
Jupiter sebenarnya enggan meninggalkan istrinya seorang diri, apalagi dalam keadaan tengah hamil tua. Beberapa kali ia hendak membatalkan kepergiannya, namun Camelia bersikeras untuk membujuk suaminya agar tetap pergi.
"Aku gak usah pergi ya?"
Tanya Jupiter untuk kesekian kalinya, ketika sang istri tengah memasangkan dasi di lehernya.
"Aku baik-baik aja. Gak perlu khawatir, lagipula kamu cuman dua hari. Lusa juga udah balik, aku bisa meminta Kak Dea menginap disini."
Camelia tetap tidak ingin suaminya membatalkan kepergiannya, selain karena ini merupakan proyek besar, juga karena Camelia merasa dirinya tidak akan mengalami hal aneh-aneh yang akan membahayakan kehamilan dan juga dirinya.
"Kamu harus sering menghubungiku, memberi kabar apa saja yang kamu lakukan."
"Siap bosku,"
Meskipun Camelia sudah tersenyum semanis mungkin, agar suaminya tenang, tetap saja Jupiter masih memasang wajah khawatir.
"Aku baik-baik saja. Nanti aku minta kak Dea datang untuk menemani, bahkan kalau perlu aku akan memintanya menemaniku dua puluh empat jam."
"Aku takut,"
"Aku pasti baik-baik saja. Percaya padaku."
Meski ragu, akhirnya Jupiter pergi setelah Camelia menyakinkannya berulang kali. Sebelum pergi ia meminta Dea, untuk menemani istrinya dan memantau keadaannya. Dea sudah tidak merasa aneh dengan sikap Jupiter yang selalu berlebihan, namun karena selam Jupiter pergi ia juga memiliki banyak acara, salah satunya adalah acara ulang tahun sang Ibu, Mala. Akhirnya Dea memboyong Camelia untuk tinggal bersama mereka selama Jupiter berada di luar kota.
Dea sengaja melibatkan Camelia dalam acara ulang tahun Ibunya, agar mereka bisa lebih dekat dan saling mengenal satu sama lain. Meskipun Mala masih tetap bersikap dingin dan acuh, tapi Dea yakin Ibunya tidak tega melihat kondisi kehamilan Camelia yang semakin membesar karena bayi kembar yang dikandungnya.
Dea dan Camelia berbelanja bersama untuk keperluan acara ulang tahun. Mereka menyiapkan kejutan kecil-kecilan untuk Mala, yang akan dihadiri oleh teman dekat Mala. Semua dekorasi sudah disiapkan, bahkan beberapa cemilan dan kue adalah hasil karya Camelia. Berkat keterampilannya dalam membuat beraneka kue, Camellia bisa sekalian menunjukan bakatnya pada Mala, dan semoga saja ibu mertuanya itu menyukai semua usaha dan kerja kerasnya.
Hari sudah semakin siang, sedangkan acara ulang tahun akan di selenggarakan sore hari, sekitar pukul empat. Semua keperluan untuk menunjang kesuksesan acara sudah selesai, kini Dea dan juga Camelia tengah mempersiapkan diri sebelum para tamu undangan datang.
"Aku habis bantu-bantu kak Dea, siapin acara ulang tahun Ibu. Aku juga buatkan beberapa kue, untuk para tamu." Ucap Camelia. Ia tengah merias dirinya sambil melakukan panggilan video dengan suaminya, Jupiter.
"Ibu tahu kamu yang membuat kue?" Tanya Jupiter. Ia tampak lelah, karena wajah dan penampilannya sangat berantakan. Meskipun masih mengenakan pakaian kantor, tapi dasi dan rambutnya sudah tidak rapi.
"Ibu nggak tahu. Nanti saja aku kasih tahu, kalau dia bilang enak, baru aku mau bilang kalau itu kue buatanku."
"Besok aku sampai ke Jakarta, sekitar sore hari. Nanti biar aku yang jemput kamu disitu."
"Bukannya kamu pulang malam harinya ya?"
"Aku sengaja mempercepat pekerjaan, aku ingin segera pulang."
Seketika Camelia menatap mata suaminya, ia menghentikan pergerakannya yang tengah menyisir rambut panjangnya, dan menatap Jupiter.
"Kamu menyelesaikan semua pekerjaan hari ini?"
"Iya, sengaja. Biar bisa cepat pulang."
Camelia merasa kasihan pada suaminya, pantas saja penampilan Jupiter sangat berantakan. Ternyata lelaki itu menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya untuk dua hari, justru ia kerjakan dalam satu hari.
"Cepat pulang aku kangen." Ucap Camelia, membuat Jupiter tersenyum simpul.
"Aku juga kangen kalian." Balas Jupiter.
Panggilan video mereka harus berakhir, ketika Dea sudah memanggil Camelia untuk segera turun karena acara akan segera dimulai.
Camelia segera merapikan rambutnya dan turun bersama Dea yang sudah menunggunya di dekat pintu. Mereka berdua turun bersama, membuat para tamu undangan memperhatikan kedua wanita cantik yang sedang menuruni tangga. Mereka saling berbisik, terlebih ketika melihat Camelia yang sudah berbadan dua,
Camelia memang tidak pernah diperkenalkan secara langsung oleh Mala. Namun Mala selalu membenarkan jika kini Jupiter sudah menikah dan akan segera memiliki anak.
Dea sengaja memperkenalkan Camelia kepada semua tamu undangan yang seluruhnya adalah teman sang Ibu, ia memperkenalkan Camelia dengan sangat baik, sehingga tatapan mengejek yang sempat mereka perlihatkan, kini berubah menjadi tatapan kagum.
Mala hanya memperhatikan mereka berdua dari jauh, namun ia masih diam tidak menganggap Camelia ada.
Acara ulang tahun berjalan lancar, bahkan beberapa orang memuji kue buatan Camelia.
Merekapun tidak henti-hentinya mengucapkan selamat pada Camelia dan juga Mala, karena mereka akan memiliki anggota baru yang akan membuat keluarga semakin ramai.
Sementara yang lain menikmati hidangan yang sudah disediakan, Dea dan Camelia memilih untuk menjauh dan memperhatikan bagaimana ibunya berinteraksi dengan teman-temannya.
"Ibu memang keras kepala, tapi lihat dia sekarang. Sedikit-sedikit dia sudah mulai menerima kehadiranmu."
"Darimana kak Dea tau?"
"Aku sangat mengenal ibuku, meskipun dia sangat sulit dibantah, tapi sebenarnya dia baik. Dia selalu memuji kue buatanmu, dan memamerkannya pada teman-temannya."
__ADS_1
"Benarkah?"
Dea mengangguk. Meskipun Camelia tidak mendengarnya secara langsung, tapi hatinya terasa berbunga ketika ibu mertua memuji kue buatannya. Camelia sebenarnya sudah merasakan sikap Mala yang sedikit melunak padanya, terbukti ketika Mala terus menjawab pertanyaan dari teman-temannya tentang kondisi kehamilannya, dan dengan wajah berseri ia akan menjawab setiap kali temannya bertanya.
Camelia tersipu, ia yakin di hati kecilnya Mala pasti sangat bahagia karena sebentar lagi ia akan mendapat cucu baru, namun ia tidak tahu jika sebenarnya ia akan mendapatkan dua sekaligus.
"Kak, aku mau ke toilet sebentar ya?"
Camelia merasakan perutnya sedikit mulas, dan ia ingin ke toilet untuk menyelesaikan panggilan alam.
"Kenapa? Sakit perut?" Dea tampak panik,
"Cuman mules biasa aja ko, mungkin salah makan."
"Jangan lama-lama."
Camelia mengangguk dan segera meninggalkan Dea yang masih lekat memperhatikannya. Namun penglihatan Dea menangkap sesuatu yang aneh di belakang pakaian yang dikenakan Camelia, Dea melihat bercak darah yang begitu terlihat jelas, karena Camelia memakai dres berwarna cerah.
Dea segera mengejar Camelia,
"Kamu baik-baik aja?"
Kini kekhawatiran Dea semakin menjadi setelah melihat wajah Camelia yang semakin meringis menahan sakit.
"Mulesnya makin terasa."
Camelia memegang perutnya yang semakin mengeras, bahkan ia semakin meringis menahan sakit yang kian menjalar di pinggang dan juga perutnya.
"Ibu,,, Ibu.. tolong Kara!" Dea berteriak pada Ibunya.
Sontak Mala segera mendekat bahkan ia setengah berlari menghampiri Camelia dan Dea.
"Kenapa?"
"Kara pendarahan."
"Astaga! Ayo kita ke Rumah sakit sekarang." Mala memegangi tubuh Camelia, sementara itu Dea mencari supir untuk segera mengantar Camelia ke Rumah sakit.
"Makin sakit nak, tahan sebentar ya. Kita akan segera ke Rumah sakit."
"Iya, Bu."
"Sakitnya makin terasa?"
Camelia mengangguk. Raut wajah yang selalu datar setiap kali mereka bertemu, kini berubah. Mala terlihat begitu panik, dan khawatir. Bahkan ia tidak lagi memperdulikan darah yang menempel pada baju yang dikenakannya.
Mereka tidak memperdulikan bagaimana jalannya acara ulang tahun. Dengan sigap Mala segera membawa Camelia ke Rumah sakit bersalin. Sementara itu Dea segera menghubungi Jupiter, jika istrinya kini dilarikan ke Rumah sakit dan akan segera melahirkan.
Usia kandungan Camelia memang belum genao sembilan bulan, bahkan baru pas menginjak bulan ketujuh. Namun Dokter mengatakan itu hal wajar, terlebih karena Camelia mengandung bayi kembar.
Melihat kondisi Camelia yang cukup lemah, akhirnya Dokter menyarankan untuk melakukan operasi sesar, selain karena kondisi Camelia yang lemah, juga karena kondisi bayi yang sangat rentan, karena mereka terlahir secara prematur.
Mereka memilih untuk segera melakukan tindakan operasi, tidak mungkin menunggu kehadiran Jupiter yang akan tiba sekitar dua jam lagi.
Mala dan Dea mengantar Camelia sampai pintu ruang operasi, bahkan tanpa di duga Mala justru mencium kening Camelia sebelum ia dibawa ke ruang operasi.
"Kasihan,, dia pasti ketakutan didalam sendirian."
Dea langsung menoleh tidak percaya dengan apa yang diucapkan ibunya.
"Kenapa Jupiter pergi? Seharusnya dia menjaga istrinya, apalagi tengah hamil tua!" Gerutu Mala, menyalahkan Jupiter. Sementara Dea hanya tersenyum bahagia, akhirnya ia bisa melihat bagaimana perasaan sebenarnya sang Ibu. Benar dugaannya selama ini, jika diam-diam Mala memang sudah merestui pernikahan Jupiter dan Juga Camelia.
Hanya berselang tiga puluh menit, perawat membawa dua box bayi keluar dari ruang operasi. Mala terkejut dengan apa yang ia lihat, sementara Dea sibuk mengabadikan momen pertemuan pertamanya dengan dua keponakannya yang sangat cantik.
"Bayinya kembar?" Tanya Mala.
"Iya bu. Ibu Kara melahirkan dua bayi kembar, berjenis kelamin perempuan." Salah satu suster menjelaskan.
Mala tidak bisa mengekspresikan bagaimana perasaannya saat ini. Bahagia dan haru, bercampur menjadi satu. Ia menangis menatap dua bayi kecil yang sangat cantik dari balik box kaca.
"Kita akan membawanya ke ruangan khusus karena mereka terlahir prematur, berat badannya belum optimal." Suster itu kembali mendorong dua box bayi, yang akan dibawa keruangan khusus.
"Kak Dea!"
Jupiter akhirnya datang, ia berlari menghampiri Ibunya dan Dea yang sedang berdiri di depan ruang operasi.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Kara dan putriku?" Mereka bertiga baik-baik saja. Lihat, anakmu lucu sekali." Dea memperlihatkan hasil jepretan kamera ponselnya pada Jupiter. Senyum Jupiter mengembang, akhirnya ia bisa melihat dua bayi mungil, pelaku utama yang membuat jantungnya hampir berhenti berdetak ketika ia menerima kabar tersebut.
"Bagaimana keadaan Kara?"
"Dia masih didalam. Masih ditangani Dokter." Jupiter akhirnya bisa bernafas lega, setelah memastikan sendiri kondisi anak dan istrinya.
"Dasar anak bandel. Gak suami, gak istrinya bikin aku hampir mati ketakutan!"
Teriak Mala, sambil memukul punggung Jupiter dengan sangat keras. Membuat Jupiter mengaduh kesakitan. Tiba-tiba saja Mala memeluk Jupiter dan menangis,
"Ibu takut melihat Kara kesakitan."
Jupiter mengerjapkan matanya berkali-kali, ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Bahkan ia menatap bingung pada Dea yang langsung mengangkat kedua bahunya.
"Maafin Jupiter dan juga Kara ya, Bu. Sudah membuat ibu khawatir."
"Anaknya lucu banget. Mereka cantik-cantik." Meskipun Mala sudah mengakui bagaimana isi hatinya yang sebenarnya, tetap saja ia masih memegang teguh rasa gengsinya. Membuat Jupiter tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya.
Mala dan Dea memilih untuk kembali melihat si kembar, sementara Jupiter memilih untuk menemui istrinya terlebih dahulu setelh Dokter memperbolehkannya masuk ke ruang operasi.
"Hai,,,"
Sapa Jupiter pada Camelia yang masih terbaring dengan berbagai alat medis yang masih menempel di tubuhnya.
Jupiter tidak mampu berkata-kata, ia hanya mengekspresikan luapan kebahagian lewat senyuman dan linangan air mata.
"Sini deketan."
Pinta Camelia, agar suaminya lebih dekat lagi.
"Mau di cium."
Pinta Camelia lagi. Jupiter segera mencium kening istrinya, dan tetap menempelkan bibirnya untuk beberapa saat.
"Jangan nangis, kamu udah lihat anak kita?"
Jupiter mengangguk, sambil mengusap air matanya.
"Dia cantik bukan?"
Jupiter kembali mengangguk.
"Dia cantik persis seperti kamu," akhirnya ia bersuara.
"Aku kesal pada diriku sendiri, karena aku tidak bisa menyaksikan secara langsung bagaimana kamu berjuang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan kedua putri kita. Aku sangat menyesal." Lirihnya, sambil kembali mencium kening Camelia.
"Tidak perlu menyesal. Aku baik-baik aja. Setiap anak yang lahir kedunia, memiliki cara dan waktunya masing-masing. Mungkin kedua putri kita memang gak mau disaksikan Ayahnya ketika ia lahir. Mungkin dia tidak ingin kelahirannya justru di tangisi Ayahnya yang cengeng." Ledek Camelia.
"Terimakasih untuk semua perjuangan yang udah kamu korbankan untuk anak kita."
Camelia mengangguk, sambil tersenyum bahagia.
Dokter sudah memperbolehkan Camelia pindah ke ruang rawat, sementara kedua putrinya masih memerlukan perawatan khusus, namun kondisi keduanya dalam keadaan baik.
Mala dan Dea pun akhirnya bergabung di kamar rawat Camelia, mereka berdua masih asyik melihat foto-foto yang sengaja mereka abadikan dan langsung mempostingnya di akun media sosial mereka.
"Lihat, foto yang ibu unggah sudah mendapat ribuan like dan ratusan komen. Cucu cantikku yang hari lahirnya sama dengan neneknya." Seru Mala,sambil memamerkan layar ponsel pada Dea.
Jupiter dan Camelia hanya bisa menggelengkan kepala, mereka tertawa melihat tingkah lucu Mala.
"Terimakasih Bu, karena Ibu sudah menolong Kara." Malam melirik kearah Kara. Sebenarnya ia sangat ingin memeluk dan mencium Kara, namun ia masih gengsi, dan hanya diam saja ketika ia bertatapan langsung dengan Kara.
Namun kali ini,ia sudah tidak perlu lagi menutupi gengsinya, ia segera berdiri untuk menghampiri Camelia.
"Terimakasih juga karena sudah membahagiakan anakku, dan memberikan cucu yang sangat cantik. Bahkan mereka berdua memiliki tanggal lahir yang sama denganku." Mala mencium kening Camelia dengan sangat lembut, membuat hati Camelia terasa begitu hangat.
Jupiter dan Dea akhirnya bisa tersenyum lega, melihat keduanya kini bisa bersama. Pepatah mengatakan jika anak adalah tali penghubung dua manusia. Dan benar saja, kehadiran si kembar membawa perubahan baik untuk Mala dan Camelia. Meskipun kelahirannya sempat membuat heboh, namun pada akhirnya karena kehadiran dua makhluk mungil nan menggemaskan itu, bisa meruntuhkan tembok pertahanan Mala.
"Kenapa tidak ada yang memberitahuku, jika aku punya cucu baru?!" Protes ayah Jupiter yang tiba-tiba saja datang dan langsung protes.
"Kalian sudah tidak menganggapku ada? Bisa-bisanya kalian membiarkan aku jadi satu-satunya orang yang terlambat datang."
"Aku lupa masih punya Ayah, karena aku terlalu bahagia menyambut cucu baruku." Jawab Mala, cuek.
Mereka tertawa melihat Ayahnya yang kesal karena tidak diberi kabar. Jupiter dan Camelia saling bertatapan penuh arti, saling menyelami ke dalam lubuk hati masing-masing. Rasanya kurang jika mereka hanya sekedar mengucap rasa syukur, karena mereka ingin lebih dari sekedar bersyukur untuk semua kebahagiaan yang mereka dapatkan saat ini.
__ADS_1
Perjalanan kisah cinta mereka yang panjang dan rumit, akhirnya berbuah manis. Kelak mereka akan menceritakan bagaimana perjuangan kedua orang tua mereka dalam mendapatkan kebahagiaan.