ia sebut sebagai keluarga. Namun, itu tidak bertahan lama karena ia harus kembali menelan pil pahit, kenyataan yang sangat membuat hatinya terluka, yaitu ketika ia mengetahui ternyata ia bukan anak kandung ayahnya, Fathur.
Fathur sering mencari keberadaan Camelia sebelum akhirnya ia tutup usia karena sakit. Dan seluruh perusahaan yang ditinggalkan kini menjadi hak milik Alfaro, anak biologis dari Fathur. Camelia tidak pernah sedikitpun menginginkan harta warisan dari Fathur, bahkan meskipun Alfaro sempat berniat memberi beberapa saham miliknya untuk Camelia, namun Camelia menolak, karena ia merasa tidak memiliki hak atas warisan yang ditinggalkan Fathur.
Melihat bagaimana Aksa tumbuh, Camelia sadar akan satu hal, jika Aksa tidak jauh berbeda dengan dirinya, hanya saja Aksa memang anak biologis Alfaro, meski anak itu lahir tanpa cinta, persisi seperti orang tuanya dulu.
Camelia bisa memaklumi sikap Aksa yang lebih egois dibandingkan Elea, bahkan meskipun kedua anak itu sempat berdamai namun tidak lama kemudian mereka akan kembali bertengkar. Namun sebenarnya mereka memiliki penyeimbang yang baik, meski terkadang Elea lebih hiperaktif dibanding Aksa yang lebih pendiam.
Membayangkan jika dirinya memiliki anak kembar, membuat Camelia tersenyum sendiri. Pasti menyenangkan memiliki anak, dan suami yang sangat mencintai dirinya dan kedua anaknya. Dalam hati kecil nya yang paling dalam, Camelia berharap jika ia bisa hidup bersama Jupiter dan memiliki sepasang anak kembar seperti impian Jupiter.
Harapan itu selalu ada meski kemungkinannya sangat kecil, tapi Camelia yakin ia masih berkesempatan mewujudkannya. Dan hanya itu harapannya saat ini.
Selesai membersihkan rumah dan perabotan kotor, Camelia merebahkan sebentar tubuhnya di kursi, sambil memeriksa beberapa notifikasi pesan masuk di ponselnya. Beberapa pesan masuk dari Jupiter dan ada juga dari Febian yang terus mengingatkannya agar tidak lupa memakai pengaman. Camelia berdecak, membaca pesan dari Febian, bagaimana bisa dia menyuruhnya memakai pengaman sedangkan waktu untuk berduaan dengan Jupiter saja tidak ada.
Mungkin Febian berfikir jika hubungannya dan Jupiter sudah sampai tahap ranjang, padahal sebenarnya tidak. Meski beberapa kali nyaris saja mereka melakukannya, tapi beruntungnya Jupiter lelaki yang tidak mudah dikendalikan nafsu. Ia bisa menahan, meski setelahnya Jupiter harus berlama-lama di kamar mandi.
Camelia hanya mengabaikan beberapa pesan dari Febian, dan memilih membalas pesan yang dikirim Jupiter. Tanpa terasa saling berbalas pesan pun menghabiskan waktu hampir tiga puluh menit. Merasa tubuhnya masih terasa lengket karena belum mandi, akhirnya Camelia memilih tidak lagi membalas pesan dari Jupiter dan mengabaikannya. Meski Camelia tahu Jupiter pasti akan terus menerus mengirimkan pesan, dan jika Camelia terus membalasnya maka sampai berganti hari pun ia tidak akan bisa membersihkan dirinya.
Berendam di air hangat dengan berbagai wewangian membuat Camelia lupa waktu. Setelah menyadari kulitnya berubah warna, barulah ia keluar dari bathtub, dan segera mengenakan pakaian. Dugaannya benar, banyak sekali pesan yang dikirim Jupiter padanya. Bahkan lelaki itu sampai menghubunginya lewat video call beberapa kali. Camelia hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Jupiter yang semakin mirip seperti ABG labil, yang baru mengenal cinta.
Camelia berniat mengerjai Jupiter dengan membaca pesannya saja, tanpa membalas. Ia sangat suka ketika melihat ekspresi kesal Jupiter, karena dua hari ini lelaki itu tidak henti menggodanya, dan sekaranglah waktunya ia membalas dendam. Jupiter paling tidak sabaran jika pesan yang dikirimnya tidak kunjung dibalas, apalagi hanya sekedar dibaca. Ia akan segera menelpon balik dan mengeluh, mengapa pesannya tidak dibalas, atau mengapa pesannya hanya dibaca.
Untuk mengulur waktu, Camelia memilih membuat teh madu hangat, karena ia merasa tubuhnya terasa dingin akibat berendam terlalu lama. Namun baru saja ia hendak melangkah menuju dapur, ponselnya berdering sangat kencang. Camelia mengira itu pasti Jupiter, karena ia tidak kunjung membalas pesannya. Namun hatinya berkata lain, karena nada dering ponsel nya terasa begitu nyaring bahkan terasa begitu menerornya.
Camelia tidak melanjutkan membuat teh madu, dan memilih melihat layar ponselnya yang belum juga berhenti. Panggilan dari nomor ponsel yang tidak ia kenali terlihat jelas di layar. Camelia mengerutkan dahinya, mengingat-ingat nomor siapa yang masuk, karena tidak ada nama ataupun tanda pengenal dari orang itu.
Satu kali panggilan itu tidak terjawab. Camelia berharap nomor itu tidak menghubunginya lagi, namun satu detik berikutnya nomor itu kembali menghubunginya. Ada rasa cemas dan takut sebelum ia memutuskan untuk menerima panggilan tersebut, karena selama ini ia jarang sekali menerima panggilan dari nomor baru yang tidak dikenalnya.
Namun, kali ini ia merasa begitu penasaran, hingga akhirnya ia menggeser tombol hijau di layar ponsel, dan mendekatkan benda itu di telinganya.
"Apa kabar Kara? Kenapa lama sekali kamu mengangkat panggilan dariku. Apa kamu sudah lupa padaku?" Suara yang mampu membuat seluruh bulu kuduknya berdiri. Suara itu, suara yang amat ia kenali dan suara yang sangat ingin ia hindari.
"Sepertinya kamu mulai melupakanku." Suara lelaki di seberang sana, kembali terdengar. Kali ini suaranya di iringi dengan halus, yang bisa Camelia bayangkan jika lelaki itu pasti tengah tersenyum, menyeringai, menertawakan ketakutannya.
"Edward,,,"
"Binggo,,,, kamu masih ingat rupanya. Apa kabar, aku harap kamu baik-baik saja."
"Apa maumu?!"
"Hei,,, santai sedikit. Aku hanya bertanya bagaimana kabarmu. Dan aku yakin kabarmu pasti baik, karena kamu kini tinggal di sebuah apartemen yang cukup mewah. Benar bukan?"
Camelia terkejut begitu mendengar Edward menyebutkan tempat tinggalnya. Meski Camelia ragu, apakah Edward benar-benar mengetahui tempat tinggalnya atau hanya ingin menyukainya saja.
Camelia segera menuju pintu, dan memeriksa layar monitor untuk memastikan Edward ada di sekitarnya atau tidak. Namun dari layar itu tidak nampak ada siapapun di luar, selain beberapa penghuni lainnya yang masih terlihat berlalu lalang.
"Kamu pasti penasaran dari mana aku mengetahui tempat tinggalmu saat ini. Mencari keberadaanmu di kota sekecil Jakarta tidaklah sulit. Kamu tidak perlu terkejut seperti itu." Lelaki itu terdengar semakin menikmati ketakutannya, dan Camelia segera berjalan dengan cepat melihat keluar jendela. Ia sendiri tidak yakin jika kini Edward tengah memperhatikannya dari bawah, sedangkan ia tinggal di lantai 23. Dari lantai setinggi ini, ia tidak bisa melihat dengan jelas, karena semua yang ia lihat begitu kecil dan samar.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memastikan keberadaanmu saja. Sampai jumpa di lain waktu, cantik." Tanpa menunggu jawaban dari Camelia, Edward segera memutus sambungan.
Tubuh Camelia bergetar, dan terasa lemas. Degup jantungnya berdetak begitu cepat, bahkan beberapa kali ia salah menekan nomor yang hendak ingin dihubungi.
"Apa sih Mel,,, lo kehabisan stok ******? Ambil aja punya gue, ada di laci dekat tempat tidur."
"Feb,,," suara Camelia bergetar,
"Bilang sama si Jupi, maen nya berjeda. Masa lo sampe kehabisan suara gitu," Febian masih asik menggoda Camelia, padahal Camelia tengah dalam kondisi tidak baik.
"Feb,,, ada ,,,, ada Edward."
"Apa?!" Kini nada bicara Febian berubah.
"Lo serius Mel? Dimana dia sekarang?" Febian kini mulai gelisah. Ia tahu Camelia pasti ketakutan dan sial nya kini ia tidak berada di dekat gadis itu.
"Gue gak tahu,,,, dia udah tau tempat tinggal kita." Kini Camelia mulai terisak, karena ia benar-benar merasa ketakutan.
"Jupiter dimana? Gue suruh dia jagain lo sebelum gue balik."
"Jangan!! Gue gak mau sampai Edward tahu Jupiter. Gue gak mau Jupiter ikut terlibat."
"Gue gak bisa balik malam ini,Camelia,,, gue khawatir kalau lo sendiri dirumah!" Febian tampak khawatir, bahkan terdengar helaan nafas kasar dari mulutnya, jelas sangat menunjukan ia sangat tidak tenang.
"Gini aja. Gimana kalau untuk malam ini, lo nginep di rumah Elea. Lo bilang gue bawa temen-temen banyak dan lo merasa risih." Lanjutnya lagi,
"Camelia!! Lo denger gue kan? Buruan sekarang juga lo pindah ke rumah Elea, atau gue minta Jupiter datang buat mastiin keadaan lo!!"
Camelia berjalan perlahan, keluar dari unit tempat tinggalnya. Ia berjalan mengendap-endap seperti langkah kakinya tidak ingin didengar siapapun. Ia hanya mengenakan piyama tidur dan membawa bantal hello kitty beserta selimut tipis, di dalam dekapannya.
Sebelum menekan tombol merah yang ada di dekat pintu, ia terlebih dahulu menghela nafas, mengumpulkan keberanian. Karena Kanaya pasti terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba, bahkan langsung berencana menginap, padahal sebenarnya mereka tidak sedekat itu. Hubungan mereka hanya sebatas tetangga, tidak lebih.
Satu kali ia menekan tombol merah, tidak ada jawaban. Dua kali ia menekan, tidak ada juga tanda-tanda pintu akan terbuka, padahal waktu masih menunjukan pukul sembilan malam. Merasa tidak ada yang membuka pintu, dan harapannya sirna untuk bisa bermalam di kediaman Elea, Camelia hanya bisa menghela lemah. Mungkin lebih baik ia berpura-pura menginap saja pada Febian, dan memilih mengunci diri di kamar.
"Aunty Mel!!!!" Teriakan bocah kecil memanggil namanya tiba-tiba, membuat Camelia berjengit terkejut.
"Elea,,," Camelia terkejut melihat Elea,dan juga Kanaya yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada.
"Ngapain aunty Mel di depan rumah Elea, bawa bantal?" Elea menunjuk bantal kepala hello kitty yang berada di pelukannya.
"Itu,,, aunty,,,, sebenarnya,,,"
"Kenapa Mel, mau bermalam di rumah kami? Ayo masuk. Elea pasti senang kalau kamu menginap."
Mungkinkah Kanaya itu seorang paranormal, bagaimana bisa ia mengetahui jika Camelia hendak bermalam di rumahnya. Tidak ada bantahan yang keluar dari mulut Camelia, karena kenyataannya ia memang hendak menginap, apalagi ketika Elea menggandeng tangannya dan menarik Camelia masuk kedalam rumahnya.
Hal pertama yang Camelia lihat dari rumah Elea, yaitu rumah mereka terlihat rapi, dan sangat minim perabotan yang tidak perlu. Semua tertata dengan pas, apalagi mereka memiliki anak kecil, akan sangat merepotkan jika rumah mereka penuh dengan barang-barang, yang akan membuat terlihat semakin sempit dan berantakan.
"Aunty Mel mau menginap?"
"Iya,,," jawab Camelia ragu-ragu.
__ADS_1
"Duduk Mel. Anggap saja rumah sendiri." Kanaya menghampiri Camelia yang masih berdiri,
"Tadi, Febian bawa temannya kerumah. Jadi aku bingung harus kemana,"
"Sering-sering saja datang ke rumahku. Elea pasti senang kalau kamu sering datang kerumah kami. Bahkan sejak tadi Elea tidak pernah berhenti menceritakan kamu, dan juga teman barunya itu."
"Namanya Askara, Bu,, Elea bilang Aksara, Ibu pelupa." Keluh Elea, karena Ibunya tidak bisa mengingat nama teman barunya.
"Maaf,, Ibu lupa. Sekarang Elea bersih-bersih terus ganti baju, udah malem."
Kanaya mengajak Elea masuk kedalam kamar mereka, sedangkan Camelia duduk di kursi tamu, dan memilih untuk tidur di sana. Tidak peduli mau tidur dimanapun, karena menurut Camelia, sudah diberi izin menginap saja sudah beruntung.
Camelia tengah memainkan ponselnya, membalas beberapa pesan dari Jupiter, ia secepat mungkin membalas setiap pesan yang dikirim Jupiter, karena sedikit saja ia telat membalas, maka keberadaannya di rumah Kanaya akan terbongkar, dan Camelia yakin Jupiter pasti akan menyusulnya dan membawanya pergi.
"Loh,,Mel ko tidur di situ?" Kanaya tiba-tiba muncul setelah beberapa saat ia tidak keluar lagi. Camelia kira, ibu satu anak itu tidak akan keluar kamar lagi, dan membiarkan Camelia menempati kursi.
"Iya,, aku di sini saja."
"Ada kamar kosong. Kamu boleh menempatinya, ayo aku antar."
"Gak apa-apa. Aku lebih suka disini."
"Aku yang tidak suka melihat tamuku tidur ditempat seperti ini."
"Oke, baiklah. Tapi aku belum ngantuk, nanti saja aku masuk kamar. Kalau kamu mau, tidur,,"
"Panggil aku kakak, sepertinya aku jauh lebih tua darimu."
"Ah,,, baiklah. Kalau kak Kanaya sudah ngantuk, tidur saja terlebih dahulu, aku belum ngantuk."
"Begitu lebih baik bukan?" Camelia hanya tersenyum samar, sedangkan Kanaya menuju dapur entah apa yang akan dilakukannya.
Tidak berselang lama, Kanaya membawa satu nampan berisi dua gelas susu hangat.
"Susu coklat bisa membantumu lebih rilex dan bisa lebih cepat istirahat." Ia menyodorkan satu gelas pada Camelia.
"Benarkah? Tapi aku bukan Elea yang harus minum susu sebelum tidur," decaknya, sambil menyeruput sedikit demi sedikit susu coklat hangat.
"Iya, dan bukan hanya anak kecil yang butuh susu. Orang dewasa pun butuh. Ngomong-ngomong, aku berterima kasih karena satu hari ini kamu sudah menjaga Elea. Elea bilang pasta buatanmu sangat enaaaak." Kanaya mengacungkan jempol, memperagakan putrinya yang sejak tadi memuji masakan Camelia.
Camelia tertawa, "Aku tidak terlalu menyukai anak kecil, tapi Elea berbeda dari anak kecil yang lain. Ia tidak membosankan dan lucu."
"Elea memang diajarkan mandiri sejak kecil, aku mengajarkan untuk selalu bersikap baik pada orang lain." Kanaya tersenyum simpul, menceritakan putrinya.
"Tapi, dimana Ayah Elea, waktu itu,,"
"Iya itu ayah biologis Elea, tapi aku belum bisa menjelaskan secara rinci padanya. Aku hanya mengatakan jika itu adalah Daddy nya,"
"Kalian bercerai?"
"Tidak, bahkan kami belum menikah."
Camelia tidak melanjutkan ucapannya, karena ia tahu itu terlalu jauh ikut campur urusan keluarga Kanaya. Namun Camelia juga bukan anak kecil yang tidak mengerti kemana arah pembicaraan Kanaya, ia hanya cukup mengerti, tanpa harus menghakimi. Karena ia sadar dirinya pun bukan perempuan baik-baik, seperti yang orang lain kira.
__ADS_1